Home articles Indonesia Belum Maju Akibat Kurang Inovasi

Indonesia Belum Maju Akibat Kurang Inovasi

505

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) harus melakukan transformasi bisnis guna bisa mengikuti selera pasar melalui pemanfaatan teknologi dan kompetensi sumber daya manusia (SDM).

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan status negara maju akan diraih Indonesia pada 2040. Waktu ini lebih panjang dibandingkan Korea Selatan (Korsel) hanya selama 10 tahun yakni pada 1990.

“Karena industri di Indonesia baru puas menjadi pembuat produk saja di dalam negeri, mereka belum menjadi inovator industry, jadi inovasi merupakan kata kunci. Apalagi, kalau kita hanya konsumtif saja, maka tidak akan menjadi negara maju selamanya,” kata Menteri Riset dan Teknologi (Kemenristek) sekaligus Ketua Badan dan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro sesaat sebelum memberikan penghargaan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) yang terpilih dalam Business News Award 2019 di Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Korsel memiliki perusahaan teknologi yang tidak hanya puas dengan pembuatan produk saja seperti elektronik. Hal ini membuat produknya bisa bersaing dengan produksi Jepang, tapi juga dunia.

Bahkan, perusahaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah dapat mengalahkan Jepang dan Amerika Serikat (AS). Perusahaan yang dimaksud adalah Samsung. “Industri pemenang adalah industri yang berbasis inovasi,” jelasnya.

Sekedar informasi, Bambang merupakan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) merangkap Kepala Bappenas periode 2015-2019.

Produk yang berinovasi lahir dari riset dan pengembangan teknologi yang dilakukan perusahaan. Langkah ini telah didorong pemerintah dengan penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 45 tahun 2019 tentang Perubahan atas PP 94/2010 tentang Perhitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak dalam Tahun Berjalan.

PP ini akan diturunkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) yang berisi pengurangan pajak super sampai 300% dari investasi yang dilakukan suatu perusahaan.

Pernyataan ini bisa menjawab secara tidak langsung pernyataan Irnanda Laksanawan, Chief Executive Officer (CEO) PT Media Madani Utama (MMU) sebagai perusahaan yang menaungi Majalah Business News. Dia bilang apa yang dilakukan Kemenristek mendorong perkembangan BUMN dan BUMS.

Selain itu pertanyaan bagaimana Kemenristek membantu memenuhi kebutuhan investasi BUMN dan BUMS untuk menjalankan bisnis. Langkah ini tidak dapat dilakukan sendiri olehnya persaingan ketat dari investasi besar yang dilakukan oleh perusahaan global.

“BUMN dan BUMS memerlukan saran Kemenristek bagaimana mereka melakukan inovasi,” ucapnya.

Langkah lain yang dilakukan pemerintah adalah pembangunan peta infrastruktur dalam Peta Jalan Industri. Peta ini juga dilengkapi Pembentukan Ekosisten Inovasi. “Dari inovasi ini mendorong industri yang berdaya saing.

Selera Pasar

Menanggapi permintaan bagaimana BUMN dan BUMS mengadopsi teknologi disarankan Bambang perusahaan harus bisa memilih teknologi sesuai kebutuhan produk dan jasa yang akan disediakan bagi konsumen.

“Perusahaan yang Bapak dan Ibu pimpin harus berubah mengikuti selera pasar melalui pemanfaatan teknologi dan kompetensi sumber daya manusia,” paparnya.

Contohnya, perusahaan perbankan tidak bisa hanya menyediakan cabang saja bagi nasabahnya untuk melakukan transaksi. Namun, perusahaan ini mesti memberikan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang dapat dipakai untuk berbagai transaksi yang dibutuhkan nasabah.

Bahkan, perusahaan perbankan tidak dapat menolak keperluan nasabah dapat melakukan transaksi di mana saja dan kapan saja tanpa harus menemukan ATM. Langkah in dapat dilakukan denngan pemberian fasilitas mobile banking dan internet banking yang dapat diakses nasabah melalui telepon selular (ponsel) pintar secara aman dan mudah.

Begitupula transportasi publik bukan cuma menawarkan produk dan layanan bagus dan SDM yang cakap saja. Namun, kebutuhan ini dapat dipenuhi dari ponsel cerdas lewat suatu aplikasi.

Apabila suatu teknologi tidak diadopsi BUMN dan BUMS, maka perusahaan ini tidak bisa menghasilkan produk berinovasi yang berujung menunjang kemajuan negara.

Namun, ini guna menarik konsumen baru dan mempertahankan konsumen lama. “Kemampuan inovasi untuk menjaga daya saing,” papar Bambang.

Tambah Pekerjaan

Teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen sekarang adalah teknologi yang tergolong Revolusi Industri 4.0, seperti  artificial intelligence (AI), internet of things (IoT), Advanced robotic, augmented reality dan virtual reality, serta third (3D) Printing. “Dari hal ini pemimpin perusahaan harus melakukan model bisnis baru,” tegasnya.

Itu merupakan tantangan bisnis pertama bagi mereka yang dibarengi dengan tantangan kedua apakah itu bisa diterapkan oleh manajemen dan staf perusahaan.

“Adopsi revolusi industri keempat memuculkan banyak pekerjaan dan pekerjaan baru bagi manusiua bukan membuat pengangguran dan orang susah cari kerja,” pungkasnya. (moc)