Jakarta, Biskom- Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) yang  memiliki peran utama dalam melakukan kaji dan terap teknologi, bekerja sama dengan PT. Mersifarma Tirmaku Mercusana, Sekolah Farmasi ITB, dalam penerapan dan pengkajian bahan baku obat Amoksisilin dan kesediaan farmasi.

Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT, Soni Solistia Wirawan mengatakan, penandatanganan kesepakatan bersama (MoU) ini merupakan langkah awal positif untuk menuju hilirisasi hasil-hasil riset produksi antibiotik, amoksisilin yang sudah cukup lama dikembangkan oleh BPPT dan ITB. Semua ini untuk membangun industri BBO dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor.

“Sebagai salah satu institusi litbang di dalam negeri, BPPT memiliki peran utama dalam melakukan kaji dan terap teknologi. Keterlibatan BPPT dalam pembangunan industri bahan baku obat Amoksisilin ini merupakan perwujudan peran BPPT, untuk memberikan solusi terhadap permasalahan teknologi nasional,” kata  Soni Solistia Wirawan pada acara penandatanganan MoU dengan PT Mersifarma Timaku Mercusana dan Sekolah Farmasi ITB di Jakarta, Kamis (20/2). Hadir kesempatan itu,    Direktur Utama PT Mersifarma F Tirto Koesnadidi.

Lebih lanjut Soni menjelaskan ketersediaan dan keterjangkauan obat untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat, perlu mendapat perhatian serius. Ini yang menjadi konsen BPPT untuk aktif mengembangkan bahan baku obat dalam negeri.

Apalagi, instruksi tersebut sejatinya telah tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. “Kita sangat konsern dan berkomitmen kuat untuk berperan aktif melakukan percepatan pengembangan industri bahan baku obat dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor,” kata Soni.

Pengembangan teknologi produksi Amoksisilin oleh BPPT dilandasi keprihatinan bahwa hampir 95% bahan baku obat (BBO) yang diperlukan masih harus diimpor, dimana Amoksisilin adalah salah satunya (1.200 ton/tahun). “Produk Amoksisilin ini banyak digunakan di Indonesia untuk pengobatan lini utama pada infeksi bakteri gram positif dan gram negatif, yang hingga saat ini masih tinggi jumlahnya di Indonesia,” ujar Soni.

Sementara itu, Direktur Utama PT Mersifarma F Tirto Koesnadi menjelaskan, amoksisilin yang berperan sebagai antibiotik saat ini masih sangat besar dipakai masyarakat Indonesia. “Semoga kerja sama ini dapat menjadi jembaran untuk membawa Indonesia menuju kemandirian bahan baku obat, utamanya amoksisilin. Jika pengembangan obat amoksisilin berhasil sampai ke industri maka diharapkan dapat dilanjutkan untuk bergerak ke pengembangan bahan baku obat lain di masa mendatang,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Sekolah Farmasi ITB, Daryono Hadi berharap hilirisasi hasil riset ini dapat berkontribusi guna mendukung industri nasional mandiri dalam penyediaan bahan baku. (red)