Home Figur Biskom Betti Alisjahbana, Komunitas OS Bersinergi Kembangkan Open Source

Betti Alisjahbana, Komunitas OS Bersinergi Kembangkan Open Source

212

Keberadaan open source software (OSS) di Indonesia tidak lagi dapat dianggap remeh. Sebab komunitasnya sudah membentuk asosiasi yang sah dan memiliki sejumlah program terencana bagi kepentingan pengembangan teknis dan bisnis open source di Indonesia bernama Asosiasi Open Source Indonesia  (AOSI).
Akte pendirian AOSI telah ditanda tangani akhir Juni lalu, dan tugas berat yang menanti adalah bagaimana caranya agar OSS lebih dikenal luas dalam masyarakat. Oleh karenanya, komunitas OSS Indonesia pada IGOS Summit, 27-28 Mei 2008 lalu memilih Betti Alisjahbana sebagai Duta Open Source Indonesia. Dan pada 3 Juli lalu, Betti juga telah terpilih menjadi Ketua AOSI.
Karirnya pada perusahaan IBM selama 23 tahun lebih, membuat latar belakang TI-nya sangat kuat, walaupun sebetulnya Betti adalah lulusan Arsitektur ITB. Dia bahkan mendapatkan kesempatan sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan Presiden Direktur IBM di kawasan Asia Pasifik.
Setelah tidak menjabat lagi di IBM, wanita kelahiran Bandung ini mendirikan sebuah perusahaan, yang juga terdaftar sebagai pendiri AOSI, yakni PT. Quantum Business International.
Berikut petikan wawancara BISKOM dengan Betti Alisjahbana, ibu dari dua anak, yang dengan berbagai upaya terus berkarya dan mengembangan TI di tanah air.

Anda kini menjadi Duta Open Source Indonesia, apa pekerjaan yang harus diemban?
Tugas utamanya adalah membuat open source itu sukses di Indonesia, jadi didalamnya termasuk mempromosikan open source kemudian membantu menfasilitasinya. Dalam hal ini saya bekerjasama dengan AOSI, kami bersama-sama membuat open source itu sukses di Indonesia. Sukses dari segi image yang positif, kemudian penggunanya dan pangsa pasarnya juga meningkat.

Mengapa Anda concern sekali terhadap OSS?

Bagi saya OSS sangat strategis untuk Indonesia, dimana kita bisa mendapatkannya cukup dengan mendownloadnya, dan bisa kita mengembangkan lebih jauh. Jadi dari situ, mental kita bukan hanya mental sebagai pengguna tapi juga sebagai produsen, pengembang dan penyedia jasa. Saya pikir itu sangat tepat sekali untuk negara seperti Indonesia yang tengah membangun dan tengah dihadapkan pada krisis keuangan.
Dan dengan open source ini sebenarnya kita dapat code, dan mengembangkannya sendiri untuk mengejar ketinggalan itu. Kemudian keuntungan dari open source adalah kita bisa menghemat pengeluaran, khususnya untuk license dan pengeluaran itu bisa dialihkan untuk investasi pendidikan atau untuk inovasi lain.

Apa target AOSI tahun ini?

Kami membagi target yang ingin dicapai dalam waktu 30 hari, 100 hari, dan 1 tahun. Dalam 30 hari kami ingin mendata siapa pemain open source di Indonesia karena kami ingin melakukan sinergi antar para pemain di bidang open source.
Kemudian tentunya kami ingin membentuk kepengurusan dari asosiasi itu dan mengembangkan keanggotaannya dan juga meluncurkan portal www.aosi.or.id yang berisi segala macam informasi yang dibutuhkan untuk menggunakan maupun mengembangkan OSS.
Sementara program seratus hari kami adalah kepengurusan tetap AOSI harus sudah jadi. Syukur lah, kepengurusan tersebut telah terbentuk pada 3 Juni lalu. Kemudian sosialisasi aplikasi open source maupun industrinya. Kemudian saya juga ingin meningkatkan skill dari para pemain open source baik dari segi teknis maupun secara bisnis. Kami ingin membuat diskusi fokus group dengan organisasi pemerintah yang relevan seperti Departemen Komunikasi dan Informatika, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Departemen Perindustrian khususnya di bidang telematika, dan lainnya. Kemudian kami juga ingin melakukan Roadshow Exibition dan Publikasi mengenai pengembangan open source. Dan kemudian juga banyak yang dikeluhkan adalah persedian driver sebagai perangkat penunjang. Hal ini juga akan kami bicarakan dengan para pemain untuk meyakinkan bahwa driver itu bisa tersedia untuk Indonesia.
Dalam satu tahun, kami berharap sudah cukup kuat untuk mulai memasarkan secara internasional OSS maupun jasa-jasa TI lain berdasarkan aplikasi open source. Dan kami juga ingin AOSI bisa menjadi suatu marketing house yang bisa membantu mempromosikan pemain TI di Indonesia.

Jadi sekarang AOSI sudah resmi berdiri? Perusahaan-perusahaan mana saja yang menjadi pendiri AOSI?
Ya betul. Ada 17 perusahaan yang menjadi pendiri AOSI yakni PT. Jatis Solutions Ecom, PT. Quantum Business International, PT. Duta Astakona Girinda, P.T Rimba Sindikasi Media, Yayasan Air Putih, PT. Nurul Fikri Cipta Inovasi, PT. Infolinux Media Utama, Yayasan One Destination Center, Yayasan Penggerak Linux Indonesia, PT. Multikom Persada International, PT. Extol Indonesia, PT. Securitama Systematindo International, Sun Microsystems Indonesia, PT. Linuxindo Total Solusi, PT. IBM Indonesia, PT. Indosat Mega Media dan Majalah BISKOM.

Apa alasannya sehingga Anda dipilih menjadi Duta Open Source Indonesia?
Saya menduga karena kebetulan saya mempunyai latar belakang di  bidang TI dan enterprise yang kuat. Selama ini memang open source dianggap permainan bagi mereka yang hobies, dan suka ngutak-ngatik. Padahal sebetulnya open source sangat relevan dan sangat tepat untuk dunia enterprise, dan baru-baru ini www.cio.com melakukan survei dari para CIO (Chief Information Officer) dan menunjukkan bahwa sekarang open source masuk mainstream enterprise.
Nah saya pikir dengan latar belakang saya, mungkin bisa membantu membawa open source ini menjadi suatu solusi yang reliabel baik untuk perorangan, organisasi, kecil, organisasi besar, pemerintahan, maupun pendidikan.

Menurut Anda berapa banyak pengguna OSS di Indonesia? Apa alasannya orang Indonesia diharapkan bermigrasi ke OSS?
Karena saya belum mulai mendata, jadi belum punya data pastinya, tapi mudah-mudahan kita bisa tahu para pemain atau penggunanya.  Alasan mengapa harus migrasi sebetulnya sangat jelas. Yang pertama adalah murah, malah kebanyakan gratis, jadi sayang kan kalau barangnya bagus dan gratis, tetapi ambil yang bayar? Kan lebih baik dananya dipakai untuk hal-hal yang lain.
Yang kedua adalah dia menggunakan standar terbuka dan standar terbuka itu bagus karena pertama,, memudahkan terjadinya interoperability. Kedua adalah menghindari ketergantungan terhadap suatu vendor, karena kalau ada ketergantungan itu biasanya mendorong terjadinya monopoli yang tidak sehat. Suatu keterbukaan itu merangsang terjadinya inovasi dan merangsang terjadinya kompetisi yang jauh lebih sehat. Dan biasanya dengan kompetisi harga itu akan cenderung turun dan kualitas cenderung naik, karena akan berlomba-lomba untuk memenangkan suatu kompetisi.
Dan ketiga, adalah karena sourcenya dibuka, maka memungkinkan kita untuk mengembangkannya lebih jauh lagi.

2 COMMENTS

  1. “Alasan mengapa harus migrasi sebetulnya sangat jelas. Yang pertama adalah murah, malah kebanyakan gratis, jadi sayang kan kalau barangnya bagus dan gratis, tetapi ambil yang bayar? Kan lebih baik dananya dipakai untuk hal-hal yang lain.”

    Setuju banget

  2. saya baru saja menulis tentang salah satu open source software yaitu moodle di majlah Human Capital. Tapi hanya menulis kulitnya saja belum mendalam tapi Mudah2an bisa jadi bagian promosi OSS juga. Trims.

Comments are closed.