Menyambut TKDN

Ditulis pada 25 June 15

EditorialKENDATI memiliki persiapan dan strategi yang berbeda-beda, sejumlah vendor mengatakan dukungannya terhadap wacana pemerintah terkait Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30-40% pada periode 2015-2017,

Bolt! menjadi salah satu vendor pertama yang menyatakan kesiapan mereka terhadap aturan TKDN. Jika sebelumnya berkolaborasi dengan vendor China ZTE dan Huawei,  perangkat mobile WiFi 4G LTE terbaru mereka kini dirakit di Sidoarjo. “Sebagian komponennya memang masih mengadopsi teknologi luar, karena di Indonesia sendiri belum sanggup memproduksinya,” ungkap CEO PT Panggung Electric Citrabuana, Lukito Wijaya, yang memproduksi modem tersebut. “Namun, kami berani katakan bahwa produk modem itu sudah memenuhi TKDN hingga 30%,” ungkapnya.

Sejumlah vendor global lain mengaku sedang berproses untuk tunduk pada peraturan tersebut, meski ada pula yang keberatan seperti yang dilontarkan Amerika Serikat melalui US Trade Representative (USTR).

Samsung misalnya, juga sudah mengambil langkah maju dengan mengaplikasikan angka kandungan lokal sebesar 20%  pada produk ponsel mereka. Angka tersebut akan terus ditingkatkan hingga 30% sesuai peraturan pemerintah pada 2017.

Samsung telah merakit ponsel di pabrik mereka yang berada di Cikarang sejak Januari 2014 silam. Termasuk juga model flagship Samsung Galaxy S6 dan Galaxy S6 Edge, yang disusul model 4G lainnya. “Kami perlu waktu,” ujar Vice President Corperate Business & Corporate Affair PT Samsung Electronics Indonesia, Kang Hyun Lee.

Menurut Lee, pemenuhan TKDN untuk pembuatan ponsel tersebut memakan biaya lebih besar dibanding melakukan impor. “Biaya produksi lebih mahal dari impor, tapi Samsung ingin mengikuti kebijakan pemerintah,” paparnya.

Sementara Marketing Director LG Electronics Indonesia Eric Setiadi mengatakan bahwa pihaknya memang sudah mengambil tindakan. “Namun untuk sementara kita belum bisa menjelaskan langkah kita untuk memenuhi kebijakan pemerintah. Dalam waktu dekat kita pastikan akan punya fasilitasnya,” ungkap Eric.

Ia berharap agar pemerintah bisa memahami kondisi setiap vendor yang berbeda. ‘Dampak positif TKDN memang jelas. Antara lain memangkas biaya impor, membuka lapangan pekerjaan juga, bahkan memberikan devisa jika produk itu dapat diekspor,” katanya. Namun, Eric menyebut, jika prosesnya dipaksakan, tentu akan memberatkan pihak manufaktur.

Hal inilah yang juga menyebabkan pemberlakukan TKDN maju mundur. “Mewujudkan kandungan lokal pada produk ponsel memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu waktu, perencanaan, serta biaya yang tentunya tidak sedikit. Perlu konsep yang matang dan cerdik,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara. Konsep value yang digagas Rudi salah satunya dalam hal desain.

Tentunya masih banyak celah lain dimana perusahaan bisa menyerap TKDN, misalnya aplikasi, casing dan lain sebagainya. Kita buktikan saja apakah wacana ini bisa terwujud dengan berjalannya waktu.

Salam,

REDAKSI