crowdfundingCROWDFUNDING saat ini menjadi suatu alternatif pembiayaan yang efektif bagi para pelaku usaha yang memanfaatkan teknologi informasi (TI). Crowdfunding menitikberatkan pada pengembangan industri kreatif yang kini makin banyak dilirik.

Crowdfunding Asia Summit yang diadakan pada 4-5 Agustus 2014 di Marina Bay Sand, Singapura menjadi ajang internasional yang melibatkan para pelaku mancanegara dari Amerika, Australia, Rusia, Perancis, Singapura, Jepang, Indonesia, dan Kamboja.

Direktur Kerjasama dan Fasiltas Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Lolly Amalia Abdullah, bersama delegasi Indonesia diantaranya adalah Mandy Maharimin (Wujudkan), Vikra Ijas (Kita Bisa), dan Ivan Chen (Anantarupa Studios) ikut unjuk gigi di ajang bergengsi ini. Kehadiran para digipreneur Indonesia tersebut mendapat perhatian besar dari para peserta asing lainnya.

Kehadiran delegasi Indonesia juga mendapat dukungan penuh dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang ingin lebih mendorong para insan muda kreatif berbakat untuk lebih mengoptimalkan TI dengan metode crowdfunding di ajang internasional.

Para peserta banyak bertukar pikiran, sharing informasi, dan berbagai pengalaman maupun berkompetisi lewat sales pitching untuk mendapat para venture capital maupun angel investor serta rekanan bisnis.

“Keberadaan crowdfunding saat ini sedang dipertimbangkan di berbagai negara sebagai alternatif lain dari segi pendanaan disamping menggunakan modal sendiri maupun pinjaman dari bank. Kunci keberhasilan crowdfunding bukan terletak pada keinginan si pencetus ide melainkan pada kerjasama gotong royong dari masyarakat luas terhadap sebuah proyek. Keberhasilan suatu proyek akan mempunyai nilai tinggi jika menggunakan metode crowdfunding,” jelas Lolly.

Selain mengikuti ajang internasional ini, delegasi Indonesia juga berkunjung ke KBRI Singapura dan Kantor Bersama Business Indonesia Singapore Association (BISA, www.bisakita.com ) yang berlokasi di Orchard area. Para delegasi diterima oleh Stephanus Titus Widjaja, Founder BISA.

Stephanus menyatakan bahwa Kantor Bersama BISA saat ini memiliki fasiltas virtual office dan akses ke para venture capital dan angel investor yang banyak mencari para pelaku usaha di Indonesia untuk dijadikan partner bisnis, dengan memanfaatkan grant-grant dan akses pengembangan bisnis luar negeri seperti Singapura. •

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.