Focus 01DALAM 3 tahun terakhir, jumlah pabrik komputer di Indonesia terus menyusut. Dari semula 12 perusahaan, kini tinggal 5 perusahaan saja. Penerapan bea masuk 0% (nol persen) bagi produk komputer jadi menjadi pemicu utamanya. Pemerintah diminta meninjau ulang kebijakan tersebut. “Bagaimana tidak kolaps kalau bea masuk komputer jadi diturunkan hingga nol persen. Industri kita belum bisa bersaing. Mereka memilih menutup usaha daripada melanjutkannya dengan penjualannya sangat rendah,” ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Teknologi Informasi dan Telekomunikasi, Didie W Soewondho seperti dilansir Kompas, (15/3).

Beberapa merek lokal yang saat ini masih eksis adalah Zyrex, Advan, Byon, Axioo dan Ion. Membanjirnya produk komputer impor sekaligus komputer selundupan telah mengubah semangat industri menjadi semangat dagang. “Para pemilik usaha komputer lokal akhirnya hanya menjadi pedagang saja. Semangatnya untuk menjadi industrialis sudah padam,” kata Didie.

Menurut dia, pemerintah seharusnya membebaskan bea masuk impor untuk komponen komputer. Namun yang terjadi, pemerintah justru menerapkan bea masuk sebesar 5-10% bagi komponen komputer rakitan. Padahal, pemain komputer rakitan sangat banyak dan hampir semuanya merupakan UKM.

Di Indonesia, jumlah UKM yang bergerak di perakitan komputer berkisar 5.000 unit. Sebagian besar komputer yang digunakan masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, adalah jenis rakitan. “Kalau bea masuknya saja 5-10%, bagaimana mereka bersaing dengan komputer jadi yang bea masuknya nol persen,” katanya.

Didie mengatakan, pihaknya akan segera melaporkan masalah tersebut ke menteri perekonomian. Dia berharap menteri perekonomian bisa berkoordinasi dengan kementerian yang terkait dengan kebijakan tersebut. Kebutuhan komputer di Indonesia per tahun mencapai 12 juta unit. Dari jumlah tersebut sebanyak 60% dipenuhi dari produksi dalam negeri, baik rakitan maupun komputer jadi. Sisanya dari komputer impor, terutama dari China. Dibandingkan jumlah penduduk, yang sudah menembus 230 juta, angka penetrasi komputer di Indonesia masih sangat rendah, yakni berkisar 5%. “Ke depan, pangsa komputer masih sangat terbuka lebar. Di Thailand, penetrasi komputer tiap tahun sekitar 55% dari total jumlah penduduk,” katanya.

Menurut Ketua Umum Kadin, Suryo Bambang Sulisto, sektor industri komputer harus dipersiapkan untuk menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN tahun 2015. “Industri dalam negeri harus diperkuat. Jika tidak, pasar potensial kita akan diambil negara lain. Banyak negara yang mengincar pasar Indonesia karena potensi jumlah penduduk yang cukup banyak,” papar Suryo.

Dia menambahkan, dengan kepemimpinan Indonesia di ASEAN saat ini seharusnya Indonesia bisa lebih banyak melakukan pembenahan internal untuk menyongsong masyarakat ekonomi ASEAN. “Jadi, fokusnya jangan hanya pada regional, tetapi juga internal sendiri,” kata Suryo.

Focus 02Sulit Berkembang
Sementara itu Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi mengatakan, saat ini masih cukup sulit untuk menumbuhkan industri perakitan atau asembling komputer di Indonesia. “Karena bea masuknya nol persen,” kata Budi.

Pengenaan bea masuk 0%, dilandasi kebijakan untuk menumbuhkan melek teknologi di masyarakat Indonesia. Sehingga dengan bea masuk 0% ini, orang lebih memilih untuk berdagang. Budi berharap dengan pemberlakuan pasar bebas ASEAN Cina saat ini, industri komponen akan masuk ke Indonesia, atau mereka masuk sekalian dalam industri perakitan.

Sebenarnya, sambung Budi, sudah ada sejumlah perusahaan yang berniat untuk mendirikan pabrik di Indonesia, tapi hingga kini perusahaan-perusahaan itu baru sekadar melihat-melihat potensi di Indonesia. “Masih cek dan ricek mereka,” kata dia.

Hanya saja yang jelas, pemerintah sudah berbicara dengan para prinsipal pabrikan komputer untuk mendirikan pabriknya di Indonesia. Budi mengatakan pemerintah akan memberikan bea masuk ditanggung pemerintah untuk bahan baku yang masih harus diimpor.

Menanggapi hal ini Ketua Bidang UKM Masyarakat Telematika (Mastel), Rudy Rusdiah menyatakan keheranannya kenapa barang jadi 0% sedangkan sukucadang sedang diperjuangkan menuju 0%. “Karena kita ingin jadi pedagang barang jadi. Sebab kalau mau bikin pabrik, malah kena pajak beli sukucadang. Dari sini, bukannya industri PC ingin jadi pedagang, tapi regulasinya yang membuat kita jadi pedagang. Indonesia terbalik dengan Singapura atau di Malaysia,” jelas Rudy.

Menurutnya sudah menjadi paradigma di negara kita di mana para pejabat begitu kaku membuat pelayanan publik. “Paradigmanya masih kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah. Hal-hal seperti ini menghambat bisnis dan menciptakan ekonomi biaya tinggi.. Inilah yang menyebabkan tujuh perusahaan komputer itu bangkrut,” kata Rudy.

Rakit Notebook?

Tapi anehnya, di tengah pabrik komputer berguguran, dalam bursa kerja ‘Job Matching SMK’ di Jatim Expo, (4/12/ 2010) yang diikuti 102 perusahaan yang ada di Jatim, sekitar 700 siswa SMK memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan merakit 4.333 unit notebook.

Atas perakitan notebook ini, Direktur Pembinaan SMK Ditjen Dikdasmen Kemendiknas, Joko Sutrisno mengungkapkan, saat ini masing-masing pemda menyediakan dana sekitar Rp 25 juta bagi lulusan SMK, khususnya yang memiliki keahlian dalam bidang perakitan notebook. Dengan keahlian yang dimilikinya, lulusan SMK bisa menyediakan lapangan pekerjaan baru. Pasalnya, gagasan cemerlang itu perlu mendapat dukungan dari perusahaan penyedia perangkat komputer. “Bila perlu perusahaan komputer menyediakan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) dengan harga murah. Sehingga notebook bisa dijual dengan harga murah,” jelasnya.

Yang menjadi pertanyaan, sementara pabrik komputer lokal rakitan berguguran, kok Kemendiknas menyatakan sedang membuat program perakitan? Bagaimana siswa SMK bisa dididik dan bekerja di bidang perakitan komputer atau notebook jika industri rakit lokal berjatuhan?

loading...

6 COMMENTS

  1. Berita yang sangat menarik dan saya setuju dengan pak Didie W Soewondho yang mengatakan: “pemerintah seharusnya membebaskan bea masuk impor untuk komponen komputer. Namun yang terjadi, pemerintah justru menerapkan bea masuk sebesar 5-10% bagi komponen komputer rakitan. Padahal, pemain komputer rakitan sangat banyak dan hampir semuanya merupakan UKM.”

  2. sepertinya pemerintah emang g’ niat ngelindungi produk-produk dalam negeri, karenanya negeri ini menjadi pangsa pasar yg empuk bagi produsen luar negeri

  3. Sedih melihat para pemimpin yang sdh didekati oleh perusahaan raksasa demi kepentingan mereka. Dimana rasa nasionalisme hai para pemimpin. Rakyat harus bisa mandiri dalam teknologi komputer, lindungilah mereka

  4. Kita memang sedang dijajah oleh bangsa sendiri. Pemimpin yang seharusnya melindungi rakyatnya, justru menindas dengan segala cara. Memang sekarang banyak pemimpin yang pintar, tapi tidak punya ” RASA “. Hati mereka telah mati oleh ” $ “. Wahai saudaraku yang masih punya ” RASA “, mari kita perangi Pemimpin2 yang tidak berpihak pada ” RAKYAT “.

  5. Pejabat2 IND kebanyakan gak becus, jadi pejabat cuma cari duit,. sbnrnya indonesia bisa maju pesat dan produk2ny bisa bersaing klo pejabatnya emg brkompeten

  6. Kalau Produk Nya Impor Terus, ” Kocek ” di Kantong Pribadi Bertambah Terusss…….. Tanpa Memikirkan Rakyat Yang Butuh Pekerjaan, Inilah Akibat Terlalu Banyak Orang ” MUNAFIK ” di Negeri Ini, Mereka Hanya Mementingkan ” Perut ” nya Sendiri…….. Astaghfirullah…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.