Jika dulu pemetaan wilayah perairan dan daratan Indonesia hanya dibedakan dari warna, tapi kini sudah berupa digital. Badan Informasi Geospasial  telah membuat pemetaan digital sampai skala 1:25.000 yang dapat memetakan desa-desa secara detil. Bukan hanya di Pulau Jawa, bahkan hingga ke Nusa Tenggara.

“TANYAKAN  saja ke Google!”  Ungkapan tersebut barangkali sering kita dengar.  Terlebih, ketika kita ingin  mengetahui  peta atau rute jalan yang akan ditempuh, maka kita dapat menggunakan akses internet untuk melihat rute jalan melalui aplikasi Google Map. Seringkali memang sangat berguna, namun sayangnya Google Map belum meng-update layanannya tersebut dengan beberapa lokasi di wilayah Indonesia.

Melihat kekurangan ini, kini hadir Indonesia Geospasial portal  (Ina Geoportal), sebuah  peta digital karya anak bangsa yang memuat semua informasi dan data mengenai geospasial yang bisa dicari dengan lebih mudah.

Geospasial berasal dari kata Geo dan Spatial, dimana Geo berarti permukaan bumi dan Spatial berarti keruangan. Jadi dapat diartikan Geospasial adalah ilmu merujuk kepada data (dan teknologi pengolahannya) yang terkait dengan posisi keruangannya di permukaan bumi. Kita mengenalnya dalam bentuknya yang paling konvensional, yaitu peta.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi (TI), produk geospasial muncul dalam bentuk digital dengan berbagai kemasan, yang kemudian membuka bidang-bidang baru dari aplikasi teknologi geospasial. Karenanya, geospasial kini telah lengkap dengan citra satelit, foto udara, data ketinggian (digital elevation model), data tutupan lahan, dan data sejenis lainnya, yang digunakan untuk berbagai kepentingan.

Situs Ina Geoportal sendiri sudah diperkenalkan Badan Informasi Geospasial  (BIG) bertepatan dengan  Hari Teknologi Nasional (Hateknas) ke-17 pada Agustus 2012 lalu.

“Ina Geoportal dibangun oleh BIG  dan dirancang lebih canggih ketimbang Google Map,” kata Kepala BIG,  Asep Karsidi.

Kelebihan Ina Geospasial yang membuatnya berbeda dengan Google Maps tak lain adalah sistem pembuatnya. Bila Peta Google dibuat dari foto satelit Jpeg, maka  Ina Geoportal merupakan peta interaktif. Kehadiran  Ina Geoportal  membuat semua informasi dan data mengenai geospasial bisa dicari di situs ini dengan lebih mudah. Termasuk informasi geospasial yang terintegrasi dengan beberapa  kementerian, kelembagaan, hingga pemerintah daerah di Indonesia.

Asep menambahkan, Ina Geoportal  yang dapat diakses  di SINI saat ini tengah dalam tahap pengembangan beta. “Pada 2013 nanti rencananya akan diluncurkan secara resmi situs versi rampungnya yang lengkap dengan data pendukung seperti peta pemanfaatan tenaga nuklir, gempa bumi, penutupan lahan, sampai potensi pemulihan bencana,” ujar kelahiran  Sumedang, 7 September 1954 yang sebelumnya menjabat Deputi Kerawanan Sosial Kementerian Koordinasi Kesejahteraan Rakyat ini.

Sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 4/2011 tentang Informasi Geospasial,  BIG merupakan  satu-satunya lembaga yang membuat peta dasar berdasarkan sistem jaring kontrol geodesi, menggunakan layer kontur atau tiga dimensi. UU tersebut uga melindungi dari kemungkinan penyalahgunaan data geospasial yang merugikan bangsa Indonesia.

“Oleh karena itu, meski pun data spasial nusantara bersifat terbuka, sejumlah data tertentu tetap dibatasi untuk publikasi internal dengan kode pengaman,” sambung Sarjana Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia ini.

Dalam pendidikan formal, Asep melanjutkan program S2 di Pasca Sarjana IPB, Bidang Agroklimatologi pada tahun 1987. Tidak hanya mengenyam pendidikan di dalam negeri, ia adalah mahasiswa Post Graduate on Application of Remote Sensing and Geographic Information System for Water Resources Management, ITC, The Netherlands Belanda tahun 1990. Pendidikan terakhirnya adalah S3 (PhD) di bidang GIS dan Remote Sensing di Universitas Adelaide South Austrlia, yang selesai tahun 2003.

Berikut petikan wawancara BISKOM dengan Asep Karsidi yang memiliki moto hidup “Mencoba menggantungkan cita-cita setinggi-tingginya, terus miliki semangat untuk maju dan berguna bagi masyarakat”, awal November lalu.

Bisa dijelaskan lebih detil mengenai Ina Geoportal?
Ina Geospasial dirancang sesuai dengan amanat UU No 4/2011 Tentang Informasi Geospasial. Disitu dijelaskan bahwa perlu tersedia informasi mengenai geospasial yang mudah diakses dan dipertanggung jawabkan.

Ina Geoportal memberikan fasilitas bagi seluruh instansi pemerintah untuk lebih efektif berbagi pakai data geospasial.  Selain itu, kehadiran Ina Geoportal ini juga untuk menghindari tumpang tindih peta dasar yang menjadi rujukan pembuatan peta tematik atau peta yang lebih spesifik. Nantinya jika ada peta tematik yang ditumpangkan ke peta dasar bisa ketahuan apabila ada duplikasi atau pun kesalahan. Misalnya ada instansi yang dalam peta tematik menganggap kawasan tertentu bukan hutan, namun peta dasar menyatakan itu hutan maka itu merupakan suatu kesalahan.

Apa yang diharapkan dengan kehadiran Ina Geoportal?
Kami mengharapkan Ina Geoportal hendaknya dijadikan rujukan resmi pembuatan kebijakan dan pencarian data atau lokasi yang menyangkut keruangan. Ina Geoportal bisa diakses melalui http://tanahair.indonesia.go.id.  Meski   masih dalam tahap penyempurnaan, Ina Geoportal sudah bisa diakses publik.

Saat ini BIG transformasi dari Badan Koordinasi Pemetaan dan Survei Nasional (Bakosurtanal)  sedang melengkapi infrastruktur geoportal dengan skala 1:250.000, 1:50.000 dan 1:25.000. Bahkan  BIG akan terus memaksimalkan kelengkapan sesuai dengan tuntutan yakni skala 1:1.000.

Jika skala 1:250.000 masih memetakan sampai level provinsi, sementara skala 1:50.000 memetakan hingga level kecamatan, maka BIG telah membuat pemetaan geospasial digital sampai skala 1:25.000 yang dapat memetakan desa-desa untuk Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Data geospasial BIG dalam bentuk digital tanpa batas (seamless) merupakan perkembangan luar biasa dan terakurat.

Bagaimana dengan  jasa peta  globe  virtual yang sudah ada seperti Google Map, apakah data Ina Geoportal lebih valid?
Saya meyakini, kalau Ina Geoportal  lebih valid dibanding Google Map atau Google Earth. Apalagi, pemakaian Google Earth atau Google Map diragukan kebenarannya karena tidak mempertimbangkan jaring geodasi yang hanya dimiliki Indonesia. Peta yang kami buat berbasis citra, sehingga kami bisa mengalahi Google. Kami dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional sedang bekerja keras. Nantinya bisa saja peta yang diakses lebih rinci hingga kita bisa mengetahui rumah, halaman atau dapur.

Kendati demikian, Ina Geoportal tidak akan berperang melawan Google, karena pemerintah dan masyarakat harus tersuplai informasi spasial atau keruangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai data Google Earth yang dipakai untuk membuat kebijakan di Indonesia. Bahkan perwakilan Google sempat mendatangi BIG untuk menanyakan UU Informasi Geospasial,  kami  pun tegas mengatakan Indonesia sudah memiliki UU dan otorisasi pengaturan geospasial data.

Bagaimana dengan pengembangan konten-konten  termasuk juga soal  keamanan dalam  Ina Geoportal?
Untuk membangun portal yang handal, termasuk pengamanannya, BIG  menggandeng mitra yang berpengalaman di bidang Sistem Informasi Geografis (GIS).  Pemilihan ESRI  karena perusahaan perangkat lunak GIS ini tergolong kelas dunia. Perusahaan yang mulai beroperasi tahun 1969 di California, Amerika Serikat  ini antara lain membuat ArcGIS Desktop. Sistem GIS ini digunakan oleh 80 persen pengguna GIS di dunia. Selain itu, ESRI telah membangun GIS berbasis web sehingga hanya perlu penyesuaian untuk diaplikasikan pada Ina Geoportal.

Aplikasi GIS ini berfungsi sebagai mesin  bagi Ina Geoportal. Sedangkan mengenai konten dan bagian lain portal ini dikembangkan oleh BIG dan instansi terkait lainnya, seperti Kementerian PU, Kementerian Kehutanan, serta BPN.  Apabila  kami  mengembangkan sendiri dengan kapasitas di dalam negeri, akan memakan waktu lama bahkan mungkin tidak akan terwujud.  Meskipun Ina Geoportal bisa diakses publik, tetap ada data-data rahasia dari berbagai simpul yang memang tidak bisa diketahui umum karena menyangkut pertahanan dan kedaulatan negara.

Jadi,  data-data yang menyangkut kerahasiaan negara  tetap terjaga meski Ina Geoportal bisa diakses publik?
Kerahasiaan data tetap aman, karena ada klasifikasi dan kata kunci (password) tersendiri untuk data yang bersifat rahasia. Meskipun begitu, akhir tahun ini  kami  akan menjalin kerjasama dengan National Geospatial-Intelligence Agency (NGA), untuk proteksi data yang bersifat strategis. Badan milik pemerintah federal Amerika Serikat ini misi utamanya mengumpulkan, menganalisis, dan mendistribusikan informasi geospasial intelijen (GEOINT) dalam mendukung keamanan nasional negara ini. NGA sebelumnya dikenal sebagai National Imagery and Mapping Agency (NIMA) yang menjadi bagian dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Selain itu NGA adalah komponen kunci dari Komunitas Intelijen Amerika Serikat.

Dengan adanya UU No. 4/ 2011 Indonesia sesungguhnya telah terlindungi dari kemungkinan penyalahgunaan data geospasial yang merugikan bangsa. Ina Geoportal memang berbasis sistem tertutup, namun tetap memungkinkan terhubung ke sistem operasi terbuka melalui intersepsi. Hal ini memungkinkan pengembangan aplikasi lebih lanjut oleh komunitas di Indonesia.

Apakah kekhawatiran pihak-pihak tertentu terkait  keterbukaan informasi menjadi halangan tersendiri bagi perkembangan Ina Geoportal?
Memang diakui, adanya Ina Geoportal  dalam perkembangannya rupanya menjadi kekuatiran pihak tertentu karena keterbukaan informasi yang termuat pada Ina Geoportal itu. Padahal  Ina Geoportal hanya menyediakan peta dasar sesuai amanat UU Informasi Geospasial.  Sementara untuk peta tematik merupakan tanggungjawab pihak terkait. Misalnya informasi tentang kehutanan maka yang memiliki datanya adalah Kementerian Kehutanan. Demikian juga informasi spasial mengenai ketahanan nasional, aspek spasial mengenai lokasi pelatihan, lokasi-lokasi strategis lainnya seperti lokasi gudang dan gedung rahasia.  Informasi seperti itu tentu tidak boleh dibuka untuk publik.

Karena itu BIG tugasnya mengawal peta dasar, sementara untuk pertahanan nasional misalnya, dalam hal ini merupakan kewenangan Badan Intelejen Nasional (BIN), harus memiliki peta tematik tentang pertahanan.  Pembuatan peta tematik juga harus mengikuti aturan yang berlaku sesuai dengan apa yang sudah dikeluarkan BIG sebagai badan yang satu-satunya direkomendasi untuk membuat peta dasar.

Untuk mendukung pertahanan negara dan keamanan nasional, Indonesia sudah saatnya mengembangkan teknologi intelejen geospasial, bisa dijelaskan lebih lanjut?
Intelijen Geospasial memiliki kelebihan yang tidak dapat diperoleh dari sistem lain, diantaranya menggunakan berbagai sensor (multigensor); mengakomodasikan kerjasama antar komponen intelijen, memiliki perangkat visual yang dapat divisualisasikan secara jelas menggunakan berbagai sudut pandang dan manipulasi warna untuk memperoleh hasil yang lebih akurat, teliti dan detail serta dapat disusun dalam tingkat resolusi yang tinggi tergantung dari wahana dan sensor yang digunakan, kemudian juga dapat mengakses secara global artinya berbagai data kondisi atau fenomena di setiap sudut di atas permukaan bumi dapat ditangkap oleh sensor.

Apa upaya yang dilakukan untuk mewujudkan Intelijen Geospasial secara utuh?
Saat ini, pengembangan sistem dan alat peralatan  masih belum lancar karena bidang intelejen geospasial memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh instansi sipil biasa. Sehingga masih harus terus dilakukan kerjasama antara komunitas intelejen Indonesia dengan instansi terkait di Indonesia dengan dengan luar negeri. Disamping itu, perlu adanya wadah  intelejen geospasial di masing-masing intansi  terkait termasuk pembentukan desk  intelejen geospasial antar intansi militer dan sipil sehingga dapat terjalin kerjasama penelitian, tukar menukar data dan pelatihan kemampuan dasar  pengolaan informasi geopasial.

Dukungan Intelijen Geospasial ini berupa informasi geospasial yang telah dilengkapi data tambahan hasil analisa dan data lainnya yang dapat diaplikasikan dalam Operasi Militer Perang, Operasi Militer Selain Perang, serta kegiatan lain dalam penyelenggaraan pertahanan negara dan keamanan nasional. Apalagi, Intelijen Geospasial ini mengeksploitasi citra (foto udara atau citra satelit) sebagai data utama intelijen. Menggunakan sistem pencitraan dari pesawat udara dan sistem satelit penginderaan jauh. Teknologi ini sudah digunakan dalam berbagai operasi militer. Dengan begitu, intelijen geospasial dapat memberikan informasi yang diperlukan dalam suatu proses pengambilan keputusan.

Apakah Ina Geoportal  juga  membantu  pencapaiaan  good governance di Indonesia?
Sudah sangat jelas jika Ina Geoportal membantu dalam mencapai good governance di Indonesia, mendukung administrasi yang lebih efisien, terutama dalam menghindari duplikasi data.  Sebab, Ina Geoportal  akan menyediakan akses data geospasial ke seluruh negara untuk masyarakat internasional. Namun keberhasilannya tergantung pada institusi yang bergabung. Bahkan,  Ina Geoportal  bertujuan  memberikan fasilitas bagi seluruh instansi pemerintah untuk lebih efektif berbagi pakai data geospasial.

Pada awalnya, isu-isu geospasial lebih berfokus pada bagaimana menyajikan data atau informasi ke dalam peta. Namun kemudian isu berkembang kearah bagaimana peta yang disajikan oleh suatu institusi dapat diintegrasikan dengan peta dari institusi lain. Hal itu masih merupakan tantangan sampai saat ini. Tantangan-tantangan tersebut membuat data resmi yang dapat dengan mudah diakses dan dipakai menjadi sangat penting.

Langkah logis kedepan adalah mengimplementasikan sebuah lingkungan dimana teknologi, standar, data geospasial yang di-share dapat berinteraksi untuk dengan lebih baik mencapai tujuannya pada level-level pemerintahan yang berbeda-beda.

Sudah berapa persen pemerintahan yang menggunakan elemen spasial?
Saat ini, sudah hampir 90% aktivitas di pemerintahan menggunakan elemen spasial, data dan informasi geospasial merupakan alat koordinasi yang canggih untuk tujuan analis spasial dan pengambilan keputusan yang tajam dan konfrehensif. Sampai saat ini BIG sudah dan sedang membangun Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN).

BIG berperan sebagai penghubung simpul jaringan nasional. Sampai saat ini sudah ada beberapa Instansi pemerintah yang tergabung dalam Ina-SDI (Indonesia Geospasial Data Infrastruktur) diantaranya Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kereatif, LAPAN, Pertanian, PU, BPS, ESDM, Kehutanan, KKP, KLH, BPN dan ditambah dengan Bapeten, Kementerian Pembangungan Daerah Tertinggal serta KPU.

Saat ini, penyediaan dan pemanfaatan Informasi Geospasial  (IG) perlu didukung oleh sistem dan Sumber Daya Manusia (SDM)-nya, kesiapannya seperti apa?
Di era TI  ini, survei dan pemetaan tidak harus lagi dilakukan dengan cara pengukuran lahan meter per meter di lapangan. Profesional di bidang IG  tidak harus selalu dari jurusan geodesi dan geografi. Karenanya, jumlah SDM di bidang ini harus segera diperbanyak. Jika tidak,  nanti pekerjaan-pekerjaan di bidang IG  akan diisi oleh orang-orang asing. saat ini kebutuhan SDM di bidang Informasi Geospasial  juga mencakup ahli di bidang planologi, tata ruang, geologi, bahkan di bidang TI. Ketersediaan SDM IG sangat terkait dengan adanya jenis bidang pendidikan yang dibutuhkan untuk mendukung tersedianya IG yang akurat, handal dan mudah diakses.

BIG telah membentuk Tim Adhoc yang bertugas untuk mengkaji sistem sertifikasi kompetensi pelaksanaan IG dengan memperhatikan lembaga pemberi sertifikasi kompetensi surveyor yang sudah ada yaitu Badan Sertifikasi  Asosiasi-Ikatan Surveyor Indonesia (BSA-ISI), Lembaga Sertifikasi Profesi-Geomatika (LSP Geomatika) dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII). • DJUANDA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.