Home articles Smart Agriculture Atasi Berbagai Masalah Perkebunan

Smart Agriculture Atasi Berbagai Masalah Perkebunan

695

Produsen kelapa sawit menghadapi berbagai tantangan seperti perkebunan kurang produktif akibat sejumlah biaya tinggi dan tenaga kerja tidak efisien. Biaya-biaya yang dimaksud seperti pemeliharaan kebun, keamanan, pembibitan, dan pupuk.

Kejadian tadi akan berakibat Indonesia mengalami kekurangan minyak kelapa sawit hingga dua juta ton pada 2020. Kondisi ini diperkirakan oleh Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI).

“Untuk memecahkan masalah tersebut dapat menggunakan ‘Smart Agriculture’,” kata Bayu Wedha, Managing Director PT Integrasia Utama kepada wartawan, Selasa (28/8/2019).

Smart Agriculture merupakan solusi digital perkebunan terintegrasi yang dapat dipakai perkebunan secara umum termasuk perkebunan kelapa sawit dan perkebunan tebu. Aplikasi ini diperkenalkan Datacomm Cloud Business bersama Aliansi Mitra.

Sejumlah perusahaan yang tergabung dalam Aliansi Mitra adalah AMS Teknologi, Integrasia Utama, dan eKomoditi. Dalam hal ini Datacomm beroeran menyediakan pusat data yang telah memperoleh sertifikat Rated-3 dan DCOS-4 TIA-942 dan bersertifikat ISO 27001, ISO 9001, dan ISO 20000.

“Kami berusaha meningkatkan kemakmuran para petani dengan membantu mereka bisa bekerja lebih efisien dan optimal melalui penggunaan teknologi yang tidak berat biaya dan lebih berkelanjutan,” ujar Sutedjo Tjahjadi, Managing Director dari Datacomm Cloud Business.

Implementasi Smart Agriculture diharapkan sebagai solusi lengkap dan terintegrasi antara Infrastrukur IT, Platform Aplikasi sampai ke pengelolaan data dan pemeliharaan sistem. Solusi ini tidak hanya memberikan solusi end to end bagi pengelolaan kebun dan aset.

Namun, penerapan Smart Agriculture juga dapat mengurangi biaya tidak perlu dan tidak besar. Langkah ini dilakukan dengan konsep solution as a service (SaaS).

“Kami punya tanggung jawab untuk memodernisasi bisnis perkebunan kelapa sawit di Indonesia supaya dapat bersaing di pasar global,” ujar Ferron Haryanto, Chief Executive Officer dari PT. eKomoditi Solutions Indonesia.

Berbasis AI

Solusi Smart Agriculture dapat melakukan komunikasi antara machine to machine di perkebunan yang tidak bisa ditangani oleh jaringan Global Systems for Mobile Communication (GSM).

Langkah ini dilakukan dengan Random Phase Multiple Access (RPMA) yang memberikan data real time dari sensor di lapangan ke dalam sistem seperti sensor ketinggian muka air, sensor curah hujan, dan arah angin.

Selain itu terdapat Modul Pemantauan Aset Bergerak dan Stasioner bernama SIOPAS atau SIOPASPLUS yang dapat memantau aset dan memanfaatkan aset secara maksimal

Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi karyawan yang bekerja di lapangan dapat memakai modul Pemantauan dan Pelacakan pekerja bernama GEOHR. Modul ini bisa mengintegrasikan sistem absensi di kantor dengan sistem portal web,

Keberadaan karyawan juga dapat diketahui melalui ponsel cerdas dan karyawan dapat menekan panic button jika mengalami situasi darurat di lapangan.

Modul lainnya adalah Management data Geospatial dengan engine development yang dapat mempercepat pembangunan sistem informasi geospatial berbasis web oleh pengelola perkebunan.

Modul ini juga mengintegrasikan data transaksi dari ERP ke dalam data Geospatial (peta) bernama OSMAP.

Untuk menganalisa data dapat mengunakan Modul Analisa yang tergabung dengan WebGIS dan MAP-GIS. Hal itu dilakukan dari citra satelit selama satu sampai dua minggu, dengan resolusi tinggi tiga sampai lima meter.

Langkah tadi dikombinasikan dengan sensor di lapangan dan platform Artificial Intelligence (AI) untuk menyediakan berbagai data. Data-data itu seperti Forecasting Panen dari Kebun, Pengelolaan Hama, Peringatan Kebakaran, Kesehatan Tanaman, Pengelolaan Air, dan Risiko Kebakaran bernama Agrisource.

Smart Agriculture dapat menyongsong era industry 4.0 dan tujuan pembangunan berkelanjutan.” Jelas Taufik Darwis, Managing Director dari AMS Teknologi.

Solusi berikutnya adalah OSLOG yang dapat meningkatkan utilisasi transportasi, keselamatan bekerja dan efisiensi di logistik serta transportasi. Modul ini juga bisa membantu operasional mulai proses penjualan menerima pesanan, memantau pesanan, dan menyelesaikan pesanan.

Data yang diberikan antara lain performa penjualan, pengiriman tepat waktu, jarak waktu, dan key performance indicator (KPI) Pengemudi.

Terakhir, Modul ERP untuk Perkebunan bernama EPCS-IPLAS dapat memberi akses mudah ke informasi operasional utama bagi pengelola perkebunan. Untuk pengambilan keputusan lebih jelas, lebih cepat, dan lebih mudah dapat memakai ERP khusus perkebunan Modul Kegiatan Operasional Lapangan bernama Electronic Plantation Control System (EPCS).

EPCS dikembangkan bagi perangkat Android untuk membantu administrasi manual pekerjaan umum, panen, transportasi, dan sortasi pabrik untuk proses input dan pelaporan secara cepat.

Modul itu dapat mengurangi kesalahan data ganda, ketidaksesuaian, dan penggunaan laporan fisik. Hal ini berkat global positioning system (GPS) data berupa gambar real di lapangan.

Berpengalaman

Sekedar informasi, Datacomm Cloud Business (DCB) adalah unit bisnis Datacomm Diangraha yang memberikan layanan cloud computing. Perusahaan ini berkomitmen meningkatkan adopsi cloud computing secara jangka panjang.

Dalam memberikan layanan kepada pebisnis, filosofi DCB adalah Enterprise, Secure, Local. Perusahaan ini bagian dari Datacomm Diangraha (Datacomm) yang berdiri pada 1990.

Datacomm adalah salah satu penyedia layanan teknologi network di Indonesia yang berkantor Grha Datacomm, Jakarta. Perusahaan ini memiliki fasilitas meliputi Data Center, Network Operation Center, Security Operation Center, dan  Network Laboratory.

Datacomm  memunyai pengalaman selama 27 tahun melayani Teknologi Informasi (TI) dengan 500 tenaga profesional, Pusat Data dipunyainya dengan sertifikasi internasional ISO 9001, ISO 27001, dan ISO 20000.

Datacomm selalu memberikan solusi teknologi kepada pelanggan dengan model full lifecycle services’ mulai mendesain, membangun, mengoperasikan dan perawatan.

Sementara itu Integrasia berdiri pada 2001 berfokus pada IOT (Internet of Things (IoT). Selain itu pembuatan platform berbasiskan informasi geospatial (peta) termasuk komunikasi machine to machine (M2M), dan device atau pembuatan sensor sensor IOT.

Berikutnya, AMS Teknologi merupakan sebuah perusahaan konsultan manajemen teknologi yang didirikan pada 2012. Perusahaan ini menyediakan solusi sistem manajemen perkebunan yang terintegrasi, sederhana, akurat, dan lengkap.

Terakhir, eKomoditi merupakan perusahaan penyedia teknologi aplikasi komprehensif untuk kegiatan operasional perkebunan kelapa sawit mulai dari lapangan sampai dengan pelaporan ke tingkat pusat secara tepat dan akurat. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam perusahaan. (moc)