Home Fokus Belajar dari Penerapan Open Source Negara Lain dan IGOS Center Bandung

Belajar dari Penerapan Open Source Negara Lain dan IGOS Center Bandung

114

igos.jpgAda orang yang mengatakan bahwa pada prinsipnya, gerakan open source adalah budaya gotong royong lintas bangsa dan lintas generasi. Semangat gotong royong inilah yang nantinya melahirkan karya inovasi yang cemerlang. Salah satu negara yang serius menerapkan Open Source adalah China. Salah satunya akan tergambar dalam event Olimpiade Beijing 2008 yang akan diselenggarakan. Seperti halnya event akbar tingkat dunia masa kini, Olimpiade Beijing akan menjadi ajang unjuk kecanggihan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang bersifat seluruhnya didukung oleh Open Source.

Political will pemerintah China untuk memanfaatkan Open Source begitu kuat. Pejabat China selalu menegaskan kepada seluruh elemen bangsa untuk memakai program Linux. Badan-badan pemerintah didorong untuk menggunakan Red-Flag, suatu sistem pengoperasiaan berbasis Linux yang dikembangkan secara progresif oleh negeri tirai bambu.

Jika China sudah menikmati berkahnya penggunaan open source, lalu kapan bangsa Indonesia bisa ikutan? Padahal sejak Linux versi pertama diumumkan source codenya pada 5 Oktober 1991, Open Source telah menjadi salah satu penggerak utama dalam model bisnis TIK. Ironisnya, hingga kini masih banyak pejabat negeri ini yang masih alergi terhadap open source.

Mestinya, tekad pemerintah Indonesia menjadikan 2008 sebagai “Tahun TIK” membuatnya sekuat tenaga memajukan komunitas open source di tanah air dan juga memakai produk open source di seluruh elemen bangsa. Diperlukan konsistensi dan komitmen tingkat tinggi untuk mengakselerasikan program IGOS (Indonesia, Go Open Source!) sehingga menjadi wahana gotong royong untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa. IGOS yang dicanangkan pemerintah sejak pertengahan 2004 merupakan suatu gerakan nasional untuk memperkuat sistem TIK dan pemanfaatan perkembangannya melalui pengembangan dan pemanfaatan Open Source Software (OSS).

Program atau gerakan IGOS bisa terartikulasikan dengan baik jika pemerintah dan perusahaan swasta memberikan perhatian sepenuh hati kepada komunitas IGOS yang ada diseluruh pelosok tanah air. Komunitas IGOS harus didorong untuk melahirkan karya yang menjadi solusi bangsa, bukan sekedar karya yang kurang aplikatif dalam kehidupan bangsa.
Sebagai studi perbandingan, coba kita menengok IGOS Center Bandung yang dinilai oleh berbagai pihak memiliki program kerja dan produk bagus. IGOS Center Bandung yang dirintis oleh pemerintah, akademisi, pebisnis, dan media dengan tagline “Innovative and Open Legal”.

Tagline mengandung pengertian senantiasa melakukan inovasi terbuka, dengan memanfaatkan jejaring inovasi ABG (Academicians, Businessmen & Government Agencies) dan mengindahkan legalitas karya cipta. Tagline itu ditunjang oleh misi : pertama, menyediakan solusi yang berdaya guna, legal, dan terjangkau melalui gerakan inovasi terbuka, dimulai dari gerakan open source di bidang TIK. Kedua, menghela roda bisnis model terbuka yang etis, profesional, sehingga tercipta iklim yang sehat dan kompetitif bagi pengguna, pebisnis, maupun pencipta. Ketiga, mendorong penyelenggaraan manajemen yang terpuji, efektif, efisien, dan akuntabel dengan menggelorakan semangat inovasi terbuka. Keempat, berpartisisipasi mewujudkan tujuan komunitas global seperti yang tertuang dalam Millenium Development Goal dengan memanfaatkan teknologi hasil inovasi terbuka.
Menurut Dr. Ir. Estiyanti Ekawati, Direktur Pelaksana IGOS Center Bandung, IGOS Center Bandung memiliki dua kelompok program yakni Program IGOS to Community [I2C] dan Program IGOS to Business [I2B]. “Program I2C antara lain berupa kegiatan sosialisai OSS yang mulai berjalan dengan pengoperasian situs www.igoscenter.org dan pelatihan OSS bagi siswa sekolah di Bandung dan sekitarnya,” jelas Estiyanti.

Kemudian kegiatannya berupa Distribute, Service & Support Teknologi Terbuka/OSS, yang diawali dengan Penyediaan Program & Publikasi OSS yang terjangkau, bundling komputer dengan OSS (Ubuntu, Open Office, dll), Migrasi ke open source software di Pemko Cimahi. Disusul dengan kegiatan Training & Sertifikasi Teknologi Terbuka/OSS. Dan kegiatan ke empat dari Program I2C adalah mempersiapkan Kompetisi Teknologi Terbuka/OSS, yang pada tahap awal akan berupa penyelenggaraan kompetisi teknologi terbuka dimulai dengan kompetisi karya cipta OSS buatan Indonesia dalam rangka membangun “Generasi Upload”.

Sementara itu program I2B yang digeluti oleh IGOS Center Bandung mengacu kepada best practices model bisnis open source. Bisnis ini kongruen dengan model Eric Raymond yang mengetengahkan tujuh bentuk bisnis open source, yakni cost sharing, risk spreading, loss-leader / market postioner, widget frosting, give away the recipe, accessorizing, free the future.
Fakta telah menunjukkan bahwa model bisnis open source semakin berkibar setelah dua faktor yang menjadi rintangan bisa dilalui, yakni faktor jumlah aplikasi yang bisa berjalan di Linux dan faktor support yang belum memadai. Kini model semakin bergairah ketika Red Hat sebagai salah satu vendor Linux menawarkan layanan dan dukungan untuk pengguna enterprise. Angin segar semakin berhembus ketika raksasa seperti IBM dan HP telah menjadikannya sebagai core part dan menawarkan dukungan konkrit untuk Linux.

Bahkan, pada 2006 menurut IDC Canada sekitar 14 % dari sever yang ada di Kanada (tidak termasuk download) telah menggunakan Linux. Semakin banyak pemerintahan di berbagai negara yang menyadari penghematan dengan menggunakan Linux. Peru dan negara-negara Amerika Latin ramai-ramai mengelurkan aturan untuk pindah ke Open Source. Begitu juga dengan kota-kota besar di Uni Eropa, seperti Munich, Amsterdam, dan lain-lain yang mengklaim bahwa setiap bulannya jumlah komputer bermigrasi dari Windows ke Linux mencapai puluhan ribu.
Menurut Sofwandi Noor, koordinator Program I2B, dengan adanya trend diatas maka IGOS Center Bandung memantapkan Program I2B. “Langkah konkrit berupa kegiatan promosi teknologi OSS, dengan penyediaan solusi Open Source e-Procurement dan e-Campuss. Juga kegiatan sertifikasi dan pelaksanaan proyek yang dimulai dengan implementasi e-RadioaBroadcasting di Radio K-lite Bandung,” jelas Sofwandi Noor. Menurutnya, dilakukan juga penyedia layanan aplikasi teknologi OSS Genuine dengan fasilitas hosting aplikasi OS. IGOS juga memberikan dukungan legalitas dan jaminan keterbukaan teknologi OSS Genuine lewat penyediaan tenaga advokasi legal yang menguasai manajemen HaKI & Hak Cipta Teknologi Terbuka/OSS.

Menurut analisa Hemat Dwi Nuryanto, penggerak IGOS alumni Universitas Paul Sabatier (Toulouse III), Prancis, masa depan dari bisnis open source sangat cerah dan bisa membangkitkan daya saing bangsa seperti yang tergambar dalam tesis Frank Gens, Senior Vice President of Research di IDC. Frank menyebutkan adanya the open source effect, yaitu akselerasi atas bisnis model yang mengandalkan open innovation pada pengembangan layanan dan produk IT. ”Dengan tesis itulah maka komunitas IGOS harus benar-benar curah pikir guna menemukan konsep atau open source yang mampu meningkatkan daya saing bisnis perusahaan dan efektifitas pemerintahan,” jelas Hemat.
Perlu juga untuk memahami pergeseran konsep di dalam bisnis TIK agar mampu mengantisipasi untuk menekan cost dan mendorong revenue semaksimal mungkin dengan memanfaatkan open-source. Dan yang paling utama adalah memikirkan skenario migrasi dari proprietary ke open-source dengan mereduksi risiko. Semoga 2008 sebagai tahun TIK di Indonesia benar-benar bisa terwujud. (*)