Mobil listrik tengah naik daun. Berbagai negara maju maupun berkembang sudah mulai mengembangkaan kendaraan listrik yang notabene ramah lingkungan ini. Indonesia tak mau ketinggalan. Penelitian terhadap mobil listrik telah dilakukan sejak tahun 2000 silam, dan kini pemerintah mulai memproduksi mobil listrik agar mampu bersaing di dunia otomotif internasional.  Pada 2016, pemerintah menargetkan  mobil listrik nasional bisa diproduksi secara massal.

MENTERI Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Gusti Muhammad Hatta  berharap, tahun 2015 nanti mobil listrik berbagai model sudah bisa diproduksi meski jumlahnya terbatas. Sehingga, target pemerintah untuk memproduksi mobil listrik secara massal pada 2016 bisa terwujud lebih awal.

“Katakanlah untuk kebutuhan kabupaten dan beberapa kementerian dulu. Sambil diperbaiki terus, nanti kami bisa tambah produksi terus tiap tahun. Syukur-syukur target 2016 bisa mencapai 10.000 unit,” tegas Gusti yang pernah menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup ini.

Untuk mencapai target-target  tersebut, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)  gencar  melakukan road show ke lima kota untuk memamerkan kendaraan massal berbasis listrik kepada masyarakat sebagai kendaraan yang ramah lingkungan. Selain Jakarta,  kota-kota yang telah dikunjungi antara lain Yogyakarta, Bandung, Solo, dan Surabaya.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah pemesan pertama bus listrik untuk transportasi massal sebanyak 100 unit.  “Bukan mengada-ngada, tapi respon kepala daerah yang sudah kami datangi memang sangat baik. Mereka seperti tidak sabar untuk bisa segera memiliki mobil listrik ini,” ujar Gusti.

Sedangkan Kota Solo, menurut  Wali Kota FX Hadi Rudyatmo, telah  siap menjadi daerah pelaksanaan proyek percontohan pengembangan mobil listrik  angkutan massal  tersebut. Walikota mengatakan, pengembangan angkutan massal dengan kendaraan listrik itu sesuai dengan program yang dicanangkan Pemerintah Kota Solo, yaitu mewujudkan kota bebas polusi udara.

Uji coba yang dilakukan Kemenristek  di berbagai kota tersebut  diharapkan juga dapat menggairahkan para peneliti dan perekayasa di daerah, khsusunya kaum muda. Masyarakat juga diminta berperan aktif dalam menyikapi persoalan energi dan lingkungan akibat persediaan bahan bakar minyak yang kian terbatas jumlahnya.

Adapun tujuan dalam jangka menengah dan jangka panjang, mobil listrik ini dipakai secara massal oleh bangsa Indonesia. Terlebih penting, moda tersebut adalah hasil karya anak negeri di lingkup industri lokal.

Tahapan Ujicoba

Dipaparkan Menristek Gusti, ada sembilan level tingkatan yang harus dilalui agar harapan banyak kalangan itu bisa terwujud. “Baik spesifikasi, teknologi dari mobil prototipe ini sudah berada pada tingkat kesiapan teknologi TRL-7 atau level 7, tinggal dua langkah lagi.  Setelah sampai level 9 dan uji coba di area sebenarnya (jalan raya), kita akan produksi secara massal. Jadi,  kalau bicara mobil listrik, ada sembilan tingkatan yang harus dilalui agar target memproduksi mobil listrik bisa terwujud,” kata Gusti.

Salah satunya, jelas Gusti, adalah tahapan koordinasi  dengan menggandeng kementerian lain. “Dalam produksi massal, mau tidak mau harus ada keterkaitan dengan kementerian lain, misalnya Perindustrian, Perhubungan, dan lainnya. Kami berharap proses administrasi nantinya tidak terlalu rumit,” jelasnya.

Dia mengaku terus berkoordinasi dengan banyak pihak, termasuk menggandeng akademisi dari civitas kampus di negeri ini maupun pengusaha agar target pemerintah untuk memproduksi mobil listrik massal bisa secepatnya terwujud. Meski sebenarnya, tugas Kemenristek hanya sebatas menghadirkan barangnya saja, tapi Kemenristek berinisiatif merangkul Kementerian lain yang terkait untuk mendorong realisasiproduksi massal mobil listrik ini bisa lebih cepat.

Lebih lanjut Hatta  menambahkan,  pengembangan mobil listrik di Indonesia nantinya ke arah angkutan massal berbasis tenaga listrik. Hal itu sesuai dengan arahan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika peringatan Hari Teknologi Nasional (Harteknas) beberapa waktu lalu. Presiden  menekankan pada sektor angkutan massal dan angkutan pedesaan yang berbasis listrik dan ramah lingkungan.

Sementara itu, penggiat transportasi yang tergabung dalam Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyambut baik roadshow dan uji coba mobil listrik Kemenristek. Hal itu karena informasi mobil listrik kepada masyarakat masih sangat minim.

Ketua MTI, Muslich Zainal Asikin mengatakan, masyarakat perlu mengetahui mobil listrik, apa dan bagaimana itu mobil listrik. Jadi perlu diperkenalkan atau dikampanyekan.

“Karena minim-nya informasi dan pengetahuan, mobil hemat ramah lingkungan dan hemat energi itu selalu menjadi kontroversi di masyarakat. Khususnya untuk angkutan massal, Kemenristek harus mampu menjadi pelopor dan ‘provokator’. Keberadaan mobil listrik ini harus segera diperkenalkan,” lanjut Muslich.

Keunggulan dan Kekurangan

Staf Khusus Menristek, Zulkifli Halim mengatakan, mobil hasil karya anak bangsa itu diciptakan peneliti Kemenristek bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Menurutnya, mobil listrik tersebut lebih hemat dibanding mobil konvensional berbahan bakar minyak. Sebab, dia mengklaim untuk jarak tempuh 1 km, kendaraan berbasis listrik ini hanya membutuhkan biaya Rp 200. Sedangkan mobil konvensional berbahan bakar minyak memerlukan Rp 1.000 untuk jarak tempuh yang sama.

Satu liter premium pada mobil konvensional menempuh jarak rat-rata sekitar 10 km. Dengan harga BBM non subsidi per liter Rp. 10.000, ongkos setiap km mobil konvensional Rp. 1.000 jarak 120 km yang ditempuh mobil listrik sejenis sedan Hevina menghabiskan daya listrik sekitar 200 kwt. Setiap 1 kwt mobil listrik dapat menempuh 6 km. Maka jika harga listrik non subsidi per kilosatt sekitar Rp. 1200, maka setiap 1 km yang ditempuh mobil listrik hanya membutuhkan Rp. 200. Dengan demikian, biaya operasional mobil listrik hanya 20% dibandingkan mobil konvensional.

Selain itu, menurutnya mobil listrik lebih ramah lingkungan karena tidak memerlukan pembakaran. Halim pun mengklaim mobil tersebut memiliki suara yang lebih halus dibanding mobil konvensional. •

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.