Berkembangnya teknologi informasi (TI) dan semakin meningkatnya penggunaan perangkat mobile yang terhubung ke internet di tanah air telah menumbuhkan bisnis e-commerce yang menawarkan beragam produk dan kebutuhan yang dapat dibeli secara online. Dari sekian banyak e-commerce yang ada, LivingSocial (www.livingsocial.co.id) mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda dan unik.

AWAL berdiri dengan nama DealKeren pada tahun 2010 dan kemudian diakuisisi LivingSocial, sebuah e-commerce berbasiskan di Washingtown D.C pada pertengahan 2011, telah merubah DealKeren menjadi LivingSocial Indonesia. Mengusung konsep daily deal, LivingSocial menawarkan beragam produk dengan deal-deal yang menarik berupa diskon mencapai lebih dari 50% mulai dari restoran lokal, kesehatan dan layanan kecantikan, produk terkini, hingga lokasi perjalanan eksotis, semuanya tersedia.

Menurut Director Escapes & Head of Operations, LivingSocial Indonesia, Johannes Chang, beragam produk yang ditawarkan tidak hanya menginspirasi pelanggannya untuk menemukan segala hal yang tidak terpikirkan sebelumnya tetapi juga ingin membantu bisnis setempat untuk tumbuh dengan cara memperkenalkan barang dagangannya pada konsumen yang berkualitas tinggi dan memberi para pemilik usaha perangkat untuk menjadikan pelanggan LivingSocial sebagai pelanggannya.

“Member kami sekarang ini mencapai 1,5 juta orang yang tiap harinya kami ‘goda’ dengan deal-deal menarik dari merchant yang ada. Tugas kami mengingatkan kepada member bahwa ada hal menarik yang patut dicoba di tengah kesibukan mereka bekerja atau hal lainnya, seperti merasakan makan siang di restoran atau tempat rekreasi dengan potongan harga yang besar dari merchant,” ujar lulusan Public Relations and Corporate Communications ini.

Lanjutnya, model seperti ini akan menguntungkan pelanggan an merchant kami yang hingga kini telah berjumlah lebih dari 500. Konsumen akan dipuaskan mendapatkan deal yang keren, sedangkan merchant mendapatkan pelanggan baru dan promosi tanpa biaya. “Kami yakin pelanggan akan datang kembali bila merchant tersebut memberikan layanan super seperti yang seharusnya,” terang pria yang sebelumnya banyak berkarir di bidang travel ini.

LivingSocial dalam perjalanan tiga tahunnya tidak hanya menambah jumlah merchant-merchant yang menarik tetapi juga tidak lupa meningkatkan pelayananan dan kenyamanan dalam memudahkan pelanggan setia maupun pelanggan barunya dalam melakukan transaksi, seperti cara pembayaran dan pertengahan September lalu meresmikan redemption counter, serta di awal Oktober tersedianya fitur baru Tracking Order untuk melacak status pengiriman pesanan.

Berikut petikan wawancara BISKOM dengan lelaki yang akrab disapa Joe yang juga memiliki aktifitas sebagai pengajar dan pelatih, pembicara maupun penulis ini.

Siapa saja target market dari LivingSocial?
Sebagian besar adalah anak-anak muda, dimana 44% berumur dibawah 24 tahun. Tetapi yang menarik adalah lebih dari 30% lainnya itu di usia 25-35 tahun, yang kita melihatnya sebagai market yang sudah lebih matang dari tingkat kebutuhan dan daya belinya. Kalau dari gender, perempuan masih mendominasi 56% yang angkanya terus bergerak.

Dikategori apa saja kebanyakan pelanggan yang melakukan pembelian?
Inilah menariknya, bahwa kami mempunyai different audience sangat beragam yang terkadang sulit untuk dilihat karena hari ini membeli restaurant deal, besok beli spa deal, lalu besoknya beli product deal, bahkan lanjut beli travel deal. Memang bagian dari deal-deal kami adalah untuk menginspirasi customer untuk mencoba something new, mulai dari restoran baru, spa baru, treatment baru, destination baru maupun produk baru dengan fungsi yang unik.

Apa keuntungan yang didapat merchant dengan bergabung di LivingSocial?
Pastinya adalah akses kepada seluruh member LivingSocial Indonesia. Kami belum bicara mengenai travel yang bahkan sampai close country dan sharing dengan negara-negara lainnya. Artinya, ada satu hotel atau suatu atraksi yang mungkin selama ini informasinya terbatas dalam ruang lingkup khusus, tetapi dengan bergabung di LivingSocial bisa mencapai audience yang lebih besar dalam waktu singkat.

Jadi yang kami lakukan adalah membantu mereka dengan merubah tantangan mereka menjadi peluang. Misalnya, mereka ingin mengembangkan bisnis barunya dengan tantangan untuk mendapatkan customer baru yang kemudian bisa mereka rubah menjadi repeat customer bahkan sampai loyal customer. Nah, yang kami lakukan untuk membantu mereka adalah dengan membawa produk dan servisnya agar bisa dicoba oleh member kami. Setelah mencoba, lalu kami bekerjasama dengan merchant agar bisa mengkonsesi customer baru tersebut menjadi loyal customer.

Apakah layanannya sudah tersebar keseluruh daerah?
Konsep daily deal adalah memperkenalkan sesuatu yang ada di sekitar kita. Jadi fokusnya sebagian besar masih ada di Jakarta. Tapi kalu produk sudah nasional karena kami bekerjasama dengan jasa logistik. Sedangkan untuk travel sudah sampai ke luar negeri. Bali telah menjadi tujuan wisata utama untuk domestik mupun internasional, lalu bahkan kami sudah mencapai ke Hongkong, Singapura dan Korea.

LivingSocial baru saja membangun Redemption Counter di Plaza Semanggi, Jakarta. Apakah alasannya dan di daerah mana lagi akan dibangun?

Ini adalah salah satu usaha kami untuk membawa kenyamanan bagi pelanggan, karena online inikan sesuatu yang baru dan customer kami juga baru. Jadi, bisa menjadi bagian dari edukasi juga dimana masih banyak orang yang belum percaya dengan online sehingga ingin melihat secara fisiknya. Dan ini juga merupakan suatu peluang untuk melakukan pendekatan lebih jauh dengan customer. Bahkan kalau kami lihat sangat menarik, orang-orang yang datang mengambil produk ternyata juga melakukan transaksi lagi, lalu memberikan feedback. Bahkan ada juga yang ingin bekerjasama dengan LivingSocial dan memberikan input. Jadi ini sesuatu titik interaksi.

Sedangkan, Redemption Counter untuk saat ini belum bisa mengambil keputusan untuk pengembangan lebih jauh lagi ke daerah lainnya. Kami lihat dulu feedbacknya seperti apa dan tidak menutup kemungkinan membuka redemption counter lainnya.

Bagaimana pandangan Anda terhadap transaksi online kedepannya?
Menarik, bahwa awalnya kami berpikir industri online Indonesia semuanya akan tergantung oleh pembayaran lewat credit card, ternyata tidak. Indonesia sempat melalui suatu masa dimana pembayaran manual lebih banyak dibandingkan yang sudah automatic. Jadi suatu kawasan yang menarik bahwa orang belanja online tetapi bayarnya tetap bawa cash datang ke cashier offline. Tapi seiring waktu mulai berubah, saya melihat 70% lebih sudah mulai melakukan real transaction online dan 20% lebih masih melakukan transaksi manual yang mungkin ini masih menjadi tantangan banyak pihak dan juga teman-teman di online.

Kedepannya saya melihat mobile payment akan menjadi suatu solusi  yang baru. Ini bisa dilihat terjadinya peningkatan akses masuk ke website melalui mobile. Kami sendiri disini untuk pembayaran menyediakan beragam cara, mulai KlikPay, KlikBCA, kartu kredit samapi pembayaran di tempat. Sekarng ini kerjasama dengan BCA, MAndiri dna Visa Master.

Apa yang dibutuhkan untuk terjun di bisnis ini?
Komitmen dan kerja keras, karena ini adalah bisnis baru dimana banyak kontradiksi yang terjadi di luar sana. Dimana saat bisnis ini berkembang, proses edukasinya juga berjalan pada saat yang bersamaan. Makanya, saya bilang komitmen dan kerja keras menjadi kunci utama. Tentunya tidak lupa, ada tim yang kredibel dan solid.

Lalu, apa rencana LivingSocial kedepannya ?
Tentunya kami akan terus berkembang. Sekarang ini dan kedepannya akan berkonsentrasi dengan pengembangan servis. Mulai dari improvement bagaimana memberikan pelayanan lebih baik lagi ke customer dan ingin ada engagement lebih dalam lagi. Selain itu, akan meningkatkan jumlah penawaran yang ada. Jadi variasi penawaran mulai dari lokasi, tipe deal, destiny juga untuk travel. Pastinya kita ingin menjadi lebih baik lagi. ANDRI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.