Pertahanan, Tak Cukup Perangkat Keras Senjata

Ditulis pada 03 June 14

Editorial Juni 2014SAAT ini konsep alat utama sistem pertahanan (alutsista) tak hanya cukup diisi dengan perangkat keras senjata. Perangkat dan aplikasi teknologi informasi (TI) amat penting dibenamkan kedalammnya. Apalagi jika sistem pertahanan itu tak bisa dilakukan oleh manusia dengan senjatanya, tetapi hanya bisa dikerjakan dengan komputer maupun robot. Kepala Staf TNI AD, Jenderal Budiman mengakui, sistem pertahanan juga membutuhkan soft power.

Sudah jadi tuntutan jaman, kini saatnya TNI dan Kepolisian RI (Polri)  multak  menguasai TI di samping peralatan utama berupa senjata-senjata dan perlengkapan perang modern. Dengan menguasai TI, kita bukan hanya bisa mengindari perang fisik, tetapi juga melawan dalam perang cyber (cyberwar).

Di sisi lain, prajurit TNI  dan Polri bukan hanya dituntut mampu menguasai dan menggunakan sistem persenjataan yang terkomputerisasi. Tapi juga memahami betul tentang regulasi di bidang TI sendiri seperti UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sehingga tidak salah kaprah dalam menerapkan pasal tentang tindak pidana yang berkaitan dengan TI. Ini sesuai dengan Ilmu Kepolisian yang mengidentifikasi kenyataan bahwa salah satu perkembangan kejahatan di masa depan akan mengarah ke dalam bentuk New Dimention Of Crime atau kejahatan dengan dimensi baru, yaitu kejahatan yang pada prosesnya menggunakan TI, khususnya internet.

Bersyukur, kalangan TNI sendiri kini tengah gencar berlatih TI seperti Cyber Defence, guna menangkal serangan dunia maya yang mengancam kedaulatan negara. Sementara kalangan Polri sudah memiliki Unit Cyber Crime.  Meski demikian, menjaga kedaulatan negara bukan hanya tugas TNI dan Polri saja. Sudah sejak lama masyarakat sipil atau masyarakat madani dianggap sebagai institusi sosial yang mampu mengkoreksi kekuatan ‘militer’ yang otoriter.

Dengan keterlibatan masyarakat sipil selama ini saja, seorang Jenderal purnawirawan Amerika Serikat bernama Mike Jackson dalam acara Talk Show di TV ABC 13 Texas mengakui bahwa doktrin militer Indonesia sudah dipakai di beberapa negara Asia bahkan Afrika karena Indonesia memang diminta melatih beberapa negara Asia dan Afrika.

“Meski Indonesia kekurangan senjata, tidak mungkin mudah menaklukkan Indonesia, karena jika perang terjadi bukan hanya militernya yang maju perang tetapi rakyatnya juga pasti turut membantu untuk menghabisi lawan,” kata Mike Jackson.

Dengan kekuatan masyarakat, TNI, Polri dan TI, semoga Indonesia selalu terjaga dari segala bentuk ancaman, dan semakin disegani oleh negara luar. •