Tegas dan bersahaja, itu kesan pertama yang tampak pada Prof.Dr. Sarlito Wirawan Sarwono. Guru Besar Psikologi yang mendalami bidang Psikologi Sosial ini juga aktif pada berbagai organisasi, antara lain APA, ICP, SPSSI, IPS, ASA, ASI. Kesibukan tersebut dilakukan Mas Ito, begitu ia biasa dipanggil, disamping tugas utamanya sebagai dosen dan pengajar. Mata kuliah yang diajarnya antara lain Logika, Psikologi Perilaku Seksual, Psikologi Sosial, Psikologi Lintas Budaya di Indonesia untuk Sarjana S1 dan mata kuliah Seminar Proposal Tesis, Teori–teori Psikologi Sosial, Aliran-aliran dan Teori-teori Psikologi untuk Sarjana S2. Sarlito juga kerap menjadi ketua Promotor untuk sidang Doktor Ilmu Kepolisian UI.

Kelahiran Purwokerto pada 2 Februari 1944 ini mengambil program Doktor di Universitas Indonesia dan University of Leiden. Disertasinya yang berjudul “Perbedaan Antara Pemimpin & Aktivis dalam Gerakan Protes Mahasiswa” mengantarkan Sarlito meraih gelar doktor pada tahun 1978.

Namun tak banyak yang tahu bahwa Sarlito adalah penggemar musik Jazz. Suaranya cukup merdu dan ia pun lihai dalam memainkan beberapa alat musik termasuk saxophone. Ternyata, Sarlito yang hobi berenang dan bersepeda juga menaruh perhatian lebih pada kinerja kepolisian dan bahkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua itu terlihat pada website pribadinya, http://www.sarlito.hyperphp.com.

Berikut petikan wawancara BISKOM dengan Sarlito di Balai Sidang UI, Depok.

Anda adalah seorang ilmuwan, bagaimana Anda mengamati perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, terutama bidang teknologi?

Selama beberapa ratus tahun, ilmu fisika didominasi oleh teori Newton yang menyatakan bahwa setiap zat terdiri dari molekul dan atom serta inti atom yang masif. Tetapi dalam beberapa puluh tahun terakhir ini, terjadi revolusi dalam ilmu fisika, yaitu dengan ditemukannya fisika kwantum, yang menyatakan bahwa inti atom dapat diuraikan dan diuraikan lagi, sehingga akhirnya hanya terdiri dari kumpulan energi yang dinamis saja.

Salah satu dampak dari revolusi dalam ilmu fisika ini adalah berkembangnya teknologi Nano, yaitu suatu teknologi yang mampu memperkecil atom menjadi 1/50.000 dari yang asli. Maka benda-benda apa pun dapat dibuat sangat kecil, termasuk benda-benda padat, sehingga hari ini kita dapat membuat elemen-elemen teknologi canggih seperti micro-chips dalam ukuran yang sangat kecil dan alat-alat berteknologi sangat canggih pun bisa dibuat berukuran sangat kecil seperti ponsel, komputer, pesawat TV, radio dan alat-alat kedokteran.

Dan tentunya internet?

Betul. Dampak lain dari ditemukannya fisika kwantum adalah dimungkinkannya pengembangan teknologi transformasi dari rangsang-rangsang optik, menjadi impuls-impuls digital yang bisa dikirimkan melalui saluran telekomunikasi dan/atau gelombang-gelombang radio, sehingga gambar, dokumen dan sebagainya bisa dikirimkan ke seluruh dunia melalui satelit dalam hitungan detik dengan harga yang sangat murah, seperti yang kita kenal sekarang adalah fax atau internet. Ini adalah sebuah revolusi berikutnya dalam bidang teknologi informasi. Di masa yang akan datang, bukannya tidak mungkin yang dikirimkan adalah benda-benda paket, bahkan juga manusia.

Sebagai psikolog, tentunya Anda juga melihat dampak negatif dari teknologi. Apa saja yang menurut Anda berpotensi merusak ahlak bangsa?

Revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi memang telah berpengaruh pada perilaku manusia dan norma-norma sosial budaya. Misalnya, fasilitas SMS pada ponsel telah mengurangi kunjungan atau tatap muka diantara masyarakat, sehingga komunikasi jadi sering kali salah. Teknologi informasi yang canggih juga memungkinkan anak-anak bisa mengakses pornografi melalui internet, atau massa yang buta politik membuka situs-situs yang berisi hasutan dan provokasi tanpa bisa disensor sama sekali. Tentunya banyak dampak negatif lain yang tidak bisa saya sebutkan.

Anda menjadi ketua Promotor sidang promosi Doktor Program Ilmu Kepolisian UI. Apakah kini gelar Doktor menjadi semacam trend di kepolisian?

Bukan tren, karena program Ilmu Kepolisian sudah masuk ke tahun ke 12 sejak tahun 1996. Pengembangan program tersebut baru mencapai puncaknya dan sekarang ini adalah angkatan pertama yang lulus, baru sekitar 8 Doktor Ilmu Kepolisian UI. Jadi mereka bukan saling mengejar untuk meraih Doktor karena mereka telah memulainya sejak lama. Dibilang tren di kepolisian juga tidak, karena lulusan Ilmu Kepolisian tidak semua berasal dari polisi. Suatu saat jika lulusan Ilmu Kepolisian menjadi atasan, maka mereka adalah polisi yang berilmu pengetahuan. Sebaliknya jika mereka menjadi dosen, maka menjadi dosen yang paham betul akan bidangnya serta memiliki pengalaman lapangan dan ilmiah.

Dalam disertasinya, para Doktor UI banyak mengambil studi kasus dari bidang pekerjaannya. Padahal banyak kasus yang belum tersentuh. Tantangan apa yang harus diteliti dan diperbaiki dalam kepolisian RI?

Betul, kenyataannya banyak sekali temuan yang mereka hasilkan. Seperti misalnya temuan bahwa sistem yang dijalankan di polsek A ternyata banyak menghabiskan dana, sehingga perlu dirubah menjadi sistem B. Atau ada juga temuan, bahwa di sebuah daerah, ternyata hukum adat lebih dominan dan lebih dipakai dibanding hukum yang ditegakkan pemerintah, sehingga ini menghambat kerja polisi. Juga, salah satu Doktor UI menemukan fakta baru dalam penyelesaian kasus-kasus kejahatan dalam dunia internet, seperti cracker dan carding, misalnya.

Jika kita hubungkan antara polisi dan teknologi, apakah kepolisian kita sudah bisa menggunakan teknologi canggih seperti teknologi informasi?

Belum, sama sekali belum. Apalagi jika kita berbicara polisi di daerah. Namun ini lah gunanya penelitian, pelan-pelan kita akan tahu masalah yang sedang terjadi dan bagaimana mengatasinya. Apalagi teknologi adalah sebuah kebutuhan, sehingga kita, termasuk polisi, mutlak peduli pada teknologi.

Rupanya Anda juga concern terhadap TI. Bisa diceritakan tentang web pribadi Anda?

Website itu mungkin bukan yang terbaik yang pernah Anda kunjungi, tapi merupakan yang terbaik yang pernah saya punya. Teman saya yang bernama Juneman yang mendesain, dan saya yang merancang kontennya. Disitu saya banyak bercerita soal pengalaman saya, seperti yang saya katakan bahwa saya kerap disebut ilmuwan, one of the top psychologists in Indonesia, selebritis dan lainnya. Tapi saya merasa bahwa saya adalah orang biasa. Saya juga membagi kegemaran saya akan musik yang saya suka, yakni light jazz dan easy listening music yang dapat didengar oleh semua kalangan, baik tua maupun muda. Di web itu, saya juga banyak merangkum beberapa tulisan dan juga menyediakan ruang bagi para pengunjung web saya untuk bertanya dan melakukan diskusi. Semua gratis.

2 COMMENTS

  1. salam hormat,
    saya tertarik dengan web anda yang semoga bisa menjadi lahan konsultasi untuk peningkatan kinerja POLRI di masa depan.
    saya ada beberapa masalah di bidang kinerja POLRI dan saya sangat membutuhkan media tutorial atas pemecahan masalah yang saya hadapi….

  2. pak,bagaimana komentar anda mengenai mahasiswa yg punya kerja sampingan dan mahasiswa tersebut lebih condong kepekerjaannya, lantas bagaimana kehidupan pendidikan anda di masa lalu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.