Seminar “Inovasi Teknologi & Bisnis Radio 2.0”

Ditulis pada 08 April 10

Cover-Proposal-Seminar-Nasional2Industri radio siaran di negeri ini telah dihadapkan fakta koeksistensi teknologi analog dan digital, serta oleh pesatnya kovergensi teknologi informasi, komunikasi, dan penyiaran. Bisa jadi eksistensi siaran konvensional akan terkubur dimasa yang akan datang. Tak pelak lagi, reinventing merupakan jawaban bagi entitas industri radio siaran jika ingin survive menghadapi revolusi dunia radio siaran. Reinventing itu pada prinsipnya merupakan usaha gotong royong untuk menemukan kembali nilai dan masa depan radio. Melihat kondisi seperti ini, langkah reinventing yang efektif adalah dengan mewujudkan kolaborasi siaran lewat lembaga independen. e-Broadcasting Institute (eBI) adalah lembaga independen yang menyediakan teknologi dan inovasi bisnis bagi radio yang akan memanfaatkan kemajuan TIK terkini. Serta menyiapkan layanan transformasi bagi radio sehingga siarannya dapat dinikmati pendengar baik secara analog (AM/FM), digital (DAB/IBOC), Internet & mobile (live streaming dan podcasting), dan social media (facebook, twitter, dll). Revolusi dunia radio pada saat ini memacu industri siaran menuju intelligence radio. Begitu juga dengan proses bisnis dan manajemen harus transformatif. Dunia telah menembus batas radio konvensional dan mengalami  revolusi dunia radio 2.0.  Jika pada era radio analog, radio broadcaster harus mengurus semuanya, tetapi dengan menggunakan inovasi dan teknologi Radio Broadcasting 2.0, mereka bisa lebih banyak melakukan proses kreasi dan berinovasi dari sisi konten/materi siaran. Sedangkan yang berkaitan dengan transmisi sedikit demi sedikit bergeser dan diserahkan kepada pihak lain yang lebih berkompeten (network operator).

Trend dunia menunjukkan bahwa usaha radio siaran sangat cerah, hal itu ditunjukkan dengan adanya indikator Radio Listenership di USA yang mencapai 93%  dan tidak jauh berbeda dengan Eropa, Jepang dan Australia. Sayangnya terdapat anomali di negeri ini, sehingga perkembangan radio siaran tidak optimal jauh dibawah potensi rata-rata dunia. Hal itu disebabkan oleh belum adanya lompatan masal teknologi serta belum idealnya regulasi yang menyangkut sistem siaran nasional dan berjaringan. Dari aspek ekonomi,  menurut ZenithOptimedia potensi belanja iklan dunia mencapai 504 miliar dollar AS, dari jumlah itu belanja iklan  radio dunia mencapai 39 miliar dollar AS (7,8%). Data AC Nielsen menyebutkan bahwa belanja iklan media di USA  mencapai  117 miliar dollar AS, sedang belanja iklan radio disana mencapai 16 miliar dollarAS (13%). Ironisnya terjadi anomali di negeri ini, dimana belanja iklan media mencapai Rp 48,5 triliun (AC Nielsen), disisi lain belanja iklan radio hanya mencapai Rp 630 miliar   (1,3%). Diharapkan hasil teknologi dan inovasi bisnis eBI akan mengatasi anomali tersebut hingga menuju standar dunia (meningkat 6 kali dari kondisi aktual)

Langkah eBI juga telah mendorong terbentuknya elemen-elemen yang bisa mendongkrak indeks Connectivity Scorecard. Paradigma itu terlihat dengan beberapa entitas radio siaran  di kota besar, kabupaten dan yang berada di pelosok daerah (kecamatan) yang telah menggunakan teknologi dan inovasi bisnis eBI. Ternyata mereka mampu melakukan transformasi menyongsong revolusi dunia Radio 2.0. Hal itu ditunjukkan oleh testimoni para pengelola radio siaran  seperti Radio K-Lite Bandung, Radio Zora Bandung, Radio Antares Garut, Radio Best Garut, Radio Sukapura Tasikmalaya, Radio Buanajaya Tasikmalaya, Radio RIS Pangandaran, Radio Rasilima Kuningan, Radio Actari Ciamis, dan lain-lain. Pada prinsipnya testimoni tersebut menyatakan bahwa mereka sangat terbantu teknologi dan inovasi eBI dalam melaksanakan siaran, kinerja tim lebih terarah, lebih memacu untuk terus berkreasi meningkatkan kualitas siaran. Memudahkan membuat produk siaran. Memudahkan operasional siaran, baik bagi program director, music director, news director, traffic, sampai dengan penyiar yang menyiarkan via on-air. Mereka dapat berkoordinasi dan mengerjakan tugas cukup dari rumah, sehingga keutuhan team work bisa terjaga. proses siaran jadi terintegrasi, sehingga tidak kerepotan lagi mencari bahan-bahan siaran. Selain itu juga dapat meningkatkan kualitas siaran, dan ramah lingkungan. Mudah mengetahui data pendengar, mengetahui respon pendengar yang masuk. Mudah mengevaluasi siaran, dari sebelum siaran sampai pasca siaran termonitor dengan baik. profesionalisme lebih meningkat, bisa merencanakan siaran, melaksanakan siaran dan memantau pasca siaran. Siaran jadi mendunia, sehingga pendengar mereka yang menjadi buruh migran di Malaysia, Hongkong, Timur Tengah dan dari belahan dunia yang lainnya, masih bisa proaktif mengikuti siaran radio dari kampungnya. Dari testimoni diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa inovasi dan teknologi Radio Broadcasting 2.0 yang diberikan eBI telah terbukti bisa mentransformasikan proses bisnis radio siaran, sehingga memunculkan resources, efisiensi, dan Innovation Driven Economies.

eBI sedang menggalang jaringan. Diharapkan sekurang-kurangnya 1.000 radio dapat bergabung hingga 2012. eBI telah membangun portal kolaborasi konten radio (www.suararadio.com) yang memiliki kelebihan bahwa semua radio dapat memuat berita atau kontennya yang ter-update otomatis dari setiap website masing-masing radio, secara real time tayang (pod casting), pendengar dapat menyimak berita atau konten musik, dari gadget-nya di mana pun berada. Kelebihan lain, di antaranya, pemasang iklan di radio di mana pun berada kini dapat memantau iklannya real time, maupun melihat archive jam pemutaran secara nyata. Kecanggihan itu dapat bekerja, karena adanya jantung aplikasi yang diciptakan menggerakkan, berupa aplikasi RISE (Radio Broadcasting Integrated System). Aplikasi yang berguna bagi para radio melakukan otomasi siaran.

Perkembangan Radio 2.0 akan diakselerasi oleh teknologi Cloud Computing dan kecerdasan buatan (Artificial Intellligence). Inovasi Radio Broadcasting 2.0 yang tengah dilakukan oleh eBI pada gilirannya nanti akan mewujudkan Radio Intelligence seperti yang terjadi di negara maju. Fenomena tersebut terlihat dari proyek Next Generation Dahsboard. Perkembangan inilah yang untuk selanjutnya ditarget oleh e- Broadcasting Institute (eBI). Inovasi ke depan akan menuju Next Generation Radio atau Radio 3.0; yang menginjeksi kecerdasan buatan ke dalam radio 2.0 : intelligent radio. Bila kini kebanyakan radio siaran masih menggunakan teknologi manual, atau pun sudah menggunakan sistem komputer, namun sifatnya masih data base searah. Pada radio 2.0, semua data dan input data, bisa real times, terintegrasi, bergerak dinamis. Pada radio 3.0 kelak, sudah dapat diperintah dengan suara kita.

Sekian dan kami ucapkan terima kasih atas kerja samanya. Kepada rekan-rekan jurnalis dari media cetak maupun elektronik, sekaligus kami mengundang untuk menghadiri seminar ini.

Seminar “Inovasi Teknologi & Bisnis Radio 2.0”
Untuk Membangkitkan Industri Kreatif Radio Siaran pada Era Koeksistensi dan Konvergensi Teknologi.

Tanggal      : 13 April 2010
Pukul           : 08.30 – 15.30 WIB
Tempat       : Aula Barat – Institut Teknologi Bandung

Penyelenggara: Institut Teknologi Bandung (ITB), e-Broadcasting Institute (eBI), dan didukung oleh PT TELKOM serta Majalah BISKOM sebagai Media Partner.