Menko PMK RI, Prof DR. Muhadjir Effendy.

Jakarta, BISKOM – Saat Menko PMK RI, Prof DR. Muhadjir Effendy menyatakan punya sensasi beda nonton bioskop awal beberapa pekan lalu film etnograf berjudul De Toeng karya Bayu Pamungkas di XXI Senayan City.

Laiknya sebuah gerakan massive, deMIFilm Indonesia disingkat dFI mendapatkan sobat berjuang dari beberapa asosiasi pekerja perfilman, BPI walau masih demisioner dan beberapa pihak lainnya seperti PARFI, Parfi56 dan lainnya merilis Surat Terbuka Kepada Presiden RI, Joko Widodo.

Redaksi mengutip paragraf awal yang menarik yakni, “Kami semua mendoakan Bapak dalam keadaan sehat walafiat dan diberi kekuatan membimbing Indonesia untuk bisa terus bertahan dan berjuang melawan pandemi Covid-19.

Bapak Presiden yang baik, Industri film adalah bagian penting dari Indonesia: bagi pekerjanya, bagi penontonnya, bagi keseluruhan industri kreatif. Seperti juga berbagai sektor industri lain, industri film kini mengalami pukulan keras di tengah pandemi Covid-19. Puluhan ribu pekerjanya kesulitan bertahan hidup akibat proses pra hingga pasca produksi film yang terhambat. Industri film juga sudah kehilangan potensi pemasukan terbesarnya, karena bioskop sedang kesulitan bertahan. Bioskop, yang walau telah dibuka dengan kapasitas hanya 50%, ternyata masih ditakuti masyarakat untuk dikunjungi.

Akibatnya karyawan bioskop yang besar jumlahnya dan tersebar di seluruh Indonesia makin terancam kehilangan pekerjaan. Sementara pembajakan film yang di masa pandemi ini kian merajalela, terus mengancam masa depan industri film Indonesia,”.

Ada juga tambahan kalimat menarik lainnya yang wara wiri di medsos yakni: Film Indonesia adalah milik kita semua, yang telah menjadi sahabat di banyak waktu, menjadi perekam banyak peristiwa bangsa untuk bisa kita jadikan renungan di kemudian hari. Membuat kita tertawa, terharu, terhibur, bahkan memandang diri kita. Perfilman Indonesia yang sebelum pandemi sedang menuju puncak kejayaannya, merupakan hasil kerja keras puluhan ribu pekerja industri film. Film Indonesia membawa wajah Indonesia ke penjuru dunia. Film Indonesia bukan saja hiburan, tapi juga penyandang budaya. Kami ingin kembali bisa berkarya, untuk bisa menginspirasi dan membuka mata. Kami memohon dukungan Bapak Presiden. Dan seluruh rakyat Indonesia.

#FilmIndonesiaFilmKita

Tidak hanya Anggy Umbara tapi hampir semua aktor dan filmaker dan warga deMIFilmIndonesia-dFI melakukan hal yang sama termasuk senior journalis Jeri Wong yang mengaku bersimpati atas surat mengatas namakan “Insan Film Indonesia”.

Tembusannya ke banyak pihak selain Satgas Nasional Covid juga Kementerian seperti Kemenparekraf, Kominfo, Kemen BUMN, Kemendikbud dan lainnya.

Surat tersebut pas dan punya momentum di bulan Film Indonesia jelang 30 Maret 2021 sebagai Hari Film Nasional.

“Karyaku de Toeng-Misteri Ayunan Nenek dari Jeneponto SulSeL semoga ditonton oleh Presiden Jokowi karena masih tayang di bioskop di bulan Film Nasional ini akan menjadi momentum orang tidak TAKUT apalagi gabut untuk ke bioskop,” ucap Bayu Pamungkas via WA kepada redaksi.

Sementara itu perihal pembajakan, pihak dFI mendapatkan aduan dan permintaan agar men-take down link-link yang mem’bajak’ film baru yang tayang di platform OTT STRO ke pihak Kominfo.

Ilhamka Nizam sebagai VP STRO berterima kasih kepada pihak Kominfo karena surat untuk men-take down link-link di Telegram dari film terbarunya sudah berhasil 17 link di hapus. Artinya pemerintahan Jokowi hadir memberantas pembajakan Film Indonesia.

Berharap Presiden Jokowi membacanya dan hadir ke bioskop lagi nonton Film Nasional, semoga……. (Arul)

loading...