Home Berita Riset dan Inovasi Kunci perekonomian era Industri 4.0

Riset dan Inovasi Kunci perekonomian era Industri 4.0

780

Jakarta, Biskom- Kemenristek/BRIN dan Renesans bekerjasama dengan MVB Indonesia, Business Nordic, Kedutaan Finlandia untuk Indonesia, NOKIA dan NODEFLUX, menyelenggarakan seminar inovasi untuk bisnis Indonesia di Sari Pacific Jakarta, Rabu (13/11). Tujuan dari seminar tersebut untuk menjembatani informasi dan pengembangan inovasi antara Indonesia dan negara-negara Nordic.

Dalam sambutannya,  Menristek/Kepala BRIN, Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, negara-negara Nordik seperti Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia dan Swedia tidak hanya terkenal dalam penguasaan teknologi, tetapi juga berhasil menumbuhkan budaya inovasi. Mereka sudah menerapkan konsep triple helix dengan inovasi yang levelnya mendunia.

Dia berharap  melalui seminar ini  pihaknya ingin mempelajari, tepatnya budaya inovasi yang sudah muncul di negara-negara Nordic. Jadi ternyata negara Nordic itu, tidak hanya bicara mengenai penguasaan teknologi, tapi sudah lebih dari itu, mereka sudah menerapkan konsep kerjasama pemerintah, dunia usaha, dengan penelitian atau triple-helix dengan inovasi yang levelnya sudah mendunia.

“Produk-produk yang akan dikembangkan melalui inovasi  haruslaglah dikenal dunia, dan kompetitif. Dan ternyata munculnya tidak hanya dari sisi hardware penelitian inovasi, tapi  menumbuhkan budaya inovasi. ini yang kemudian tentunya menjadi referensi, dan pelajaran buat kita Indonesia. Kementerian  ingin mendorong inovasi menjadi bagian kehidupan atau budaya  dari masyarakat Indonesia,” kata Menteri Bambang.

Hal itu, tentunya membutuhkan waktu yang panjang, dan pasti banyak tantangannya. “Tapi kami yakin bahwa banyak putra-putri Indonesia sebenarnya punya bakat inovasi, tidak hanya ada diperguruan tinggi, lembaga penelitian, tapi juga di kalangan masyarakat secara umum,” terang Bambang.

Lebih lanjut Bambang  menambahkan, BRIN  akan menjadi konsulidator dan platform dari kegiatan riset dan inovasi di Indonesia, sehingga bisa mengakomodir semua kegiatan riset dan inovasi yang tidak hanya di pemerintah, perguruan tinggi atau lembaga penelitian tertentu, tapi semua, termasuk di masyarakat.

“BRIN  menjadi lembaga yang melakukan kegiatan riset dan inovasi secara terintegrasi. Supaya kita mengurangi duplikasi dan mengurangi inefisiensi anggaran riset yang saat ini banyak terjadi,” ujarnya.

Dan yang paling penting dari Nordic tersebut adalah bagaimana menerapkan triple-helix tadi. “Triple-helix itu kunci kesuksesan di negara-negara Nordic, dan ditunjang juga budaya inovasi di masyarakatnya. Jadi pelajaran pentingnya adalah triple-helix itu harus  dkembangkan untuk semua kegiatan riset dan inovasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Jumain Appe, Deputi Kepala BRIN Bidang Penguatan Inovasi menambahkan, pihaknya mendorong inovasi dan pengembangan bisnis kedepan. “Kita bekerjasama dengan Nordic, Finlandia, karena Finlandia itu negara yang inovatif, bagaimana pemerintahnya mendorong inovasi-inovasi di Finlandia, terutama pada perusahaan-perusahaan utamanya, untuk berkembang menjadikan produk riset dan inovasi menjadi bisnis, berkembang dan berkelanjutan

“Untuk itu, kita mencoba melakukan satu pertemuan ini dengan mengundang berbagai stakehorkder, akademisi, pengusaha dan pemerintah, untuk bisa membicarakan bagaimana model Indonesia inovasi kedepannya,” tuturnya.

“Jadi kita ingin belajar disitu, walaupun nanti tidak 100 persen kita adopsi, tapi yang cocok itu kira-kira yang mana kita lakukan. Misalnya untuk sektor-sektor, kita mendorong sumber daya alam kita memiliki nilai tambah, dan masuk dalam marketplace itu bagaimana. Kemudian bagaimana manufakturing kita supaya hudup kembali, dan industri nasional itu, kira-kira kita harus bagaimana,” ujarnya.

Misalnya manfaatkan model Korea yang tadi disebut Menristek/Kepala BRIN dari imitasi ke inovasi, atau kita menggunakan konsep negara Finladia itu. “Pokoknya R&D nya diperkuat, pendidikannya diperkuat, sehingga melahirkan orang-orang yang inovatif, melahirkan produk-produk inovatif yang menghasilkan produk dan bisnis yang bisa mengglobal. Contoh inilah yang akan kita bicarakan, nanti Pak Menteri minta rekomendasinya apa, yang akan kita jalankan kedepan,” ungkapnya.