Home Berita Pancasila: Ideologi Pemersatu Bangsa dan Pedoman untuk Mempertahankan Identitas Nasional (SARA)

Pancasila: Ideologi Pemersatu Bangsa dan Pedoman untuk Mempertahankan Identitas Nasional (SARA)

1230
Ilustrasi Garuda Pancasila (Foto: Media Indonesia)

Jakarta, BISKOM – Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mendorong penerapan amalan Pancasila agar lebih membumi dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Rektor UGM, Panut Mulyono mengatakan, untuk mengaktualisasikan Pancasila ini, pihaknya akan menyelenggarakan kongres Pancasila ke-XI pada 15 Agustus 2019. “Temanya adalah aktualisasi Pancasila untuk marajut kembali persatuan bangsa. Dalam kongres ini akan ditarik makna tentang bagaimana tujuan hidup seseorang secara pribadi dapat tetap relevan dengan Pancasila,” ujarnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, nilai-nilai luhur Pancasila ini direnungkan secara mendalam oleh Yulius Kardinal Darmaatmadja, SJ dalam bukunya Umat Katolik Dipanggil Membangun NKRI. “Sebagai orang beriman, kita melihat bahwa para pendiri bangsa dengan niat tulus dan suci melahirkan Pancasila. Hal itu pasti tidak lepas dari bimbingan Karsa Illahi. Pancasila akan sakti hanya kalau seluruh warga Negara dan bangsa  yang sekarang mewarisi rumusan Pancasila juga mewarisi semangat  yang sama, seperti yang dimiliki para pendiri bangsa, yaitu mewarisi semangat dan niat yang tulus dan murni, hanya berjuang untuk membangun masyarakat dan bangsa Indonesia agar tercapai cita-cita, yaitu: Hidup bersama sebagai saudara (sila 2 dan 3), dalam keadaan damai dan sejahtera yang merata (sila 5), menjunjung tinggi agama-agama dan kepercayaan apa pun (sila 1), yang membuat hidup semakin berkualitas, melaksanakan semangat gotong-royong di antara kita. Maka Pancasila tidak hanya merupakan acuan dasar untuk menggapai kesejahteraan dunia-akhirat, tetapi juga merupakan acuan bagi pertobatan hati dan budi,” tulis Yulius Kardinal Darmaatmadja, SJ.

Buku Karangan Yulius Kardinal Darmaatmadja, SJ berjudul “Umat Katolik Dipanggil Membangun NKRI”

Menurut akademisi Unika Soegijapranata Semarang, JC Tukiman Taruno Sayoga, Ph.D. Sejatinya SARA itu madu, penuh hal-hal manis, tetapi sangat kuatnya  perlocutionary menyebabkan  madu itu sering “berubah” menjadi racun. “Mendengar kata SARA saja, persepsi orang “melayang” ke hal-hal negatif yang terkait adanya kerusuhan, kekerasan, protes, ketidakpuasan, cekcok antar kelompok, dan lain sebagainya. Intinya, SARA sang madu ini sangat sering menjadi isu empuk  untuk melakukan  perlocutinary tentang hal-hal negatif yang bersumber dari hubungan kurang baik/harmonis antar suku, agama, ras, dan golongan/kelompok,” ungkapnya.

Lebih lanjut Taruno menjelaskan, pada Roadmap RIKAS (Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang) 2016-2035, madu SARA telah, sedang, dan akan ditelusuri dengan pokok-pokok ARDAS (Arah Dasar) yang pada 2016-2020 hendak mewujudkan Gereja (Umat) yang Inklusif, Inovatif, dan Transformatif. Diharapkan pada puncaknya yakni di tahun 2035, terwujud Suburnya Peradaban Kasih: Sejahtera, Bermartabat, dan Beriman.

Mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari pasti tidak lepas dari tantangan dan dinamika, terutama dalam upaya mengembangkan secara harmonis identitas nasional SARA. Aksi dan refleksi Gereja Katolik Indonesia tentang hal tersebut selalu membingkainya dengan kata harapan.

Akademisi Unika Soegijapranata Semarang, JC Tukiman Taruno Sayoga Ph.D

“Jangan pernah berhenti dan bosan berharap, begitulah kira-kira. Setiapkali tantangan dan dinamika itu terasa “lebih besar/kencang” seruan, ajakan, dan berbagai bentuk imbauan untuk tetap berharap juga semakin kerap. Bingkai besar tentang hidup penuh harapan ini digali dari salahsatu hasil Konsili Vatikan tahun 1965 yang saat itu mendengungkan adagium “tremendum et fascinosum”. Hidup manusia tidak pernah lepas dari hal-hal yang “menakutkan” tetapi pada sisi lain selalu saja ada yang menakjubkan. Ketika Anda sedang diliputi rasa takut, khawatir, susah, menderita, sakit; tataplah ke depan karena di sana ada harapan, penghiburan, penyembuhan, kegembiraan, dan sebagainya. Kalau menggunakan wejangannya RA Kartini, sehabis gelap, terbitlah terang,” papar Taruno yang juga pengurus Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Jawa Tengah.

Aksi dan refleksi Gereja Katolik Indonesia senantiasa beriringan dengan tantangan dan dinamika berbangsa dan bernegara, seperti apa pun kondisinya. Seruan, surat resmi (gembala kepada domba-dombanya) tidak pernah berhenti. “Ketika azas tunggal Pancasila diributkan, Gereja Katolik Indonesia juga sedapat mungkin hadir dan berperanserta ikut mengatasi permasalahan itu. Demikian juga ketika radikalisme terasa kencang dan membahayakan Pancasila, dengan berbagai forum dan upaya, Gereja Katolik tampil semampunya entah secara resmi atau pun lewat individu-individu yang tergerak hatinya untuk berbuat baik bagi bangsa dan negaranya,” tutup Taruno. (Vincent)