Jakarta, BISKOM – Di penghujung tahun 2019 ini, Mahkamah Agung (MA) menggelar Refleksi Akhir Tahun di Gedung MA Lantai 2, hari ini (27/12/2019). Ketua MA, Hatta Ali memaparkan capaian kinerja lembaga yang dipimpinnya selama tahun 2019 ini.

Tercatat, selama 2019 ada 19.370 perkara yang diregister di MA. Jumlah ini meningkat sebanyak 12,91% dari tahun sebelumnya. Meskipun jumlah beban perkara meningkat, namun MA berhasil memutus 20.021 perkara dari keseluruhan jumlah beban sebanyak 20.276 perkara. Data ini masih bisa berubah karena masih ada sisa hari sebelum tahun 2019 berakhir.

Kinerja positif MA ini jika dilihat dari sisi waktu penyelesaian perkara, sebanyak 96,2% dapat diselesaikan dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan. Namun secara arif, Hatta Ali juga mengungkapkan bahwa dirinya masih tidak puas terhadap kinerja minutasi sebanyak 18.274 perkara yang telah dikirim ke pengadilan pengaju.

“Khusus minutasi saya belum terlalu puas karena ternyata masih ada pengiriman putusan yang melebihi 3 bulan setelah diputus. Ini tentunya juga berkaitan dengan sumber daya manusia yang terbatas, sedangkan putusan tiap hari ada bahkan ratusan putusan yang setiap hari harus diketik secara bergiliran. Tapi bagi pihak yang beperkara tidak usah khawatir karena sudah tahu putusannya apakah itu menang atau kalah dalam perdata, apakah dihukum tau tidak dalam perkara pidana, demikian pula TUN, Militer dan Agama. Itu semua dapat dilihat di website MA,”ungkap Hatta Ali.

Dalam bidang sumber daya manusia, sebanyak 1.585 orang calon hakim akan segera menyelesaikan program pendidikan dan pelatihan calon hakim terpadu. Bagi kandidat yang berhasil menyelesaikan program tersebut dengan baik, akan segera diusulkan sebagai hakim untuk megisi formasi di pengadilan yang jumlah hakimnya tidak memadai. “Pada 2019 saja, saya sudah menerbitkan 131 surat ijin untuk melaksanakan persidangan dengan hakim tunggal,” kata Ketua MA. Rencananya pada 2020 akan dibuka lagi pendaftaran calon hakim untuk memenuhi kebutuhan hakim yang masih sangat diperlukan, khususnya di pengadilan-pengadilan yang baru beroperasional.

Tak lupa, Ketua MA menyoroti pentingnya jaminan kesehatan dan kesejahteraan bagi para hakim, khususnya hakim-hakim di daerah. “MA menyadari tugas, tanggungjawab, tekanan , dan resiko yang dihadapi oleh aparatur peradilan khususnya para hakim semakin berat. Setelah menjalin kerjasama dengan pihak asuransi untuk jaminan kesehatan bagi para hakim ad hoc, MA tengah berupaya mendorong perubahan regulasi terkait jaminan kesehatan bagi seluruh hakim agar ke depannya hakim mendapatkan jaminan kesehatan yang layak,” jelas Hatta Ali.

Dalam penutup paparannya, Hatta Ali mengatakan bahwa lembaga yang dipimpinnya terus berbenah dan berusaha memberikan yang terbaik. Disamping melanjutkan program-program kerja secara berkesinambungan, pada 2020 MA akan mematangkan konsep restrukturisasi organisasi MA untuk mewujudkan organisasi yang modern yang dapat melakanakan tugas dan fungsi secara efektif dan efisien,” pungkasnya. (Vincent & Hoky)