Jakarta, IBiskom–  Menristek/BRIN Bambang PS Brodjonegoro menyebutkan, fokus riset dan inovasi nasional ke depannya adalah mendorong pembangunan ketahanan dan kemandirian kesehatan di Indonesia. Pada awal pandemi di Indonesia banyak rumah sakit kesulitan menangani pasien COVID-19 yang datang, karena kekurangan ventilator. Menristek Bambang menyebutkan, hal ini membuka mata kita semua bahwa selama ini Indonesia belum memiliki kemandirian yang kuat di bidang kesehatan, mengingat ketergantungan Indonesia yang tinggi terhadap impor bahan baku obat dan alat kesehatan.

“Impor dilakukan sebelum ada upaya domestik membuat ventilator yang diinisiasi oleh Konsorsium Riset dan Inovasi Kemenristek /BRIN. Hal ini membuktikan bahwa riset dan inovasi di bidang kesehatan belum menjadi mainstream.  Oleh karena itu,  saat ini pemerintah bersama peneliti dan perekayasa dari universitas, lembaga penelitian dan swasta mendorong terciptanya ekosistem riset dan inovasi terkait dalam penanganan COVID-19 di tanah air,” jelas Bambang dalam rilis Kemenristek/BRIN di Jakarta, Jumat (26/3).

Pada Webinar Series Majelis Wali Amanat Univesitas Indonesia (MWA UI) pada sesi ke-2 yang disiarkan melalui kanal Youtube Universitas Indonesia, Kamis (25/3) ia menyebutkan, riset dan inovasi belum menjadi mainstream di Indonesia, karena selama ini perekonomian Indonesia masih berbasis pemanfaatan sumber daya alam (resource driven economy). Oleh karena itu, Bambang menyampaikan sinergi Triple Helix menjadi kunci penguatan inovasi mendorong perekonomian Indonesia dengan basis pemanfaatan teknologi (innovation driven economy) menjadi negara maju melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi.

“Sinergi antara peneliti dan industri adalah kunci keberhasilan kita mendorong kegiatan riset yang berujung pada inovasi. Selama ini, Indonesia hanya memanfaatkan kekayaan alam yang sudah ada saja tanpa berupaya menciptakan atau melahirkan sesuatu yang baru untuk menjawab permasalahan bangsa. Kemenristek/BRIN ingin Indonesia bertransformasi dari resource driven economy, menjadi innovation driven economy,” terang Menteri Bambang.

Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin dalam sambutannya mengatakan, saat ini sebaran tenaga kesehatan di Indonesia juga belum merata. Wakil Presiden Ma’ruf Amin menjelaskan, saat ini Indonesia masih menghadapi masalah sebaran tenaga kesehatan khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Oleh karena itu, Wakil Presiden Ma’ruf Amin menekankan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) atau puskesmas perlu perhatian khusus. Hal ini merupakan upaya menekankan pentingnya peran puskesmas sebagai ujung tombak layanan kesehatan.

Selain sumber daya manusia, Wakil Presiden Ma’ruf Amin menekankan, pentingnya kemandirian produksi obat dan vaksin esensial. Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyebutkan, hingga saat ini, 94 persen alat kesehatan di Indonesia adalah produk impor, beliau memaparkan bahwa pandemi menyadarkan akan pentingnya kemandirian di bidang kesehatan.

Saleh Husin selaku Ketua MWA UI mengatakan, terselenggaranya webinar MWA Series ini bertujuan mendiskusikan berbagai permasalahan kesehatan yang dihadapi Indonesia, termasuk kondisi pandemi COVID-19 saat ini. “Kegiatan ini diharapkan akan menghasilkan pemahaman dan berbagai usulan untuk membangun ketahanan dan kemandirian kesehatan Indonesia. Luaran utama dari webinar adalah naskah akademik mengenai pembangunan ketahanan dan kemandirian kesehatan Indonesia,” terang Ketua MWA UI Saleh Husin.

MWA UI bekerja sama dengan Kemenristek/BRIN menggelar webinar series bertajuk “Ketahanan dan Kemandirian Kesehatan Indonesia”. Tema ini diangkat merujuk pada kondisi Indonesia yang masih berjuang melawan pandemi COVID-19. Beberapa isu penting menjadi fokus dalam panel diskusi webinar kali ini, di antaranya disrupsi teknologi kesehatan terkait big data dan artificial intelligence, COVID-19 dan ketahanan kesehatan Indonesia, adaptasi dan adopsi teknologi, serta medical tourism. (red)

loading...