Figure Frans 01JUG Indonesia yang semula sebagai milis lowongan pekerjaan Java, yang saat itu sulit sekali didapat, telah berubah menjadi sebuah komunitas Java yang aktif dengan lebih dari 200 perusahan yang menggunakan Java di dalamnya. Saat itu penggiat Java, Frans Thamura, berniat untuk melakukan edukasi masal, menggunakan milis Java. JUG akhirnya memilih melakukan edukasi Java yang bersifat open source.

Dalam perjalanannya, JUG Indonesia memiliki mentor langsung, yaitu Bruno Souza, pendiri JUG terbesar di Brazil, dengan anggota lebih dari 20.000. Brazil merupakan salah satu negara berkembang yang sangat solid dalam implementasikan open source. Lalu apa kegiatan JUG Indonesia saat ini? “JUG membantu industri teknologi informasi (TI) Indonesia untuk growth. We provide more real proven trusted solution,” tandas Frans kepada BISKOM, awal April lalu.

Berikut kutipan perbincangan kami dengan Frans yang juga menjabat sebagai Direktur Meruvian.

Bagaimana komunitas JUG saat ini?
JUG Indonesia sudah ada sejak April 2003 dengan lebih dari 4000 member aktif. Sedangkan di Java Education Network Indonesia (JENI) ada sekitar 15.000 member. Selain melalui forum di internet, kami juga kerap ‘kopi darat’ untuk sharing pengetahuan.

JUG Indonesia mendapat dukungan dari Brazil, dukungan seperti apa kongkritnya?
Brazil telah memberikan banyak dukungan sehingga JUG Indonesia banyak mengimplementasikan gerakan Brazil. Brazil merupakan salah satu negara berkembang yang sangat solid dalam implementasi open source, dan telah berhasi menghubungkan lebih dari 100 juta penduduknya dengan sistem rumah sakit berbasis Java, dan mengimplementasikan sistem perpajakan online multiplatform berbasis Java. Selain itu, JUG Indonesia juga dipengaruhi oleh JUG dari Rusia. Rusia sendiri merupakan salah satu negara yang sangat maju, dengan julukan Silicon Valley di Eropa Timur.

Pengakuan lain dari mana?
Ada pengakuan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Mesir, dimana kami mendapat dukungan dari mereka untuk menjalankan program Java Education Network Egypt (JENE). JUG itu kan center-nya kreativitas yang fokus pada result product dan proven. JUG Indonesia salah satu founder JUG Asia, dan saya dipercaya menjadi Coops pendidikan Java di Mesir, juga Korea untuk kolaborasi JUG Asia.

Kemkominfo Mesir baru menyetujui JENE di Mesir menjadi program strategis dengan pendanaan lima tahun. Bayangkan, Java di sana mendapat program kerja selama lima tahun dengan investment center lima tahun. Tapi di Indonesia, pemerintah masih enggan mendukung JUG Indonesia, meski di tingkat dunia, Indonesia termasuk yang berpengaruh. Java telah digunakan di kampus-kampus, meski mereka tidak mau mengakui materi yang kita buat. Jadi material standar laboratrium komputer univesitas diadopsi menjadi kurikulum politeknik, universitas dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Saat ini kami sedang mengajukan kurikulum nasional SMK untuk 1.800 sekolah atau sekitar 500 ribu anak SMK. Ini bisa menjadi proyek programming terbesar di dunia. Bahkan sepertinya program kita akan jadi standard di ASEAN, Afrika dan Timur Tengah.

Benefit apa sebenarnya yang bisa Anda dapatkan dari komunitas nirlaba seperti ini?
Tidak ada secara finansial. Apalagi beberapa moderatornya hengkang ke luar negeri, sehingga tidak bisa bertransformasi menjadi organisasi resmi. Tapi, saya sudah membuat organisasi resmi Java namanya Meruvian, berupa yayasan. Kalau ada orang lain mau kolaborasi dengan versi saya sendiri namanya Meruvian. Biar komunitas Java tidak merasa saya ‘hijack’.

Jadi, Meruvian ada struktur organisasinya? Lalu mau dibawa kemana ribuan komunitas JUG ini?

Struktur Meruvian dibuka untuk umum dan donatur. Di situ saya sebagai pembina. Kami ingin menjadi global player, pengusaha muda juga sebagai simbol moderinsasi Indonesia yang jujur, gentleman, kreatif dan sportif. Program utama kami adalah menghasilkan pengusaha Java dengan progam jtechnopreneur sebagai versi lanjutan JENI dimana JUG Indonesia menjadi komite. JENI merupakan program Kementerian Pendidikan Nasional untuk kurikulum dasar Java.

Figur Frans 02Apa saja yang bisa dilakukan di Meruvian?

Meruvian adalah lembaga pengembangan dan pelayanan berbasis Java dan Enterprise OpenSource pertama dan terlengkap. Meruvian merupakan tempat kolaborasi Teknologi Java dan OSS yang diciptakan berbasiskan pengalaman. Didirikan pada 28 Maret 2006, Meruvian terbentuk untuk mengurangi kesenjangan industri. Berbekal pengalaman telah menjadikan Meruvian sebagai lembaga yang memiliki hubungan dengan perusahaan-perusahaan hingga lembaga-lembaga pemerintahan di Indonesia.

Layanan-layanan yang kami sediakan adalah terdiri dari tiga. Pertama, Meruvian Education Services seperti training, workshop, seminar, magang, penyaluran tenaga kerja, dan lain sebagainya. Kedua adalah Meruvian Store, dimana kami menyediakan software berteknologi Free Open Source Software (FOSS) dengan skala business enterprice software dan juga menyediakan tenaga kerja yang handal dan siap kerja dengan kemampuan programming (OSS dan Java). Layanan
ketiga dari Meruvian adalah Support Services seperti Company Visiting (presentasi, training, installasi, dan lain sebagainya), konsultasi seputar solusi-solusi bisnis dan penyedia forum-forum diskusi JUG.

Apa peranan komunitas TI dalam perkembangan TI nasional, melihat kedahsyatan dari peranan JUG?

Kami telah jadi mind leader. Lihat e-Government atau business solution, semua memerlukan produk handal dan Java adalah salah satunya. Jadi peran komunitas kami adalah membantu industri TI Indonesia untuk growth. We provide more real proven trusted solution. Saya ingin menghasilkan modern hero.

Menurut Anda kenapa pemerintah tidak mau merangkul JUG atau JUG sendiri yang tidak mau dirangkul pemerintah?

Bukan soal mau tidak mau. Landasan kami bersih membangun bangsa, jelas bertolak belakang dengan pemerintah. Ibaratnya bagaikan air dengan minyak yang tidak bisa bersatu. Kalau pun ada, paling salah seorang membernya. Tapi pengalaman kami, member yang ke pemerintahan atau berpindah ke politik akan tertular penyakit kerja yang kurang jelas.

Kalau di Indonesia, JUG mungkin dianggap komunitas yang “menganggu” di pemerintahan. Tapi di luar negeri, JUG adalah rekanan strategis.

Apa harapan ke depan terhadap industri TI nasional?
Negara ini memerlukan pemimpin dan pemerintahan yang bersih. Sebenarnya, ada juga beberapa rekanan di lingkaran lain yang mungkin lebih baik daripada program platform inovasi, yang mungkin mendapatkan pasar lebih besar dan lebih mudah diseremonialkan dan dikembangkan, serta short term return daripada pengembangan ekosistem.

Saya melihat industri TI kita akan diekspansi asing dan saya sendiri tidak tahu bagaimana mempertahankannya, karena memang desain pemerintah sekarang adalah tidak mendukung usaha kecil menengah (UKM). Dengan pendidikan yang makin buruk lulusannya serta regulasi yang tumpang tindih, saya jamin TI Indonesia sama saja dengan industri lain yang pada umumnya sulit berkembang. Tragis, padahal TI dianggap sebagai ladang baru dan sarana pemerintah bersih,
tapi pengembangan e-Government masih asal-asalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.