Home Editorial 2013, ‘Banjir’ Teknologi

2013, ‘Banjir’ Teknologi

113

 TAK TERASA, kita sudah memasuki bulan kedua tahun 2013. Awal tahun ular air ini dihiasi dengan tingginya curah hujan hingga menyebabkan musibah banjir yang mengganggu kehidupan masyarakat ibukota Jakarta,  bahkan sempat melumpuhkan perekonomian selama beberapa hari. Permasalahan banjir ditambah kompleksnya masalah lain di Jakarta seperti kemacetan dan lain sebagainya, memang menimbulkan banyak sekali spekulan.  Ada kekhawatiran investor akan ragu menanamkan modal  di masa mendatang di Jakarta atau di Indonesia. Melihat masalah ini, apakah  bisnis di bidang teknologi informasi (TI) masih menjadi investasi menarik? Jawabannya, tentu saja semakin menarik!

Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) DKI Jakarta, Nana Osay mengatakan, pertumbuhan bisnis dan teknologi di 2013 akan luar biasa. “Pemerintah saat ini sedang menggelar fiber optic untuk menggantikan tembaga. Kabel bawah laut juga akan ada intekoneksi. Jadi kalau itu sudah terjadi, akan luar biasa. Biaya koneksi jadi murah dan WiFi dimana-mana.”

Hal ini, sambung Nana, akan membuat semua orang menjadikan internet sebagai sebuah kebutuhan wajib, sehingga berimbas pada peningkatan kebutuhan hardware. “Tahun ini, sudah pasti ada banyak permintaan akan hardware, data center dan infrastruktur broadband.”

Prediksi Nana yang juga seorang pengusaha sukses ini memang tidak berlebihan dan sesuai dengan perkiraan lembaga riset International Data Center (IDC), dimana pada 2013 akan ada beberapa tren teknologi yang bakal menghasilkan uang miliaran Dollar. Diantaranya adalah maraknya perangkat elektronik makin mobile, dipacu dengan kehadiran PC tablet, ultrabook, phablet atau phonelet, yang sebenarnya sudah hadir sejak beberapa tahun lalu. Phablet adalah perangkat yang menggabungkan fungsi ponsel pintar dengan komputer tablet.

IDC juga memprediksi ramainya pertarungan di layanan Cloud Computing sehingga semua orang akan berorientasi pada TI. Diantara semuanya, yang paling menarik adalah poin yang juga dikemukakan IDC yakni teknologi bakal tumbuh di negara berkembang. Di saat Eropa dan Amerika mengalami krisis, pertumbuhan ekonomi China, India, dan Brasil, negara-negara di Asia Tenggara malah melambung. Negara berkembang bakal menyediakan pasar sekaligus sumber daya yang sangat besar untuk berbagai sektor, terutama TI. Nilai belanja TI negara berkembang bakal mencapai US$ 730 miliar.

Nyatanya, di tengah bencana yang mengawali 2013 ini, investor masih mempercayakan Indonesia sebagai negara yang potensial. Buktinya, The New Taipei City dan The Taiwan External Trade Development Council (TAITRA), organisasi yang berbasis di Taiwan, beberapa hari setelah banjir surut di Jakarta, justru mendatangkan sekitar 30 delegasi perdagangannya ke Indonesia untuk dipertemukan dengan pelaku bisnis di dalam negeri.

Chief Secretary New Taipei City Government, Feng-Yuan Chang menyampaikan, “Melalui kunjungan ini diharapkan bisa menambah kesempatan bisnis yang lebih besar lagi antara kami dan Indonesia. Nantinya kami juga akan mengajak delegasi yang lainnya sehingga akan lebih banyak lagi kerjasama yang bisa terjalin.”

Dengan indikasi yang baik ini, apakah kita masih meragukan bisnis TI di 2013?  Semoga tidak…