ArsadaASOSIASI Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (Arsada) secara resmi membuka rangkaian acara rapat kerja nasional (Rakernas) Arsada yang digelar pada 2 – 5 Juni 2015 di Novotel Hotel, Manado. Pembukaan dilakukan oleh Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Djouhari Kansil. Ia menyatakan bahwa rumah sakit harus mulai mengubah paradigma pelayanan dari pemberi pelayanan (provider oriented) menjadi berorientasi pada pelanggan (customer oriented).

Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 300 peserta dari seluruh Indonesia ini digelar dengan tujuan untuk membahas berbagai isu terkini di industri rumah sakit, khususnya yang dihadapi oleh rumah sakit daerah di seluruh Indonesia serta solusi yang tepat untuk menjawab isu dan tantangan yang dihadapi.

Secara garis besar kegiatan ini akan membahas tiga isu utama yang dihadapi oleh rumah sakit daerah yaitu pertama, pemberlakuan UU No. 23/2014 tentang pemerintah daerah dan kaitannya dengan pelaksana urusan kesehatan di daerah; kedua, Jaminan Kesehatan Nasional yang masih memerlukan penyesuaian di berbagai sisi; dan ketiga, revolusi karakter bangsa, utamanya di bidang kesehatan.

Ketua Umum Arsada, Kuntjoro Adi Purjanto mengatakan (3/5), “Revolusi mental di Indonesia salah satunya dimulai dari revolusi kesehatan.”  Ia juga mengatakan sesuai dengan UU No 23/2014 di atas, rumah sakit daerah akan terdorong untuk menjalankan perubahan pola pikir dalam memberikan pelayanan sehingga pelayanan di era Jaminana Kesehatan Nasional akan semakin mantap serta menghindarkan rumah sakit dari risiko hukum, fraud dan moral hazards.

Sementara itu, Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan Arsada, Nur Abadi menyatakan,  “Salah satu upaya peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sebagai badan penyelenggara. BPJS sendiri dibagi menjadi dua yaitu BPJS Kesehatan (sebelumnya PT Askes) dan BPJS Ketenagakerjaan (sebelumnya Jamsostek).

“Dengan BPJS Kesehatan, masyarakat tidak perlu lagi membayar ketika berobat atau memeriksakan kesehatan mereka, tentu dengan kriteria yang telah ditentukan. Semua pengobatan bisa didapatkan secara cuma-cuma karena telah ditanggung oleh pemerintah. Rumah sakit lah nanti yang akan klaim biaya tersebut kepada pemerintah,” jelas Nur Abadi.

Ia mengatakan bahwa program ini memiliki nilai positif bagi peningkatan pelayanan kesehatan di Indonesia namun program ini memerlukan sistem, terutama sistem teknologi informasi (TI), yang bisa mengkonsolidasikan dan mengoordinasikan seluruh sistem di rumah sakit di seluruh Indonesia, misalnya untuk urusan klaim seperti disebutkan di atas. Dari sekitar 1700 rumah sakit di Indonesia, baru sekitar 10% yang memiliki sistem yang bagus.

Tanpa sistem TI yang baik, proses klaim dilakukan secara manual dan ini tentu akan memakan waktu lama. Akibatnya, ada keterlambatan pembayaran dari pemerintah ke rumah sakit. Apabila ini berlanjut, dampaknya bisa merugikan rumah sakit. “Inilah salah satu alasan mengapa rumah sakit perlu memiliki sistem TI yang baik dan juga terintegrasi dengan sistem BPJS Kesehatan,” ujarnya.

Selain diisi dengan kegiatan seminar dan workshop, Rakernas Arsada kali ini juga dimeriahkan dengan pameran alat kesehatan, farmasi serta teknologi jaringan teknologi informasi dan komunikasi serta solusi penunjang kesehatan. Pameran ini juga akan diisi dengan live demo solusi Management Information System (MIS) untuk rumah sakit yang dihadirkan oleh PT Data Global Komukatama dan PT Caraka Global Informasi.

PT Data Global Komukatama merupakan value-added distributor beberapa brand ternama di dunia seperti Allied Telesis, TE Connectivity, Alcatel-Lucent, CCSI, WatchGuard, Peplink, Wallix, dan penyedia solusi jaringan kelas enterprise terdepan di Indonesia sementara PT Caraka Global Informasi merupakan penyedia jasa dan solusi sistem TI yang telah lama berkecimpung di dunia TI di Indonesia.

“Live demo yang kami hadirkan kali ini bisa memberikan gambaran secara lebih jelas mengenai manfaat sistem TI yang baik bagi operasional sebuah rumah sakit. Dengan sistem yang baik rumah sakit bisa memberikan layanan secara lebih cepat, tepat, dan efisien. Sistem tersebut juga bisa diupgrade agar bisa terintegrasi dengan sistem yang ada di BPJS,” jelas Ronggo Wisnu, Direktur PT Caraka Global Informasi. •YULIA CH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.