Jakarta, Biskom- Pandemi COVID-19 asaat ini masih berlangsung di sekuruh dunia termasuk Indonesia. Salah satu dampak langsung pandemi COVID-19 adalah menurunnya daya beli masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada Juli 2021 tercatat inflasi 0,08%, setelah pada bulan sebelumnya terjadi deflasi minus 0,16%. Penurunan daya beli memiliki dua akibat, pertama berkurangnya pemenuhan kebutuhan masing-masing rumah tangga.

Kemudian secara makro, penurunan daya beli memukul hampir semua sektor usaha, mulai dari perdagangan, transportasi, manufaktur, hingga pertanian. Untuk mempertahankan daya beli masyarakat, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan, mulai dari relaksasi pajak yang bertujuan menurunkan harga, hingga bantuan sosial untuk mendongkrak pendapatan masyarakat.

Tentu semua itu perlu dibantu dengan inisiatif berbagai pihak untuk tetap mempertahankan kemampuan ekonomi masyarakat. Pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia Eugenia Mardanugraha (20/8), menggarisbawahi perlunya kolaborasi antara semua pihak untuk bersama menanggulangi dampak pandemi. “Saat resesi ekonomi terjadi akibat pandemi, pemerintah tidak dapat sendirian menolong masyarakat yang terdampak pandemi COVID-19. Dalam kondisi normal saja pemerintah Indonesia telah mengalami defisit anggaran.”

“Saat pandemi berlangsung, defisit menjadi bertambah besar, dan harus diperbesar karena melambatnya roda perekonomian dan besarnya pengeluaran kesehatan masyarakat. Seluruh elemen masyarakat harus tolong menolong, yang kuat menolong yang lemah,” ujar Eugenia di Jakarta.

Untuk mempertahankan kemampuan ekonomi masyarakat, sejumlah perusahaan digandeng Grab Indonesia menggulirkan program untuk mempertahankan daya beli mitra pengemudi. Program ini termasuk antisipasi di bidang kesehatan, dukungan sembako, dan vaksinasi. Selain itu, Grab juga menyediakan dukungan modal berupa pinjaman mikro. Menurut Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata di Jakarta (20/8), program ini bertujuan membantu mitra pandemi yang terdampak pandemi. “Setidaknya dapat mengurangi beban pikiran mereka,” ujar Ridzki.

Pengembalian (reimbursement) biaya tes antigen dan PCR bertujuan agar mitra pengemudi tidak takut atau terkendala melakukan tes yang sangat penting bagi penanganan selanjutnya. Data tes tersebut juga bermanfaat bagi agregasi data nasional.

Dengan kejelasan status kesehatan, mitra pengemudi Grab dapat melakukan aktivitas dengan tenang dan menjadi lebih produktif. Sejauh ini, Grab berinvestasi dana Rp 25 miliar untuk program bernama ATASI (Antisipasi – Tangkal – Vaksinasi). Sebanyak 27 ribu mitra pengemudi Grab telah menerima bantuan paket sembako. Adapun mitra bisnis Grab, yakni Accenture, EMTEK, OVO, Microsoft dan Indosat Ooredoo juga telah memberikan kontribusi senilai Rp 11 miliar untuk program ini.

Menurut Eugenia, kesehatan adalah hal utama bagi pengemudi ojek online (ojol), karena mereka terus menerus berada di jalan. Padahal pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menghambat kegiatan ojol. Di sisi lain, ojol menjadi andalan masyarakat yang menjalankan PPKM, yang bekerja dari rumah dan terus berada di dalam rumah. “Maka, pengemudi ojol harus terjamin kesehatannya, agar PPKM dapat terlaksana dengan baik hingga target penurunan kasus Covid-19 tercapai, dan tidak terjadi penyebaran virus melalui pengemudi ojol,” tambah Eugenia.

Grab juga menyediakan pinjaman mikro untuk mitra pengemudi dan pengantaran di Indonesia, bekerja sama dengan JULO, perusahaan penyedia kredit digital yang berizin dan diawasi oleh OJK. Saat ini, pinjaman mikro sedang diluncurkan secara bertahap, dan diharapkan akan dapat diperluas ke lebih dari 100.000 mitra pengemudi dan pengantaran di Indonesia pada akhir tahun ini.

Pinjaman tunai ini ditujukan untuk membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka berdasarkan pilihan mereka sendiri, termasuk biaya sehari-hari, perbaikan dan pemeliharaan kendaraan, pendidikan, renovasi, dan keadaan darurat. Program ini merupakan dukungan Grab terhadap penanganan pandemi COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

Mekanisme penyaluran bantuan lewat aplikasi mitra dan jaringan retail yang menjangkau masyarakat terpencil harus menjadi contoh bagi elemen masyarakat lainnya yang hendak memberikan subsidi. “Jadi bantuan dapat tersalurkan secara merata ke seluruh masyarakat, tidak menumpuk di satu keluarga sementara keluarga lain belum mendapatkan,” pungkas Eugenia. (red)

loading...