Zainal Bintang, Penulis wartawan senior dan pemerhati masalah sosial budaya bersama Pemimpin Umum BISKOM, Soegiharto Santoso alias Hoky.

Jakarta, BISKOM – Saat mendengar berita wafatnya penyair papan atas Indonesia Sapardi Djoko Damono (19/07) dalam usia 80 tahun, ingatan saya terseret kepada penulis sastrawan kenamaan Amerika, Ernest Hemingway. Pengarang novel kesohor The Old Man And The Sea (Lelaki Tua dan Laut) pada tahun 1952. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sapardi Djoko Damono. Diterbitkan pertama kali 1973 oleh Penerbit Pustaka Jaya.

Nama Ernest Hemingway melekat dalam ingatan saya ketika pada usia remaja di Makassar sekitar tahun 1959 – 1960 film The Old Man The Sea dan actor terkenal Spencer Tracy, diputar di bioskop berharga karcis mahal. Usia yang masih 13 tahun mengalami kesulitan nonton film yang berlabel 17 tahun ke atas. Namun dengan “menyogok” penjaga pintu bisokop saya bisa nonton.

Tapi, itupun setelah lampu padam dan ditempatkan di kelas III duduknya bersila di ubin tidak jauh dari layar. Karena masih remaja leher yang pegal tidak jadi masalah. Ada sepotong dialog dalam film itu sungguh sangat mempengaruhi semangat pencaharian jati diri sebagai remaja : Manusia hanya bisa dihancurkan, tapi tidak bisa dikalahkan! (Humans Can Be Destroyed, But Cannot Be Defeated)

Hemingway telah mensejajarkan dirinya sebagai sastrawan besar dunia sepanjang masa, novel ini beberapa kali mendapatkan penghargaan yang bergengsi ; Pulitzer 1953 untuk kategori fiksi serta Award of Merit for Novel dari American Academy of Letters dan sekaligus berkat novel ini Ernest Hemigway mendapatkan penghargaan Nobel sastra 1954. Saking populernya novel ini berkali — kali di filmkan dan terus dibaca hingga sekarang.

Lelaki Tua dan Laut mengisahkan ulang tentang perjuangan kepahlawanan antara seorang lelaki nelayan tua yang berpengalaman dengan seekor ikan marlin raksasa yang disebut sebagai tangkapan terbesar dalam hidupnya. Cerita diawali tentang nelayan tua yang bernama Santiago, yang telah melewati 84 hari tidak berhasil menangkap seekor ikan pun (kemudian disebutkan dalam cerita ternyata 87 hari).

Dia tampaknya selalu tidak beruntung dalam menangkap ikan sehingga murid mudanya, Manolin dilarang oleh orangtuanya untuk berlayar dengan si lelaki tua itu. Manolin disuruh sang ayah bergabung dengan nelayan lain yang lebih berhasil. Merasa bersimpati kepada lelaki tua itu, Manolin mengunjungi gubuk Santiago setiap malam. Membantu  mengangkat peralatan nelayannya. Memberinya makan dan membicarakan olahraga bisbol Amerika. Santiago berkata pada Manolin, dia akan berlayar sangat jauh ke tengah teluk untuk menangkap ikan. Yakin, gelombang nasibnya yang kurang beruntung akan segera berakhir.

Hari ke-85, Santiago berlayar sendirian. Membawa perahu kecilnya jauh ke tengah teluk Meksiko. Dia mengatur kailnya. Pada siang selanjutnya seekor ikan besar yang dia yakini seekor ikan marlin menggigit umpannya. Santiago tidak dapat menarik ikan tersebut. Perahu kecilnya yang justru ditarik oleh sang ikan raksasa. Dua hari dua malam dilewati dalam ketegangan. Antara harapan dan kecemasan.

Santiago mencoba sekuat tenaga menahan tali jeratnya. Dengan susah payah. Walaupun kesakitan dan terluka dia tetap tegar untuk menegakkan kehormatan dan harga dirinya yang harus ditebusnya untuk menghalau cemoohan merendahkan orang sekampungnya atas kegagalannya yang lalu. Dibalik ketegangan itu, Santiago merasakan aliran rasa rasa kasih, haru dan penghargaan untuk lawannya yang terjerat itu. Perlawanan sang ikan yang menolak kalah adalah refleksi perlawanan dirinya untuk alasan yang sama. Dia memutuskan dalam hatinya sang ikan itu adalah saudaranya. Dia bertekad menjaga harkat dan martabat sang ikan. Dia membatin : Maka, tak ada seorang pun yang layak untuk memakan ikan tersebut!

Pada hari ketiga perjuangannya, sang ikan mulai mengitari perahu kecilnya, menunjukkan kelelahannya pada si lelaki tua. Santiago, sekarang telah kehabisan tenaga, mulai mengigau, dan hampir tidak waras, menggunakan seluruh sisa tenaga yang masih dimilikinya. Menarik sang ikan ke sisi perahunya. Menikam sang marlin dengan sebuah harpun. Mengakhiri perjuangan panjang antara si lelaki tua dan sang ikan yang sangat kuat bertahan.

Santiago mengikat bangkai sang marlin di sisi perahu kecilnya. Berlayar pulang. Berpikir tentang harga tinggi yang akan diberikan sang ikan di pasar ikan. Dan jumlah orang yang dapat menikmati hasil tangkapannya itu. Selama Santiago melanjutkan perjalanannya pulang ke tepi laut, ikan-ikan hiu mulai tertarik dengan jejak darah yang ditinggalkan sang marlin di air. Santiago bertindak, yang pertama adalah ikan hiu mako yang dibunuh dengan harpunnya. Meski karenanya dia kehilangan senjata tersebut.

Dia kemudian merakit sebuah harpun baru dengan mengikat bilah pisaunya ke ujung sebuah dayung untuk mengusir pergi hiu-hiu yang berdatangan selanjutnya. Lima hiu dibunuhnya dan banyak hiu lain yang akhirnya pergi. Di malam harinya hiu-hiu tersebut telah melahap habis seluruh bangkai sang marlin. Hanya tersisa kerangka tulang punggung, ekor, dan kepalanya tempat dimana harpunnya tertancap.

Setibanya di tepi laut sebelum subuh keesokan harinya, dia sangat sedih dan menghukum dirinya sendiri. Karena telah mengorbankan sang marlin. Diapun berjuang untuk berjalan menuju gubuknya. Membawa tiang kapalnya yang berat di atas pundaknya. Setelah tiba di rumah, dia merebahkan dirinya di tempat tidur dan masuk ke dalam tidur yang panjang. Penduduk di kampung nelayan akhirnya mengagumi kegigihan Santiago.

Manusia hanya bisa dihancurkan, tapi tidak bisa dikalahkan! (Humans Can Be Destroyed, But Cannot Be Defeated),  kalimat itu kembali mendesing di mata batin saya mengenang almarhum Sapardi Djoko Damono, yang saya kenal dekat ketika saya melalang buana di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta (1972 – 77). Bergaul dengan sejumlah nama besar (maestro) seniman budayawan  hebat Indonesia. Dari kubu sastrawan, tokoh perfilman dan dari dunia kewartawanan. 

Sapardi Djoko Damono, lelaki tua yang setia kepada jalan sastra yang dipilihnya itu meninggalkan nama harum, kehormatan dan moralitas sebagai legasi kepada generasi muda. Dia pemilik nama besar tanpa pernah memegang jabatan publik. Konsistensi dan komitmen kepada kebajikan sebagai jalan lurus membuahkan nama besar.

Tanpa kebesaran atribut predikat pejabat trias politika (eksekutif, legislatif dan yudikatif), yang justru dewasa ini lewat kebesaran politik yang semu itu, banyak manusia serakah – penghianat mandat rakyat –  terjebak ke dalam jalan gelap menuju Sukamiskin. (Hoky)