Oleh: Dirgayuza Setiawan

Selesainya masa ujian akhir yang terjadi pada pertengahan bulan Mei lalu, institusi pendidikan biasanya mulai melirik berbagai perbaikan yang dapat dilakukan untuk tahun pelajaran mendatang. Diantaranya tentu adalah implementasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di lingkungan akademis. Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak Anda melihat sekolah-sekolah di tanah air yang mengadopsi Operating System Mac OS X melalui program 1 to 1 Learning (satu pelajar, satu MacBook).

Tidak tanggung-tanggung, sebuah sekolah di kawasan Jakarta Utara menempatkan beberapa reklame berukuran besar dengan gambar murid mereka menggunakan MacBook. Walaupun dalam skala nasional jumlahnya belum signifikan, tingkat kesuksesan dan kepuasan yang sangat tinggi dari implementasi program 1 to 1 Learning binaan Apple di berbagai sekolah internasional, sekolah nasional plus dan universitas di Indonesia patut dicontoh bagi semua institusi pendidikan yang ingin menjadikan TIK tools of trade dalam proses belajar mengajar. Umumnya, sebuah komisi penerapan TIK akan dibentuk oleh institusi pendidikan yang ingin menerapkan program 1 to 1 Learning. Apa saja yang perlu untuk dipersiapkan oleh komisi ini? Bagaimana menjalankannya?

Koneksi Internet Cepat & Persiapan Gedung = Prasyarat Mutlak

Cakupan WiFi untuk seluruh area gedung sekolah dan koneksi internet cepat yang stabil merupakan prasyarat mutlak dalam penyelenggaraan 1 to 1 Learning. Cepat disini dapat diartikan, masing-masing pengguna dalam jaringan dapat memperoleh kecepatan minimal 10 Kb/s pada saat jaringan penuh digunakan. Selain cakupan internet yang memadai di sekolah, pelajar juga diharapkan memiliki akses internet yang stabil di rumah untuk mengerjakan dan mengumpulkan berbagai pekerjaan dari rumah. Kata stabil disini memegang peranan sangat penting karena internet broadband disejajarkan dengan keperluan pokok lainnya seperti pengadaan listrik. Terputusnya koneksi internet di tengah jam pelajaran sekolah akan sangat mengganggu, bahkan dapat memberhentikan proses belajar mengajar.
Untuk menjawab kebutuhan ini, banyak internet service provider (ISP) besar sampai ISP kecil memberikan paket koneksi internet bersubsidi khusus kepada institusi pendidikan. Biaya koneksi juga sangat dipengaruhi lokasi gedung, karena umumnya semakin jauh lokasi gedung dari pusat kota, semakin mahal biaya yang harus disiapkan untuk menggelar koneksi broadband yang stabil. Sebagai contoh, sebuah sekolah nasional plus di Bogor harus membayarkan lebih dari Rp. 20 jt setiap bulannya untuk biaya koneksi internet berkecepatan 2 Mbps stabil.
Untuk mengatasi lonjakan penggunaan bandwidth untuk keperluan di luar keperluan sekolah baik itu oleh pelajar, guru atau staf administrasi sekolah, sistim bandwidth monitoring seperti FortiGuard (http://www.fortinet.com/solutions/web_filtering.html) turut menjadi syarat mutlak. FortiGuard memiliki database jutaan situs dan mengklasifikasikannya dalam katagori seperti General Interest, Business Oriented, Controversial, Potentially Non-Productive dan beberapa katagori lainnya. Komisi penerapan TIK adalah memegang kendali penuh untuk keputusan monitoring dan pemblokiran situs, walapun hal ini bisa dilakukan sambil program berjalan. Pelajar, guru dan staf administrasi yang mengeluh mengenai diblokirnya akses ke situs non-akademis adalah wajar, persilahkan mereka untuk mengakses internet di rumahnya masing-masing apabila ingin koneksi tanpa batasan.
Selain ketersediaan internet, ketersediaan sumber listrik yang cukup juga menjadi prasyarat mutlak dalam menjadikan TIK tools of trade di institusi pendidikan. Penyediaan sumber listrik bagi pelajar dan guru di ruang kelas dapat dilakukan dengan berbagai cara. Bagi institusi pendidikan yang memiliki waktu serta dana cukup, pengadaan floor socket dibawah meja pelajar merupakan solusi permanen yang elegan untuk ruang kelas. Alternatifnya, penggunaan kabel roll biasa juga bisa menjadi solusi semi-permanen walaupun menghiraukan faktor estetika ruangan. Selain mekanisme penyediaan sumber listrik, perlu dipikirkan juga mekanisme untuk mempertahankan aliran listrik apabila terjadi pemadaman PLN seperti menggunakan generator set. Teknologi baterai MacBook sekarang belum mencukupi untuk penggunaan satu hari secara terus menerus.

Google Apps = Solusi Konvergensi Komunikasi Online

Setelah koneksi internet stabil tersedia, berikutnya adalah menyediakan solusi konvergensi komunikasi online. Yang dimaksud dengan konvergensi komunikasi disini mencakup email, instant messaging, kalender, dokumen, halaman web dan pengolahan media untuk keperluan akademis. Google Apps (http://www.google.com/a) menyediakan layanan yang mencakup semua hal ini tanpa biaya dan tanpa iklan bagi institusi pendidikan. Google Apps menjadi sangat menarik karena mengadaptasi produk unggulan Google dan bisa diakses kapan saja, dimana saja dengan berbagai perangkat yang mendukung (tidak hanya komputer tetapi juga telepon seluler dan perangkat lainnya).
Selain Google Apps, terdapat web application yang memang dirancang dari awal khusus untuk keperluan akademis. Salah satu solusi yang sangat populer adalah Studywiz (http://www.studywiz.com/). Studywiz turut menyediakan konvergensi total komunikasi online guru, pelajar dan orang tua pelajar dengan menyediakan fasilitas rencana belajar independen, blog, test, sinkronisasi dengan iPod serta media penyimpanan online yang dikemas dengan antarmuka yang menarik dan mudah digunakan. Alternatifnya, ada solusi web application lokal seperti Scasy yang dikembangkan oleh PT. Lima Titik Satu (http://scasy.limabit.com/). Berbeda dengan Studywiz yang menyediakan solusi menyeluruh, Scacy fokus ke solusi total laporan hasil pelajar yang meliputi pengolahan hasil test, catatan kehadiran, publikasi raport ke html / PDF, pencatatan pembayaran SPP dan berbagai keperluan database lainnya. Institusi pendidikan yang memiliki dana terbatas juga dapat melirik alternatif open source Moodle (http://moodle.org/), walaupun untuk membangunnya agar siap digunakan membutuhkan waktu dan human capital yang tidak sedikit. Apapun solusi yang terpilih, yang paling penting adalah pemanfaatannya oleh semua guru dan pelajar apabila dibutuhkan.

Turnitin = Solusi Dokumen Digital & Plagiarisme

Ketika pelajar semakin mahir menggunakan komputer untuk mengerjakan berbagai kewajibannya, kasus plagiarisme otomatis meningkat karena menduplikasi hasil pemikiran orang lain juga semakin mudah. Untuk mengatasi hal ini, institusi pendidikan dapat menggunakan web application khusus untuk penerimaan dokumen digital pelajar, seperti Turnitin (http://www.turnitin.com). Selain membandingkan paragraf dan kalimat dalam dokumen dengan pencarian web, Turnitin juga membandingkan dokumen yang masuk dengan dokumen yang dikirimkan oleh pelajar lain baik itu dalam institusi pendidikan yang sama dan dengan jutaan pelajar lain di seluruh dunia yang turut menjadi pelanggan Turnitin.
Implementasi Turnitin oleh ribuan institusi pendidikan sudah terbukti secara drastis menurunkan tingkat plagiarisme dan memicu semangat penciptaan karya asli pelajar. Dengan fitur Peer Review untuk pengecekan tugas sesama pelajar serta GradeMark dan GradeBook untuk penilaian online, Turnitin juga dapat menjadi solusi unik untuk memicu perilaku jam belajar yang baik. Sebagai contoh, seorang guru dapat memberikan deadline pekerjaan rumah agar dikumpulkan ke Turnitin sebelum jam dan tanggal tertentu, misalkan jam  8 malam. Dengan fitur ini, pelajar didorong untuk mengerjakan pekerjaan di sore hari dan menggunakan waktu malam untuk beristirahat.

Kenapa Mac OS X?

Menurut saya, sukses atau tidaknya sebuah sistim operasi komputer dalam sebuah komunitas atau lingkungan tertentu ditentukan oleh killer application yang dapat dijalankannya. Pelajar dalam lingkungan akademis yang menantang kreatifitas dan intelektualitas memerlukan sebuah sand box dimana ia dapat berkreasi sesukanya dengan hanya dibatasi dengan tata tertib penggunaan TIK yang berlaku. Mac OS X adalah sistim operasi yang dirancang untuk menjalankan berbagai proses maintenance sistim secara otomatis, penguncian berbagai file inti dan kemudahan dalam penggunaan. Kebijakan Apple untuk melakukan standarisasi spesifikasi komputer dengan sistim operasi Mac OS X (komputer bermerek Apple) ditambahkan dengan aplikasi multimedia iLife merupakan alasan utama institusi pendidikan yang sudah mengadopsi Mac OS X untuk program 1 to 1 learning. Kebalnya Mac OS X terhadap virus dan malware juga menjadi keringanan tersendiri untuk menurunkan downtime dan kebutuhan akan dukungan terus menerus dari divisi TIK sekolah.
Berbicara mengenai deployment, sekolah yang sudah menjalankan program 1 to 1 Learning memulainya dalam kelompok kecil terlebih dahulu. Kelompok kecil dapat diartikan sebagai sebuah kelas atau satu angkatan dalam sebuah tahun pelajaran. Pengalaman yang didapatkan dari kelompok kecil tersebut dikumpulkan oleh komisi implementasi TIK sebagai bahan pelajaran untuk tahun pelajaran berikutnya. Implementasi berlanjut dengan pengadaaan MacBook beserta waktu professional development khusus untuk guru dan staf akademis lainnya. Pada umumnya, pelajar di sekolah internasional, nasional plus dan beberapa universitas di Jakarta cenderung mengadopsi komputer yang dipergunakan oleh gurunya terutama jika penggunaan TIK dalam lingkup akademis dipahami oleh orang tua pelajar.
Untuk semakin menggalakkan pengadopsian TIK, institusi pendidikan juga perlu melihat keadaan ekonomi pelajarnya dan memberikan berbagai keringanan pembiayaan untuk kepemilikan MacBook. Leasing juga bisa menjadi alternatif menarik dimana setiap beberapa tahun sekali institusi pendidikan dapat melakukan refresh seluruh jajaran hardware yang dimiliki tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Idealnya, ketika setiap pelajar dan guru sudah memiliki MacBook sendiri, sebuah laboratorium komputer menjadi sebuah ruangan yang berisikan meja yang cukup dan memiliki sumber listrik terpadu.

2 COMMENTS

  1. Harga laptop macbook masih relatif mahal sementara banyak merek lain yang memiliki seri yang lebih terjangkau. Kalau dilihat dari sisi memudahkan siswa (dan orangtua), lebih baik membebaskan saja kepada mereka untuk memilih laptop yang sesuai dengan kemampuan finansial.

  2. Mohon Maaf sebelumnya bila surat ini terlalu tidak sopan, perkenankan kami atas nama Instansi SD N Gemawang yang beralamatkan di JL.Monjali Gemawang Sinduadi Mlati Sleman Yogyakarta ingin memohon bantuan apabila di tempat bapak ada kelapangan baik dalam hal dana atau mungkin alat yang kami butuhkan bila ada.Untuk pengembangan pembelajaran berbasis IT di tempat kami ingin sekali untuk pengadaan note book ( laptop ) kami berani mengajukan dengan pertimbangan karena beberapa waktu yang lalu di tempat kami baru saja mendapatkan bantuan LCD proyektor akan tetapi karena tidak adanya alat pemutar ( laptop )/ SELAIN ITU kondisi siswa tidak memungkinkan untuk ditarik dana ( keterbatasan dana ) maka alat pembelajaran tersebut nyaris nganggur tidak terpakai.Maka dari itu kami mohon bantuannya apabila di tempat bapak ada beberapa hal yang memungkinkan untuk ikut serta membantu pengadaan alat tersebut. Perlu di ketahui juga di tempat kami latar belakang siswa adalah kelas ekonomi menengan ke bawah , akan tetapi minat belajar yang besar memungkinkan pada waktu kemarin walaupun dengan keterbatasan dana kami bisa menduduki peringkat 1 se kecamatan.untuk konfirmasi penglihtatan gambar profil sekolah dan sarana pendukung yang sudah ada silahkan dilihat di http://www.ahewa.multiply.com, atau kontak langsung di sekolah kami 0274 7135901, 081804352025. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya, Semoga budi baik Bapak mendapat pahala dari YANG MAHA KUASA untuk selanjutnya sebagai wujud nyata dari bantuan Bapak/ Ibu Kami akan laporkan kegiatan pembelajaran yang sudah kami lakukan dari alat / dana yang Bapak berikan
    Akhid Heru Prabwa, A.Ma.
    Guru
    achid_pjj20@yahoo.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.