Home Fokus Mengenal “Destika” Si Kembang Desa

Mengenal “Destika” Si Kembang Desa

114

Sudah dua tahun ini, Destika muncul jadi kembang desa. Ia jadi pembicaraan masyarakat desa dan para pemangku kepentingan di dalamnya. Semua mata tertuju padanya apalagi nama Destika masih kedengaran asing. Karena itulah digelar festival tahunan, agar masyarakat desa lebih mengenal Destika.

DestikaFESTIVAL Desa Teknologi Informasi dan Komunikasi (DesTIKa) kembali digelar pada 26 – 27 September 2014 di Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kali ini peserta datang dari beragam desa di 18 Propinsi, mulai dari Gampong Cot Baroh, Kabupaten Pidie, Aceh hingga Kampung Nurawi Miosindi, Kabupaten Yapen, Papua. Festival DesTIKa pertama berlangsung pada Agustus 2013 di Desa Melung, Banyumas, Jawa Tengah.

“Desa-desa perlu difasilitasi untuk menghasilkan sesuatu, menghasilkan rupiah. Timbul lah kebijakan untuk memberikan fasilitasi kepada desa. Perangkat komputer dan modem mulai ada pada 2010 bagi 323 desa, guna mempercepat komunikasi dalam roda pemerintahan desa,” ungkap Bupati Majalengka, Sutrisno, saat pembukaan Destika (26/9).

Dengan teknologi informasi (TI), imbuh Sutrisno, komunikasi antar pemangku kepentingan menjadi lebih mudah. Dn yang terpenting, dengan TI unggulan Majalengka akan mudah dikenal dunia. “Sekarang orang banyak berdatangan ke Lengkong Kulon dan hanya menikmati nasi uduk juga karena teknologi informasi. Mudah-mudahan nanti duren dan produk unggulan Majalengka lainnya bisa ikut terdongkrak juga,” ujar Sutrisno.

Bupati mengklaim, Pemkab Majalengka sudah memfasilitasi sejumlah desa dengan perangkat komputer dan modem. Perangkat itu kata dia bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat desa. “Tadinya ingin agar pelayanan PBB dilayani di desa, kemudian tagihan listrik, penjualan voucher ponsel, dan transfer keuangan sehingga masyarakat desa bisa lebih berdaya,” ucapnya.

Festival yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) ini bekerjasama dengan Gerakan Desa Membangun (GDM) dan Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK) Majalengka. Gelaran ini membahas sistem informasi pembangunan, sistem informasi desa dan optimasi web desa, open source (perangkat lunak sumber terbuka) untuk mendukung TI perdesaan, branding dan marketing produk desa, pemberdayaan 2.0, rencana aksi pelaksanaan Undang-undang Desa, dan berbagai pemanfaatan TI perdesaan.

Sebagai ajang teknologi akbar penggiat desa, Festival Destika memberikan apresiasi penghargaan Destika Desa.id. Penghargaan hasil kerjasama Kemkominfo dan Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI) ini diberikan kepada enam pemerintah daerah yang berhasil mendorong pemanfaatan TI di kawasan perdesaan.

Keenam pemerintah daerah ini dinilai berhasil dalam mengoptimalkan penggunaan domain desa.id untuk memajukan desa lewat website. Hadiah diberikan kepada perwakilan Gampong Cot Baroh, Kabupaten Pidie, Aceh; Desa Cikadu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat; Desa Bakbakan, Kabupaten Gianyar, Bali, Desa Batu Meranti, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan; Desa Lakawali, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan; Kampung Nurawi Miosindi, Kabupaten Yapen, Papua.

Penghargaan Desa.id diberikan juga kepada Dishubkominfo Kab. Majalengka Jawa Barat, Dishubkominfo Kab. Tanahbumbu Kalimantan Selatan, Dishubkominfo Provinsi Jawa Barat, dan Dishubkominfo Provinsi Kalimantan Selatan.

Pengukuhan Relawan TIK juga dilakukan dengan penyematan pin oleh Bupati Majalengka, Dirjen Aptika, dan Direktur Pemberdayaan Informatika. Para Relawan TIK bersama Lingkar Belajar Desa Membangun telah bergerak memanfaatkan TIK untuk mengangkat potensi desa. Dalam festival ini, para penggiat desa ini berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam memanfaatkan TI dalam tata kelola pemerintah dan keterbukaan informasi publik desa. Relawan TIK siap mendampingi pemanfaat TI dalam pembangunan desa. Ada sekitar 6.000 relawan TIK yang siap mendampingi di seluruh Indonesia.

Bangun Jaringan Internet Desa Mandiri

Kendati membahas website, perwakilan desa masih mengeluhkan infrastruktur jaringan internet yang belum merata. Karenanya, Pakar Internet Onno W. Purbo, menawarkan solusi untuk mendukung TI Perdesaan 2.0.

Untuk Desa yang tidak memiliki sinyal ponsel, kata Onno, jaringan internet desa dibuat dengan menitip alat pemancar dari desa terdekat yang memiliki sinyal operator internet. Rangkaian modem dan router dipasang di rumah warga desa tetangga untuk menjaga keamanan alat.

Program Radio Mobile Wireless untuk merancang radio bisa diunduh gratis. Investasi alat yang digunakan untuk membuka akses internet, pemancar WiFi, atau TV serta radio desa berkisar di bawah Rp.2 juta. “Bikin server sendiri di masing-masing desa atau antardesa. Masing-masing desa bikin TV di internet. Tidak perlu izin kan? Bikin radio dan web di internet. Tapi, internet desa itu lokal. Tidak perlu pakai internet, tapi intranet,” usul Onno.

Onno pun memberikan ide untuk desa menghasilkan konten lokal yang khas. Masyarakat desa bisa memiliki pilihan konten di luar media massa nasional. “Akses internet bisa kita bikin sendiri. Tinggal gimana caranya supaya orang pintar hingga bisa bikin sendiri. Harga pengadaan internet kan seharga handphone biasa. Tidak perlu uang sampai miliaran. Kuncinya bukan di duit, tapi di ilmu,” cetus Onno.

Transparansi Lewat Website

Semua berawal dari gagasan Domain Tingkat Dua (DTD) baru “Desa.id oleh Kepala Desa dalam dalam acara Sarasehan #Juguran Blogger Banyumas 2012. Usulan domain khusus desa sudah pernah diutarakan oleh RPDN pada April 2012. Pembahasan berlanjut oleh penggiat Gerakan Desa Membangun (GDM) hingga usulan Desa.id diterima sebagai DTD dalam rapat Forum Nama Domain Indonesia. Pada 1 Mei 2013, domain Desa.id resmi diluncurkan. Sosialisasi Desa.id ini dibantu dengan dukungan dari PNPM Mandiri Banyumas pada Rapat Koordinasi PNPM Banyumas.

Program 1000 Web Desa Gratis pun menggebrak pada penutupan Festival DesTIKa pertama di Desa Melung, Kedungbanteng, Banyumas. PANDI menggratiskan penggunaan domain Desa.id selama satu tahun. Penikmat layanan gratis ini pun harus berkomitmen untuk aktif mengisi konten website. Hingga pada Festival DesTIKa kedua, tercatat ada sekitar 1.300 website desa sudah aktif. Mulai 1 Oktober 2014, layanan ini sudah mulai berbayar untuk pendaftaran dan biaya hosting (tempat di internet untuk menyimpan data website).

Website dapat menyampaikan potensi dan sumber daya alam kepada masyarakat desa hingga dunia. Keberadaan website desa dan email bisa menggerakkan akses sumber daya desa untuk bisa diminati daerah lain. Jalur komunikasi pun meluas. Langkah ini bisa membuka akses perdagangan antardesa dan pengembangan kawasan perdesaan sesuai amanat Undang-undang Desa.

“Kebutuhan pemerintah daerah menyiapkan sistem informasi desa, jaringan, dan SDM-nya. Desa yang mau maju ada kebutuhan mencari informasi,” ujar Ketua Umum PANDI, Andi Budimansyah.

Andi menambahkan, teknologi website desa juga berperan penting dalam membuka data desa, pembangunan desa, kawasan perdesaan, dan sebagainya ke ranah publik. UU Desa juga sudah mengamanatkan sistem informasi pembangunan desa.

Sistem ini resmi dijalankan pemerintah desa untuk melindungi dari potensi penipuan dunia maya, akses pendaftaran domain Desa.id hanya untuk desa. Pengajuan pun harus persetujuan kepala atau sekretaris desa. “Yang paling penting dari penggunaan domain Desa.id adalah kejelasan identitas. Sudah diverifikasi PANDI. Tidak ada domain Desa.id palsu,” ujar Andi.

Website desa juga memudahkan masyarakat untuk mengakses data publik. Praktik baik inovasi desa bisa dilihat dari contoh aplikasi interaksi dengan kepala desa. Dengan membuka akses data ke publik, website dapat mengajak masyarakat untuk aktif mengoreksi data desa.

“Salah satu asas dalam pembuatan UU Desa adalah partisipasi. Kepala desa harus melibatkan partisipasi publik. Peraturan Desa harus dibicarakan di Badan Musyawarah Desa. Bikin peraturan itu perlu koordinasi dengan masyarakat,” ujar Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemkominfo, Bambang Heru Tjahjono.

Bambang menjelaskan program Indonesia Melek TI (peningkatan literasi TI), Indonesia Informatif (sadar dan berbagi informasi), dan Indonesia Broadband (seluruh wilayah tersambung jaringan Broadband Palapa Ring Project) siap mendukung desa memanfaatkan TI. Pemanfaatan TI ini sudah memasuki ranah hak masyarakat mendapatkan informasi dan kewajibannya.

“Masyarakat memperoleh hak kekayaan dan kewajiban, bisa memanfaatkan kualitas sistem, kualitas hidup, serta melakukan kontrol penggunaan teknologi informasi ke arah yang lebih baik,” ujar Bambang.

Ia mengatakan, Indonesia menuju era broadband sehingga diharapkan semua berpartisipasi dengan menyukseskan desa berbasis TI. “Kami telah membangun beberapa infrastruktur guna mewujudkan itu, seperti Desa Berdering, pusat layanan internet kecamatan, dan mobile pusat layanan internet kecamatan,” kata Bambang.

Membangun Gampong dengan TI Terintegrasi

Adalah dua pemuda, Safwaturrahman dan Muhammad Dahlan Gantoe, dari Gampong Cot Baroh, Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, yang peduli dengan kemajuan Gampong terutama dalam bidang pemanfaatan TI. Mereka berdua mendapat undangan resmi dari Kementrian Komunikasi dan Informatika untuk menghadiri Festival Destika di Majalengka , Jawa Barat.Gampong Cot Baroh merupakan sebuah Gampong di Kemukiman Aron, Kecamatan Glumpang Tiga Kabupaten Pidie yang telah lama memiliki website www.gampongcotbaroh.desa.id menggunakan domain desa.id domain khusus yang diperuntukan untuk website Desa/Gampong.

Keduanya sangat mengharapkan agar semua walikota/bupati di Aceh bisa meniru apa yang dilakukan Bupati Majalengka yang membuat daerahnya menjadi tuan rumah tempat diadakan Festival Destika. “Kami sangat mengharapkan kepada walikota/bupati di Aceh untuk lebih memperhatikan gampong-gampong di Aceh yang telah aktif di bidang pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi guna mempromosikan potensi gampong secara online,” ucap Safwaturrahman.

Dari Festival Destika kedua ini, Gampong Cot Baroh berhasil mendapatkan Desa.id DesTIKa Awards 2014 sebagai penghargaan atas inisiatif dan kreativitas Cot Baroh dalam pemanfaatan TI dan penggunaan domain “ Desa.id” yang diberikan oleh Kemenkominfo bersama Pandi.

“Ini menjadi sejarah baru dalam bidang kemajuan TI perdesaan Internet Gampong di Kabupaten Pidie dan Gampong Cot Baroh pada khususnya dan Aceh pada umumnya,” kata Safwat.

Untuk mendapatkan penghargaan ini, terang Safwat, tidak terlepas dari beberapa kriteria penilaian yaitu mengunakan domain Desa.id, website selalu terupdate, mengangkat isu gampong/perdesan dan informasi berguna bagi masyarakat. •IWA