<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BISKOM : Mitra Komunitas Telematika &#187; Fokus</title>
	<atom:link href="http://www.biskom.web.id/category/fokus/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.biskom.web.id</link>
	<description>Situs Berita Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 07:00:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>2010, Volume Pasar OSS Akan Naik Signifikan</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/12/28/2010-volume-pasar-oss-akan-naik-signifikan.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/12/28/2010-volume-pasar-oss-akan-naik-signifikan.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 05:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=2928</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Hal-14.jpg"></a>Firma Riset International Data Corporation (IDC) memprediksi perkembangan bisnis open source software (OSS) dalam lima tahun ke depan terjadi peningkatan omset dari produk open source komersil dari US$ 1.7 miliar pada tahun 2007, naik signifikan menjadi US$ 8.1 miliar untuk&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Hal-14.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2929" title="Hal 14" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Hal-14-300x300.jpg" alt="Hal 14" width="300" height="300" /></a>Firma Riset International Data Corporation (IDC) memprediksi perkembangan bisnis open source software (OSS) dalam lima tahun ke depan terjadi peningkatan omset dari produk open source komersil dari US$ 1.7 miliar pada tahun 2007, naik signifikan menjadi US$ 8.1 miliar untuk tahun 2013. IDC beralasan penyerapan produk open source di lingkungan perusahan dan kondisi ekonomi sejak setengah tahun kedua 2008 juga merupakan faktor pendorong lajunya adopsi OSS. Lebih dari itu, pemasok hardware dan software kelas kakap seperti IBM, Dell, HP, Sun dan Oracle mulai menuai hasil tak langsung terhadap dukungan yang diberikan untuk OSS dan sekaligus mempercepat akselerasi penyerapan produk OSS skala perusahan.</p>
<p>Sementara prakiraan Gartner menyebutkan, sekitar 80% dari software komersil nantinya, sampai tahun 2012 akan mengandung komponen OSS. Sementara itu banyak teknologi OSS akan matang (mature), stabil dan mendapat dukungan dengan baik. Berkat &#8216;Free Software&#8217;, users dan vendors akan mampu memangkas biaya, sementara ROI (Return On Investment) ditingkatkan. Prakiraan Gartner juga menunjukkan adanya perusahan-perusahan yang gagal karena tidak mampu memanfaatkan kesempatan yang diprediksikan. Karena itu disarankan kepada para vendor keharusan memiliki strategi OSS terpadu agar perusahaan mereka mampu bersaing.</p>
<p>Analis Gartner juga melihat potensi pemangkasan biaya di sektor Software as a Service (SaaS) dan Service-Oriented Architectures (SOA). Mereka yakin bahwa pada tahun 2012, paling tidak sepertiga software aplikasi untuk perusahan akan dibeli dalam bentuk langganan layanan (service subscriptions) ketimbang sebagai produk berbasis lisensi. Dibandingkan model pembelian putus untuk lisensi, perusahan memilih model SaaS dengan pertimbangan biaya yang dikeluarkan setara dengan jumlah pemakaian.</p>
<p>Ketersediaan bandwidth yang semakin melimpah, akan mempermudah penyediaan SOA, dan maraknya &#8216;cloud computing&#8217; membuat aplikasi tidak lagi bergantung pada infrastruktur tertentu. Sistem teknologi informasi (TI) yang digunakan dengan demikian dapat memiliki struktur yang serupa seperti halnya internet. Survei kedua lembaga riset tersebut diamini Ketua Umum Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) <strong>Betti Alisjahbana</strong> yang menilai momentum free and open source software (FOSS) di tahun 2010 sangat baik. Betti beralasan, beberapa kegiatan yang menunjang momentum ini antara lain dengan suksesnya penyelenggaraan Konferensi GCOS (Global Conference on Open Source) yang digelar di Jakarta pada akhir Oktober lalu.</p>
<p>“Hal ini juga diperkuat lagi dengan dikeluarkannya surat edaran Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara yang meminta institusi pemerintah untuk menggunakan software legal dan open source,” ungkap Betti. Selain itu, imbuh dia, berbagai rapat koordinasi pun sudah digelar diantaranya rakor TI dengan sejumlah kementerian dan Badan Usaha Milik Negara.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=2928&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/12/28/2010-volume-pasar-oss-akan-naik-signifikan.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2010, Tingkat Pertumbuhan Hardware 7.1%</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/12/26/2010-tingkat-pertumbuhan-hardware-7-1.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/12/26/2010-tingkat-pertumbuhan-hardware-7-1.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 14:43:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=2923</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/12/manufaktur.jpg"></a>Firma Riset International Data Corporation (IDC) memaparkan pertumbuhan industri TI sepanjang 2009, baik dari sisi hardware, software dan services mengalami peningkatan yang positif, meski kondisi ekonomi dunia yang sedang melambat akibat dari dampak krisis global</p>
<p>“Untuk lebih jelasnya: overall market IT&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/12/manufaktur.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2925" title="manufaktur" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/12/manufaktur-300x199.jpg" alt="manufaktur" width="300" height="199" /></a>Firma Riset International Data Corporation (IDC) memaparkan pertumbuhan industri TI sepanjang 2009, baik dari sisi hardware, software dan services mengalami peningkatan yang positif, meski kondisi ekonomi dunia yang sedang melambat akibat dari dampak krisis global</p>
<p>“Untuk lebih jelasnya: overall market IT berdasarkan riset IDC tentang IT spending (software, hardware dan services) untuk Indonesia tahun 2009 nilainya mencapai USD 7,5 milliar,” papar Manajer Riset IDC <strong>Ashadi Cahyadi </strong>kepada BISKOM (2/12).</p>
<p>Artinya, sambung Ashadi, belanja TI mengalami pertumbuhan positif sebesar 5.5% dibanding tahun 2008 dan diprediksi akan mengalami pertumbuhan sebesar 8.1% untuk tahun 2010 nanti.</p>
<p>Masih kata Ashadi, untuk hardware, tingkat pertumbuhan di tahun 2009 sebesar 5.2% dibanding 2008 dan diprediksi akan tumbuh sebesar 7.1% untuk tahun 2010. “Sementara untuk software, tingkat pertumbuhan di tahun 2009 adalah sebesar minus 1.4% dibanding 2008 dan diprediksi akan tumbuh sebesar 3.0% untuk tahun 2010,” tandas Ashadi.</p>
<p>Nilai transaksinya dari masing-masing komponen hardware di tahun 2009 diperkirakan mencapai USD 6.7 milliar, sementara untuk software di tahun 2009 diperkirakan sebesar USD 285 juta</p>
<p>Terkait kondisi pasar TI Indonesia secara umum, IDC melihat akan tetap mengalami peningkatan positif untuk tahun 2010, dimana ada beberapa key drivers yang mendorong kondisi pasar TI nasional. Faktor pendorong itu antara lain; Pertumbuhan ekonomi nasional; Pemerintahan baru yang lebih memfokuskan sumberdaya TI untuk membantu tingkat produktivitas nasional, khususnya untuk bidang perbankan, pemerintahan dan pendidikan; Pemerintahan baru yang lebih fokus terhadap services oriented dengan mendayagunakan sumber daya TI, sehingga mendorong domestic consumer spending untuk produk-produk TI. Terutama dengan beberapa mega proyek TI seperti Universal Service Obligation (USO), Desa Pintar, Desa Berdering dan beberapa inisiatif seperti National Single WIndows dan e-Government. Faktor lainnya yakni ekspansi yang dilakukan oleh para stakeholders TI di Indonesia, seperti operator telcos, service providers dan yang lainnya.</p>
<p>“Diantara tiga komponen, hardware, software dan services, IDC melihat bahwa tingkat pertumbuhan services akan mengalami peningkatan yang signifikan,” kata Ashadi. Diperkirakan sebesar 26.5% di tahun 2010 dimana untuk tahun 2009 naik sebesar 15.8% dibanding 2008. Untuk total services di tahun 2009 ini diperkirakan sebesar USD 439 juta.</p>
<p>Apakah melemahnya USD masih mempengaruhi pertumbuhan TI Indonesia? Ashadi menilai, secara tidak langsung mempengaruhi, karena pasar diuntungkan dalam rangka melakukan penyusunan anggaran dan budgeting untuk IT spending mereka untuk tahun 2010. Tetapi secara umum, imbuh Ashadi, biasanya pasar telah mengantisipasi dampak currency ini dengan melakukan forecast secara matang, disertai pembelian kebutuhan TI biasanya dilakukan secara terencana dan dalam periode tertentu secara berkala.</p>
<p>“Untuk tren bisnis TI sendiri, tahun depan akan lebih mengarah kepada managed services atau outsourcing, baik untuk hardware, software dan services itu sendiri. Dimana isu utamanya adalah bagaimana mengubah capital expenditure (capex) menjadi operational expenditure (opex) bagi perusahaan di Indonesia,” pungkasnya.</p>
<p>Sementara Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (DPP Apkomindo), <strong>Sutiono Gunadi </strong>mengatakan, bisnis hardware, khususnya perangkat keras diprediksikan meningkat hingga 40% dari pasar 2009.</p>
<p>“Apkomindo memprediksikan pertumbuhan year to year (y-to-y) 2009-2010 sebesar 40%. Diprediksikan pasar akan mencapai 3.8 juta unit di tahun 2010,” papar Sutiono kepada BISKOM (26/11).</p>
<p>Menurut Sutiono, melemahnya USD terhadap IDR yang diprediksi masih berlangsung hingga tahun depan akan sangat menguntungkan bagi konsumen Indonesia, karena harga produk TI jadi lebih terjangkau. Apalagi diperkirakan kecenderungan pasar perangkat keras akan bergerak ke mobile product dan yang menunjang gaya hidup (life style).</p>
<p>Senada dengan Sutiono, Waketum Media, Promosi dan Komunikasi Apkomindo, <strong>Merry Harun</strong> mengatakan, sepanjang 2009, pertumbuhan hardware diperkirakan di atas 30% atau sedikitnya mencapai 2.7 juta unit. ”Kami masih menunggu hasil transaksi di bulan November dan Desember 2009. Pertumbuhan pastinya baru bisa didapat paling cepat akhir Januari 2010,” kata dia.</p>
<p>Merry  mengungkapkan, kondisi pasar selama 2009 sangat di luar prediksi. Sebab, semula di akhir 2008 banyak pengusaha yang pesimistis karena adanya krisis global yang memukul bisnis di seluruh dunia. “Akibatnya kami sulit membuat prediksi untuk tahun 2009, namun kami kira pasar 2009 lebih baik dibanding tahun 2008,” ujarnya (1/12).</p>
<p>Boleh dikatakan, pada akhir 2008 hingga awal 2009, papar Merry, Apkomindo sendiri tidak bisa memasang target yang muluk. “Kami memasang target untuk 2009 sama dengan pasar 2008 yaitu 2,2 juta unit. Tapi syukurlah pasar TI berhasil melampaui target tersebut,” ucapnya.</p>
<p>Sutiono menambahkan, kendala terhambatnya penjualan terjadi hanya di awal tahun 2009, namun di kuartal kedua (Q2) ke atas penjualan bertumbuh. “Cara mengatasinya dengan menerapkan transaksi dalam mata uang rupiah (IDR) dan ekspansi ke daerah agar mengenal teknologi lebih cepat,” kata Sutiono.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=2923&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/12/26/2010-tingkat-pertumbuhan-hardware-7-1.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eddy Liew, Perintis Bisnis PC Pertama</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/09/17/eddy-liew-perintis-bisnis-pc-pertama.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/09/17/eddy-liew-perintis-bisnis-pc-pertama.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 13:22:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=2564</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/09/eddy-liew-1.jpg"></a>Jika kita bicara mengenai sejarah perkembangan Teknologi Informasi (TI) di Indonesia, tak akan mungkin melupakan nama <strong>Fransiskus Eddy Liew</strong>. Dikenal sebagai perintis bisnis komputer desktop (PC) atau pemasok PC pertama di Indonesia, Eddy Liew telah membangun kerajaan bisnis bernama Dragon&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/09/eddy-liew-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2565" title="eddy liew 1" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/09/eddy-liew-1-300x189.jpg" alt="eddy liew 1" width="300" height="189" /></a>Jika kita bicara mengenai sejarah perkembangan Teknologi Informasi (TI) di Indonesia, tak akan mungkin melupakan nama <strong>Fransiskus Eddy Liew</strong>. Dikenal sebagai perintis bisnis komputer desktop (PC) atau pemasok PC pertama di Indonesia, Eddy Liew telah membangun kerajaan bisnis bernama Dragon Computer &amp; Communication Group, serta mengubah wajah organisasi di bidang TI Indonesia menjadi lebih modern dan tertata. Kini, setelah sebulan kepulangannya ke Sang Pencipta, nama Eddy Liew tetap berkibar.</p>
<p>Eddy Liew memulai perjalanannya di dunia bisnis sebagai pedagang kalkulator Casio di Malaysia dan Singapura. Ia kembali ke Tanah Air tahun 1973 dan membuka sebuah toko kecil di Hayam Wuruk Plaza, Jakarta. Menjelang tahun 1980, Eddy Liew mulai memasok kalkulator merek baru Citizen, dengan harga yang relatif lebih murah. Citizen melesat merebut pasar kalkulator Indonesia, sehingga produk Citizen berkembang dalam banyak tipe. Beberapa tipe diantaranya merupakan penamaan dari Eddy, sebut saja CT-500 dan SDC-868.Bersamaan dengan berkembangnya kalkulator Citizen, Eddy mulai memasarkan komputer generasi awal merek Sinclair. Eksistensinya sebagai perintis bisnis komputer di Indonesia terungkap dalam testimoni <strong>Effendi Ruslim</strong> (Pimpinan Columbia Computer) pada resepsi 25 tahun Dragon Computer di Hotel Borobudur Jakarta beberapa tahun yang lalu.</p>
<p>Pada resepsi tersebut, Effendi yang akrab disapa Ko Lim itu, selain memberi sambutan kesaksian juga membawa produk Sinclair lengkap dengan kwitansinya yang dibeli dari Eddy Liew puluhan tahun yang lalu. Setelah itu, dengan berkembangnya Kawasan Glodok, Eddy pun mulai ekspansi ke Plaza 21 dan Glodok Plaza dengan bendera Dragon Computer &amp; Communication (DCC). Bersama beberapa pengusaha muda komputer seperti <strong>Soegiharto Santoso</strong> atau Hoky, <strong>Surya Kencana</strong>, <strong>Surya Lesmana</strong> dan <strong>Wing Wiryawan</strong>, mereka mencatat babak baru dalam sejarah pengusaha bisnis komputer Indonesia dengan mendirikan wadah bernama Computer City yang beranggotakan ratusan pengusaha komputer di kawasan Glodok Plaza.</p>
<p>Sejak itu pula tumbuh bentuk-bentuk kerjasama dengan vendor- vendor besar seperti Microsoft dan Intel melalui pameran-pameran yang diorganisir sendiri oleh pengurus Computer City. Presiden Direktur CBM Computer, Surya Kencana, menyebut Eddy Liew sebagai seorang enterpreneur tangguh yang mampu memotivasi orang lain menjadi seorang businessman. “Dengan kreativitas yang tinggi, Eddy bukan saja berhasil membangun bisnisnya, tapi juga menjadi tempat menimba ilmu bagi orang-orang muda,” ujar Surya.</p>
<p>Puncak prestasi Eddy Liew yakni mengantarkan Acer menjadi market leader Indonesia. Semua itu dicapai Eddy dengan kerja yang tiada henti plus kemampuan lobi yang luar biasa, bahkan ketika Acer masih dipegang PT. Metrodata Elektronik Tbk. Ketika Acer ragu untuk kembali ke pasar Indonesia pasca tragedy Mei 1998, Eddy pula yang berangkat ke Taipei dengan misi meyakinkan <strong>Bobby Chang</strong> (pejabat Acer untuk kawasan Asia-Pasifik), untuk terus mengembangkan sayap di Indonesia. Sebuah badan hukum pun dibentuk sebagai pengaman produk Acer dengan nama PT. Aman Citra Era Reformasindo (ACER) yang kelak menjadi PT. Acer Indonesia.</p>
<p>Tak berlebihan kiranya jika President Director Acer Indonesia, <strong>Jason Lim</strong>, menyampaikan rasa hormatnya, “Eddy has contribute greatly to resources Acer Indonesia, he was known for his enterpreneur and marketing skills. He has also the key contributor and making Acer a round known brand in Indonesia. He trully deserved of the title of ‘Guru of Marketing’ or ‘God Father of Computer or IT’,” ungkap Jason.</p>
<p>Hal senada disampaikan mantan Ketua Computer City Tahun 1992-1995, <strong>Soegiharto Santoso</strong>. “Eddy Liew adalah peletak dasar organisasi para pengusaha komputer dan membuat organisasi tersebut teratur dan baik susunannya hingga kini,” katanya seperti dikutip Majalah Swa, Agustus 1999.</p>
<p>Eddy meninggal dunia di Jakarta, 12 Agustus 2009 setelah menelurkan banyak kemajuan bagi industri TI Indonesia.</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 693px; width: 1px; height: 1px;"><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="color: #231f20;"><span style="font-family: Humanist777BT-LightB,sans-serif;">Jika kita bicara mengenai sejarah perkembangan Teknologi Informasi (TI) di Indonesia, tak akan mungkin melupakan nama Fransiskus Eddy Liew. Dikenal sebagai perintis bisnis komputer desktop (PC) atau pemasok PC pertama di Indonesia, Eddy Liew telah membangun kerajaan bisnis bernama Dragon Computer &amp; Communication Group, serta mengubah wajah organisasi di bidang TI Indonesia menjadi lebih modern dan tertata. Kini, setelah sebulan kepulangannya ke Sang Pencipta, nama Eddy Liew tetap berkibar.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="color: #231f20;"><span style="font-family: Humanist777BT-LightB,sans-serif;">EDDY LIEW memulai perjalanannya di dunia bisnis sebagai pedagang kalkulator Casio di Malaysia dan Singapura. Ia kembali ke Tanah Air tahun 1973 dan membuka sebuah toko kecil di Hayam Wuruk Plaza, Jakarta. Menjelang tahun 1980, Eddy Liew mulai memasok kalkulator merek baru Citizen, dengan harga yang relatif lebih murah. Citizen melesat merebut pasar kalkulator Indonesia, sehingga produk Citizen berkembang dalam banyak tipe. Beberapa tipe diantaranya merupakan penamaan dari Eddy, sebut saja CT-500 dan SDC-868.Bersamaan dengan berkembangnya kalkulator Citizen, Eddy mulai memasarkan komputer generasi awal merek Sinclair. Eksistensinya sebagai perintis bisnis komputer di Indonesia terungkap dalam testimoni Effendi Ruslim (Pimpinan Columbia Computer) pada resepsi 25 tahun Dragon Computer di Hotel Borobudur Jakarta beberapa tahun yang lalu. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="color: #231f20;"><span style="font-family: Humanist777BT-LightB,sans-serif;">Pada resepsi tersebut, Effendi yang akrab disapa Ko Lim itu, selain memberi sambutan kesaksian juga membawa produk Sinclair lengkap dengan kwitansinya yang dibeli dari Eddy Liew puluhan tahun yang lalu. Setelah itu, dengan berkembangnya Kawasan Glodok, Eddy pun mulai ekspansi ke Plaza 21 dan Glodok Plaza dengan bendera Dragon Computer &amp; Communication (DCC). Bersama beberapa pengusaha muda komputer seperti Soegiharto Santoso atau Hoky, Surya Kencana, Surya Lesmana dan Wing Wiryawan, mereka mencatat babak baru dalam sejarah pengusaha bisnis komputer Indonesia dengan mendirikan wadah bernama Computer City yang beranggotakan ratusan pengusaha komputer di kawasan Glodok Plaza. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="color: #231f20;"><span style="font-family: Humanist777BT-LightB,sans-serif;">Sejak itu pula tumbuh bentuk-bentuk kerjasama dengan vendor- vendor besar seperti Microsoft dan Intel melalui pameran-pameran yang diorganisir sendiri oleh pengurus Computer City. Presiden Direktur CBM Computer, Surya Kencana, menyebut Eddy Liew sebagai seorang enterpreneur tangguh yang mampu memotivasi orang lain menjadi seorang businessman. “Dengan kreativitas yang tinggi, Eddy bukan saja berhasil membangun bisnisnya, tapi juga menjadi tempat menimba ilmu bagi orang-orang muda,” ujar Surya. Puncak prestasi Eddy Liew yakni mengantarkan Acer menjadi market leader Indonesia. Semua itu dicapai Eddy dengan kerja yang tiada henti plus kemampuan lobi yang luar biasa, bahkan ketika Acer masih dipegang PT. Metrodata Elektronik Tbk. Ketika Acer ragu untuk kembali ke pasar Indonesia pasca tragedy Mei 1998, Eddy pula yang berangkat ke Taipei dengan misi meyakinkan Bobby Chang (pejabat Acer untuk kawasan Asia-Pasifik), untuk terus mengembangkan sayap di Indonesia. Sebuah badan hukum pun dibentuk sebagai pengaman produk Acer dengan nama PT. Aman Citra Era Reformasindo (ACER) yang kelak menjadi PT. Acer Indonesia. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="color: #231f20;"><span style="font-family: Humanist777BT-LightB,sans-serif;">Tak berlebihan kiranya jika President Director Acer Indonesia, Jason Lim, menyampaikan rasa hormatnya, “Eddy has contribute greatly to resources Acer Indonesia, he was known for his enterpreneur and marketing skills. He has also the key contributor and making Acer a round known brand in Indonesia. He trully deserved of the title of ‘Guru of Marketing’ or ‘God Father of Computer or IT’,” ungkap Jason.Hal senada disampaikan mantan Ketua Computer City Tahun 1992-1995, Soegiharto Santoso. “Eddy Liew adalah peletak dasar organisasi para pengusaha komputer dan membuat organisasi tersebut teratur dan baik susunannya hingga kini,” katanya seperti dikutip Majalah Swa, Agustus 1999. Eddy meninggal dunia di Jakarta, 12 Agustus 2009 setelah menelurkan banyak kemajuan bagi industri TI Indonesia.</span></span></p>
</div>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=2564&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/09/17/eddy-liew-perintis-bisnis-pc-pertama.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>REPUBLIK FACEBOOK</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/03/13/republik-facebook.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/03/13/republik-facebook.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 10:46:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1929</guid>
		<description><![CDATA[<p>Berbagai media elektronik dan cetak tidak habis-habis membahasnya. Bapak, ibu, adik, kakak, sampai kakek dan nenek tergabung di dalamnya. Indonesia, selain sedang demam Blackberry, sedang demam Facebook. Bulan Februari lalu, jumlah pengguna Facebook dari Indonesia hampir berlipat dua- dengan penambahan&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1945" title="republik-facebook1" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/03/republik-facebook1.jpg" alt="republik-facebook1" width="210" height="210" />Berbagai media elektronik dan cetak tidak habis-habis membahasnya. Bapak, ibu, adik, kakak, sampai kakek dan nenek tergabung di dalamnya. Indonesia, selain sedang demam Blackberry, sedang demam Facebook. Bulan Februari lalu, jumlah pengguna Facebook dari Indonesia hampir berlipat dua- dengan penambahan lebih dari 800.000 pengguna baru!</p>
<p>Memang, apabila dibandingkan dengan jumlah pengguna Facebook dari Amerika yang mencapai 50.000.000 orang, atau lebih dari 20% dari jumlah populasi Amerika, jumlah pengguna Facebook dari Indonesia masih bisa dikatakan “tidak signifikan”. </p>
<p> </p>
<p>Sebelum membahasnya lebih jauh, mari kita perhatikan statistik dibawah ini:</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1946" title="tabel-1-resize1" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/03/tabel-1-resize1.jpg" alt="tabel-1-resize1" width="420" height="102" /></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Walaupun demikian, 1.445.280 jiwa bukanlah angka yang kecil dan dapat diabaikan. Oleh sebab itu, sekarang dengan mudah kita dapat menemukan Facebook Page dari bakal calon presiden dan calon legislator berlomba-lomba mencari dukungan rakyat Indonesia yang masih peduli dengan politik. Selain murah, berkampanye di Facebook memiliki banyak keuntungan besar yang menanti untuk digarap.  </p>
<p><strong>Kenapa Facebook?</strong></p>
<p>Mungkin Anda sudah sering membaca, atau anda sudah mengetahui dengan mencobanya sendiri, bahwa Facebook adalah sebuah platform &#8211; selayaknya sebuah sistem operasi online &#8211; untuk mempermudah hampir segala aktifitas sosial yang kita lakukan sebagai makhluk sosial.</p>
<p>Dengan menawarkan sebuah one stop solution, Facebook menggabungkan layanan situs pembagi foto (photo sharing), blog, video, musik, mailing list dan berbagai fungsi lainnya &#8211; termasuk bermain game online &#8211; dalam satu atap. Dengan demikian, Facebook membentuk penggunanya menjadi obsesif terhadapnya. Fitur-fitur yang ada didalam Facebook membentuk kebiasaan pengguna untuk selalu membuka Facebook minimal sehari sekali.</p>
<p><strong>Facebook Sebagai Media Kampanye: Efektifkah?</strong></p>
<p>Tentu saja karena pemilihan umum “ronde pertama” masih bulan depan, saya belum dapat menentukan apakah Facebook memiliki peran besar sebagai media kampanye di Indonesia. Bisa saja, sebagian kecil dari keseluruhan pemilih yang menggunakan hak suaranya terpengaruh oleh program atau kepribadian dari caleg yang mereka lihat di Facebook. Bisa juga tidak.</p>
<p>Namun, cukup menarik untuk disimak bagaimana popularitas seorang bacapres di “Republik Facebook” merefleksikan popularitas bacapres tersebut pada survey-survey independen yang dilakukan di “Republik Indonesia”.  Berikut ini adalah data terkini dari pencapaian para bacapres di “Republik Facebook”.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1947" title="tabel-2-resize1" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/03/tabel-2-resize1.jpg" alt="tabel-2-resize1" width="420" height="185" /></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Walaupun tidak scientific, apabila kita membandingkan perolehan jumlah supporter diatas ini dengan jumlah anggota dari Facebook Page Republic of Indonesia, maka kita akan mendapatkan data dalam bentuk persentase berikut ini. Ingat, ini bukan survey LSI, tetapi survey “Republik Facebook!”:</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1948" title="tabel-3-resize" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/03/tabel-3-resize.jpg" alt="tabel-3-resize" width="420" height="183" /></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Selain para bacapres ini, tentu ada puluhan &#8211; bahkan ratusan Facebook Page dari para caleg untuk berbagai tingkatan (DPR RI, DPRD 1 dan DPRD 2) dan berbagai partai. Tentu saja pencapaian jumlah supporter mereka tidak sebesar pencapaian supporter para bacapres, tetapi mereka bisa mendapatkan feedback yang lebih baik dari sekadar feedback kuantitatif: feedback qualitiatif.</p>
<p><strong>Facebook Page: Feedback Kuantitatif</strong></p>
<p>Berbeda dengan sebuah “profil” Facebook biasa, sebuah Facebook Page adalah business tool yang disediakan oleh Facebook untuk memasarkan seseorang (selebriti, penulis, politisi, dsb.) atau sesuatu (produk, lokasi, website, layanan dsb.).</p>
<p>Sebagai sebuah business tool, Facebook Page menawarkan penggunanya berbagai feedback kuantitatif yang detailnya jauh melebihi kapasitas website tracker manapun. Menggunakan Facebook Insight, seseorang pengelola Facebook Page bacapres dapat mengetahui:</p>
<p><strong>•</strong><span><strong> </strong></span><strong>Statistik pengunjung Facebook Page dibagi berdasarkan:</strong></p>
<p>o<span> </span>Mereka yang sekadar melihat (Page Views).</p>
<p>o<span> </span>Mereka yang menjadi fan / supporter (New Fans).</p>
<p>o<span> </span>Akumulasi jumlah fan / supporter sepanjang waktu.</p>
<p>o<span> </span>Counter dilihatnya foto, video dan musik yang ada di Facebook Page. </p>
<p><strong>•</strong><span><strong> </strong></span><strong>Demografi orang-orang yang sudah menjadi supporter di Facebook Page dibagi berdasarkan:</strong></p>
<p>o<span> </span>Jenis kelamin (laki-laki dan perempuan).</p>
<p>o<span> </span>Golongan umur (13-17, 18-24, 25-34, 35-44 dan 45+).</p>
<p>Feedback kuantitatif ini cukup menarik karena dapat merefleksikan dorongan-dorongan tertentu di media cetak dan elektronik yang menyebabkan meningkatnya, atau menurunnya, kecepatan peningkatan jumlah dukungan yang diterima. Sebagai contoh, jika sang bacapres dilanda berita positif maka hampir bisa dipastikan akan ada “gejlukan” dukungan pada hari atau minggu itu.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1949" title="fluktuasi-dukungan-baru-resize" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/03/fluktuasi-dukungan-baru-resize.jpg" alt="fluktuasi-dukungan-baru-resize" width="400" height="228" /></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Gambar: Fluktuasi peningkatan jumlah dukungan yang diterima dapat dijadikan feedback kuantitatif dari “nilai dukung” atau “acceptance rate” seorang bacapres.  </p>
<p><strong>Facebook Page: Feedback Kualitatif</strong></p>
<p>Selain feedback kuantitatif yang disediakan oleh Facebook Insight, sebuah Facebook Page juga memudahkan pengunjung untuk meninggalkan pesan serta berdiskusi dalam forum diskusi &#8211; kesemuanya yang membangun feedback kualitatif bagi sang bacapres atau caleg. Jika dikelola dengan baik, Facebook Page juga dapat digunakan untuk komunikasi dua arah antara konstituen dengan sang bacapres.</p>
<p>Pemilih pemilu 2009 yang menggunakan Facebook “tidak signifikan”, tidak semua bacapres serius menggarap Facebook Page mereka. Sebenarnya ada dua kemungkinan di sini. Kemungkinan pertama dan yang paling umum adalah: Facebook Page itu dibuat dan dikelola oleh seorang penggemar yang dahulu “asal buat” dan sekarang menelantarkan. Kemungkinan kedua adalah Facebook masih dipandang setengah mata orang bapilu (badan pemenangan pemilu) / tim sukses para bacapres sehingga tidak diambil langkah nyata untuk membuat Facebook Page yang resmi dan melaporkan Facebook Page yang tidak resmi ke Facebook. Saat ini, yang saya ketahui Facebook Page-nya resmi dan dikelola oleh bapilu masing-masing bacapres adalah Facebook Page dari Rizal Mallarangeng, Prabowo Subianto, Megawati dan Sri Sultan Hamengku Buwono X. ( <strong>Dirgayuza Setiawan</strong> )</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1929&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/03/13/republik-facebook.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Industri TIK Indonesia, Bangkit di Tengah Krisis dengan Open Source</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/03/13/industri-tik-indonesia-bangkit-di-tengah-krisis-dengan-open-source.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/03/13/industri-tik-indonesia-bangkit-di-tengah-krisis-dengan-open-source.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 08:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1954</guid>
		<description><![CDATA[<p>Awal Maret 2009, nampaknya badai krisis ekonomi global belum juga memperlihatkan indikasi akan mereda. Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar yang beberapa waktu lalu telah menguat di level 10 ribu per Rupiah, kini kembali anjlok ke angka 12 ribu per Rupiah.</p>
<p>Beberapa&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1955" title="ok2" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/03/ok2.jpg" alt="ok2" width="300" height="200" />Awal Maret 2009, nampaknya badai krisis ekonomi global belum juga memperlihatkan indikasi akan mereda. Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar yang beberapa waktu lalu telah menguat di level 10 ribu per Rupiah, kini kembali anjlok ke angka 12 ribu per Rupiah.</p>
<p>Beberapa perusahaan yang bergerak di bidang industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dunia telah melakukan tindakan penyelamatan perusahaan di tengah krisis ekonomi. Bukan hanya perusahaan kelas menengah saja, perusahaan yang merajai dunia TIK sekelas Google dan Microsoft pun ikut terombang-ambing badai krisis yang menerpa dunia sejak akhir tahun 2008 lalu.  </p>
<p>Perlahan tapi pasti, dampak krisis global di Indonesia sedikit demi sedikit mulai terasa, khususnya untuk perusahaan yang bergerak di bidang TIK. Penurunan daya beli masyarakat terhadap produk-produk TIK dan naiknya biaya operasional, merupakan 2 hal yang cukup banyak dikeluhkan ketika badai krisis menerpa Indonesia. Hal ini salah satunya disebabkan lantaran tingginya ketergantungan industri TIK nasional dengan pasar TIK luar negeri.</p>
<p><strong>Mempertimbangkan Penggunaan Open Source</strong> </p>
<p>Guna menyiasati dampak krisis yang nampaknya belum mau usai, industri TIK nasional seharusnya berbenah dan mulai berpikir untuk mengadopsi Open Source sebagai basis dari bisnisnya. Dalam hal ini, Open Source tidak melulu sistem operasi Linux, tetapi juga mencakup aplikasi berbasis Desktop dan Web yang menyediakan akses terhadap kode sumber (source code).</p>
<p>Penerapan Open Source sebagai basis dari bisnis industri TIK nasional, merujuk pada 3 pertimbangan. Pertimbangan pertama, Open Source mampu mengefektifkan biaya (cost effective) yang dialokasikan untuk kebutuhan teknologi informasi. Karena kebanyakan aplikasi Open Source tersedia dengan tanpa biaya alias gratis, kondisi ini mampu mereduksi biaya lisensi yang dapat mencapai 5 juta Rupiah per satu unit komputernya apabila menggunakan perangkat lunak proprietary. Belum lagi ditambah dengan perangkat lunak yang memiliki model biaya berbeda. Contohnya seperti Mail Server yang pada perangkat lunak proprietary biayanya dibebankan pada banyaknya akun (account) email yang dibuat.</p>
<p>Tentu saja pengefektifan biaya ini berdampak pada ongkos produksi yang bisa ditekan seminim mungkin sehingga berimplikasi pada lebih murahnya produk yang dijual ke masyarakat. Dalam jangka panjang, hal ini mampu memperbaiki daya beli masyarakat dan mengurangi angka pembajakan perangkat lunak.</p>
<p>Pertimbangan kedua yang membuat industri TIK nasional perlu menggunakan Open Source adalah perangkat lunak ini mampu meningkatkan kemampuan lokal dan kompetisi SDM secara global. Dengan kode sumber (source code) yang dapat diakses dan dipelajari, memungkinkan industri TIK nasional membangun kebutuhan akan perangkat teknologi informasinya secara mandiri. Belum lagi dengan kualitas produk Open Source yang terkenal akan kualitasnya, bukan tidak mungkin industri TIK Indonesia mampu merambah pasar TIK global yang kini cenderung didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar asal Amerika dan Eropa. </p>
<p>Pertimbangan yang terakhir, Open Source mampu mengurangi ketergantungan terhadap vendor dan negara asing dalam bidang TIK. Hal ini berkaitan erat dengan Open Source yang berpotensi sangat besar memajukan industri TIK nasional, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, penggunaan aplikasi Open Source memungkinkan bangsa ini tak harus kebingungan lantaran biaya untuk menggunakan aplikasi proprietary yang semakin tinggi. Secara tidak langsung, proses tumbuhnya industri TIK nasional dengan Open Source, membuat bangsa kita akhirnya mampu menyediakan kebutuhan perangkat teknologi informasinya sendiri.</p>
<p><strong>Open Source dan Industri TIK Lokal</strong></p>
<p>Saat ini, kualitas industri TIK lokal Indonesia masih jauh tertinggal di bawah India dan China. Sejak beberapa tahun yang lalu, industri TIK kedua negara tersebut sudah mulai diakui dunia. Salah satu kunci keberhasilan India dan China, mereka mampu mengembangkan kebutuhan TIK dalam negeri dan mengurangi ketergantungannya terhadap negara asing. Linux dan perangkat lunak Open Source lainnya, dipercaya menjadi kekuatan utama mereka dalam mengembangkan industri TIK lokalnya.</p>
<p>Potensi Indonesia untuk berkembang seperti India dan China sebenarnya sangat besar. Yang menjadi permasalahan, masih banyak orang beranggapan bahwa semakin nol nilai sebuah barang, semakin kecil manfaatnya. Anggapan ini nampaknya berlaku juga untuk Open Source di Indonesia. Sehingga tidak heran apabila Open Source masih dipandang sebelah mata dan hanya dijadikan komoditas percobaan mahasiswa semata.</p>
<p>Belum dipahaminya model bisnis Open Source adalah salah satu sebab lainnya yang membuat banyak pelaku industri TIK di Indonesia masih enggan mengembangkan Open Source untuk tujuan bisnis yang lebih serius karena dirasa tidak menguntungkan. </p>
<p>Permasalahan lainnya, permintaan dari masyarakat yang masih syarat akan perangkat lunak proprietary nampaknya masih menjadi salah satu faktor utama mengapa industri TIK lokal enggan menggunakan dan mengembangkan Open Source. Seharusnya industri TIK lokal mampu memberi pemahaman yang holistik kepada masyarakat mengenai apa itu Open Source dan keuntungan yang bisa didapat apabila menggunakannya.</p>
<p><strong>Saatnya Industri TIK Nasional Bangkit</strong></p>
<p>Peluang untuk maju dan mulai merambah pasar TIK dunia, salah satunya terjadi ketika krisis global menjambangi dunia seperti sekarang ini. Tak dapat dipungkiri lagi, peta industri TIK dunia sedang berotasi dan memaksa industri TIK besar untuk istirahat sejenak guna memberikan kesempatan bagi industri TIK yang lebih kecil untuk maju dan berkembang. Kesempatan ini seharusnya jangan disia-siakan. Bagaimana pun juga, kesempatan tak pernah datang dua kali.</p>
<p>Banyak bukti bahwa pemanfaatan potensi lokal secara optimal, mampu membawa sebuah bangsa menuju jaman keemasannya. Setelah China dan India memastikan jalannya ke ranah percaturan industri TIK dunia dengan Open Source, industri TIK Indonesia seharusnya juga mulai berbenah mengejar ketertinggalannya.</p>
<p>Pertanyaannya bukanlah bisa atau tidak menggunakan Open Source. Melainkan, kapan kita mau melakukannya dan membuka diri untuk maju bersama Open Source. ( <strong>Yudha P.  Sunandar</strong> )</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1954&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/03/13/industri-tik-indonesia-bangkit-di-tengah-krisis-dengan-open-source.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HP Enggan Gunakan Istilah Netbook</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/01/08/hp-enggan-gunakan-istilah-netbook.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/01/08/hp-enggan-gunakan-istilah-netbook.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 14:10:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Hewlett-Packard]]></category>
		<category><![CDATA[HP]]></category>
		<category><![CDATA[Mini PC]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1699</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kalau Anda sudah terbiasa menggunakan kata &#8216;netbook&#8217; untuk merujuk internet book atau komputer jinjing super mungil, berhati-hatilah jika menemukan notebook kecil buatan Hewlett Packard (HP) karena mereka lebih suka menamakan produknya dengan Mini PC.</p>
<p>Kendati terbilang baru masuk ke dalam pasar&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1700" title="hp-netbook" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/01/hp-netbook-300x225.jpg" alt="hp-netbook" width="300" height="225" />Kalau Anda sudah terbiasa menggunakan kata &#8216;netbook&#8217; untuk merujuk internet book atau komputer jinjing super mungil, berhati-hatilah jika menemukan notebook kecil buatan Hewlett Packard (HP) karena mereka lebih suka menamakan produknya dengan Mini PC.</p>
<p>Kendati terbilang baru masuk ke dalam pasar produk jenis ini, tetapi HP tetap percaya diri memperkenalkan istilah Mini PC. HP beharap penggunaan nama ini bisa membedakan HP dengan produk lainnya, meskipun secara spesifikasi hampir sama. Seperti desain kecil dan mudah dibawa, serta terhubung dengan layanan Wi-Fi.</p>
<p>&#8220;Istilah Mini PC HP ini digunakan untuk membedakan produk buatan HP dengan yang kompetitor lainnya,&#8221; jelas <strong>Martin Wibisono</strong>, Director Category HP Indonesia, disela-sela peluncuran HP Mini 1000, di Jakarta Theater, Jakarta, Kamis (8/1).</p>
<p>Sebelum HP, istilah netbook memang telah menuai banyak kontroversi di berbagai kalangan. Hal ini muncul setelah perusahaan bernama Psion Teklogix, mengirimi surat ke sejumlah pimpinan media massa, agar mengganti istilah Netbook. Pasalnya, nama Netbook merupakan nama merek dagang untuk notebook mungil mereka.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1699&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/01/08/hp-enggan-gunakan-istilah-netbook.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TI Timbulkan Kesenjangan Sosial</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/12/04/ti-timbulkan-kesenjangan-sosial.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/12/04/ti-timbulkan-kesenjangan-sosial.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 07:56:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[ITB]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1556</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/12/ilustrasi.jpg"></a>Jika selama ini orang berpendapat bahwa Teknologi Informasi (TI) bisa memperkecil kesenjangan sosial, maka sebaliknya TI pun berpotensi membuat kesenjangan semakin besar, apalagi jika seluruh lapisan masyarakat tidak diberi pengarahan tentang melek teknologi.</p>
<p>Staf Ahli Menkominfo Bidang Sosial Budaya dan Peran&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/12/ilustrasi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1557" title="ilustrasi" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/12/ilustrasi-300x256.jpg" alt="" width="300" height="256" /></a>Jika selama ini orang berpendapat bahwa Teknologi Informasi (TI) bisa memperkecil kesenjangan sosial, maka sebaliknya TI pun berpotensi membuat kesenjangan semakin besar, apalagi jika seluruh lapisan masyarakat tidak diberi pengarahan tentang melek teknologi.</p>
<p>Staf Ahli Menkominfo Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat, <strong>Musa Asy&#8217;arie</strong> menyatakan, TI mestinya bisa mengurangi kesenjangan sosial. Akan tetapi ada kecenderungan TI makin mempertajam kesenjangan di lapisan masyarakat.</p>
<p>Menurutnya, saat ini realitas kesenjangan terlihat dari semua lini kehidupan, mulai dari kesenjangan sosial, ekonomi, kesenjangan budaya, kesenjangan politik, dan lainnya. Hal itu akibat pluralitas masyarakat Indonesia, namun masih banyak masyarakat yang berpendidikan rendah sehingga mereka belum melek teknologi.</p>
<p>&#8220;Perkembangan TI di tengah pluralitas Indonesia ternyata juga telah melahirkan ketegangan yang berbasisa pluralitas. Baik pluralitas suku, agama, ras, maupun adat seperti kasus penghinaan terhadap suatu agama yang akhir-akhir ini marak,&#8221; papar Musa pada seminar 10 Tahun Pendidikan Teknologi Informasi ITB di Gedung Sabuga, Jalan Tamansari, Kota Bandung, 2 Desember lalu.</p>
<p>Oleh karena, lanjut Musa, peningkatan kulitas manusia Indonesia dalam konsep demokrasi akan sangat membantu perkembangan masyarakat Indonesia sendiri.</p>
<p>Menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada (UGM) <strong>Akhmad Akbar Susamto</strong>, TI telah mampu mendorong transformasi perekonomian lokal, nasional dan internasional menuju paradigma baru perekonomian berbasis ilmu pengetahuan. Hal ini ditandai dengan makin pentingnya peran ilmu pengetahuan dan tenaga kerja terdidik bagi kemajuan ekonomi dan melemahnya peran sumber daya alam.</p>
<p>&#8220;Pada gilirannya TI akan membawa dampak ikutan bagi perekonomian. Konvergensi TI tidak saja akan mempengaruhi perekonomian secara langsung melalui besaran investasi baru yang ditanamkan, tapi juga secara tak langsung melalui ragam pemanfaatan oleh pengguna, baik rumah tangga maupun dunia usaha,&#8221; papar Akhmad.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1556&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/12/04/ti-timbulkan-kesenjangan-sosial.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memanfaatkan TI Untuk Logistik</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/11/18/memanfaatkan-ti-untuk-logistik.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/11/18/memanfaatkan-ti-untuk-logistik.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 13:30:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[e-Logistic]]></category>
		<category><![CDATA[GPS]]></category>
		<category><![CDATA[Telkom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1523</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/11/logistic.jpg"></a>Pemanfaatan  aplikasi Electronic Logistic (e-Logistik) yang baik akan mampu  membuat Industri logistik makin efisien, sehingga perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman akan mampu memberikan layanan yang baik kepada pelanggannya. Tak hanya itu, program E-Logistik juga  akan mampu menolong perusahaan&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/11/logistic.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1524" title="logistic" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/11/logistic-300x291.jpg" alt="" width="300" height="291" /></a>Pemanfaatan  aplikasi Electronic Logistic (e-Logistik) yang baik akan mampu  membuat Industri logistik makin efisien, sehingga perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman akan mampu memberikan layanan yang baik kepada pelanggannya. Tak hanya itu, program E-Logistik juga  akan mampu menolong perusahaan jasa pengiriman dalam memberikan kepastian terhadap jasa pengiriman barang.</p>
<p>Dengan teknologi informasi yang menyertainya, layanan e-Logistik dipastikan akan mampu memberikan jaminan kepastian yang lebih baik kepada pelanggan. Karena itu, layanan e-Logistik  sangat  berguna untuk memberikan service level yang excellent buat pelanggan. Hal itu dikatakan Direktur TI Telkom, <strong>Indra Utoyo</strong>, sesuai melakukan sosialisasi e-Logistik kepada 190 member Asosiasi Perusahaan Indonesia (Asperindo) di Jakarta, baru-baru ini.</p>
<p>Tujuan dari sistem ini adalah memberikan solusi untuk menumbuhkan industri logistik, mengingat logistik menjadi salah satu struktur penting dari kegiatan ekonomi. Menurutnya, Telkom mengupayakan service ini dapat berjalan dengan baik dan akan terus ditingkatkan pelayanannya untuk tetap dapat dipercaya oleh konsumen. Dalam hal ini Telkom tidak mengajak perusahaan lain untuk ambil bagian dalam hal investasi, sebab Telkom  sudah  menyediakan solusi yang fleksibel. Namun untuk targetnya Indra tidak menjelaskan gambaran jelasnya.</p>
<p>Lebih jauh Indra menambahkan, e-Logistik tidak hanya bicara tentang pergudangan tapi juga pelayanan terintegrasi oleh sistem. Mulai dari pergudangan atau istilahnya track and trace shipment hingga ke pengiriman ke tangan konsumen yang lebih efektif. Layanan ini  merupakan layanan outsourcing end to end yang dimulai dari menyediakan infrastruktur, data centre, aplikasi, perangkat, operasi bisnis (business operation) dan terakhir disaster recovery system, semua itu berbasis real time untuk semua transaksi pembayaran dan penagihan.</p>
<p>&#8220;Pemanfaatan TI e-Logistik dapat di pakai oleh perusahaan-perusahaan yang menggunakan sistem logistik, sehingga logistik menjadi lebih maju dan efisien bagi perusahaan tersebut&#8221; paparnya. Selain itu sistem ini juga dapat mengontrol masalah tracking pengiriman barang sehingga suatu perusahaan dapat memberikan jaminan terhadap barang transaksi.</p>
<p>Produk e-Logistic  terdiri atas Barcode, Electronic Data Interchange (EDI), image processing, satellite tracking, dan Radio Frequency Identification (RFID). Kesemua fitur ini akan membantu sistem informasi pada perusahaan jasa pengiriman. Di sisi lain, dengan pemakaian layanan ini perusahaan jasa pengiriman<br />
bisa fokus pada bisnis intinya, karena tidak perlu lagi melakukan investasi di bidang IT.</p>
<p>Perusahaan tinggal menikmati layanan e-Logistic Telkom saja. Untuk pemakaian E-Logistic  didasarkan atas bandwidth, atau kapasitas data yang digunakan oleh pelanggan atau perusahaan jasa pengiriman. &#8220;Untuk data yang kita tentukan, maksimal sampai 2 Mb, bila melewati 2 Mb maka customer dikenai biaya tambahan. Cara ini sangat efisien karena dengan variasi model bisnis yang fleksibel, kami menyesuikan diri terhadap kemampuan pelanggan,&#8221; kata dia.</p>
<p>&#8220;e-Logistic akan membantu melakukan perencanaan, kontrol dalam pengerjaan pengiriman, serta laporan hasil. Kesemuanya itu dapat dilakukan e-Logistic dengan tepat, cepat dan akurat. Kegunaan Barcode<br />
adalah untuk identifikasi barang dengan menggunakan garis dan spasi. Sedangkan EDI, berguna sebagai layanan pertukaran data bisnis melalui komputer yang bertujuan untuk mengurangi duplikasi dokumen dan<br />
meningkatkan kecepatan serta akurasi informasi,&#8221; tutur Indra.</p>
<p>Indra menambahkan untuk image processing, bertujuan untuk mengenali obyek tertentu dengan pencitraan gambar maupun video. Kemudian, satellite tracking dan RFID berguna sebagai pemantau rute jalan yang akan ditempuh dalam melaksanakan pengiriman barang, seperti Global Positioning System (GPS). Karena itu, pemanfaatan TI jaringan e-Logistic ini bisa diadopsi oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman logistik.<br />
Masalah transportasi pengiriman, dan aktivitas di gudang juga dapat dikontrol menggunakan e-Logistic. Begitu juga untuk pelayanan kepada konsumen, dapat dilakukan secara aman dan lancar.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1523&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/11/18/memanfaatkan-ti-untuk-logistik.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tarif Murah Stimulus Kartu Hangus</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/11/05/tarif-murah-stimulus-kartu-hangus.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/11/05/tarif-murah-stimulus-kartu-hangus.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 14:35:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Chrun rate]]></category>
		<category><![CDATA[Excelcomindo]]></category>
		<category><![CDATA[Flexi]]></category>
		<category><![CDATA[Indosat]]></category>
		<category><![CDATA[Telkom]]></category>
		<category><![CDATA[Telkomsel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1349</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/11/sim-card.jpg"></a>Tarif pulsa dan kartu perdana yang makin murah menyebabkan tingkat kartu hangus (<em>churn rate</em>) ikut meningkat. <em>Chrun rate</em> pengguna ponsel di Jawa Barat saat ini bisa mencapai 40% dari total penjualan operator.</p>
<p>Executive General Manager Divisi Regional III Jabar Banten PT Telekomunikasi&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/11/sim-card.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1350" title="sim-card" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/11/sim-card-300x300.jpg" alt="" width="240" height="240" /></a>Tarif pulsa dan kartu perdana yang makin murah menyebabkan tingkat kartu hangus (<em>churn rate</em>) ikut meningkat. <em>Chrun rate</em> pengguna ponsel di Jawa Barat saat ini bisa mencapai 40% dari total penjualan operator.</p>
<p>Executive General Manager Divisi Regional III Jabar Banten PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), <strong>Walden R.  Bakara</strong> mengatakan, <em>churn rate</em> pengguna kartu Flexi di wilayahnya mencapai 30-40%, &#8220;Kami terus berupaya memperbaiki kualitas jaringan agar tingkat pergantian kartu tidak setinggi sekarang. Setidaknya bulan ini jangan sampai lebih dari 29%,&#8221; kata Walden.</p>
<p>Bukan saja di Jawa Barat, <em>churn</em> sendiri sebenarnya sudah lama terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Menurut Walder, ada dua hal yang menyebabkan pengguna ponsel berganti kartu. Pertama,  akibat banyaknya jasa penyedia telekomunikasi seluler. Selain itu, setiap operator kerap memberikan tarif kartu perdana yang murah. &#8220;Daripada membeli pulsa, orang sekarang lebih memilih untuk beli kartu perdana yang harganya lebih murah. Risikonya paling hanya repot berganti-ganti nomer saja,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Tingkat <em>churn</em> yang tinggi, kata Walden, mengakibatkan loyalitas pelanggan tidak dapat dijamin. Selain itu, penggunaan macam-macam kartu tersebut mengakibatkan <em>Average Revenue per User</em> (ARPU atau rata-rata pendapatan operator dari tiap pelanggan) rendah, karena pelanggan membagi pemakaian ponselnya ke beberapa nomor tadi. Padahal dalam kompetisi yang semakin ketat ini, perusahaan membutuhkan loyalitas pelanggan yang kuat untuk tetap bertahan apalagi saat ini banyak pelanggan yang hanya loyal terhadap harga.</p>
<p>&#8220;ARPU pelanggan Flexi saat ini berkisar Rp 30.000/bulan. Jumlah pelanggan Flexi di Jawa Barat sekarang pun berkisar 870.000 orang,&#8221; tambah Walden.</p>
<p>Walden menargetkan pihaknya mampu meningkatkan hingga 1,15 juta pelanggan sampai 2009. Namun melihat kecenderungan <em>churn rate</em> yang tinggi dan jumlah pengguna ponsel yang tidak sedikit, pihaknya lebih membidik strategi akuisisi. &#8220;Setidaknya pengguna ponsel yang sudah eksisting juga menggunaka kartu Flexi. Kami lebih memilih cara ini sembari meningkatkan kualitas jaringan Flexi yang masih memiliki banyak kekurangan,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Salah satu kendala yang masih dihadapi Telkom antara lain tingginya tingkat drop call terutama di kawasan padat pengguna Flexi. Telkom sendiri berusaha menambah jumlah base transceiver station (BTS) dan memperbaiki kualitas jaringan. &#8220;Kalau dua hal ini sudah dilakukan, drop call bisa turun sampai 50%,&#8221; pungkasnya.</p>
<p>Sementara itu, Manager Marketing PT Excelcomindo (XL) Central Region, <strong>Nurul Nurnasari</strong> berpendapat, pelanggan ponsel di Indonesia masih sensitif dengan masalah tarif. Ketika ada operator yang menawarkan tarif lebih murah, pelanggan langsung berpindah operator.</p>
<p>Perpindahan pelanggan dari operator yang satu ke operator lainnya inilah yang memicu tingginya <em>churn</em>. Pelanggan secara otomatis menghanguskan kartu ponsel yang lama pindah ke operator lainnya.</p>
<p>Setelah memberlakukan tarif murah, tingkat churn di XL mencapai 40%. Padahal sebelum terjadi perang tarif antar sesama operator, <em>churn</em> tak lebih dari 30%. Menurut Nurul, tarif murah memang efektif untuk menjaring pelanggan baru namun tidak untuk mencari pelanggan loyal.</p>
<p>Pertanyaannya, bagaimana membangun pelanggan yang loyal? Direktur Utama Indosat, <strong>Johnny Swandi Sjam</strong> berpendapat, pelanggan seluler yang tergabung dalam kalangan komunitas lebih loyal pada suatu produk. Dengan membidik kalangan komunitas, Indosat yakin dapat menekan tingkat churn akibat perpindahan layanan. Langkah yang sama pun juga telah dilakukan Telkomsel. Jika Indosat mendekati komunitas koperasi, maka Telkomsel membidik komunitas pelajar.</p>
<p>Pasar dari kedua komunitas tersebut memang tidak bisa dibilang kecil. Telkomsel berharap sedikitnya bisa menarik perhatian 10 juta pelajar dari kisaran 40-50 juta pelajar sekolah yang ada di Indonesia. Sementara, Indosat mengincar sedikitnya satu juta dari lebih 30 juta anggota koperasi yang tergabung dalam wadah Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).</p>
<p>&#8220;Komunitas loyalitasnya cukup terjaga sehingga tingkat churn juga rendah. Kisarannya tak sampai dua digit di bawah churn industri,&#8221; jelas Johnny. Tingkat <em>churn</em> industri diperkirakan menyentuh persentase 15-20 persen. Sementara <em>churn</em> di kalangan komunitas diperkirakan tak sampai 10 persen.</p>
<p>Saat ini jumlah pelanggan Kartu As telah mencapai 22 juta dari 53 juta pelanggan yang menggunakan layanan Telkomsel. Sedangkan IM3 telah mencapai 20 juta dari 30 juta total pelanggan seluler Indosat.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1349&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/11/05/tarif-murah-stimulus-kartu-hangus.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warga Bandung Bantu Penertiban BTS Liar</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/10/17/warga-bandung-bantu-penertiban-bts-liar.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/10/17/warga-bandung-bantu-penertiban-bts-liar.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Oct 2008 08:48:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Base Transceiver Station]]></category>
		<category><![CDATA[BTS]]></category>
		<category><![CDATA[Ditjen Postel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1282</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/10/bts-tower.jpg"></a>Tak jauh beda dengan daerah-daerah lainnya, menara Base Transceiver Station (BTS) di Kabupaten Bandung sudah sedemikian semrawut. Sebanyak 93% dari sekitar 300 BTS yang berdiri diantaranya tanpa dilengkapi izin.</p>
<p>Semrawutnya BTS mengurangi estetika kota dan kenyamanan warga. Bahkan, banyak warga menolak&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/10/bts-tower.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1283" title="bts-tower" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/10/bts-tower.jpg" alt="" width="236" height="236" /></a>Tak jauh beda dengan daerah-daerah lainnya, menara Base Transceiver Station (BTS) di Kabupaten Bandung sudah sedemikian semrawut. Sebanyak 93% dari sekitar 300 BTS yang berdiri diantaranya tanpa dilengkapi izin.</p>
<p>Semrawutnya BTS mengurangi estetika kota dan kenyamanan warga. Bahkan, banyak warga menolak berdirinya BTS di tengah pemukiman mereka. Seperti dilakukan warga Kampung Garduhpasar, Desa Sagaracipta, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung yang menyegel menara stasiun basis pemancar itu belum lama ini. Akibatnya, pembangunan BTS yang telah mencapai 60 meter itu pun terhenti.</p>
<p>Warga menolak pembangunan menara tersebut dan meminta pelaksana proyek menempuh proses perizinan mulai dari awal lagi. Apalagi pada sosialisasi awal warga hanya diberitahu menara itu akan setinggi 40 meter.</p>
<p>Gejolak kekhawatiran warga sekitar Kampung Garduhpasar telah terjadi sejak rencana pembangunan menara itu disosialisasikan pertengahan 2006 lalu. Puluhan warga di sekitar menara tersebut sempat memberikan pernyataan penolakan pembangunan secara tertulis dan diperkuat pemerintahan desa.</p>
<p>Namun, pembangunan menara itu berjalan terus hingga warga terpaksa warga menyegelnya. Apalagi, pembangunannya tanpa izin,  termasuk izin tetangga (hinder ordonantie/HO). Padahal, izin tetangga harus ditempuh dalam pembangunan menara telekomunikasi seperti diatur dalam Perbup No. 14 tahun 2007 tentang pembangunan dan penataan menara telekomunikasi di Kabupaten Bandung.</p>
<p>Menaggapi hal ini, Pemerintah Kabupaten Bandung pun bersiap menertiban puluhan menara BTS liar milik sebelas operator seluler. Operator seluler terkait diminta segera mengurus menara tak berizin miliknya. Selain tidak memenuhi syarat administrasi perizinan seperti Izin Peruntukan dan Penggunaan Tanah serta Izin Mendirikan Bangunan, menara-menara tersebut juga didirikan di tempat terlarang seperti di sarana ibadah, ruang hijau, pemukiman padat, atau yang didirikan di atap bangunan tanpa memperhitungan kapasitas bangunan dasarnya.</p>
<p>Kepala Dinas Zperhubungan Kabupaten Bandung, <strong>Dheni Asmara Hadi</strong> menegaskan, jika operator seluler terkait belum mengurus menaranya, pemerintah akan langsung menertibkan menara tersebut. &#8220;Menara yang tak berizin, terutama yang didirikan di tempat terlarang akan langsung ditertibkan,&#8221; tandas Dheni.</p>
<p>Sedangkan menara yang sudah sejak awal memiliki izin dan didirikan di luar tempat terlarang, agar segera diurus kembali perizinannya ke Dinas Tata Kota.</p>
<p>Dheni pun menandaskan, kini Pemerintah Kota Bandung tengah menyusun master plan penataan dan pembangunan menara telekomunikasi seluler Kabupaten Bandung. Dalam perencanaan tersebut, kata dia, akan diformulasikan sebaran titik menara telekomunikasi seluler bersama yang dapat diizinkan Pemkab Bandung untuk digunakan bersama para operator seluler.</p>
<p>Penertiban digelar seiring dengan yang dilakukan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi di sejumlah titik di Pulau Jawa. Diduga, sebagian BTS berdiri tanpa izin demi memenangkan persaingan antaroperator.</p>
<p>Razia BTS dilakukan dengan menyusuri jalur strategis di sepanjang Pulau Jawa. Petugas Ditjen Postel mendeteksi keberadaan BTS tanpa izin ini dengan alat deteksi digital. Hasilnya, tiga BTS milik operator terkenal ketahuan mengoperasikan pemancar telekomunikasinya tanpa izin. Akhirnya, sejumlah BTS dan Microwave Link pun kena segel.</p>
<p>BTS itu ketahuan mengoperasikan pemancar telekomunikasinya secara ilegal setelah Balai Monitoring Frekuensi Radio Ditjen Postel kembali melakukan razia penertiban frekuensi radio serta keberadaan BTS yang sudah terlanjur beroperasi namun belum memiliki izin.</p>
<p>Kabag Umum dan Humas Ditjen Postel, <strong>Gatot S Dewa Broto</strong> menjelaskan, ihwal kegiatan penertiban ini berupa validasi data BTS yang merupakan tindak lanjut surat Direktur Frekuensi Radio dan Orbit Satelit No. 838/2008 tertanggal 11 Juni 2008.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1282&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/10/17/warga-bandung-bantu-penertiban-bts-liar.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
