Kebutuhan Properti Meningkat, Fotografer Interior Masih Terbatas

Ditulis pada 21 October 10

Seminar FotoSalah satu dampak positif dari perkembangan teknologi informasi (TI) adalah ketertarikan orang terhadap dunia fotografi. Kamera yang semakin terjangkau dari segi harga, pilihan piranti lunak yang kian beragam serta maraknya personal komputer atau notebook dengan kemampuan canggih yang beredar di pasaran, mendukung hobi mereka untuk menghasilkan sebuah foto yang menarik. Tak terasa, foto yang berkualitas pun kini menjadi sebuah kebutuhan penting. Tak terkecuali di bidang arsitektur dan interior.

Di sisi lain, terkait dengan kebutuhan dan permintaan akan hunian, baik di kota besar maupun kecil yang semakin meningkat, membuat para pengembang (developer) jeli menanggapi peluang ini dengan membangun hunian sesuai target yang dituju, mulai dari hunian sederhana, medium sampai dengan perumahan super high class yang hanya mampu dicapai oleh kaum minor diperkotaan. Tentu saja, bukan hanya hunian, amusement center, hotel, apartement atau resort kini juga mengedepankan  sisi interior, tata letak serta lighiting yang mewah.

Persaingan diantara para pengembang tersebut berdampak pada persaingan di bidang promosi atau periklanan perumahan yang kian ketat. Mereka yang mempunyai daya saing dan nilai jual tinggi serta mampu berpromosi dengan baik, dipastikan akan berhasil melakukan penjualan terbaik. Dalam hal ini, foto interior  memegang peranan yang sangat penting.

Arjon, Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) mengatakan, bagi seorang desainer interior, sebuah foto bukan hanya digunakan sebagai dokumentasi semata, tapi lebih dari itu adalah sebagai pendukung portfolio desainer dan perusahaan yang menaunginya. “Sebelum menawarkan konsep interior pada klien, bisanya klien meminta portfolio desainer. Apa saja dan bagaimana hasil karya yang pernah ia buat sebelumnya, hal itu bisa diperlihatkan dari foto-foto yang sempat diabadikan dan dirangkum dalam sebuah portfolio. Semakin berkualitas portfolio seorang desainer, pastinya akan semakin meyakinkan calon klien,” kata Arjon yang mantan dosen Institut Seni Indonesia (ISI), Jogjakarta ini.

Hanya saja, seperi dikatakan  desainer interior profesional, Roland Adam, dari pengalamannya bekerja dengan fotografer interior selama puluhan tahun, ternyata membuat sebuah foto interior berkualitas tidak lah mudah. Namun, ujar Roland, “Dengan beberapa tips dan kebiasaan mencoba memotret berbagai gaya interior, bukan hal mustahil jika setiap orang bisa menghasilkan foto yang ideal dan mewujudkan keindahan seperti apa yang bisa kita lihat pada karya interior seorang desainer. Istilahnya, fotonya indah, seindah aslinya.”

Sementara fotografer interior, Ibham Jasin mengatakan, kendati peluang pekerjaan yang mengakomodir informasi mengenai interior semakin luas, namun tak banyak fotografer yang berkeinginan untuk mengaktualisasikan dirinya pada bidang ini. “Kita lihat, kini betapa banyaknya media atau majalah-majalah interior yang beredar di pasaran. Belum lagi jika kita bicara mengenai perusahaan properti dan interior, mulai dari cat, furniture, keramik, lampu, handle pintu dan lain sebagainya yang tak terhitung jumlahnya di Indonesia, maka karya fotografi yang berkualitas sangat dibutuhkan,” kata Ibham.

Ibham yang juga menjadi kontributor di beberapa media ini menambahkan, “Ada beberapa persyaratan dalam menghasilkan foto interior, diantaranya berpikir simpel meski pada prakteknya lebih sulit dibanding membuat foto model atau produk.”

Ingin tahu tips lain dari Ibham Jasin, Roland Adam dan Arjon? Ikuti Seminar “Berpikir Simpel Untuk Menghasilkan Foto Interior Terbaik” dengan ketiga pembicara ini di Jakarta Desain Center (JDC) Lantai 6, Jakarta pada 28 Oktober 2010 mendatang.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama BISKOM, Sony Alpha dan HDII, dan didukung oleh mitra sponsor seperti Kingston, Gigabyte, Genius, MSI, Whiz Hotel, Alam Sutera dan Golden Eagle. Media partner untuk acara ini adalah Living Etc, Tabloid Rumah, Techlife, dan Radio LiteFM