Panah SoreangUpaya Polres Bandung menciptakan sebuah perangkat aplikasi berbasis teknologi informasi (TI) untuk merespon secara cepat jika ada perampokan atau gangguan keamanan, ternyata tidak direspon oleh dunia usaha di Kabupaten Bandung. Padahal, alat tersebut dinilai sangat efektif untuk mendeteksi secara cepat jika ada perampokan atau gangguan keamanan di bank, toko emas dan tempat usaha lainnya. Cara penggunaannya pun sangat sederhana.

Di Indonesia, pada umumnya kejahatan yang menduduki kuantitasnya adalah pencurian biasa, dan pencurian dengan pemberatan, kemudian menyusul pencurian dengan kekerasan, termasuk penodongan dan perampokan, dan disusul oleh kejahatan-kejahatan kesusilaan.

Menurut Kriminolog Mulyana W. Kusuma, kejahatan merupakan salah satu bentuk dari perilaku menyimpang. Kondisi pelaku kejahatan sering kali dapat dipengaruhi oleh tingkat perekonomian, pendidikan serta iman yang lemah sehingga dengan mudah melakukan tindak kejahatan. Kondisi nyata yang ada sekarang ini, para pelaku kejahatan sepertinya semakin merajalela. Pada tahun 2007 terdapat 184 kasus kejahatan besar, tahun 2008 sebanyak 183 kasus dan tahun 2009 sebanyak 123 kasus dan pertengahan tahun 2010 lalu terdapat 142 kasus kejahatan besar dan kemungkinan akan terjadi kenaikan secara signifikan setelahnya.

Berdasarkan kenyataan ini, Kasatreskrim Polres Bandung, AKP Agung Masloman, menciptakan perangkat “Panah Soreang 2000” yang cara kerjanya sangat simpel. Sebuah tombol ditempat kan di tempat-tempat strategis atau ruang usaha, dan jika terjadi perampokan, si pemilik toko maupun perbankan tinggal memijit tombol yang sudah langsung terintegrasi secara online dengan perangkat TI atau komputer di Mapolres Bandung dan polsek-polsek serta anggota serse di lapangan. Dalam waktu hanya 15 detik saja, dengan dilengkapi mobil operasional quick response, anggota kepolisi an akan langsung mendatangi lokasi sehingga diharapkan perampok akan cepat bisa ditangkap. “Namun sayang sejak disosialisasikan sejak bulan Juli 2010, respon dari pemilik toko dan usaha lainnya di Kabupaten Bandung sangat minim.

Padahal, kami tidak mengambil profit dari alat yang hanya berharga Rp 2 juta rupiah,” ungkap Agung kepada BISKOM, awal Maret ini. Agung menjelaskan, nama Panah Soreang 2000 diambil dari lambang Jajaran Reserse dan Kriminal Polri berupa panah beserta busurnya. Sementara angka 2000 diambil dari angkatan jajaran si pencipta alat ini sendiri, Agung Masloman. Namun entah karena merasa tingkat keamanan di Kabupaten Bandung cukup kondusif atau karena alasan harus membeli alat tersebut, hingga kini belum satu pun toko emas atau bank di Kabupaten Bandung yang memanfaatkan alat itu.

KasatreskrimAgung mengaku dirinya menyayangkan bahkan kecewa dengan minimnya respon para pelaku usaha. Terobosan yang dilakukan Satreskrim Polres Bandung dan alat yang sudah dipatenkan itu laris manis, diadopsi oleh polres-polres lain di Jawa Barat. “Polres Karawang merupakan salah satu polres yang sudah memanfaatkan alat ini dan terbukti efektif menekan angka pencurian dan perampokan di wilayah hukum Polres Karawang,” kata Agung.

Ia mengaku tujuan awal diciptakannya alan tersebut guna menekan angka perampokan dan pencurian. “Kami berharap ada campur tangan dari pihak pemerintah daerah agar dunia usaha memanfaatkan alat itu, paling tidak dimulai dari kantorkantor dinas tiap pemda,” ujar Agung.

Kapolres Bandung, AKBP Hendro Pandowo menambahkan, “Panah Soreang” berupa sistem terpadu yang bisa diakses langsung oleh dua pihak, antara masyarakat pengguna dengan Satreskrim Polres Bandung. Jika si korban memijit tombolnya, kata Hendro, maka akan muncul di monitor lokasi yang mengirim tanda bahaya dan langsung otomatis terkirim SMS ke anggota yang berada di lapangan. “Pesan itu memberikan sinyal bahwa telah terjadi tindak pidana di tempat yang terkoneksi pada pesan singkat dimaksud. Jaringan ini terhubung bisa melalui internet dan jaringan GSM. Teknologi ini kami kembangkan sendiri dengan idenya dari Reskrim Polres Bandung dan kita sendiri yang melakukan risetnya,” jelas Hendro.

Langkah inovatif yang ditempuh Polres Bandung ini bahkan telah melampaui jajaran kepolisian di atasnya yakni Polda Jawa Barat. Polda Jawa Barat sendiri, baru berencana membuat sistem pengamanan bank berupa perangkat sejenis alarm yang terhubung langsung ke polisi. Sistem tersebut akan memberitahukan langsung jika ada potensi gangguan keamanan sehingga polisi bisa bergerak cepat menanggulangi kejahatan.

Direktur Binmas Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Gatta Chaeruddin mengatakan, selama ini pengamanan bank dikenal dengan swakarsa atau pengamanan sendiri. Kemudian polisi bertugas sebagai pembuat standarisasi yang ditangani Direktorat Binmas Polda Jawa Barat. “Kami akan pasang perangkat TI yang mampu menghubungkan langsung antara bank dan polisi. Ketika nanti ada potensi gangguan keamanan, polisi akan bergerak cepat menanggulanginya,” kata Gatta dalam Rapat Koordinasi Sistem Pengamanan Perbankan di Gedung Bank Indonesia, Bandung, (7/3).

Menurut Gatta, dalam satu titik objek harus ada minimal dua orang satpam. Namun jika tidak mampu mem biayai tenaga satpam, harus didukung teknologi pengamanan. “Jadi kalau ada dua orang satpam, satu orang terkena perampokan maka seorang lagi mengirimkann informasi kepada ke- polisian. Akan lebih bagus kalau di dukung teknologi pengamanan, seperti CCTV (Closed Circuit Television),” tegasnya.

Gatta menuturkan, langkah awal dalam sistem pengamanan terpadu harus dimulai dari internal. Kemudian keterpaduan pengamanan dengan internal lainnya sehingga penindakannya bisa lebih cepat. “Keamanan menjadi tanggung jawab pengamanan terpadu dengan kecepatan dan ketepatan pengamanan atau penanganan. Kami upayakan melalui koordinasi antarinstansi bank terlebih dahulu,” tegasnya.

Saat ini, lanjut Gatta, polisi mencoba melaksanakan sinergi antara pengelola perbankan dan polri kemudian pelatihan kemahiran bagi satpam. “Selain itu ada pengawasan dan satpam melakukan inovasi pengamanan,” tuturnya.

Selain itu pada akhir Januari lalu, Polda Jawa Barat juga mulai mengoperasikan Traffic Management Center (TMC). Tujuannya upaya memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Regional Ttraffic Management Center (RTMC) dikelola langsung oleh Direktorat Lalulintas Polda Jawa Barat. Ruang operasional RTMC Jabar berada di Mapolda Jabar dan untuk wilayah Kota Bandung bernama TMC Polrestabes Bandung yang ruang operasionalnya berlokasi di Mapolrestabes Bandung.

“RTMC Polda Jawa Barat dilengkapi 58 CCTV yang tersebar di sejumlah titik, dan yang ada di Kota Bandung jumlahnya ada 16 CCTV,” terang Kasatlantas Polrestabes Bandung, AKBP Sambodo Purnomo. Dikatakannya, CCTV yang terpasang akan berfungsi sebagai pemantau perkembangan arus lalu lintas yang letaknya di Pasar Cisarua, Gadok dan Ciawi Bogor. CCTV yang terpasang di Kota Bandung ada di Alun-alun, Pasteur, Dago, Cihampelas dan Gasibu. “Informasi kondisi terkini arus lalu lintas di Kota Bandung nantinya akan disampaikan petugas melalui website serta jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter,” kata Sambodo.

Sementara itu, Kapolda Jawa Barat, Irjen Polisi Suparni Parto mengatakan, melalui teknologi yang online perpanjangan SIM dan STNK bisa di tuntaskan dalam hitungan menit. “Sehingga tidak ada alasan lagi bagi masyarakat akan hal waktu, TMC berada di pusat keramaian seperti mall,” tandas Kapolda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.