SATELIT Telkom-3 yang gagal mengorbit masih terus menjadi pembahasan panjang.  Seperti diketahui,  pada 7 Agustus lalu, roket Proton-M milik pemerintah Rusia yang meluncur dari Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan, membawa dua satelit telekomunikasi Telkom-3 dan Ekspress-MD2.

Diwartakan Nasa Spaceflight,  meskipun roket Proton-M meluncur tanpa masalah,  namun kedua satelit telekomunikasi tersebut gagal masuk ke orbit transfer, disebabkan terjadi masalah di Briz-M upper stage.   Kedua satelit tersebut sebelumnya dinyatakan hilang, namun beberapa hari kemudian, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menyatakan bahwa satelit tersebut bukan hilang, melainkan masih jauh dari orbit yang telah ditentukan.

“Telkom telah mendapatkan penjelasan berdasarkan preliminary calculation yang kami terima 9 Agustus 2012 dari pihak ISS Reshetnev bahwa satelit Telkom-3 saat ini melayang di ketinggian maksimum 5.014 km, masih jauh dari ketinggian orbit yang diharapkan, yaitu 36.000 km,” kata Head of Corporate Communication and Affair Telkom, Slamet Riyadi, di Jakarta (9/8).

Menurut Slamet, karena satelit tersebut masih melayang jauh dari orbit yang ditentukan, maka kemungkinan besar satelit tersebut sama sekali tidak akan dapat dipergunakan. Kendati demikian, pelayanan konsumen tidak terganggu karena Telkom saat ini mengoperasikan dan menggunakan beberapa satelit lain. Selain itu, dari sisi keuangan, kejadian anomali peluncuran satelit Telkom-3 juga tidak akan memberikan dampak signifikan karena telah diasuransikan secara penuh.

Berkaitan dengan hal ini, Menteri BUMN Dahlan Iskan memastikan, dirinya tidak akan mencampuri lebih jauh soal kontrak proyek peluncurannya, karena tentunya dulu sewaktu memutuskan sudah dikaji segala resikonya. Resiko yang dihadapi beragam seperti hilang, meledak, kemudian faktor cuaca. “Saya tidak ingin masuk terlalu jauh, karena korporasi sekelas Telkom sudah memperhitungkan segala sesuatunya sebelum benar-benar proyek satelit Telkom-3 diluncurkan,” tegasnya.

Mantan Dirut PT PLN ini juga tidak akan mempertanyakan kenapa Telkom menggunakan teknologi Rusia, bukan menggunakan roket Perancis seperti yang digunakan saat peluncuran satelit Telkom-2. Ia juga berpendapat bahwa kegagalan peluncuran satelit milik Telkom sesuatu hal yang biasa.

Meski begitu, Dahlan meminta Telkom untuk kembali mencoba meluncurkan satelit untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang. “Masih ada cukup waktu. Karena satelit yang lama ini masih bisa berfungsi agak lama. Jadi ini tidak terlalu mendesak,” katanya.

Sementara anggota Komisi I DPR/RI, Roy Suryo meminta Telkom untuk mengoperasikan tiga satelit pada orbit terdekat. Hal ini beralasan guna menimbulkan efisiensi dan efektifitas dalam penyediaan infrastruktur telekomunikasi.

Seperti diketahui, saat ini Indonesia memiliki tiga orbit yang terdekat, yaitu pada 108, 113, dan 118 derajat bujur timur. Pada orbit 113 derajat bujur timur, ditempati oleh Satelit palapa yang saat ini dimiliki Indosat.

Orbit 113 derajat bujur timur merupakan orbit yang tepat berada di Indonesia. Oleh sebab itu, bila Satelit Telkom menggeser posisi orbit satelit Indosat, maka efektifitas dan efisiensi dalam penyediaan infrastruktur telekomunikasi.

“Kalau bisa, satelit Telkom 1, 2 dan  3 menempati orbit yang paling dekat, sehingga efisiensi dan efektifitas akan tercapai,” kata Roy usai melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Direksi PT Telkom di Komisi I DRP/RI di Jakarta (16/10).

Hasil RDP Komisi I dengan Telkom sendiri menghasilkan  tiga kesimpulan. Salah satunya, DPR menyoroti kegagalan orbit Satelit Telkom 3, dan meminta PT Telkom untuk menerapkan prinsip kehati-hatian, sehingga kejadian tersebut tidak terulang kembali.  Komisi I juga meminta Telkom untuk melakukan langkah-langkah strategis guna menyelesaikan kegagalan orbit Telkom 3 serta memperjuangkan kembali orbit- orbit satelit yang menjadi hak negara Indonesia. Untuk menempati orbit pada 113 derajat bujur timur, DPR meminta PT Telkom agar mengusulkan permohonan ke pemerintah.

Menanggapi usulan DPR, Complaine Risk Management (CRM) PT Telkom Tbk, Ririek Ardiansyah mengatakan, pihaknya akan mengkaji usulan tersebut sambil mempersiapkan peluncuran satelit baru usai Telkom 3 yang beberapa waktu lalu gagal mengorbit. “Kami akan pertimbangan usulan tersebut. Kemudian saat ini kami tengah mempersiapkan meluncurkan satelit pengganti Telkom 3 yang gagal mengorbit,” jelas Ririek.

Telkom juga masih akan mempertimbangkan pengganti satelit Telkom-3 yang gagal mengorbit pada 7 Agustus lalu. “Masih ada pertimbangan, bisa kami sewa transponder, atau buat satelit baru lagi. Namun belum kami tentukan,” kata Ririek.

Apabila Telkom memilih untuk menyewa satelit pengganti Telkom-3, perusahaan penyedia layanan telekomunikasi itu memerlukan dana sebesar US$ 4 juta. “US$ 4 juta untuk menyewa satelit dengan jangka waktu 90 hari,” imbuhnya. Karena itulah masih menjadi pertimbangan perusahaan.

Mengenai asuransi Telkom-3, perusahaan telah mengasuransikan sepenuhnya. PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sebagai penjamin, siap membayar dana klaim asuransi tersebut.  Berdasarkan data yang dipaparkan Telkom kepada Komisi VI DPR, Telkom dan Jasindo telah mengeluarkan rilis kesepakatan, dan dana asuransi itu keluar selambat-lambatnya pada pertengahan November 2012. Biaya pembuatan hingga peluncuran Satelit Telkom-3 ini membutuhkan dana US$ 200 juta atau sekitar Rp. 1,9 triliun.

Ririek menambahkan, satelit Telkom-1 secara operasional bisa digunakan sampai 2016, sedangkan Telkom-2 sampai 2020. Telkom-3 sendiri tidak hanya dirancang untuk tujuan komersil dan untuk penambahan kapasitas satelit dalam peningkatan kualitas infrastruktur, tapi juga untuk kebutuhan pemerintah seperti pertahanan dan keamanan, serta mendukung operasional BUMN. •

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.