Jakarta, Biskom – Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Ristekdikti  berupaya keras membangun perusahaan rintisan  startup lokal  menjadi  unicorn atau startup yang memiliki valuasi USD1 miliar. Kebutuhan pasar sangat berpengaruh terhadap  perkembangan sebuah start-up menjadi unicorn alias  raksasa internet.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi  Jumain Appe  menegaskan, startup Indonesia harus dibangun karena market nasional sangat besar dan selama ini dikuasai produk impor. Tidak kurang produk yang dipasarkan secara online lewat e-commerce, sebanyak  80% adalah produk luar negeri alias  impor. Sedangkan pemasukan terbesar dari Indonesia, yakni hanya 60% saja.  Itu artinya, meski industri e-commerce tumbuh pesat, peran dari produk lokal ternyata masih sangat kecil.

Terkait hal ini, pihaknya ingin melakukan penjajakan kerja sama dengan e-commerce besar seperti Shopee dan  Bukalapak bisa menggaet  UKM khususnya di Bali  untuk bisa memasarkan produknya di e-commerce.  “Kita bangun startup industri kreatif di sini. Kami jembatani, untuk awal akan diajukan lima universitas, yaitu ITB, IPB, Unhas, Unair dan UGM,” katanya dalam launching peringatan  Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-24 di Denpasar, Bali, Kamis (21/2).

Hakteknas tahun ini   mengambil tema Iptek Dan Inovasi Dalam Industri Kreatif 4.0 dengan sub-tema Industri Kreatif 4.0 untuk Kemandirian dan Daya Saing Bangsa. “Karena kami lihat industri kreatif adalah salah satu fokus pengembang industri kita ke depan dalam rangka GDP dan perekonomian nasional,” tambah  Jumain Appe.

Lebih lanjut dikatakan, industri kreatif di Bali sangat bagus, selain pariwisata, budaya dan adat istiadat masyarakatnya. Karena itu, mereka perlu didorong agar mendunia melalui sentuhan digital teknologi. “Kami sudah bertemu dengan e-commerce seperti Shopee, Bukalapak. Kami tawarkan produk yang ada dan mereka sangat tertarik. Misalnya aroma terapi, elektronik health, konsultasi kesehatan online dan lainnya. Responsnya luar biasa,” kata Jumain.

Sementara itu, Menristekdikti M. Nasir mengatakan, dari tema yang ada, pemerintah ingin menerjemahkannya ke dalam rangkaian kegiatan Hakteknas. Antara lain, Bakti Inovasi, gerak jalan sehat dan lomba, kegiatan ilmiah, talkshow series, acara Puncak Malam Apresiasi, Anugerah Inovasi, Pameran Inovasi Anak Negeri (Eye Catching), dan Ritech Expo.

M. Nasir menjelaskan, Provinsi Bali dipilih karena memiliki potensi wisata, budaya, industri kreatif, enterpreneur, dan berkelas internasional. Ini semua sesuai dengan tema yang diambil terkait pengembangan industari kreatif 4.0 untuk kemandirian dan daya saing daerah.

Lebih lanjut dikatakan, pemilihan Bali sebagai lokasi penyelenggaraan adalah suatu bentuk usaha guna mendorong terwujudnya iklim inovasi daerah yang semakin maju. Ini adalah untuk ketiga kalinya gelaran peringaan Hakteknas dilaksanakan di luar Pulau Jawa. Sebelumnya Hakteknas digelar di Pekanbaru (2018) dan Makassar (2017).

Produk-produk utama yang ditampilkan adalah produk inovasi teknologi tepat guna yang siap diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hadirnya RiTech Expo, diharapkan inovasi dapat menjadi budaya dan solusi berbagai permasalahan yang ada di masyarakat.

Hakteknas merupakan salah satu hari bersejarah nasional yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus. Kegiatan ini diawali Hakteknas merupakan tonggak sejarah kebangkitan teknologi di Indonesia yang diawali penerbangan perdana pesawat terbang N-250 Gatotkaca pada 10 Agustus 1995 di Kota Bandung. (red/ju)