Home Figur Biskom ONNO W. PURBO: Lebih Baik Jadi Guru, Demi Cerdaskan Bangsa

ONNO W. PURBO: Lebih Baik Jadi Guru, Demi Cerdaskan Bangsa

239

Hidup harus bermanfaat untuk orang lain. Inilah prinsip hidup sosok pria sederhana yang dikenal sebagai Pakar Internet Indonesia. Tidak heran bila dengan pengetahuan yang dimiliki, sebagian hidupnya diabdikan untuk mencerdaskan bangsa dengan karya-karyanya yang inovatif, seperti Wajanbolic yang sekarang ini menjadi solusi banyak orang di pelosok desa untuk bisa terkoneksi internet dengan baik dan murah.

ONNO WIDODO PURBO atau lebih dikenal dengan sebutan Kang Onno W. Purbo, demikian tokoh teknologi informasi (TI) nasional yang nama namanya disebut-sebut selalu berpihak pada kesejahteraan rakyat kecil ini. Dengan kreatif, ia selalu berupaya mengembangkan solusi-solusi untuk menciptakan layanan internet dan telekomunikasi menjadi lebih murah untuk rakyat. Onno pernah  menggagas RT/RW-Net dan penerapan Open Base Transceiver Station (BTS) serta membuat karya bernama Wajanbolic.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain,” ujar lulusan Tehnik Elektro, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengutip salah satu hadist yang menjadi inspirasinya untuk berbagi ilmunya dengan orang lain. “Jadi buat apa kaya, pintar, punya jabatan tinggi kalau tidak bermanfaat untuk orang lain?” lanjutnya.

Memahami hal tersebut, Onno lebih memilih berkiprah di dunia TI di jalur independen dibandingkan terikat dengan perusahaan ataupun instansi. Bahkan saat banyak tawaran untuk menjadi konsultan,  tetap ditolaknya. Dirinya lebih memilih untuk tetap menjadi guru, sebagai upaya untuk mencerdaskan bangsa ini dengan ilmu yang dimilikinya.

“Belasan tahun lalu saya sempat dikumpulkan dengan dosen ITB lainnya di suatu ruangan. Saat itu kami semua ditanya oleh pengajar senior, Bapak Prof. Samaun Samadikun, tentang cita-cita kami. Semua dosen di ruangan tersebut menjawab ingin menjadi industriawan dan hanya saya satu-satunya yang menjawab ingin menjadi guru alias pendidik,” ujar bapak dari enam anak ini bercerita.

Saat mengundurkan diri mengajar di ITB tahun 2000, dirinya tetap mendidik melalui, seminar, workshop, artikel maupun buku yang ditulisnya yang dapat diunduh secara gratis. Kecintaannya terhadap profesi guru ini tetap ditekuninya hingga kini. Pada 2011, Onno sempat bergabung mengajar di Sekolah Tinggi Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya yang secara khusus mengajar dan mendidik para guru yang berasal dari daerah Papua, NTT, Bengkulu dan Kepulauan Riau.

Salah satu yang digaunginya dalam memberikan pendidikan adalah teknologi Open BTS yang dianggapnya mampu menjadi solusi murah telekomunikasi di tanah air dan solusi ini bisa segera mengatasi permasalahan telekomunikasi yang belum tersebar ke pelosok-pelosok daerah yang selama ini terhambat karena infrastrukturnya mahal dan dari sisi operator sendiri enggan membangun karena dianggap tidak menguntungkan.

“Bayangkan bila BTS selular 60 watt buatan Siemen Nokia dihargai antara Rp.500juta-Rp.1,5 milyar dengan Open BTS yang hanya membutuhkan Rp.150 juta sudah termasuk sentral telephon. Seharusnya Open BTS ini bisa dijadikan jalan keluar untuk telekomunikasi yang murah untuk rakyat. Namun kembali lagi ke pemerintahnya, mau tidak menerapkan ini?”

Dengan gaya bicara yang ceplas-ceplos, lulusan McMaster University, Kanada dan penyandang gelar Ph.D dari Universitas Waterloo ini menganggap pemerintah masih belum berpihak pada rakyatnya.

Berikut petikan BISKOM dengan kelahiran Bandung, 17 Agustus 1962 yang kerap dianugerahi beragam penghargaan secara nasional maupun internasional ini.

Hal apa yang membuat Anda tertarik dengan dunia TI?  
Hobi saja. Awalnya waktu sekolah dulu ada pelajaran menyolder untukmembuat lampu klip-klop atau sirene. Akhirnya keterusan dan mulai masuk kuliah jurusan komputer dan mulai terjun ke duania TI. Pokoknya semua tidak sengaja. Saya buat Open  BTS juga hobi saja, coba-coba dan ternyata bisa dan nyambung lalu saya coba kembangkan terus.

Secara umum menurut pengamatan Anda, bagaimana perkembangan TI saat ini dibanding tahun-tahun sebelumnya?
Sebagai user atau pengguna kita bisa ranking ke 2 atau 3. Hal ini bisa dilihat dari pengunaan Facebook, Twitter, Google+ dan lainnya di berbagai media sosial di internet termasuk yang terbesar. Juga dari sisi pengggunaan internet melalui seluler sudah banyak digunakan anak muda kita saat ini.

Namun konsekuensinya menyedihkan, kita harus membeli ponsel ataupun gadget dari negara lain dalam skala mendekati Rp. 2-3 trilyun. Padahal saya masih mimpi, pasar Indonesia dikuasai oleh industri TI local. Tidak seperti sekarang, uang kita lari ke keluar negeri semua.

Sebenarnya apa keinginan Anda pribadi untuk bangsa ini dan untuk dunia TI khususnya?
Masih sama dengan yang lalu, yaitu ingin melihat bangsa ini hidup dari kekuatan otaknya tidak hanya mengandalkan otot dan bedil saja. Khususnya dalam dunia TI inginnya kita bisa menjadi produsen juga jangan hanya hebat sebagai pengguna dan konsumen saja.
Namun konyolnya sekarang inikan TI malah dicoret dari kurikulum pendidikan oleh Diknas. Tentunya ini semakin  menjadikan kita terus menjadi negara konsumen. Jadi kalau bangsa ini masih begini saja, bisa-bisa Indonesia akan tenggelam dengan produk asing. Tetapi mudah-mudahan dengan pemilu 2014 nanti bisa menghasilkan pemimpin yang pintar dan bisa merubah semua ini.

Bagaimana Anda menilai pertumbuhan TI di masa mendatang dilihat dari karakter masyarakat dan wilayah grafis Indonesia?
Sebenarnya dari sisi pertumbuhan sangat baik dan ini akan lebih dipercepat lagi kalau pemerintah cukup cerdas mengimbangi pertumbuhan tersebut, misalnya dengan cara memberikan insentif bagi aplikasi lokal di Indonesia, memberikan insentif bagi Google, Facebook, Twitter dan lain sebagainya untuk bisa hosting dan bekerjasama dengan developer lokal, mewajibkan semua gadget yang beredar harus dibuat di pabrik lokal, dan membuat kurikulum TI untuk semua sekolah  serta membuat lebih banyak lagi program studi TI di kampus-kampus.

Banyak permasalahan di bidang telekomunikasi yang hingga saat ini belum terselesaikan, misalnya saja masalah koneksi internet yang lambat. Idealnya, koneksi internet yang baik itu seperti apa?  
Terus terang tidak akan pernah tercapai yang namanya ideal itu. Saya sendiri di rumah mempunyai 3 televisi LCD layar lebar yang melakukan streaming video on demand dari server lokal di rumah dengan kecepatan 100-1000Mbps. Jadi kalau mau nonton film seri high definition yang ada di TV semuanya tinggal streaming server dari rumah yang dibuat sendiri. Belum lagi 3 Network Attached Storage (NAS) yang filenya sebesar 9 Tb tersambung ke jaringan LAN, WiFi dan Wireless Mesh lokal.

Saya yakin bangsa ini maunya juga seperti ini kecepatannya, maka sebaiknya pemerintah mengizinkan rakyatnya membuat sendiri jaringannya. Membuat sebanyak mungkin server lokal, baik itu di rumah, kampus, kantor bahkan kalau bisa di masing-masing kota dibuat server-server multimedia lokal untuk komunitas. Jadi kita bisa mengubah paradigma TV digital menjadi Internet Multimedia sehingga bisa internet, audio streaming dan video HD streaming menggunakan infrastruktur internet gigabit buatan rakyat.

Jadi solusinya membuat jaringan lokal sendiri?
Betul, bila diizinkan membuat sendiri jaringan lokalnya, maka internet kita bisa cepat. Kuncinya cukup simpel. Pertama, buat semua server lokal di Indonesia dengan sedikit mungkin pakai server luar negeri.

Kedua, izinkan  rakyat membuat jaringan sendiri baik itu kabel tembaga, wireless maupun fiber optic dengan membuang jauh-jauh segala izin yang menyulitkan. Ketiga, jadikan telepon sebagai layanan di atas internet, telepon tidak lagi esklusif bagi operator dan beri alokasi kode area telepon untuk rakyat. Keempat, bebaskan frekuensi seluler agar terutama di pedesaan bisa membangun BTS selular sendiri yang bisa menggunakan teknologi Open BTS. Serta kelima, pemerintah hendaknya melakukan investasi pada jaringan backbone fiber kabel laut antar pulau dan jaringan backbone ke daerah perbatasan dan pedalaman.

Lalu tanggapan Anda mengenai belum terpenuhinya kebutuhan telekomunikasi dasar di berbagai wilayah Indonesia?
Itu menjadi tugas pemerintah untuk memenuhi hak asasi telekomunikasi rakyat. Seperti saya bilang tadi, sebutulnya cara mengatasi hal tersebut cukup mudah dengan cara memberi kebebasan bagi rakyat daerah terpencil untuk membuat sendiri jaringan telekomunikasinya. Cukup murah kok, dengan biaya Rp.150-200 juta bisa jadi satu BTS dengan daya 60 watt lengkap dengan sentral telepon dan lain-lainnya. Anggaran tersebut kan bisa ditalangi secara swadaya masyarakat desa. Masalahnya, mereka belum tahu ilmunya saja.

Pemerintah Daerah (Pemda) Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia telah melakukan inisiatif untuk mengadakan ruang publik yang sudah tersambung dengan WiFi. Menurut Anda cukup berhasilkah cara ini?
Saya sendiri belum banyak merasakan WiFi gratis dari Pemda dan belum tahu kalau itu ada. Sekarang inikan biasanya di hotel-hotel, restouran dan kafe yang memberikan WiFi gratis. Sebetulnya kalau Pemda menyediakan WiFi gratis yang perlu digalakkan adalah memberikan akses internet ke sekolah-sekolah karena disitulah kuncinya yang lain akan ikut, karena terjadi demand dari anak-anak sekolah tersebut.

Dalam setiap kesempatan diskusi, Anda kerap memperkenalkan istilah dan cara-cara unik untuk membuat komunikasi menjadi lebih baik, misalnya Wajan Bolic dan Open BTS. Apakah sejauh ini banyak pribadi maupun perusahaan yang mengadopsi solusi yang diajarkan?
Untuk Wajanbolic saya sering lihat alat ini bertengger di rumah-rumah penduduk terutama di kota-kota di luar jawa. Rasanya nyaman juga melihat sebuah ide di adopsi oleh masyarakat. Namun jumlah pemakainya sendiri tidak tahu karena rata-rata mereka memang tidak pernah melapor ke saya kalau mengadopsi teknologi tersebut dan hal itu bukan masalah buat saya.

Sedangkan untuk Open BTS kita masih punya kendala karena frekuensi yang digunakan adalah frekuensi berbayar ke pemerintah. Kalau Anda mengoperasikan Open BTS tanpa ijin maka dianggap melanggar. Tetapi secara praktek sebetulnya sudah mulai digunakan di daerah-daerah baik itu di perkebunan, di pertambangan maupun di daerah terpencil seperti di Papua. Biasanya agar aman, kebanyakan mereka membuat kerjasama operasi dengan operator yang berlisensi.

Mengapa Open BTS dan Wajan Bolic sangat penting? Apa keuntungan dari keduanya?
Dalam bahasa yang sederhana sebetulnya solusi-solusi ini untuk kemerdekaan rakyat di bidang TI. Masih banyak lagi selain itu, misalnya penggunakan open source, linux, penggunakan VoIP Rakyat dan lain-lain.

Semuanya lebih berharga dibandingkan puluhan juta bahkan milyar jika dioperasikan oleh operator menggunakan solusi proprietary. Masalah utamanya adalah ilmu ini tidak semua rakyat Indonesia tahu. Makanya sebagian besar rakyat tergantung pada solusi operator atau vendor yang mahal.

Seberapa banyakkah anak muda yang gemar TI di Indonesia, kota manakah yang menurut pengalaman Anda berisi anak-anak muda yang berbakat di bidang TI?
Kalau soal kualitas, anak-anak Indonesia jenius. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya anak yang menjadi juara di level Asia Pacific bahkan dunia. Masalahnya kan bukan kualitas tetapi masalah utamanya adalah kuantitas.

Sekarang saja, perusahaan-perusahaan TI masih kesulitan untuk mencari SDM TI, baik itu untuk programmer, jaringan dan lainnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Bisa dilihat dari 2,5 juta mahasiswa yang sedang belajar di kampus saat ini hanya 12% yang jurusannya tehnik, baik itu tehnik mesin, sipil arsitek maupun lainnya. Dari 12% hanya 10-20% yang jurusannya TI, berarti dari 2,5 juta mahasiswa yang ada hanya 1-2% berjurusan TI. Belum lagi kalau maunya lulusan yang bagus dan siap kerja tentunya makin tersaring lagi jumlahnya.

Lemahnya, kebanyakan dosen mengajari siswanya hanya konsep bukan skill yang menjadikan sistem perkuliahan kita tidak bisa diandalkan. Biasanya, kalau mau mencari orang TI berkualitas adanya di komunitas ataupun underground di dunia hacker. Pusatnya terutama di Yogyakarta dan Malang, daerah lainnya ada di Samarinda, Makassar dan Padang. Mereka mendapatkan ilmunya secara otodidak.

Ke depan, dengan cara apa Anda memberikah sumbangsih untuk kemajuan anak bangsa di bidang TI secara lebih luas lagi?
Dengan tangan saya yang cuma dua, jemari yang cuma 10 dan dengan otak saya yang cuma satu, saya akan berjuang membuat orang pintar melalui tulisan, artikel, buku, ceramah dan workshop.

Selain itu,  saya memberikan kesempatan orang-orang untuk mengkopi ilmu saya dalam USB harddisk. Kalau mau silahkan kirim USB harddisk 2 TerraByte ke rumah disertai ongkos kirim balik. Kalau ke kampus-kampus yang mengundang saya juga biasanya saya sarankan untuk kirim USB harddisk agar ilmu saya bisa menyebar dengan cepat. Maklum mengkopi pakai internet tidak mungkin untuk data sebesar itu.

Perlu disyukuri, sekarang ini banyak teman yang mendukung untuk bergerak membantu proses bikin anak Indonesia pintar, seperti ICTWatch dan relawan TI lainnya. Kalau kita punya banyak orang pintar, mau buat internet murah pun mudah. Atau mau buat perangkat apapun bisa saja. ANDRI

Arikel Terkait:
TELAH TERBIT BISKOM EDISI AGUSTUS 2013
Pegiat Internet Indonesia #AkhirnyaMilihJokowi
Ratusan Pelaku Ekonomi Kreatif Padati Konser Salam Dua Jari
Asosiasi dan Penggerak TIK Nasional Sepakati Roadmap dan Menteri TIK Kedepan

1 COMMENT

Comments are closed.