Sri Safitri copyBUMN telekomunikasi,  PT Telkom  Indonesia akan  mengkomersilkan siaran televisi berbasis internet atau Internet Protocol Television  (IPTV) secara penuh  pada semester kedua 2011, tepatnya pertengahan  bulan Juni.

IPTV adalah layanan televisi layaknya penyiaran biasa, namun jalurnya melalui protokol internet.  Sri Safitri, M.Eng,  Senior Manager Internal Delivery Channel & Service Alliance  PT.Telkom Indonesia  mengatakan, terhitung sejak  Juni  nanti, Telkom menargetkan sekitar 30  ribu pengguna IPTV di Jakarta. “Kami tidak menggelar langsung untuk beberapa kota lain di luar Jakarta  karena harus melihat dulu respons pasar.  Jakarta akan  jadi prioritas untuk layanan IPTV dengan kapasitas kecepatan minimal 6 Mbps,” katanya.

Sri yang lulusan  Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Telkom-Bandung mengatakan,  layanan terbaru Telkom ini memungkinkan pengguna untuk tak cuma pasif melihat siaran yang ada, tetapi aktif memilih layanan sesuai keinginan.

Teknologi IPTV yang  memanfaatkan jaringan kabel yang sama dengan Speedy dan telepon, adalah layanan premium, sehingga  Telkom  memilih yang sesuai dengan pasarnya. Tentu saja ke depannya, diharapkan pasarnya lebih luas lagi.  “IPTV bukan kompetitor Pay TV karena memberikan pengalaman berbeda bagi pemirsa,”  tandas Sri yang sepanjang kariernya dihabiskan di PT Telkom, dimulai sebagai Business Partner Relation Officer di Divisi Multimedia, menanjak terus hingga menjadi Senior Manager Marketing sejak Oktober 2008 hingga kini.

Sri melanjutkan, meskipun IPTV secara sederhana berarti Internet Protocol Television, tetapi sesungguhnya IPTV bukanlah sekadar content televisi yang didistribusikan melalui Internet. IPTV adalah sinergi antara kekuatan interaksi Internet dan Web, dengan kekuatan media televisi.

“Layanan IPTV  kini berkembang pesat di banyak mancanegara, termasuk di Hongkong.  Kami berharap dengan hadirnya TV masa depan ini bisa memenuhi segala anxiety dan desire masyarakat,” kata Sri yang  juga mengenyam pendidikan program diploma di Cable & Wireless College – Coventry di Inggris.  Sementara Gelar master diraih dari Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT)-Australia.

Berikut petikan wawancara BISKOM dengan Sri Safitri baru-baru ini.

Bagaimana potensi bisnis IPTV di Indonesia?
Potensi bisnisnya cukup besar karena masyarakat Indonesia sangat aware  dan melek teknologi, selain itu IPTV juga memberikan pengalaman terbaru  bagi pemirsa. Jadi, jika sebelumnya  pemirsa menonton TV sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh para broadcaster, namun sekarang ini pemirsa bisa menonton tayangan yang diinginkan dan dimana saja.
Telkom selaku penyedia layanan Telecommunication, Information, Multimedia and Edutainment (TIME), menerjuni bisnis IPTV sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat bisnis multimedia. Telkom sendiri  juga  sudah punya pengalaman yang cukup dalam mengelola televisi berbayar melalui TelkomVision atau Yes TV.

Soal harga langganan, apakah akan terpaut jauh dengan TV berbayar lainnya?
Sepertinya tidak karena kami memanfaatkan  infrastruktur broadband. Selain itu, karena ini layanan premium, maka hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang memilki bandwith besar yakni sekitar 6 MG.

Bagaimana kesiapan infrastruktur Telkom dalam mendukung IPTV?
Infrastruktur sudah siap namun saat ini masih difokuskan di Jakarta. Ada beberapa area yang sudah kami siapkan secara infrastruktur. Saat ini, kami sedang melakukan beberapa  uji coba kepada orang-orang yang kami tunjuk dan itu sudah jalan.
Jadi, meskipun  kami fokus di Jakarta tetapi trial sudah kami lakukan di luar Jakarta seperti Bandung dan Surabaya.  Telkom optimis bisa menyelenggarakan IPTV  mengingat kami telah berupaya untuk terus memperluas infrastruktur jaringan akses pita lebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Kapan IPTV mulai beroperasi?
Kemungkinan pada semester kedua, sekitar bulan Juni 2011. Untuk sementara di Jakarta dahulu atau daerah-daerah yang memang menurut survei kami membutuhkan layanan ini. Untuk mendukung layanan ini, Telkom terus berupaya mengembangkan kapasitas akses, yakni mengembangkan akses pita lebar dan menambah kecepatan true broadband atau akses dengan kecepatan 20 Mbps dan 100 Mbps.

Apa saja upaya yang dilakukan Telkom untuk menarik pelanggan IPTV yang masih baru ini?
Upaya-upaya yang kami lakukan banyak hal, apalagi IPTV belum komersial. Kita memberikan edukasi ke pelanggan, misalnya apa sih bedanya IPTV ini dengan yang lain. Kemudian soft launcing dengan go to market. Kemudian, kami mulai  di social media, sehingga meng-create awareness orang.. Oh, teknologi IPTV ini sudah ada loh di Indonesia dan Telkom  yang pertama kali menggunakan teknologi tersebut.

Sri Safitri_2 copyBerapa target pelanggan IPTV di Jakarta?
Untuk tahap awal, pelanggan IPTV menyasar 30 ribu pelanggan di tahun ini. Setelah itu, target akan kami naikkan setelah  layanan PTV komersial atau dikenal masyarakat. IPTV adalah layanan premium, sehingga kami memilih yang sesuai dengan pasarnya. Tentu saja ke depannya, diharapkan pasarnya lebih luas lagi. Kami tidak menggelar langsung untuk beberapa kota karena harus melihat dulu respons pasar.

Kenapa Telkom menyasar IPTV, apa karena rendahnya  penetrasi TV berbayar di Indonesia?
Saya pikir pertumbuhan TV berbayar tidak berkurang. Kalau kami lihat  justru penetrasi TV berbayar  yang dimiliki Telkom seperti Yes TV, pertumbuhannya cukup pesat. Namun, kalau Telkom beralih ke teknologi IPTV, alasannya karena memang teknologi terkini.

Di luar negeri, layanan IPTV sudah mulai  booming seperti di Eropa dan Hongkong. Sebab, kalau kita tidak masuk ke teknologi ini, tentunya ada company lain yang masuk ke layanan ini, sementara  Telkom sudah memiliki infrastruktur yang tersebar  ke sekitar  10 juta pelanggan.

Nah, infrastruktur itulah yang kami manfaatkan dengan aplikasi IPTV dan mengakibatkan kenapa kami masuk ke teknologi IPTV sehingga kami bisa meningkatkan, memberikan value lebih  bagi pelanggan telepon yang saat ini kami miliki, mengingat teknologi ini menggunakan jaringan kabel.

Apa beda TV berbayar dengan IPTV?
Teknologi IPTV  memungkinkan acara-acara favorit ditonton kapan saja dan dimana saja penonton ingin. Dengan semakin terjangkaunya biaya akses internet cepat didukung dengan gadget yang kian canggih dan murah, kini memungkinkan pengguna untuk menonton TV dimana saja dan kapan saja.

Saat menunggu busway, macet di jalan ataupun saat luang di kantor dapat dimanfaatkan untuk menonton.  Jadi, kalau  TV berbayar misalnya ada 60 channel, dari segi quality ada beberapa yang yang masih  analog, maka kalau IPTV sudah pasti  digital. Dari sisi waktu menonton, dengan IPTV bisa record, dan bisa play kapan saja.

Selain itu, fitur-fitur apa saja yang ditawarkan IPTV?
Misalnya, IPTV mendukung layanan Time Shift TV (TSTV). Fitur ini memungkin pelanggan memutar atau memainkan kembali tayangan program TV yang telah tersedia dengan basis program live TV. Adapun Layanan Video on Demand (VoD) menyediakan konten yang dan disajikan kepada pelanggan dalam bentuk katalog, sehingga pelanggan dapat memilih film yang diinginkan.

Layanan VoD dapat mendistribusikan video dengan maupun tanpa enkripsi, dengan format SDTV maupun HDTV. Menu VoD juga dapat dikontrol oleh fungsi parental control. Fitur-fitur yang disediakan saat memainkan VoD meliputi antara lain  forward winding, multiple speed forward winding and rewind, play, pause, dan jump ke bagian tertentu dari film.

Berkaca dari luar negeri, respon IPTV di sana seperti apa?
Responnya sangat bagus seperti di Eropa dan Amerika. Ketika baru dikenalkan, penggunanya hanya 10 persen dari total  orang yang menggunakan internet, sekarang penggunanya sudah makin banyak dan sudah jadi booming.

Untuk Asia, yang paling booming IPTV adalah Hongkong  Study mengenai televisi berbasis internet di beberapa negara menunjukkan minat masyarakat yang relatif baik terhadap layanan IPTV. Saat ini operator IPTV dengan pelanggan terbanyak adalah PCCW (Hong Kong) dan France Telecom (Perancis).  Operator lainnya yang sukses adalah Verizon (Amerika Serikat).
Kalau di kawasan Asia Pacific, pertumbuhan bisnis Pay TV (termasuk IPTV) memperlihatkan kecenderungan meningkat setiap tahunnya.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.