Home Berita BPPT Pasang Buoy Tsunami Merah Putih di Perairan Selat Sunda

BPPT Pasang Buoy Tsunami Merah Putih di Perairan Selat Sunda

112

Jakarta, Biskom- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memasang Buoy Tsunami Merah Putih di perairan Selat Sunda yakni kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK), dengan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya IV di dermaga 06 Pelabuhan Tanjung Priuk Jakarta, Rabu (10/4).

Bouy Merah Putih merupakan bagian Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System) guna mengurangi risiko yang timbul karena bencana tsunami. “ BPPT berhasil membangun kembali alat deteksi buoy tsunami. Semoga Buoy Merah Putih menjadi momentum agar bangsa kita mampu lebih baik dalam penanggulangan bencana berbasis teknologi,” ungkap Kepala BPPT Hammam Riza disela acara pelepasan KR Baruna Jaya IV untuk pemasangan Buoy Tsunami Merah Putih dan KR Baruna Jaya I untuk Survey Landas Kontinen Indonesia Ekstensi.

Hadir dalam acara, Staf Ahli Bidang Infrastruktur Kemenristekdikti Hari Purwnto, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorarita Karnawati, Kepala Badan Informasi Geospasial Hasanuddin Zainal Abidin, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Wisnu Widjaya.

Kapal Baruna Jaya IV membawa satu bouy yang akan dipasang sekitar lima km dari GAK diantara pulau Sertung dan pulau Rakata atau sekitar 100 – 200 km dari pantai pesisir Banten. “Pemasangan akan memakan waktu sekitar 2-3 hari layar dan ini merupakan tahap pertama dari tiga buoy yang akan dipasang untuk kawasan GAK dan pesisir Barat Bengkulu serta selatan Jawa Barat,” ujarnya.

Hammam melanjutkan, setelah terpasang, sinyal data gelombang laut akan terkirim secara real time ke Pusat Data Buoy Indonesia (PDBI) di BPPT. “PDBI selanjutnya akan mengirimkan data tsunami ke Tsunami Early Warning Center di BMKG,” paparnya

Hammam berharap Indonesia dapat menerapkan early warning system secara nasional. “Kita inginkan semacam konstelasi buoy secara nasional. Mulai dari Utara Sangihe, kawasan Gunung Anak Krakatau, Selatan Bali dan NTT, serta lainnya,” ujarnya.

Tahapan selanjutnya, BPPT juga akan menyusun strategi tiga fase pembangunan buoy dan Cable Based Tsunameter (CBT) atau Kabel Bawah Laut. “Kita akan meluncurkan ketiga fase pembangunan buoy dan CBT, kalau dana pembangunan multi hazard early warning system sudah masuk, guna elengkapi sistem konstelasi buoy di seluruh perairan serta garis pantai indonesia,” paparnya.

Selain itu, BPPT juga tengah merancang sensor perubahan iklim dalam era indutri 4.0 saat ini berbasis Internet of Things. “Konstelasi buoy yang dilengkapi kerapatan CBT, akan semakin melengkapi kerapatan sensor yg sudah ada. Sehingga data informasi yang diberikan akan semakin cepat, rapat dan akurat,” ujar Hammam.

Hadir dalam acara, Staf Ahli Bidang Infrastruktur Kemenristekdikti Hari Purwanto, Kepala BMKG, Dwikorarita Karnawati, Kepala BIG Hasanuddin Zainal Abidin, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BNPB, Wisnu Widjaya, serta para pejabat lainnya.

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BNPB Wisnu Widjaya mengatakan bencana memiliki sifat tidak terduga dan tidak selalu sama dalam setiap kejadian. “Fokusnya bagaimana mengurangi jumlah kematian, mengurangi jumlah orang yang terkena dampak bencana serta meningkatkan akses peringatakan dini bagi masyarakat,” ujarnya.

Wisnu juga berharap sistem peringatan dini harus lebih canggih di masa mendatang. “Seperti google map. Informasi sudah tersedia, dan masyarakat bisa ambil keputusan sendiri.” Selain itu, lanjut dia, kendati termasuk wilayah rawan bencana, bangsa Indonesia harus mampu menjadikan sebagai laboratoriun bencana sekaligus menjadi Pusat Industri Solusi Keselamatan Bencana melalui teknologi anak bangsa. (red/ju)