Home Fokus Hindari Beda Hasil Quick Count Dengan E-Rekapitulasi

Hindari Beda Hasil Quick Count Dengan E-Rekapitulasi

35

Hanya beberapa jam saja pasca pemilihan umum (Pemilu) pada 9 Juli 2014 lalu, dua kubu Capres dan Cawapres saling mendeklarasikan kemenangan versi quick count Pemilihan Presiden (Pilpres). Padahal jika menggunakan e-Rekapitulasi yang pernah ditawarkan BPPT beberapa waktu lalu, maka kita bisa  menjaga integritas data hasil penghitungan suara di tempat pemilihan suara (TPS).

E-RekapitulasiKEMUNCULAN hasil quick count yang berbeda pada Pilpres kali ini memang bukan pertama kali terjadi. Namun seperti dikatakan banyak pengamat di berbagai media, perbedaan ini jika terus berlangsung dapat membuat penggiringan opini kearah tertentu. Bahayanya lagi, juga berpotensi memunculkan konflik.

Menyikapi fenomena ini, Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT, Hammam Riza mengatakan, kondisi ini bisa menimbulkan dampak yang berkepanjangan, baik di kalangan masyarakat maupun dari sisi investasi di Indonesia.

Hammam menyampaikan, perbedaan ini sebenarnya bisa diatasi dengan penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang handal. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pernah menawarkan solusi akan masalah tersebut dengan cara rekapitulasi elektronik atau e-Rekapitulasi.

Teknologi ini, sebutnya, sudah ia coba paparkan kepada pemegang kebijakan terkait untuk diaplikasikan pada Pileg dan Pilpres 2014 ini. “Sayangnya, kala itu niat baik tim BPPT untuk meningkatkan mutu pelaksanaan Pemilu di Indonesia kurang mendapat apresiasi,” kata Hammam.

e-Rekapitulasi, jelasnya, bukan sekedar quick count, namun real count yang sangat akurat, transparan dan akuntabel serta dapat diaudit. Mekanismenya yakni, data hasil pemilihan dikirim  dari tiap TPS dan ditayangkan,  kemudian direkap secara otomatis,  tidak seperti quick count yang memiliki margin error atau tingkat kesalahan yang mencapai 1 persen. “e-Rekap dapat dipantau keakuratannya terhadap form model C1 (perolehan suara) oleh seluruh masyarakat. Dimanapun dan kapan saja dapat dilihat,” tuturnya.

Sebagai pembanding, jelas Hammam, e-Rekapitulasi telah digunakan pada Pemilu Legislatif (Pileg) di kota Pekalongan. “Pelaksanaannya telah teruji pada kompleksitas yang tinggi, karena melibatkan lebih dari 370 data calon anggota legislatif,” jelasnya.

Sementara e-Rekap untuk Pilpres, tambahnya, merupakan proses yang sangat sederhana. “Hanya melibatkan 2 buah data, yakni Capres Cawapres No urut 1 dan 2,” paparnya.

Hammam RizaHammam yang juga menjabat sebagai Eksekutif Chief Information Officer (CIO-BPPT) ini menekankan bahwa metodologi quick count adalah metoda ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, digunakan untuk memprediksi hasil yang sebenarnya pada  berbagai ajang Pemilu di Indonesia.

“Hasil setiap pelaku survei seharusnya tidak jauh berbeda apabila  dilakukan dengan mengikuti metoda pengumpulan data dan perhitungan yang benar. Apabila hasilnya  berbeda, patut diduga terjadi manipulasi sampel data dan metodologinya,” pungkasnya.

 e–Rekapitulasi

Menurut Hammam, quick count, tetap layak digunakan, karena metode ini masih  diperlukan sebagai alat prediksi oleh masyarakat dan sebagai alat riset  di dunia pendidikan. “Yang penting, proses perhitungan cepat ini berlandaskan pada metoda sampling yang benar, tidak melakukan manipulasi  data serta melakukan analisis yang benar. Dengan memperhatikan kaidah keilmuan yang berlaku, lambat laun  masyarakat  akan mengerti  akan manfaat quick count,” paparnya.

e-Rekapitulasi sendiri merupakan sebuah sistem yang memanfaatkan TIK dalam proses pengumpulan, pengiriman dan penayangan hasil rekapitulasi perolehan suara Pemilu di tiap TPS. Jika e-Rekapitulasi ini dimanfaatkan dengan baik, maka masyarakat akan dapat mengetahui hasil pemungutan suara secara cepat. “Karena yang ditayangkan adalah hasil pengitungan suara di tiap TPS, maka masyarakat bisa langsung mengawal proses penghitungan suara yang dilakukan secara berjenjang oleh KPU,” terang Hammam.

Mekanisme e-Rekapitulasi

e-Rekapitulasi bertujuan untuk dapat mengirimkan dan menayangkan data hasil pemungutan suara di tiap TPS secara cepat, tepat dan akurat ke pusat data KPU yang akan menayangkan hasilnya secara transparan di website KPU. Beberapa alternatif Teknologi dapat dipergunakan untuk pengiriman data dalam implementasi e-Rekapitulasi.

Untuk kebutuhan pilpres, dengan sistem yang sederhana tidak serumit Pemilu Legislatif, dan jumlah data juga sedikit, alternatif teknologi yang patut untuk dipertimbangkan adalah penggunaan Unstructured Supplementary Services Data (USSD).

Teknologi USSD untuk e-Rekapitulasi adalah aplikasi yang dikembangkan khusus untuk input data hasil perolehan suara TPS dengan menggunakan perangkat ponsel dari lokasi TPS. Pengiriman hasil rekapitulasi dapat dilakukan oleh KPPS dengan menggunakan perangkat ponsel standar yang banyak dipakai masyarakat saat ini.

Beberapa kelebihan USSD diantaranya adalah karena pengiriman dilakukan langsung dari TPS, maka untuk Pilpres, hasil diperkirakan sudah dapat diperoleh di KPU pusat dalam satu hari setelah pemilihan. Sebagian besar petugas KPPS juga diperikrakan telah familier dengan penggunaan ponsel, sehingga tingkat kesulitan penggunaan teknologi dapat diminimalkan. Walaupun belum seluruh wilayah Indonesai dapat dicover oleh jaringan seluler GSM, tapi diperkirakan saat ini coverage GSM sudah mencapai 70 -80% wilayah Indonesia.

Manfaat e-Rekapitulasi

Hammam menyebutkan bahwa proses rekapitulasi hasil pemilu presiden dengan dukungan TIK, memiliki manfaat yang sangat signifikan, diantaranya:

  1. Akurat. Kesesuaian data yang diterima di pusat data dengan data di Form C-1 KPU di tiap TPS, dan jika tidak sesuai dapat diverifikasi serta diaudit di tiap tingkatan karena e-Rekapitulasi menghasilkan jejak audit.
  2. Aman. Teknologi keamanan dalam pengiriman, penerimaan dan penayangan hasil perolehan suara dapat dipersiapkan dan dijamin.
  3. Cepat. Waktu yang dibutuhkan dalam penyelesaiaan/pengiriman data hasil perolehan suara, dimana data langsung dikirim dari TPS ke pusat data KPU, relatif singkat. Dalam hal ini masyarakat dan relawan dapat saling memverifikasi.
  4. Mudah. Aplikasi rekapitulasi berbasis web dapat dibuat dengan mengutamakan kemudahan dalam pengisian dan pengiriman hasil di tiap TPS melalui berbagai perangkat.
  5. Efisien. Penggunaan  teknologi, baik yang bersifat tangibel maupun intangibel telah dikaji, sehingga e-Rekapitulasi merupakan keniscayaan untuk diterapkan di setiap kegiatan Pemilu. •