Jakarta, Biskom- Pemerintah terus berbenah dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Salah satunya dengan menyiapkan aspek robotik yang dapat digunakan untuk berbagai aspek dalam pembangunan nasional.

Kepala BPPT Hammam Riza saat menemui Masyarakat Robotika Indonesia (MRI) menyampaikan, dunia robotika harus menjadi bagian dari revolusi industri 4.0. “Kita bisa lihat robotika ini bagian dari revolusi industri 4.0, dan nantinya juga perlu disampaikan, bahwa robot itu bukanlah saingan manusia. Justru banyak hal yang bisa ditingkatkan dengan adanya robot,” kata Hammam di Kantor BPPT, Jakarta, Kamis (31/1).

Disebutkan, MRI ini penting untuk menjadi wadah bagi sumberdaya yang mumpuni di bidang robotika. “Ini sebuah kesempatan kita membangun kapasitas. Kami di BPPT berpikir bagaimana inovasi bisa dibangun melalui sumberdaya manusia. Karenanya penting bagi MRI ini menjadi wadah bagi SDM pegiat robotik yang kompeten di bidangnya,” terangnya.

Ia menambahkan, MRI harus selaras dengan agenda pemerintah kedepan, yakni pembangunan sumberdaya manusia. “Kita lihat organisasi sekelas Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sudah punya sertifikasi dan mewadahi seluruh insinyur. Bahkan PII diajak bicara pemerintah terkait pembangunan nasional,” katanya.

Terkait kompetensi BPPT, Hammam menyatakan pihaknya siap mendukung dalam aspek pengkajian ekosistem industri, serta sistem elektronika dari robotik. Pun juga dalam hal teknologi proses, otomasi, permesinan, material, teknologi informasi dan komunikasi, serta energi. “Kita akan lakukan kemudian sistem elektronikanya, yang penting dari membangun sistem robotik. Kemudian ekosistem industri juga BPPT akan melakukan kajiannya,” ujarnya.

Dalam hal sinergi, Hammam meminta agar MRI menggandeng unsur perguruan tinggi. Pusat robotika ITS misalnya, kemudian ITB dan UI, serta Telkom University. “Kita harus raih pendukung dari perguruan tinggi. Kemudian sektor industri atau perusahaan untuk semakin melengkapi. Kalau kita lengkap dari semua lini tentu akan semakin menguatkan dukungan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua MRI Hasan Hambali menjelaskan bahwa antusiasme terhadap dunia robotika di Indonesia saat ini cukup tinggi. “Seperti di bandara sudah ada robot pemandu semoga ada realisasi ke arah yang sama. Kami ingin munculkan hospitality atau keramahan robot yang dapat ditunjukkan dalam aspek keseharian,” tambahnya.

Sementara pegiat robotik dari Robotic Explorer, Juli Tjindrawan menyatakan bahwa pihaknya 13 tahun berkecimpung di dunia robotik nasional. Meski begitu dirinya mengakui perkembangannya belum begitu signifikan. “Senang sekali saat ini dapat bertemu pihak BPPT. Supaya program robotika mendapat dukungan pemerintah, dalam hal ini BPPT untuk meningkatkan program robotik secara nasional,” pungkasnya. (red/Ju)