Wawancara Ekslusif dengan President Director IBM Indonesia

Ditulis pada 16 April 08

suryo-ibm.jpg
IBM telah melalui perjalanan cukup panjang di industri teknologi informasi Indonesia, sehingga saat ini telah menjadi salah satu perusahaan idaman di Indonesia. Biskom tertarik untuk mengetahui lebih jauh kiprah IBM dalam hal dukungannya ikut memajukan teknologi informasi di Indonesia. Suryo Suwignjo, Presiden Director IBM Indonesia akan membagikan kisahnya kepada pembaca Biskom. Mari kita simak cuplikan bincang-bincangnya dengan orang nomor satu di IBM Indonesia yang menjadi cover utama Majalah Biskom Edisi April 2008.

Menurut Anda, bagaimana market teknologi informasi di Indonesia?
Market teknologi di Indonesia didominasi oleh perangkat keras yang pangsanya sekitar 70 sampai 80 persen. Nah, setelah dibedah lagi sekitar 70 persen diantaranya adalah PC. Otomatis hardware menjadi fokus kami, semata-mata karena market yang lebih besar. Tetapi secara worlwide company, IBM bergeser ke arah services dan software.

Karena itu IBM sudah tidak lagi diasosiasikan sebagai hardware company, melainkan sebagai solution company. Kalau kita lihat secara detail, laporan IBM itu yang mengenai hardware hanya sekitar 27 persen dari revenue IBM internasional dan sisanya adalah service.

Sebagai solution company, apa saja layanan yang ditangani oleh IBM?
Di Indonesia, kami banyak menangani hal-hal yang baru. Walaupun tidak bisa dibilang sepenuhnya baru karena sebenarnya sudah sejak dulu, namun kurang disosialisasikan kepada publik. Misalnya, IBM sekarang merupakan suplier data center terbesar di Indonesia. Saat ini, kami sedang menangani konsep green data center yang walaupun sudah lama digunakan di luar negeri, namun di sini masih dikenalkan belum lama.

Selain services, Anda menyebutkan IBM juga fokus di Software, Mengapa?
Karena software itu dianggap memiliki nilai strategis dan profitability yang baik. Maka baik services maupun software akan menjadi unggulan kami di masa depan. Tapi tentu tidak mengabaikan hardware, karena hardware ini sudah seperti darah daging di IBM. Dan IBM tidak bermain di level end user application, tapi lebih banyak bermain di level middleware. Sehingga pelanggan dibebaskan untuk menggunakan aplikasi atau platform apa saja, sedangkan middleware kami yang siapkan.

Salah satu strategi kami adalah melakukan akuisisi pada software company. Sejak tahun 2001, kami sudah mengakuisisi kurang lebih 50 software company di seluruh dunia. Kami melakukan akuisisi untuk menambah portofolio dan mendukung pertumbuhan organik yang lebih baik lagi.

suryo-hoky.jpg

Suryo Suwignjo bersama Soegiharto Santoso, Pimpinan Umum Biskom

Selama ini IBM dikenal sebagai vendor yang concern dalam mendukung teknologi Open Source. Apa saja bentuk dukungan yang diberikan IBM?
Mungkin kalau boleh dirunut ke belakang, ketika Linux mulai diperkenalkan, IBM merupakan early adapter dan early suporter. IBM merupakan vendor pertama yang mengadopsi Open Source dan membuatnya siap digunakan pada platform kami. Sekarang memang sudah banyak vendor yang bisa di Open Source, tapi pada masa awal-awalnya boleh dibilang hanya kami yang bisa. Bahkan legacy system IBM yang namanya mainframe bisa jalan di Linux.

Semua produk yang kami miliki bisa jalan dengan baik di Linux. Kami sangat mendukung Linux, makanya dukungan itu harus dimanifestasikan dalam banyak hal seperti menyediakan platform untuk itu. Untuk melakukan hal itu, investasi di dalamnya besar sekali agar yakin produk bisa jalan. Dan bukan hanya di satu platform kami melakukan, tapi di semua platform.

Saat ini, bagaimana kondisi penggunaan Linux di Indonesia?
Kalau kita bicara mengenai Indonesia, adopsi Linux itu masih seperti ada rasa takut-takut. Berbagai ketakutan seperti simpel atau tidak, aman atau tidak, stabil atau tidak, ada kelanjutan atau tidak, jangan-jangan sebentar oke terus hilang lagi dan sebagainya. Pada saat yang sama sebetulnya orang-orang Indonesia juga melihat ini dengan harap-harap cemas mudah-mudahan bisa berhasil.

Supaya bisa keluar dari “kuncian” perusahaan software asing besar yang mau tidak mau membuat harus keluar banyak. Ini merupakan salah satu alternatif yang sangat menarik. Bahkan mengapa banyak pemerintahan seperti China atau Brazil dan juga menristek kita mempelopori hal itu, tujuannya kan saving money, dan juga kemandirian dan fleksibilitas yang bisa ditonjolkan.

Bagaimana solusi agar Open Source bisa berkembang dengan baik?
Solusinya ya kita kembali ke normatif semula yaitu semua pihak harus bekerja sama. Kalau hanya satu pihak yang mendukung Open Sourse sementara pihak lain masih belum, pasti tidak akan bisa jalan. Industri yang menyediakan hardware, software dan aplikasi harus memiliki komitmen yang kuat. Kalau hanya mendorong sistem yang proprietary saja tanpa Open Source tentu juga kurang berimbang. Mendorong proprietary bagi industri itu sudah pasti karena itu dari sananya.

Pada prinsipnya kalau saya boleh spesifik, pasti di saat bersamaan industri akan mendorong Linux based (Open Source) dan non Linux based. Karena vendor tetap butuh hidup juga. Selama mereka bisa mendorong kedua-duanya dengan sepadan, itu akan membantu, baik dari hardware providernya, software operating system dan software aplikasi. Kemudian perlu juga melakukan edukasi agar ada ketersediaan skill yang memadai. Kampanye Open Source dari pemerintah yang memadai juga dibutuhkan. Untuk itu semua tadi harus bisa saling bekerjasama dan melakukan secara simultan.

* Bincang-bincang dengan Suryo Suwignjo yang lengkap bisa Anda baca di Majalah Biskom Edisi April 2008

Artikel Terkait

Tags: , ,

1 Komentar telah masuk untuk artikel ini »


  1. July 22nd, 2008
    1:14 pm
    Trisna mayanthi

    Pa…

    bisa tolong emailin tentang SAP,,
    saya bekerja di Pt.Pauwels Trafo Asia sejak tgl 6 agustus 2007 dan saya ingin lebih banyak tahu tentang SAP,dan saya ingin membuat skripsi ttg SAP yang saya kerjakan tiap hari di kantor,
    thanks

Sampaikan Komentar Anda

Spam protection by WP Captcha-Free