Teknologi Dalam Ketahanan Air

Ditulis pada 12 July 14

EditorialPENTINGNYA ketahanan pangan dan energi sering kali dibahas, terlebih di masa kampanye Pemilihan Presiden di bulan Juli ini. Dengan ketahanan pangan dan energi,  perekonomian nasional tidak akan tergantung atau mudah terpengaruh pasar global. Di sektor pangan, pemerintah kedepan diharapkan mampu menjamin petani memperoleh seluruh kebutuhannya dari hulu hingga hilir, seperti bibit, pupuk, alat mesin pertanian (alsistan), pelatihan teknologi, kredit murah dari lembaga kredit khusus petani, mendapat perlindungan harga, bahkan mendapat asuransi jika panennya gagal. Sementara di sektor energi, pemerintah diantaranya harus mampu melakukan diversifikasi energi.

Meski begitu, tidak banyak orang yang menaruh perhatian lebih terhadap tata kelola air. Padahal peran air sangat mendasar, bahkan Pakar Air dari Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Firdaus Ali mengatakan, ketahanan air tak kalah lebih penting dibanding ketahanan pangan dan energi. Firdaus menyatakan, ada tantangan besar yang sedang dan akan dihadapi oleh sisa peradaban ini terkait ketahanan air, pangan dan energi.

Firdaus sendiri telah banyak mewujudkan pengelolaan air bersama pemerintah Indonesia melalui inovasi teknologi. Namun menurutnya, teknologi tidak bisa berperan sendiri. Dibutuhkan pula kesadaran masyarakat dan komitmen pemerintah baik pusat maupun daerah untuk bersama-sama menjaga sumber daya air yang sebenarnya melimpah di tanah air. Sehingga kedepan, tidak ada lagi persoalan ‘kelangkaan air bersih’ di Indonesia.

Berkaitan  dengan teknologi, sejumlah pakar juga mengusulkan peranan smart city. Permasalahan negara seperti ketahanan air, pangan, energi, bahkan juga transportasi dapat dengan lebih mudah dipantau oleh kepala daerah di sebuah operation room hanya dengan melihat sinyal-sinyal yang dipantulkan oleh perangkat sensor yang dipasang di sejumlah titik kota. Inilah salah satu prinsip dari smart city untuk membangun kota yang nyaman, aman dan produktif.

Selain infrastruktur, hal utama yang dibutuhkan dalam mewujudkan smart city ini adalah konektivitas sehingga perlu adanya broadband internet yang kualitasnya lebih baik dan lebih cepat serta cakupan yang lebih luas.

Mengingat pentingnya pembahasan tersebut,  pada edisi Juli ini pun BISKOM mengangkat peranan TI dalam ketahanan air dan energi. Pembahasan ini dipilih untuk turut memberikan sumbangsih pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni lalu.

Semoga tema yang  kami pilih bisa membuka wacana pembaca mengenai ketahanan air dan smart city. Selamat membaca. •