<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BISKOM : Mitra Komunitas Telematika &#187; Inspirasi</title>
	<atom:link href="http://www.biskom.web.id/category/inspirasi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.biskom.web.id</link>
	<description>Situs Berita Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Aug 2010 14:28:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kedewasaan Digital: Apa, Mengapa dan Bagaimana?</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2010/03/15/kedewasaan-digital-apa-mengapa-dan-bagaimana.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2010/03/15/kedewasaan-digital-apa-mengapa-dan-bagaimana.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 04:37:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=3204</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Social-Responsible.JPG"></a>&#8220;Stress <em>gue</em> punya <em>nyokap</em> bisanya marah mulu, sial!&#8221; teriak seorang pengguna Twitter. Beberapa saat kemudian, muncul Diandra (nama samaran) dengan tweet: <em>&#8220;Gw</em> dari kemarin berantem sama <em>bokap</em> sampe <em>gw</em> katain bangsat.&#8221;</p>
<p>Kesadaran saya akan pentingnya diskusi mendalam mengenai kedewasaan digital di Indonesia dimulai pada bulan Desember&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Social-Responsible.JPG"><img class="alignleft size-medium wp-image-3205" title="Social Responsible" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Social-Responsible-300x235.jpg" alt="Social Responsible" width="300" height="235" /></a>&#8220;Stress <em>gue</em> punya <em>nyokap</em> bisanya marah mulu, sial!&#8221; teriak seorang pengguna Twitter. Beberapa saat kemudian, muncul Diandra (nama samaran) dengan tweet: <em>&#8220;Gw</em> dari kemarin berantem sama <em>bokap</em> sampe <em>gw</em> katain bangsat.&#8221;</p>
<p>Kesadaran saya akan pentingnya diskusi mendalam mengenai kedewasaan digital di Indonesia dimulai pada bulan Desember 2009. Waktu itu saya tercengang akan presentasi <strong>Ilya Alexander</strong> pada acara BarcampID, sebuah ajang informal kumpul bareng teman-teman praktisi teknologi di Indonesia.</p>
<p>Dalam presentasi yang dinamakan &#8220;<em>NKMJ: The Forbidden Words in Daily Life</em>&#8220;, Ilya memaparkan keterbukaan anak-anak muda Indonesia dalam menggunakan kata-kata tabu di media sosial, pada khususnya di Twitter. Presentasi yang dibawakan oleh Ilya, serta layanan monitoring kata-kata tabu yang diciptakannya, dapat Anda akses di situs <a href="http://www.reversedpalantir.org/nkmj/">http://www.reversedpalantir.org/nkmj/</a>.</p>
<p>Pada awalnya penemuan ini membuat saya dan rekan-rekan lain tertawa terpingkal-pingkal. Saya tidak menyangka, ada banyak anak muda Indonesia yang berani menghujat orang tua, guru, dan teman-teman mereka dengan pilihan kata-kata yang dapat membuat jantung berdebar, mata memicing dan mengundang muka tidak percaya.</p>
<p>Bagi sebagian anak muda Indonesia, Twitter telah menjadi sarana curhat utama. Namun, tidak sedikit dari mereka tidak mengetahui bahwa hal-hal yang mereka tuliskan di Twitter dapat dibaca oleh sembarang orang di seluruh Indonesia, dan di seluruh dunia &#8211; dan implikasinya, baik untuk jangka pendek, atau untuk jangka panjang.</p>
<p>Dunia per-twitter-an Indonesia baru-baru ini dibuat heboh oleh kasus dua orang pelajar dari Jakarta yang namanya sempat menjadi trending topics di Twitter, yaitu Rani dan Marsha. Nama Rani menjadi trend setelah dirinya mengatakan pengguna BlackBerry di Indonesia itu  <em>&#8220;alay</em>&#8221; (kampungan)  &#8211; sedangkan nama Marsha menjadi trend setelah ia mengomentari secara umum status pelajar Indonesia yang bersekolah di sekolah negeri. Dua-duanya menjadi sangat terkenal, bisa dikatakan terkenal sedunia, untuk alasan yang tidak membanggakan.</p>
<p>Menurut saya, menyadari tingkat kuasa akan diri sendiri, serta mengetahui implikasi sosial (nyata) dari berbagai aktivitas di dunia maya adalah barometer kedewasaan digital. Jika kita kini sudah paham betul dengan<em> intelligence quotient</em> (IQ), <em>emotional quotient </em>(EQ) serta<em> spiritual quotient </em>(SQ), sudah saatnya kita juga mengenal <em>digital quotient</em> (DQ) sebagai aktualisasi IQ, EQ dan SQ di dunia maya.</p>
<p>Lantas, bagaimana cara terbaik untuk meningkatkan DQ seorang anak?  Menurut saya pandangan umum yang sekarang beredar (membeli dan menginstall sebuah perangkat lunak parental controls untuk komputer atau ponsel) bukanlah cara terbaik ataupun cara yang perlu ditempuh untuk meningkatkan DQ seorang anak. Setelah berbincang dengan belasan anak muda di Twitter yang (sepertinya) telah cukup puas mencaci maki orang tua mereka, saya menemukan beberapa poin menarik yang harus saya sampaikan. Sebelumnya mari kita simak testimoni berikut ini.</p>
<p>&#8220;Buat <em>gue</em>, Twitter itu tempat curhat yang paling asik. Disinilah <em>gue</em> menyadari banyak orang yang peduli sama <em>gue</em>. Tidak seperti orang tua <em>gue</em> yang enggak punya waktu untuk <em>gue</em>…&#8221; ungkap Tika (bukan nama sebenarnya), siswi kelas 1 SMA di Jakarta.</p>
<p>&#8220;Ngapain perlu takut salah ngomong. Kan cuma temen-temen <em>gue</em> aja yang ngikutin tulisan <em>gue</em> di Twitter dan Facebook. <em>I&#8217;m just being myself</em>. Orang tua <em>gue</em> mah gaptek, dan sibuk.&#8221; jawab Aris, siswa kelas 2 SMP di Depok. Kedua testimoni diatas menyimpan beberapa poin menarik, diantaranya tentang &#8216;keaslian&#8217; diri sendiri ketika beraktivitas di situs jejaring sosial. Menurut Dr <strong>Sam Gosling</strong>, seorang professor yang sekarang dikenal sebagai seorang <em>&#8220;Facebook Psychologist</em>&#8221; dari The University of Texas, anggapan umum bahwa banyak orang-orang menggunakan Facebook untuk menampilkan &#8217;sisi terbaiknya&#8217; atau &#8217;sosok ideal&#8217;  adalah anggapan yang tidak tepat.</p>
<p>&#8220;Tidak sembarang orang dapat terus menerus berpura-pura atau menampilkan kepribadian lain ketika sedang beraktivitas di situs jejaring sosial. Jika Anda ingin terlihat ramah di Facebook, itu harus hadir dari kepribadian Anda di dunia nyata,&#8221; ujar Gosling yang telah meneliti kehidupan nyata dan profil Facebook dari 236 orang di Amerika.</p>
<p>Poin kedua yang menarik untuk diangkat dari jawaban kedua Tika dan Aris adalah kosongnya keterlibatan atau partisipasi orang tua dalam aktivitas jejaring sosial yang dijalankan oleh anaknya. Padahal, bisa jadi kunci dari percepatan kedewasaan digital seorang anak terletak pada partisipasi orang tua atau pembimbingnya dalam aktifitas online, khususnya pada situs jejaring sosial.</p>
<p>Dalam kata lain, bagi orang tua yang saat ini memiliki anak dengan usia kurang dari 20 tahun, memiliki dan aktif menggunakan account Facebook dan Twitter bukanlah sebuah pilihan, namun sebuah kewajiban sebagai perpanjangan aktivitas membimbing anak di rumah dan di sekolah. Dengan kehadiran berbagai<em> smartphone</em> seperti BlackBerry, iPhone dan sebagainya, sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak ikutan &#8216;main Facebook&#8217; dan &#8216;main Twitter&#8217; &#8211; bahkan bagi orang tua sibuk sekalipun.</p>
<p>Pada akhirnya, komunikasi di dunia maya adalah lebih baik dari tidak ada komunikasi sama sekali, terutama bagi orangtua yang bekerja. Akses internet yang semakin tersedia telah membuka pintu-pintu kebebasan bagi banyak orang. Bisa dikatakan, pesan moral dari kedewasaan digital adalah mengetahui bahwa pilihan untuk menggunakan pintu-pintu tersebut bukan tanpa tanggung jawab yang besar. Seperti kata-kata bijak dari film Spiderman, <em>&#8220;With great power, comes great responsibility</em>.&#8221;</p>
<p>Penulis : <strong>Dirgayuza Setiawan</strong> &#8211; Praktisi dan Penulis buku TIK, diantaranya &#8220;BlackBerry itu mudah&#8221;.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=3204&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2010/03/15/kedewasaan-digital-apa-mengapa-dan-bagaimana.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dirgayuza Setiawan: Wave, Apa dan Mengapa?</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/12/23/dirgayuza-setiawan-wave-apa-dan-mengapa.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/12/23/dirgayuza-setiawan-wave-apa-dan-mengapa.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 05:18:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=2888</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/12/google_wave_02.jpg"></a>Sebuah malam yang dingin di Bandung (dan Melbourne) akan terasa ‘kurang’ tanpa segelas bajigur hangat. Demikian juga dengan internet, yang sejak popularitasnya menanjak hampir selalu disangkut pautkan dengan ‘email’. Sebagai teknologi yang sudah cukup berumur (lebih tepatnya 40 tahun pada&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/12/google_wave_02.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2889" title="google_wave_02" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/12/google_wave_02-300x211.jpg" alt="google_wave_02" width="300" height="211" /></a>Sebuah malam yang dingin di Bandung (dan Melbourne) akan terasa ‘kurang’ tanpa segelas bajigur hangat. Demikian juga dengan internet, yang sejak popularitasnya menanjak hampir selalu disangkut pautkan dengan ‘email’. Sebagai teknologi yang sudah cukup berumur (lebih tepatnya 40 tahun pada tahun 2010 nanti), seperti apa bentuk email jika ia ‘diciptakan kembali’ untuk memenuhi tuntutan hari ini?</p>
<p>Pertanyaan itulah yang dilontarkan oleh tim perancang perangkat lunak Google Wave pada presentasi mereka bulan Mei 2009 lalu. Mereka melihat email sebagai sebuah mekanisme komunikasi yang sudah ‘uzur’ dan perlu digantikan oleh mekanisme komunikasi baru yang lebih fleksibel, teratur dan efisien. Mekanisme ini mereka namakan ‘wave’.</p>
<p>Setelah berkesempatan untuk mencoba ‘nge-wave’ dengan Google Wave versi preview dari awal bulan November 2009, saya telah mengalami sendiri berbagai kemungkinan-kemungkinan komunikasi luar biasa yang dapat direalisasikan oleh wave. Pada artikel ini, saya akan mencoba untuk menuturkan ‘masalah’ yang ada dengan email, approach yang diambil oleh wave sebagai sebuah mekanisme komunikasi baru, dan apakah Google Wave (atau wave pada umumnya) akan dapat menjadi sebuah tren baru berkomunikasi pada tahun 2010 ini &#8211; terutama di Indonesia?</p>
<p><strong>AADE: Ada Apa Dengan Email?</strong><br />
Sebagai mekanisme komunikasi yang kita gunakan setiap hari, sulit bagi kita untuk menemukan atau melihat ‘kekurangan’ dari layanan email. Email, sebagai standar mekanisme komunikasi yang memanfaatkan jaringan internet, telah membantu kita menyampaikan tulisan, file, dan lain sebagainya dengan mudah dan relatif instan. Sebagai mekanisme yang ‘terbuka’, kita dapat mengirim dan menerima email di berbagai perangkat – mulai dari PC, BlackBerry, PDA sampai ke timbangan elektronik. Singkat kata, sebagai sebuah mekanisme komunikasi, email telah ‘bekerja’ untuk kita. Namun, apakah email cara terbaik untuk kita berkomunikasi dan berkolaborasi di tahun 2010? Apakah perkembangan teknologi komputer dan internet selama 40 tahun terakhir tidak membuka kemungkinan-kemungkinan baru?</p>
<p>Bisa dikatakan, keunggulan utama dari email terletak pada kesederha­naannya. Dengan email, Anda cukup menuliskan alamat (email) tujuan, sebuah subject dan isi email tersebut. Jika email client Anda mendukung HTML, Anda juga dapat mendesain email Anda dengan kode-kode HTML, seperti membuat web pada umumnya. Anda juga dapat menyisipkan file (attachment) dengan ukuran relatif besar kepada sebuah email. Sounds good? Memang, namun sebagai mekanisme komunikasi “bola lempar”, email tidaklah jauh berbeda dengan surat tradisional. Setelah dikirimkan, Anda tidak dapat merubahnya. Jika Anda mengirimkan email ke lebih dari satu orang, Anda mengirimkan multiple copy dari hal yang sama. Jika Anda bekerja disebuah organisasi yang cukup besar, sifat multiple copy dari email ini bisa menjadi hal yang sangat menyebalkan.</p>
<p>Belum lagi, sifat email yang “bola lempar” membuat anda harus menunggu lawan komunikasi untuk menyelesaikan sebuah email sebelum Anda dapat membalasnya. Lalu, Apabila sebuah email dikirimkan ke lebih dari dua orang, terkadang terjadi sebuah waiting game dimana Anda harus menunggu si orang ketiga untuk membalas email tersebut – atau sebaliknya. Singkat kata, email bukanlah mekanisme terbaik untuk kolaborasi. Permasalahan inilah yang ingin Google pecahkan dengan menciptakan dan mempromosikan wave.</p>
<p><strong>Google Wave: Sebuah ‘Collaboration Platform’ Untuk Semua Orang </strong><br />
Berbeda dengan Facebook dan Twitter yang merupakan sebuah ’produk’ dan ’layanan’, wave adalah sebuah ‘communications protocol’ atau mekanisme komunikasi. Artinya, Google Wave dan wave adalah dua hal yang berbeda. Google Wave adalah nama sebuah ’produk’ dan ’layanan’ yang dibangun berdasarkan mekanisme komunikasi wave. Google Wave sendiri diluncurkan oleh Google sebagai sebuah usaha open source. Singkat kata, Google membuka lebar kemungkinan agar wave diadopsi oleh perusahaan teknologi lain, termasuk para pesaingnya (perusahaan teknologi besar) dan perseorangan. Dengan membuka lebar ’isi’ dan cara kerja wave, Google berharap agar wave dapat diadopsi menjadi standar baru berkomunikasi seperti halnya email. Lantas, apa sebenarnya keunggulan dari wave itu sendiri, terutama jika dibandingkan dengan email?</p>
<p>Menurut Google, wave adalah perpaduan antara empat mekanisme komunikasi, yaitu email, instant messanging, wiki dan situs jejaring sosial yang memiliki fokus pada dua kata kunci: ’real time’ dan ’collaboration’. Sekarang mari kita coba bahas kata kunci pertama: real time. Sebagai sebuah hosted service (dimana seluruh data tersimpan di sebuah server, tidak seperti email yang bekerja seperti sebuah “bola lempar”), wave dapat memastikan semua input yang diberikan oleh pengguna terefleksi dalam real time. Sebagai contoh, jika dalam aplikasi instant messaging anda harus menunggu lawan bicara selesai mengetik untuk dapat melihat tulisannya, di wave anda akan dapat melihat ketikan lawan bicara anda huruf demi huruf dalam real time.<br />
Sifat wave yang real time inilah yang memicu collaboration. Sebagai contoh, dengan menggunakan wave anda dapat mengerjakan sebuah dokumen bersama-sama dengan orang lain tanpa harus menunggu. Setiap pengguna baru yang bergabung dalam sebuah sesi wave seakan-akan menambahkan sebuah kursor dan keyboard baru – dan hal ini tentunya menambah produktifitas.</p>
<p>Terlebih lagi, sebagai sebuah platform yang dibangun berdasarkan teknologi ‘web 2.0’, wave mendukung berbagai media interaktif yang tidak dapat didukung oleh email. Ketika membuat sebuah wave, anda dapat drag-and-drop sembarang medium untuk diembed pada wave tersebut. Sebagai contoh, anda dapat menggunakan berbagai ‘gadget’ yang disediakan oleh Google, seperti gadget “Yes, No, Maybe” untuk keperluan voting dan “Map Gadget” untuk menampilkan peta. Koleksi gadget ini dapat Anda lihat di http://www.google.com/ig/directory. Tentunya, apa yang telah saya utarakan merupakan ’sekian persen’ dari potensi komunikasi yang dimiliki oleh Google Wave. Mengingat sifatnya yang open source dan pengembangan terus menerus yang diprakarsai oleh Google, bukan tidak mungkin wave akan terus berkembang menjadi lebih baik dimasa mendatang.</p>
<p><strong>Apakah Wave Akan Populer di Indonesia? </strong><br />
Seperti situs jejaring sosial, popularitas wave yang mengutamakan kolaborasi akan akan sangat tergantung dengan jumlah penggunanya. Pada awalnya, saya memperkirakan jumlah pengguna wave hanya akan ‘merangkak’ naik, diadopsi terlebih dahulu oleh pemerhati teknologi yang ingin mencoba sesuatu yang baru.<br />
Hemat saya, wave baru akan tumbuh secara eksponensial setelah perusahaan-perusahaan dan organisasi besar mulai mengadopsi wave sebagai standar komunikasi dan kolaborasi. Apalagi, wave saat ini terpaku pada kata produktivitas – sesuatu yang dianggap sangat penting didunia bisnis, namun dianggap remeh didunia sosial (lihat saja efek ‘pembuangan waktu’ yang diciptakan oleh Facebook).</p>
<p>Untuk di Indonesia sendiri, popularitas wave akan tergantung dengan satu kata: bandwidth. Berbeda dengan email yang relatif low bandwidth, sifat wave yang always connected dan real time membutuhkan koneksi internet yang always on, stabil dan cepat. Singkat kata, koneksi internet yang tidak stabil dapat memicu pengguna untuk kembali ke mekanisme low bandwidth semacam email. Belum lagi masalah kompabilitas. Saat ini, Google Wave untuk iPhone sama sekali belum dapat diandalkan. Banyak fitur-fitur wave yang ditampilkan dengan baik di komputer, gagal untuk ditampilkan di iPhone. Dan ini adalah iPhone, sebuah app phone dengan antarmuka yang sangat fleksibel dengan kemampuan prosesor yang cepat. Bagaimana dengan perangkat seluler lainnya? Bagaimana dengan BlackBerry? Lalu, mengingat antarmuka wave yang sekarang sudah cukup ‘ribet’, apakah dapat tercipta sebuah konsistensi antara layanan wave di satu perangkat dengan perangkat lainnya?</p>
<p>Hemat saya, mari kita tunggu dan nantikan – karena memang wave layak untuk dinanti. Jika Anda ingin menjadi salah satu yang pertama untuk menggunakan Google Wave di Indonesia, segera daftarkan alamat email Anda di <a href="http://wave.google.com">http://wave.google.com</a>.</p>
<p><strong>Dirgayuza Setiawan</strong> : Praktisi dan penulis buku TIK. Diantaranya &#8220;BlackBerry itu Mudah&#8221;.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=2888&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/12/23/dirgayuza-setiawan-wave-apa-dan-mengapa.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Para Perintis TI Indonesia (Bagian 2)</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/09/30/para-perintis-ti-indonesia-bagian-2.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/09/30/para-perintis-ti-indonesia-bagian-2.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 08:13:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=2604</guid>
		<description><![CDATA[<p>Cikal bakal teknologi informasi (TI) Indonesia hingga berkembang pesat pada masa kini tentu tak lepas dari peran sumber daya manusia (SDM) yang membawa dan memelopori kehadirannya negeri ini. Indonesia di era 1970-an merupakan negara yang baru akan berkembang, dan TI&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cikal bakal teknologi informasi (TI) Indonesia hingga berkembang pesat pada masa kini tentu tak lepas dari peran sumber daya manusia (SDM) yang membawa dan memelopori kehadirannya negeri ini. Indonesia di era 1970-an merupakan negara yang baru akan berkembang, dan TI baru mulai diperkenalkan di Indonesia, serta didominasi instansi pemerintah seperti Pertamina dan Pemda DKI Jakarta. Siapa sajakah yang berperan dalam sejarah perkembangan TI di Indonesia? Simak dalam lanjutan dari<a href="http://www.biskom.web.id/2009/09/19/para-perintis-ti-indonesia-bagian-1.bwi"> Para Perintis TI Indonesia (Bagian 1)</a></p>
<p><strong>Petrus Golose, Doktor &#8220;Cybercrime&#8221; Pertama </strong><br />
Komisaris Besar Petrus Reinhard Golose merupakan orang Indonesia pertama yang memperoleh gelar Doktor untuk bidang cybercrime pada 7 Juni 2008 lalu. Tim penguji yang terdiri dari 9 guru besar dan promotor, Prof. Dr. Sarlito W Sarwono, di Depok, Jawa Barat menyatakan, Petrus lulus dengan yudisium ”sangat memuaskan” dengan angka 3,92. Seharusnya ia memperoleh predikat cum laude, tapi diurungkan mengingat ia tidak dapat selesai tepat waktu lantaran harus melaksanakan tugas-tugas kepolisian sehingga tak bisa jadi peneliti full time.</p>
<p>Disertasinya berjudul ”Manajemen Penyidikan Tindak Pidana Hacking, Mengambil Studi Kasus: Penyidikan Tindak Pidana Hacking Website Partai Golkar”. Disertasinya menghasilkan definisi hacking, yaitu setiap kegiatan menggunakan komputer atau sistem elektronik lainnya yang dilakukan dengan mengakses suatu sistem jaringan komputer, baik yang terhubung dengan internet maupun tidak, baik dengan tujuan maupun tidak, untuk memperoleh, mengubah dengan cara menambah atau mengurangi, menghilangkan atau merusak informasi dalam sistem komputer atau sistem elektronik lainnya dengan melawan hukum.</p>
<p>Hacking dikategorikan sebagai kejahatan komputer tanpa kekerasan dan termasuk kejahatan komputer yang merusak. Petrus bersama Tim Cybercrime Bareskrim Polri juga berhasil menangkap pelaku tindak pidana hacking website Partai Golkar pada tahun 2006 melalui jalan panjang menelusuri internet.</p>
<p>Di samping mengajar sebagai dosen luar biasa di bidang kriminologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI dan Kajian Ilmu Kepolisian untuk Program Pascasarjana UI, ia pun aktif terlibat sebagai wakil dari pemerintah RI untuk turut merumuskan Rancangan Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elelktronik (UU ITE) yang telah diundangkan menjadi UU No 11/208. Kini Petrus juga menjadi narasumber pemerintah dalam pembuatan peraturan tentang Lawful Interception (penyadapan informasi).</p>
<p><strong>Supeno Djanali-Handayani Tjandrasa, Guru Besar TI Pertama </strong><br />
Institus Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) mengukuhkan dua orang guru besar dari Fakultas Teknologi Informasi, Prof.Ir. Supeno Djanali, M.Sc.,Ph.D. dan Prof.Ir. Handayani Tjandrasa,M.Sc.,Ph.D, pada 25 Februari 2005 di Graha 10 Nopember ITS.</p>
<p>Pengukuhan sebagai guru besar kedua pasangan suami istri ini menambah jumlah guru besar di lingkungan ITS menjadi 34 orang. “Tapi, tentunya tidak hanya kuantitas saja yang kita tonjolkan. Kualitas guru besar tetap menjadi tujuan utama,&#8221; kata Rektor ITS, Dr Ir. Moh. Nuh, DEA waktu itu, yang kini menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika. Menurut Nuh, ke depan ITS terus mengadakan program percepatan untuk memperoleh guru besar sebanyak mungkin.</p>
<p>Sementara itu, dalam kesempatan orasinya, Supeno yang mendapat gelar Guru Besar Bidang Ilmu Arsitektur dan Jaringan Komputer, Fakultas TI, mengambil judul &#8216;Perkembangan Teknologi Jaringan Komputer dan Tantangan ke Depan&#8217;. Sedangkan &#8216;Informatika Medika: Citra Medis dalam Sistem Informasi Terintegrasi&#8217; dipilih Handayani sebagai judul orasinya dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pengolahan Citra Digital.</p>
<p><strong>Sylvia W Sumarlin, Brand Nasional Chipset WiMax Pertama </strong><br />
Sylvia Sumarlin termasuk salah seorang perintis produk chipset WiMax pertama di Indonesia. Chipset yang dinamakan Xirka ini nantinya bakal dipakai di seluruh dunia. Sylvia menjabat sebagai Direktur Utama PT. Dama Persada, pemilik merek dagang chipset Wimax Xirka. Sebelumnya ia juga pendiri dan CEO perusahaan ISP (Internet Service Provider) D-Net pada 1995. Hingga tahun 2000, D-Net jadi perusahaan pertama yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta untuk bidang TI.</p>
<p>Kini, nyaris di banyak tempat orang Indonesia bisa mengakses internet, baik melalui perangkat mobile maupun teknologi hotspot yang diakses melalui WiFi. Namun Sylvia, masih merasa ada yang kurang. ”Karena cara berkoneksi internet saat ini sudah membuat orang tidak sabar. Orang juga mulai bergantung dengan internet. Nah, kita ingin internet makin maju. Kita ingin, di Indonesia terjadi dua hal. Penetrasi komputer dan penetrasi internetnya meningkat, dan akhirnya edukasinya meningkat,” kata Sylvia seperti dilansir Tabloid Wanita Indonesia..</p>
<p>Padahal, teknologi WiFi yang dianggap maju, akan segera tergantian dengan teknologi WiMax yang lebih canggih. “WiFi itu 1 base station maksimal mencangkup radius 5 kilometer. Nah WiMax, 1 base station rata-rata mencapai radius 40 kilometer. Bahkan kalau kondisi geografisnya datar bisa mancapai 80 kilometer,” jelas Sylvia. Melalui perusahaan PT. Dana Persada, kami membuat sistem chipset wireless bernama Xirka. Yang satu chipset ukuran 2X2 mili, dan memiliki pemancar frekuensi data sampai 40 kilometer,” papar dia.</p>
<p>Sylvia menuturkan, pihaknya sudah mengembangkan chipset atau system-on-chip hasil karya putra-putri Indonesia asli. Perangkat yang diklaim buatan dalam negeri tersebut dikembangkan oleh Trio Adiono dari Institut Teknologi Bandung dan Eko Fajar yang bergelut di bidang tersebut di bawah payung PT Versatile Silicon Technologies sebagai penerima alih daya proyek-proyek dari Jepang. “Prestasi ini sebenarnya sungguh membanggakan dan idealisme mereka adalah mewujudkan ciptaan mereka untuk di Indonesia,” ujarnya.</p>
<p>Adapun PT. Dama Persada berperan memberikan kesempatan bagi ilmuwan yang diwakili kedua peneliti tersebut dan pemodal yang diwakili oleh Rudy Hari dan Sylvia Sumarlin dalam mengembangkan produk-produk Xirka sebagai brand nasional yang ditargetkan pada saatnya akan go-international. “Kami berkomitmen mendapatkan sertifikasi internasional Wimax Forum untuk produk Mobile Wimax berstandar 16e dan mendapatkan pengakuan dunia,” ujar Sylvia.</p>
<p>Xirka menjadi pemenang Asia Pacific Information Communication Technology Award pada tanggal 15 Desember 2008 dan menyisihkan sembilan negara peserta lainnya dan dua industri raksasa Singapore Telcom serta Fujitsu Australia. Perusahaan manufacturing Xirka ini termasuk salah satu dari 8 perusahaan manufaktur chipset Wimax. Perusahaan pertama adalah Intel, yang diikuti pula oleh PT. Solusindo Kreasi Pratama (Technology Research Group/ TRG), PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti), PT. Hariff Daya Tunggal Engineering (HDTE), PT. Versatile Silicon Technologies, dan Reksis. Tidak sebatas pada chipset, tapi juga ke perangkat seperti dongle.</p>
<p>Xirka yang baru saja diluncurkan 7 Agustus 2009 ini bisa digunakan di dalam USB dongle dan USB mini-cards sebagai mobile station untuk notebook, PDA, maupun di dalam CPE modem untuk desktop komputer di sekolah, perkantoran atau kompleks perumahan.<br />
<strong><br />
Nur Aini Rakhmawati, Dengan Joomla Jadi Peserta GSoc </strong><br />
Programmer Nur Aini Rakhmawati berhasil menyusun kode pemrograman mewujudkan software pengembangan Joomla, aplikasi open source yang kini banyak digunakan masyarakat dunia. Wanita kelahiran Pasuruan 20 Januari 1982 ini tercatat sebagai wanita pertama di dunia internasional dalam tim pengembang Joomla.</p>
<p>Prestasinya ini pun yang diakui Google. Dia berhasil menunjukkan kehebatannya ketika menjadi peserta Google Summer of Code (GSoC) 2007. Untuk menjadi peserta GsoC, bukan hal yang mudah. Dia harus bersaing dengan ribuan aplikasi lain dari seluruh penjuru dunia. Bagi kalangan TI, even tersebut cukup bergengsi. Sebab, mereka bisa menimba ilmu langsung dari mentor yang ditunjuk Google. Khusus Joomla, diantara 6.000 aplikan, hanya 50 orang yang diterima. Iin panggilan akrabnya, sehari-hari bekerja sebagai dosen Sistem Informasi, Fakultas Teknik Informatika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia.</p>
<p>Tahun 2009 giliran alumni S-2 National Taiwan University of Science and Technology ini yang menjadi mentor GsoC dan membimbing seorang peserta dari Filipina. ”Ya mungkin Google tahu kalau saja sudah banyak pengalaman dengan Joomla. Soalnya, setelah jadi peserta saya juga direktur jadi developer,” kata Iin. Menjadi satu-satunya wanita dalam GsoC sempat membuat dirinya canggung. Untunglah rekan-rekan dari berbagai negara mendukungnya. Sedikitnya wanita yang terjun secara profesional dalam bidang TI membuatnya tergerak.</p>
<p>Dia juga membuat milis khusus wanita yang membahas Linux, salah satu sistem operasi open source. Milis tersebut dibentuk karena sebenarnya banyak wanita yang ingin memahami Linux. Iin pun  mengumpulkan kenalan wanita di dunia maya membentuk milis yang diberi nama Kluwek. Mereka punya situs di http://kluwek.linux.or.id. Sekarang anggota milis itu berkembang hingga ratusan orang. Anggotanya mulai mahasiswi hingga ibu rumah tangga sekali pun. Uniknya, tiap anggota punya julukan nama bumbu dapur.<br />
<strong><br />
Frans Thamura, Pendiri Komunitas Java </strong><br />
Java Evangelist Indonesia, salah seorang pendiri komunitas Java, berupaya mati-matian mempromosikan Java di Indonesia melalui Yayasan Meruvian, hingga jadi program popular seperti sekarang. Meski di Indonesia ada perusahaan lain yang mendahului terapkan Java, seperti Asimetrik dan Balicamp, namun komunitas yang dipeloporinya mempromosikan open source secara serius dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini sehingga menjadi besar seperti sekarang dengan 3.000 anggota dengan 200 perusahaan pengikut.</p>
<p><strong>Para Perintis Lainnya </strong></p>
<p><strong>Onno W Purbo </strong><br />
Onno Widodo Purbo, lahir di Bandung 17 Agustus 1962. Mantan dosen ITB ini membangun gateway Internet ITB dan Jaringan AI3 Indonesia. Ia juga aktif menulis buku dan memberikan ilmu TI pada masyarakat Indonesia.</p>
<p>Ayah Onno, Hasan Poerbo, adalah seorang profesor di ITB bidang lingkungan hidup yang banyak memihak pada rakyat kecil. Onno yang masuk ITB pada jurusan Teknik Elektro angkatan 1981, lulus dengan predikat wisudawan terbaik. Setelah itu ia melanjutkan studi ke Kanada dengan beasiswa dari kampus asalnya.</p>
<p>RT/RW-Net adalah salah satu dari sekian banyak gagasan yang Onno lontarkan dan mengukir sejarah internet Indonesia. Ia juga aktif menulis terkait TI di berbagai media, jadi pembicara seminar, konferensi nasional maupun internasional, terutama untuk memberdayakan masyarakat Indonesia menuju masyarakat berbasis pengetahuan.<br />
<strong><br />
Heru Nugroho </strong><br />
Heru Nugroho adalah Executive Council Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) sekaligus Ketua Dewan Pelaksana Yayasan Sekolah 2000. Merupakan motor di belakang Yayasan Sekolah 2000 dan Yayasan Air Putih.</p>
<p>Heru mengaku yayasan yang dipimpinnya menggelar sejumlah program peningkatan SDM melalui kerjasama dengan swasta. Tujuan Program Sekolah 2000 yang dipelopori APJII sejak Oktober 1999 itu yakni penyiapan SDM di bidang TI, khususnya di kalangan guru dan pelajar. Namun kini, Heru tengah sibuk dengan ‘mainan’ barunya Nusantara Online untuk pengembangan game lokal dan Wacana Nusantara, sebuah situs arsip digital kebudayaan nusantara. “Dulu, sebelum ada program-program ke sekolah, Sekolah2000 sudah paling dulu. Kalau sekarang ini vakum, karena sudah banyak sekali program yang seperti itu. Saya sendiri bersyukur karena orang sekarang sudah banyak yang peduli untuk memajukan dunia pendidikan TI,” ungkap Heru.<br />
<strong><br />
I Made Wiryana </strong><br />
Dosen Gunadharma ini adalah pendorong Linux Indonesia, dan penggerak Tim Pandu dalam pergerakan Linux di Indonesia. Beberapa buku Linux termasuk tutorial Linux-nya yang sangat membantu dapat diambil secara cuma-cuma tanpa melanggar HaKI. Buku-buku yang bersifat tutorial sebagian merupakan bagian dari aktivitas Open Source Campus Agreement (OSCA) untuk membuka wawasan siswa dan mahasiswa Indonesia akan Linux. I Made Wiryana baru-baru ini meraih gelar Doktornya di Jerman dan kembali ke tanah air untuk mengabadikan dirinya kepada dunia pendidikan.</p>
<p><strong>Budi Rahardjo </strong><br />
Dosen ITB ini pendiri ID-CERT. Pernah menjadi Country Code Top Level Domain ccTLD .id antara 1998 &#8211; 2005, sebelum diberikan kepada Depkominfo di tahun 2005-2006. Ia juga dikenal sebagai seorang pakar sekuriti di Indonesia, pendiri Indonesian Computer Emergency Response Team (ID-CERT), suatu organisasi yang bergerak di bidang Internet Security.</p>
<p>Menyelesaikan program Sarjana Teknik Elektro dari ITB tahun 1986, Budi melanjutkan pendidikannya ke University of Manitoba, Kanada, jurusan Electrical and Computer Engineering. Selesai tahun 1990, kemudian Budi melanjutkan ke program studi S3, di jurusan dan universitas yang sama, sampai meraih Ph.D pada tahun 1996. Budi juga dikenal sebagai salah seorang penggagas Bandung High Tech Valley (BHTV).</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=2604&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/09/30/para-perintis-ti-indonesia-bagian-2.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Para Perintis TI Indonesia (Bagian 1)</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/09/19/para-perintis-ti-indonesia-bagian-1.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/09/19/para-perintis-ti-indonesia-bagian-1.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 04:59:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=2585</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/09/Ilustration.jpeg"></a>Cikal bakal teknologi informasi (TI) Indonesia hingga berkembang pesat pada masa kini tentu tak lepas dari peran sumber daya manusia (SDM) yang membawa dan memelopori kehadirannya negeri ini. Indonesia di era 1970-an merupakan negara yang baru akan berkembang, dan TI&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/09/Ilustration.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2587" title="Ilustration" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/09/Ilustration-300x228.jpg" alt="Ilustration" width="240" height="182" /></a>Cikal bakal teknologi informasi (TI) Indonesia hingga berkembang pesat pada masa kini tentu tak lepas dari peran sumber daya manusia (SDM) yang membawa dan memelopori kehadirannya negeri ini. Indonesia di era 1970-an merupakan negara yang baru akan berkembang, dan TI baru mulai diperkenalkan di Indonesia, serta didominasi instansi pemerintah seperti Pertamina dan Pemda DKI Jakarta. Siapa sajakah yang berperan dalam sejarah perkembangan TI di Indonesia?</p>
<p>Secara umum, pada saat TI baru dikenal di negeri ini, daya beli masyarakat dan swasta nasional masih sangat lemah. Waktu itu, sebuah instalasi komputer dapat berharga jutaan dollar, menempati ruangan yang besar, serta membutuhkan listrik dan pendinginan yang besar. Teknologi komunikasi data pada saat tersebut bekisar antara 50 &#8211; 300 baud. Jika merunut angka sejarah, TI Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupannya pada dekade 1980-an. Satu persatu sejumlah nama yang membawa segala hal berbau computer atau TI mulai bermunculan. Inilah sejumlah nama yang berhasil dihimpun.<br />
<strong><br />
Jusuf Randy, Pakar Komputer Pertama </strong></p>
<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/09/Jusuf-Randy.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-2588" title="Jusuf Randy" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/09/Jusuf-Randy.jpeg" alt="Jusuf Randy" width="165" height="171" /></a>Jusuf Randy alias Mang Ucup, lahir di Bandung, 19 Juli 1942 dengan nama Nio Tjoe Siang. Dulu kala di kampungnya ia lebih dikenal dengan nama Tompel, sedangkan di Eropa dengan nama Robert TS Nio. Dia sempat dikenal sebagai pakar komputer pertama dan “juragan” komputer pertama di Indonesia. Kepiawaiannya di bidang komputer membuatnya menjadi pelopor lembaga pendidikan komputer pertama di Indonesia dengan nama Lembaga Pendidikan Komputer Indonesia-Amerika (LPKIA).</p>
<p>Prinsip hidup &#8220;Hari ini harus lebih dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini,&#8221; dijadikan landasan untuk meraih yang terbaik dan terbesar. Hingga akhirnya Jusuf berhasil membangun kerajaan bisnis dan dijuluki juragan komputer pada masanya.</p>
<p>Mulanya Jusuf bekerja sebagai programmer, kemudian jadi &#8220;Programming Manager&#8221;, yang semuanya ia pelajari sendiri dari buku. Sehingga akhirnya orang mengenalnya sebagai &#8220;dukun komputer&#8221;, sebab hampir tiap permasalahan, ia selalu tahu penyelesaiannya.</p>
<p>Jusuf pernah membangun bisnis di Jerman, kemudian berpindah ke Inggris, dan bekerja di Rank Xerox sebagai System Analyst sampai ke Amerika Serikat dimana ia bekerja di IBM. Saat itu IBM merupakan perusahaan komputer nomor wahid dunia. Di IBM, dia bekerja sebagai Sotware Manager, dan akhirnya berpindah lagi jadi direktur di perusahaan German Data Communication.</p>
<p>Kini ia pun memiliki lembaga pendidikan komputer yang termasuk salah satu terbesar di Indonesia bernama LPKIA. Pertama kali didirikan tahun 1980-an di Bandung dan di Jakarta, LPKIA dahulu kerap disebut-sebut sebagai lembaga pendidikan komputer modern pertama di Indonesia, sebelum kemunculan berbagai perguruan tinggi yang menawarkan disiplin TI. Jusuf Randy sekarang memilih tinggal di Belanda dan menjadi warga negara Kincir Angin tersebut.<br />
<strong><br />
Jos Luhukay, Pendiri Fakultas Ilmu Komputer</strong></p>
<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/09/Josh-Luhukay.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2589" title="Josh Luhukay" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/09/Josh-Luhukay-300x187.jpg" alt="Josh Luhukay" width="240" height="150" /></a>Bernama lengkap Joseph Fellipus Peter Luhukay, kelahiran Jakarta, 18 Desember 1946 ini mengawali karir sebagai staf Pusat Ilmu Komputer Universtias IndonesiaI (1972), hingga menjadi staf ahli sejumlah menteri, konsultan di sejumlah bank dan perusahaan swasta, serta menjadi dosen. Dari situ karirnya terus menanjak sebagai Kepala Laboratorium Komputer, Arsitektur dan Desain, Pusat Antaruniversitas untuk Ilmu Komputer, UI (1985) serta Kepala Program Pascasarjana bidang Komputer dan Ilmu Informasi UI (1985).</p>
<p>Pada 1980, Jos Luhukay memperdalam ilmu komputer di University of Illinois di Urbana Champaign, Amerika Serikat hingga memperoleh gelar Ph. D. (1983). Sekembalinya dari Amerika Serikat, ia mendirikan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI). “Saya menilai, perkembangan TI 99,9 % terletak di negara maju, sementara Indonesia hanya menjadi negara pemakai. Itulah yang membuat saya terdorong mendirikan Fakultas Ilmu Komputer waktu itu,” kata Jos.</p>
<p>Lantaran kerja ahli TI dianggap tukang, ia menyempatkan diri mengambil Ph. D. bidang Bussiness Administration, di universitas yang sama. Kedekatannya kepada ekonomi secara praktis bermula karena seringnya ia mengikuti rapat pengambilan keputusan pada Bank Niaga, tempat ia bekerja saat itu. “Sampai-sampai saya mengalami pembelokan bidang, memimpin masyarakat pasar modal, kemudian menjadi ketua pelaksana Prakarsa Jakarta yang sama sekali tidak ada TI-nya,” kenang dia. Itulah titik balik ia menjadi pakar ekonomi sekaligus salah seorang tokoh penting TI Indonesia.</p>
<p>TI yang dikuasainya memang bukan ilmu yang mandeg, tapi suatu disiplin ilmu yang hingar-bingar dengan teknologi yang cepat silih berganti. Dari situ Jos memiliki obsesi besar, agar bangsa ini pada abad 21 memiliki akses yang sama terhadap TI. Ia juga mengajak semuanya berpikir mengatasi imbas dari TI. “Bayangkan segala sesuatunya dapat dilakukan tanpa meninggalkan rumah, sehingga ikatan-ikatan sosial bisa pudar,” cetusnya.</p>
<p>Selain Jos Luhukay, di lingkungan UI, TI dirintis seorang dosen dari Fakultas Kedokteran, yaitu Indro S. Suwandi, yang meninggal dunia pada 1986. Menurut catatan Wikibooks Indonesia, almarhum Indro Suwandi mendirikan Pusat Ilmu Komputer (Pusilkom) UI pada 1972 hanya dengan modal semangat dan idealisme. Almarhum, kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka yang memperkenalkan teknologi ini, baik di kalangan perguruan tinggi maupun industri.</p>
<p>Pada masa ini pula mulai dikirim 6 staf Pusilkom UI ke Amerika Serikat untuk studi lanjutan. Alumni Fakultas Teknik UI, Jos Luhukay, diantaranya dikirim ke Universitas Illinois di Urbana-Champaign (UIUC). Jos lah yang pertama mengenal teknologi internet ketika sedang melakukan berada di UIUC, dan kemudian memperkenalkannya ke Indonesia.</p>
<p>Pada awal 1980-an, Pusilkom memperoleh sebuah komputer super mini Data General MV/8000 berbasis AOS/VS. Ke-32 terminal serial/current loop dari super mini tersebut menyebar di beberapa gedung kampus Salemba, sehingga dapat dikatakan merupakan cikal bakal jaringan kampus UI.</p>
<p>Jaringan ethernet UI mulai dibentuk ketika Jos memperoleh gelah Ph.D pada tahun 1982. Seiring dengan kepulangan ke Tanah Air pada 1983, Jos membawa oleh-oleh seperangkat komputer unix &#8220;Dual Systems 83/20&#8243; berbasis Motorola 68000, serta server terminal ethernet &#8220;NTS&#8221; berbasis Intel 80186. Kehadiran kedua perangkat ini menandai dimulainya dua era sekaligus: &#8220;Networking&#8221; dan &#8220;Unix&#8221;. Pada saat itu, di Pusilkom UI juga terdapat sejumlah komputer mikro Apple, serta sebuah IBM XT asli.</p>
<p><strong>Budiono Darsono, Pendiri Portal Berita </strong></p>
<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/09/Budiono-Darsono.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-2591" title="Budiono Darsono" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/09/Budiono-Darsono.jpeg" alt="Budiono Darsono" width="236" height="174" /></a>Pemimpin Redaksi Detikcom, Budiono Darsono memulai karier sebagai wartawan di Koran Surabaya Post, lalu ke Majalah Tempo. Bersama beberapa teman-teman dari Tempo menggarap harian Berita Buana untuk manajemen baru, lalu menjadi Redaktur Pelaksana Tablod Detik versi <strong>Eros Djarot</strong>, pernah sebulan menjadi Eksekutif Editor Liputan6 SCTV lalu bersama <strong>Abdulrahman</strong>, <strong>Didi Nugrahadi</strong> dan <strong>Yayan Sopyan</strong> mendirikan Detik.com.</p>
<p>Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 1 Oktober 1960 ini adalah arsitek berdirinya situs Detikcom. Merintis Detikcom sejak 9 Juli 1998 lalu, setelah meluncurkan perusahaan yang bergerak di bidang internet, yakni Agrakom. Pertimbangannya waktu itu sangat praktis: masyarakat cenderung tidak sabar menunggu informasi dari koran pagi, atau liputan siang di televisi. Karenanya, kehadiran media online yang mampu menyajikan berita cepat dengan jangkauan global bisa menjadi sebuah solusi.</p>
<p>Sebagai “makluk baru” pada jaman Orde Baru, Detikcom memang tak bisa langsung dikenal dan diterima. &#8220;Modal saya hanya tiga: semangat, tape recorder, dan handy talkie,&#8221; kenang Budiono. Inilah yang membuat Budiono harus kerja siang malam untuk menset-up banyak hal pada mainan barunya itu. Mulai dari karakter wartawan agar cakap dalam membuat breaking news hingga membuat organisasi yang ramping tapi berpotensi. Juga harus menggeser imej publik bahwa sajian Detikcom bukanlah berita-berita gosip, seperti imej yang kadung melekat pada internet.</p>
<p>Hasilnya? Situs berita digital ini telah menjelma menjadi raksasa media maya di Indonesia hingga melahirkan banyak “pengekor.” Wartawannya yang semula hanya berjumlah satu-dua, kini telah membengkak menjadi ratusan orang.</p>
<p>(Bersambung ke Bagian 2)</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=2585&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/09/19/para-perintis-ti-indonesia-bagian-1.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 Tahun Silam, Kini Internet Sehat Rakyat Diakui Internasional</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/06/22/7-tahun-silam-kini-internet-sehat-rakyat-diakui-internasional.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/06/22/7-tahun-silam-kini-internet-sehat-rakyat-diakui-internasional.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 05:07:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=2254</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pengakuan dan pujian diberikan oleh sejumlah peneliti dan aktifis bidang ICT (Information and Communication Technology) sesaat ketika saya usai memaparkan presentasi tentang penelitian perkembangan pemanfaatan media baru (Internet) dan kaitannya dengan kebebasan berekspresi di Indonesia. Salah satu poin yang saya&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2255" title="internetsehat-dalam" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/06/internetsehat-dalam.jpg" alt="internetsehat-dalam" width="285" height="400" />Pengakuan dan pujian diberikan oleh sejumlah peneliti dan aktifis bidang ICT (Information and Communication Technology) sesaat ketika saya usai memaparkan presentasi tentang penelitian perkembangan pemanfaatan media baru (Internet) dan kaitannya dengan kebebasan berekspresi di Indonesia. Salah satu poin yang saya paparkan adalah gerakan advokasi Internet Sehat versi rakyat (<a href="www.internetsehat.org">www.internetsehat.org</a>) yang pro pada kebebasan berekspresi di Internet secara aman dan bijak, dengan pendekatan self-censorship dan pemberdayaan masyarakat.</p>
<p>Pengakuan dari internasional tersebut terjadi belum lama berselang, ketika saya mengikuti workshop khusus bagi para peneliti dan aktifis ICT se-Asia dalam lingkup OpenNet Initiative (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/OpenNet_Initiative">http://en.wikipedia.org/wiki/OpenNet_Initiative</a>) di Wawasan Open University, Penang, Malaysia, pada Senin (15/5/2009) hingga Rabu (17/6/2009). Ini adalah workshop putaran yang ketiga, setelah  pada pertengahan tahun lalu putaran keduanya juga saya ikuti di Chiang Mai, Thailand.</p>
<p>Khusus pada putaran ketiga ini, Indonesian ICT for Partnership (ICT Watch) bersinergi dengan dunia akademis dengan mengundang <strong>Akbar Marwan</strong> dari Universitas Gunadarma (<a href="http://www.gunadarma.ac.id">http://www.gunadarma.ac.id</a>) yang turut aktif berperan menyuarakan kepentingan dan keberhasilan Indonesia dalam workshop tersebut.</p>
<p>Menurut para wakil dari negara sahabat tersebut, program Internet Sehat versi rakyat tersebut adalah contoh yang unik dan inspiratif tentang bagaimana program advokasi kepada publik dilakukan dengan menggunakan sejumlah media baru (facebook, blog, crowdvine) digabungkan dengan kegiatan-kegiatan offline seperti workshop dan seminar, dan juga dilengkapi dengan ketersediaan booklet panduan dalam bentuk hardcopy maupun softcopy, merchandise hingga lomba blog sehat untuk meningkatkan awareness publik.</p>
<p>Blessing in disguise, Indonesia mendapatkan jadwal sesi paling akhir bersama Filipina, pada hari terakhir, setelah dua hari sebelumnya sejumlah peneliti dari negara lain di Asia memaparkan presentasinya. &#8220;Your presentation is the most interesting one so far,&#8221; demikian  pujian yang disampaikan oleh India.</p>
<p>Usai presentasi, sejumlah peneliti langsung meminta dikirimkan via e-mail materi presentasi Indonesia tersebut. &#8220;Saya akan coba kembangkan cara-caranya menjalankan advokasi (ala Internet Sehat) di negara saya,&#8221; cetus salah satu wakil dari negara lain.</p>
<p>Workshop OpenNet Initiative itu sendiri dihadiri oleh peneliti dan aktivis ICT dari Universitas Toronto Kanada, Sekolah Hukum Harvard Amerika, Universitas Oxford Inggris dan Universitas Cambridge Inggris. Keempat perguruan tinggi kenamaan tersebut adalah penggagas kegiatan OpenNet Initiative yang didanai oleh negara Kanada melalui lembaga International Development Research Centre (IDRC).<br />
<strong><br />
Tujuh Tahun</strong><br />
Pada tulisan ini sengaja saya tekankan kata &#8220;rakyat&#8221; hanyalah sekedar untuk memberikan garis tegas yang membedakan program advokasi Internet Sehat yang berbasiskan pemberdayaan masyarakat dengan program dengan nama sejenis yang kini mulai marak digulirkan baik oleh swasta maupun pemerintah. Pasalnya, kini mulai banyak yang bertanya, apa bedanya Internet Sehat yang satu dengan yang lainnya.</p>
<p>Sekedar menyampaikan catatan sejarah, istilah Internet Sehat pada awalnya saya cetuskan pada sekitar 7 tahun silam, tepatnya pada 2002. Salah satu kegiatan awal memperkenalkan program Internet Sehat ke publik secara luas adalah pada 29 April 2002, dengan meluncurkan situs resmi dan brosur hardcopy Internet Sehat edisi perdana (baca: <a href="http://www.mail-archive.com/komunitas@sekolah2000.org/msg00703.html">http://www.mail-archive.com/komunitas@sekolah2000.org/msg00703.html</a>).</p>
<p>Bahkan sebulan sebelum peluncuruan tersebut, ICT Watch telah memulai gerakan ber-Internet Sehat dengan bentuk advokasi offline kepada Majelis Ulama Indonesia pada 13 Maret 2002 (baca: <a href="http://www.mail-archive.com/komunitas@sekolah2000.org/msg00563.html">http://www.mail-archive.com/komunitas@sekolah2000.org/msg00563.html</a>). Sebelumnya, pada 10 Maret 2002, untuk kali pertama saya meluncurkan draft ide/gagasan tentang 5 (lima) langkah program advokasi Internet Sehat (baca: <a href="http://www.mail-archive.com/komunitas@sekolah2000.org/msg00552.html">http://www.mail-archive.com/komunitas@sekolah2000.org/msg00552.html</a>).</p>
<p>Dari arsip diskusi di atas, dapatlah menjadi gambaran bagaimana sebenarnya visi-misi dari program advokasi Internet Sehat versi rakyat yang pertama kali dicanangkan dan dijalankan oleh ICT Watch sejak 2002 silam. Jelas bahwa program advokasi Internet Sehat yang diusung oleh ICT Watch adalah &#8220;mengedepankan kebebasan berekspresi di Internet secara aman (safely) dan bijak (wisely), dengan pendekatan self-censorship dan pemberdayaan masyarakat&#8221;.<br />
<strong><br />
Bottom-Up</strong><br />
Jadi ketika ada program atau kegiatan yang mengusung nama Internet Sehat&#8221; tetapi pendekatannya adalah mutlak melulu soal filtering total di level ISP atau bersifat top-down (perintah/kewajiban), atau sekedar membuat acara/program seremonial belaka, maka sudah jelas program atau kegiatan tersebut &#8220;mendurhakai&#8221; atau &#8220;menciderai&#8221; semangat awal Internet Sehat tahun 2002. Atau setidaknya, dapat dkatakan bahwa program atau kegiatan tersebut bukanlah Internet Sehat dengan pendekatan bottom-up yang merakyat.</p>
<p>Ini bukan berarti ICT Watch ingin mengklaim sepenuhnya gerakan advokasi Internet Sehat. Justru sebaliknya, ICT Watch tidak ingin Internet Sehat diklaim oleh segelintir orang atau golongan saja sebagai hasil karyanya atau keberhasilannya. Sebab tanpa adanya semangat dan partisipasi dari masyarakat luas, program Internet Sehat hanyalah slogan semata sejak 2002 silam. Dalam kegiatannya, khususnya Internet Sehat, ICT Watch selalu melibatkan sebanyak mungkin pihak-pihak terkait, entah itu dari pemerintah, swasta ataupun masyarakat sendiri.</p>
<p>ICT Watch sendiri sudah menganggap bahwa istilah Internet Sehat sudah cukup popular di masyarakat dan sudah saatnya menjadi public domain. Keberhasilan atas awareness yang dibangun sejak 7 tahun silam tersebut tentu lantaran peran aktif seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).</p>
<p>Setelah Internet Sehat kini menjadi populer dan dikenal cukup luas, maka peran ICT Watch berikutnya adalah menjaga agar kemurnian semangat (spirit) dan jiwa (soul) Internet Sehat tetap tegak terjaga sebagaimana dilahirkan 7 tahun lalu, dengan meminimalisir kemungkinan di-&#8221;manfaatkan&#8221; atau disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu. Salah satu penyalahgunaan tersebut misalnya untuk keperluan sekedar mendapatkan proyek ini-itu berkedok sosialisasi, untuk kepentingan pribadi atau segelintir kelompok tertentu, dengan seolah-olah peduli dan paham semangat mendasar dari Internet Sehat.</p>
<p><strong>Dilindungi</strong><br />
Untuk menjaga kemurnian Internet Sehat itulah, maka ICT Watch sebagai pencetus awal nama, konsep dan ide Internet Sehat,  telah mendaftarkan secara resmi hak cipta dan hak paten atas penggunaan &#8220;Internet Sehat&#8221; ke Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual (Ditjen HaKI). Meskipun demikian, untuk berbagai bentuk penggunaan kata, istilah ataupun konten Internet Sehat bagi kegiatan sosialiasi dan advokasi oleh siapapun, ICT Watch akan menggunakan pendekatan &#8220;Creative Common License&#8221; (baca: http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0), dengan lisensi Rp 0,- (nol rupiah), alias tidak berbayar sepeserpun untuk lisensi penggunaannya.</p>
<p>Intinya, kata, istilah maupun konten Internet Sehat dapat digunakan oleh siapapun secara luas tanpa terkecuali asalkan: 1). tetap menyebutkan sumber asalnya (ICT Watch) secara jelas dan proporsinal dalam setiap penggunaan, serta 2). setiap penggunaan harus tetap mengacu pada semangat dan jiwa Internet Sehat yang dicanangkan pada 2002. Jika salah satu atau kedua hal tersebut tidak dipenuhi syaratnya, maka Creative Common License tadi tidak dapat diberlakukan. Pastinya hak atas kekayaan intelektual atas &#8220;Internet Sehat&#8221; dilindungi oleh undang-undang.</p>
<p>Posisi dan sikap ICT Watch atas Internet Sehat tersebut di atas sudah didiskusikan langsung kepada Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), sebagai salah satu pihak yang juga menggulirkan program dengan nama serupa, &#8220;Internet Sehat&#8221; berlandaskan pada SK Menkominfo No. 28/KEP/M/Kominfo/1/2009 tentang Tim Sosialisasi Internet Sehat.</p>
<p>Risalah diskusi antara ICT Watch dan pihak Depkominfo tersebut dapat dibaca di <a href="http://ictwatch.com/internetsehat/2009/02/16/internet-sehat-antara-ict-watch-dan-depkominfo-notulen-diskusi">http://ictwatch.com/internetsehat/2009/02/16/internet-sehat-antara-ict-watch-dan-depkominfo-notulen-diskusi</a>.</p>
<p><strong>Relawan Sehat</strong><br />
Jadi, kini tak perlu ragu lagi untuk menggunakan ataupun menjalankan program Internet Sehat secara swadaya masyarakat. Seluruh konten Internet Sehat dapat diunduh di <a href="http://ictwatch.com/internetsehat/download-materi-internet-sehat">http://ictwatch.com/internetsehat/download-materi-internet-sehat</a> dan silakan digunakan sesuai dengan semangat Internet Sehat 2002 silam, yakni: &#8220;mengedepankan kebebasan berekspresi di Internet secara aman (safely) dan bijak (wisely), dengan pendekatan self-censorship dan pemberdayaan masyarakat&#8221;.</p>
<p>Untuk mendukung kegiatan Internet Sehat tersebut, kini ICT Watch tengah membangun &#8220;Lab Komputer Sehat&#8221;, lagi-lagi dengan mengedepankan semangat dari-oleh-untuk masyarakat. Pembangunan Lab Sehat ini juga menjadi salah satu poin yang saya presentasikan di Penang.</p>
<p>Lab tersebut diberi nama Lab Komputer Sehat, karena:</p>
<p>* Sehat sistem operasi dan aplikasinya, karena menggunakan sistem operasi ataupun piranti lunak yang legal (bukan bajakan)<br />
* Sehat (rencana) program pelatihannya, karena diharapkan materinya mendorong kebebasan berekspresi yang aman dan nyaman di Internet<br />
* Sehat semangatnya, karena didorong pada keinginan untuk berbagi pengetahuan yang aplikatif secara non-profit dari-oleh-bagi masyarakat</p>
<p>Jika sudah berjalan, sejumlah kegiatan-kegiatan nantinya akan mengusung tema &#8220;Open Community for Open Knowledge&#8221;, melibatkan siapapun yang ingin menjadi relawan &#8220;sehat&#8221; (pengajar, pengembang program/komunitas, dll), sponsor ataupun aneka bentuk dukungan lainnya. Jika ingin lebih tahu tentang lab tersebut atau ingin turut berpartisipasi dalam mengembangkannya melalui berbagai jenis pemikiran dan karya, silakan baca informasinya di <a href="http://ictwatch.com/internetsehat/2009/04/01/pembangunan-lab-komputer-sehat">http://ictwatch.com/internetsehat/2009/04/01/pembangunan-lab-komputer-sehat</a>.</p>
<p>Untuk itu, segeralah bergabung dengan komunitas Internet Sehat di Facebook (<a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=51509636319">http://www.facebook.com/group.php?gid=51509636319</a>) ataupun di CrowdVine (<a href="http://internetsehat.crowdvine.com">http://internetsehat.crowdvine.com</a>), dan kumandangkan semangat &#8220;wise while online, think before you posting!&#8221;.</p>
<p>*) <em><strong>Donny B.U</strong></em>. <em>adalah penggiat Internet Sehat. Dapat dihubungi melalui blognya di <a href="http://www.donnybu.com">http://www.donnybu.com</a></em></p>
<p><em>Keterangan foto:<br />
- Atas: Sejumlah brosur dan booklet Internet Sehat dari masa ke masa, dari edisi 2002 (kiri atas) hingga edisi 2008 (tengah bawah)<br />
- Tengah: Mahasiswa D3 Teknik Komputer Universitas Gunadarma sedang menyiapkan komputer layak pakai sumbangan PT Petrosea Tbk. di garasi ICT Watch untuk Lab Komputer Sehat<br />
- Bawah: Salah satu acara talkshow Internet Sehat didukung oleh Majalah Biskom, XL-CSR dan detikINET menghadirkan Onno Purbo (Pakar Internet), Febriati Nadira (XL) dan Lola Amaria (Pekerja Seni dan Film)</em></p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=2254&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/06/22/7-tahun-silam-kini-internet-sehat-rakyat-diakui-internasional.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebutuhan Standar Dokumen Bagi Pemerintah</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/01/28/kebutuhan-standar-dokumen-bagi-pemerintah.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/01/28/kebutuhan-standar-dokumen-bagi-pemerintah.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 07:59:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Google Docs]]></category>
		<category><![CDATA[OpenOffice]]></category>
		<category><![CDATA[Sun Microsystems]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1750</guid>
		<description><![CDATA[<p>Peradaban manusia saat ini tidak terlepas dari penggunaan komputer oleh sebagian besar penduduk dunia dan di hampir semua bidang. Pada umumnya penggunaan komputer di sektor pemerintahan, swasta, maupun masyarakat dimanfaatkan sebagai alat bantu kerja. Meluasnya pemakaian komputer tersebut menyebabkan kegiatan &#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1751" title="inspiration1" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/01/inspiration1-300x199.jpg" alt="inspiration1" width="300" height="199" />Peradaban manusia saat ini tidak terlepas dari penggunaan komputer oleh sebagian besar penduduk dunia dan di hampir semua bidang. Pada umumnya penggunaan komputer di sektor pemerintahan, swasta, maupun masyarakat dimanfaatkan sebagai alat bantu kerja. Meluasnya pemakaian komputer tersebut menyebabkan kegiatan  digitalisasi menjadi semakin marak,  berbagai  data/informasi, lagu  dan video dapat terkumpul secara elektronik,  dalam  format Compact Disc – MPEG-1 Audio Layer III (MP3) dan (MP4)  juga media  elektronik lainnya. Dengan demikian, tahapan kemajuan suatu peradaban  yang telah dihasilkan oleh manusia ribuan tahun lalu, dapat ditelusuri melalui “dokumen” yang ada.</p>
<p>Perbedaan utama dari dokumen dalam era digital adalah bentuknya yang tidak lagi fisik semata. Komputer memungkinkan data/informasi dapat disimpan secara elektronik ke dalam database,  file elektronik dan direkam dalam tape magnetik, disk dan sebagainya. Ini adalah sebuah revolusi besar dalam teknologi “dokumentasi”. Dokumen atau informasi yang terdapat dalam dokumen tidak lagi dalam bentuk fisik,  sehingga  tidak dapat dibaca secara langsung. Jika semula  dokumen elektronik masih dicetak di atas kertas,  dengan penggunaan komputer,  email dan internet menjadi lebih banyak dipilih, sehingga semakin banyak pula dokumen yang tidak dibuat dalam bentuk cetak. Dan dokumen yang beralih ke dalam bentuk elektronik, tidak hanya terbatas pada dokumen baru, tetapi juga pada  dokumen lama yang saat ini mulai dikonversi ke dalam format digital. Kindle, sebuah proyek ambisius dari Amazon.com, menyediakan alat baca untuk buku elektronik (e-book).. seperti halnya  &#8216;Google Books Library Project&#8217; yang bekerjasama dengan beberapa perpustakaan utama untuk mengkonversi buku-buku ke dalam format digital.</p>
<p><strong>Digitalisasi dan sejarah</strong></p>
<p>Dengan banyaknya dokumen yang terdigitalisasi, akan mempunyai arti penting dalam sejarah. Peradaban dan kebudayaan manusia, dan masyarakat serta pemerintah memperoleh kemudahan dalam mengakses dokumen. Berbagai dokumen pemerintah seperti undang-undang, surat kepemilikan tanah, dan sebagainya yang telah berusia ratusan tahun  menjadi mudah untuk dapat diakses. Terkait dengan pentingnya suatu dokumen/informasi bagi perkembangan peradaban manusia, format penyimpanan menjadi suatu masalah yang mempunyai arti penting.  Untuk itu standarisasi atas format dokumen sangat diperlukan. Dari sekian banyak format dokumen yang ada, pemerintah dirasa perlu menentukan secara arif dan bijaksana, format dokumen mana yang akan dijadikan standar untuk digunakan oleh instansi pemerintah . Pilihan standar yang dipakai pemerintah nantinya akan mempengaruhi standar  yang digunakan masyarakat.</p>
<p>International Organization for Standardization (ISO). saat ini tengah menjadi pusat perhatian. Berbagai standar  untuk pembuatan dan pertukaran dokumen yang dibuat dari aplikasi perkantoran telah banyak dibuat. Dengan standar tersebut, memungkinkan dokumen untuk dibuat oleh satu aplikasi dan dapat dimengerti oleh aplikasi lain. Sebagai contoh:  suatu laporan bisnis yang dibuat dengan menggunakan Microsoft Word di atas sistem operasi Windows, dimungkinkan untuk dirubah oleh orang lain yang menggunakan Pages pada Apple Mac dan kemudian finalisasi dari dokumen tersebut dilakukan oleh seseorang yang menggunakan Open Office Writer di atas Linux.</p>
<p>Dari berbagai format dokumen tersebut, terdapat format yang sudah diadopsi sebagai standar internasional oleh ISO  untuk format file pertukaran dokumen yaitu Portable Document Format (PDF), adalah sebuah format file bentuk digital yang diciptakan oleh Adobe Systems pada tahun 1993. Digunakan untuk membaca dan pertukaran dokumen elektronik. PDF bersifat independen terhadap aplikasi perangkat lunak, perangkat keras dan sistem operasi. PDF sebagai standar terbuka secara resmi dipublikasikan oleh ISO pada 1 Juli 2008 dengan kode  ISO 32000-1:2008. Sedangkan untuk format dokumen yang bisa diedit adalah terdapat dua standar, yaitu Open Document Format dan  Office Open Extensible Mark Up Language (OOXML).</p>
<p>Salah satu standard ISO yang digunakan untuk pembuatan dokumen yang dapat diedit adalah Open Document Format(ODF), yaitu sebuah format file untuk dokumen elektronik perkantoran seperti dokumen teks, spreadsheet, grafik, presentasi dan pengolah kata. Ekstensi nama file yang digunakan ODF untuk jenis dokumen teks adalah *.odt; untuk jenis dokumen spreadsheet adalah *.ods; untuk jenis dokumen presentasi adalah *.odp dan untuk dokumen bentuk grafis memiliki ektensi *.odg. Standard ini pada mulanya dikembangkan oleh Sun Microsystems Inc, kemudian diadopsi oleh organisasi OASIS (Organization for the Advancement of Structured Information Standards) sebagai salah satu standard terbuka. Pada bulan Mei 2006, ODF secara bulat disetujui untuk diadopsi sebagai standar internasional oleh ISO dan IEC (The International Electrotechnical Commission) dengan kode ISO/IEC 26300:2006.</p>
<p><strong>Open document</strong></p>
<p>Sejak resmi menjadi standar internasional, banyak negara telah mengadopsi ODF. Pengadopsian ODF oleh beberapa negara cukup bervariasi, antara lain menjadikannya sebagai satu-satunya standar dan wajib diimplementasikan; Merekomendasikan tapi tidak mewajibkan; Menjadikannya sebagai standar dalam kerangka interoperabilitas aplikasi pemerintahan; Mewajibkan penggunaan standar hanya dalam batas negara bagian ataupun instansi pemerintahan tertentu; dan ada yang mewajibkan dengan memberikan panduan untuk migrasi dalam jangka waktu tertentu.Beberapa negara yang telah mengadopsi ODF dalam pengelolaan dokumen, antara lain: Argentina, Australia, Austria, Belgium, Brazil, China, Croatia, Czech Republic, Denmark, Finland, France, Germany, Hong Kong, India, Italy, Japan, Korea, Libya, Malaysia, Netherlands, Norway, Russia, South Africa, Spain, Switzerland, UK, USA, dan Venezuela.</p>
<p>Beberapa aplikasi perkantoran yang mendukung ODF antara lain OpenOffice yang merupakan referensi implementasi untuk ODF, StarOffice, varian dari OpenOffice, versi komersial dari Sun Microsystems, Koffice, Google Docs &amp; Spreadsheet dan banyak lagi.  Disisi lain, pada bulan Mei 2008, Microsoft sebagai salah satu produsen software perkantoran terbesar mengumumkan bahwa Microsoft Office 2007, Service Pack 2 akan mendukung ODF secara native. Microsoft akan memberikan opsi untuk menjadikan ODF 1.1 dan juga PDF sebagai default format, baik melalui installer maupun melalui opsi setting. Sementara itu dukungan terhadap format yang diciptakan mereka sendiri, ISO 29500, tidak akan diimplementasikan sampai dengan versi baru, yaitu Office 14 diluncurkan.</p>
<p>Standard lain yang telah diadopsi oleh ISO untuk pembuatan dokumen adalah OOXML dengan kode ISO/IEC DIS 29500. OOXML atau sering disebut OpenXML merupakan suatu format file untuk merepresentasikan dokumen spreadsheet, presentasi, chart dan word. Sebuah file OOXML terdiri dari file berbasis XML yang dikompres kedalam suatu paket yang terkompresi (ZIP). Ekstensi nama file yang digunakan untuk OOXML adalah *.docx untuk jenis dokumen teks; *.xlsx untuk dokumen bentuk spreadsheet; dan *.pptx untuk jenis dokumen presentasi.</p>
<p><strong>Format dokumen</strong></p>
<p>Melihat pentingnya arti  suatu dokumen, baik untuk masa kini maupun yang akan datang, maka pemerintah perlu untuk menentukan format dokumen yang akan digunakan. Beberapa landasan pemikiran yang mendasari penetapan suatu format dokumen antara lain:</p>
<ol>
<li>Dampak terhadap pelayanan masyarakat/publik. Dengan semakin berkembangnya aplikasi e-Government, baik antar instansi pemerintahan (G to G) maupun antara instansi pemerintah ke masyarakat (G to C dan G to B), format dokumen yang dipergunakan oleh pemerintah akan mempengaruhi aplikasi yang digunakan oleh masyarakat untuk mengakses suatu dokumen. Lebih lanjut perlu memberi pilihan aplikasi yang akan digunakan dan menjamin apapun  jenis komputer yang dimiliki konsumen/pengguna tetap dapat saling saling berinteraksi satu dengan yang lain. Namun apabila pemerintah menetapkan penggunaan format dokumen dengan sistem operasional proprietary, maka masyarakat wajib membeli aplikasi proprietary  relatif mahal, untuk mendukung penggunaan legal.</li>
<li>Berbagai Aplikasi Perkantoran menggunakan format yang berbeda dan tidak kompatibel. Keadaan ini akan menyulitkan dalam pertukaran dokumen, seperti dokumen tidak terbaca, tampilan tidak sempurna, perlunya mengkonversi dokumen  bahkan mengakibatkan isi dokumen menjadi tidak lengkap.</li>
<li>Kompatibilitas dan keberlangsungan dokumen. Untuk memastikan bahwa format dokumen tetap dapat diakses secara lengkap di masa datang, pilihan suatu format dokumen yang hanya didukung oleh satu vendor sangat berisiko, Hal ini  terkait dengan keberadaan vendor yang belum tentu ada, sebagai contoh: aplikasi Wordstar, sebuah aplikasi pengolah dokumen yang paling terkenal di masa yang lalu, saat ini sudah tidak ada lagi. Dengan demikian, adanya penggunaan suatu standar memungkinkan banyak vendor yang mengimplementasikan format tersebut. Kalaupun vendor-vendor tersebut sudah tidak ada, spesifikasi yang dipublikasikan masih dimungkinkan secara mudah dibuat aplikasi baru sehingga format tersebut  tersebut dapat terbaca. Dengan kata lain, interoperabilitas antar dokumen yang dihasilkan secara  langsung mendapat jaminan dari pemilihan standard, dan dokumen yang dibuat dengan satu produk pada suatu komputer tetap bisa digunakan pada produk dan komputer yang berbeda.</li>
<li>Pertimbangan ekonomi. Pertimbangan biaya berupa ongkos total yang harus dikeluarkan, seperti: biaya pembelian perangkat lunak, perawatan, biaya pelatihan, biaya yang harus dikeluarkan apabila ingin beralih ke aplikasi lain (cost of exit), dan sebagainya. Jelas disini bahwa biaya mengakses suatu dokumen oleh masyarakat harus terjangkau. Selain itu perlu dipertimbangkan pula terciptanya peluang ekonomi bagi masyarakat, baik dalam sektor perdagangan maupun dalam segi pengembangannya, perawatan dan pelatihan aplikasi yang digunakan.</li>
<li>Faktor keamanan. Semakin tertutup sebuah standar, semakin susah untuk mendeteksi apa yang ada di dalam spesifikasi standar tersebut. Hal ini sangat memungkinkan bila ada kode tertentu yang dimasukkan ke dalam spesifikasi  sdttersebut. Ini berlaku tidak hanya terhadap format dokumen, tetapi juga pada aplikasi, sistem operasi yang digunakan untuk mengakses dokumen, termasuk jaringan dan sebagainya. Sehingga bukan suatu hal yang berlebihan bila terdapat satu saja kelemahan dari suatu sistem yang digunakan akan menjadi celah untuk menembus keamanan suatu sistem komputer.</li>
</ol>
<p><strong>Kemal Prihatman</strong> &#8211; Asisten Deputi Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi, Kementerian Negara Riset dan Teknologi</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1750&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/01/28/kebutuhan-standar-dokumen-bagi-pemerintah.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Digitalisasi Perlindungan Dokumen Pemerintah</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/01/22/digitalisasi-perlindungan-dokumen-pemerintah.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/01/22/digitalisasi-perlindungan-dokumen-pemerintah.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 06:24:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ODF]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1739</guid>
		<description><![CDATA[<p>Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pencarian kembali dokumen penting di pemerintahan, diperlukan bantuan perangkat komputer baik software ataupun hardwarenya, sehingga dokumen dapat disimpan secara elektronik atau digital. Jadi, setiap saat dokumen tersebut diperlukan maka dengan mudah dapat ditampilkan dan dicetak.&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1740" title="inspiration" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/01/inspiration-300x199.jpg" alt="inspiration" width="300" height="199" />Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pencarian kembali dokumen penting di pemerintahan, diperlukan bantuan perangkat komputer baik software ataupun hardwarenya, sehingga dokumen dapat disimpan secara elektronik atau digital. Jadi, setiap saat dokumen tersebut diperlukan maka dengan mudah dapat ditampilkan dan dicetak. Namun dengan bervariasinya perangkat lunak yang digunakan untuk mengolah dokumen, dapat menghasilkan dokumen dengan format yang berbeda sehingga tingkat interoperabilitasnya menjadi masalah. Begitu juga tingkat keterbacaan dokumen menjadi sulit bahkan tidak dapat dibaca oleh software baru sekalipun.</p>
<p>Hal tersebut merupakan salah satu kondisi saat ini yang sedang dihadapi dan perlu solusi, kondisi lainnya adalah  (1) setiap orang, akademisi, pemerintah, bisnis dan berbagai komunitas berhubungan satu dengan lainnya, (2) kebutuhan untuk mengakses data dan domuken semakin tingi, (3) hampir setiap orang membutuhkan sumber dokumen dari rekan kerjanya, (4) tidak semua institusi menggunakan software yang sama, (5) tidak semua institusi menggunakan format yang sama, dan (6) tidak semua software dapat membuka format software lainnya.</p>
<p>Dengan memperhatikan kondisi tersebut diatas maka munncul permasalahan baru, antara lain (1) kesulitan mengakses dokumen orang lain, (2) kesulitan bekerjasama dengan organisasi lain, (3) kesulitan dalam pertukaran dokumen.</p>
<p>Kesulitan tersebut terjadi antara lain disebabkan oleh (1) format dokumen yang bergantung pada software tertentu saja, (2) software dibuat oleh vendor tententu, (3) spesifikasi format dokumen hanya diketahui vendor yang bersangkutan saja, (4) format dokumen sangat bergantung pada kebijakan vendor.</p>
<p>Muncul masalah lain yaitu jika vendor tidak lagi mendukung format lama dan pindah ke format baru maka ribuan bahkan jutaan dokumen dalam format lama  tidak terbaca. Jika vendor dan softwarenya sudah tidak eksis lagi maka dokumen yang bertahun-tahun lalu dengan format lama tidak dapat diakses.</p>
<p>Maka solusinya adalah (1) menggunakan format yang sama untuk semua software berjenis sama, (2) semua vendor dan publik tahu spesifikasi format dokumen yang dipakai, (3) spesifikasi format dokumen mudah dipahami dan diimplementasikan kapanpun diperlukan, (4) meneerapkan keberadaan open standard untuk format dokumen.</p>
<p>Mengapa harus open standard? Alasannya adalah utnuk (1) meningkatkan interoperabilitas, (2) menghindari adanya vendor lock-in, (3) menurunkan biaya peneluaran untuk rolayti, (4) mengendalikan kompetisi developer software, (5) memungkinkan adanya substitutiability, dan (6) kebebasan memilih aplikasi software.</p>
<p>Open standard mempunyai karakteristik berikut (1) ketersediaan semua spesifikasinya untuk dibaca dan diimplementasikan, (2) memaksimalkan pilihan aplikasi software, (3) tidak ada royalti, (4) tidak ada diskriminasi terhadap vendor tertentu, (5) dapat dikembangkan menjadi subset standar yang lain, (6) dapat diimplementasikan di berbagai negara, dan (7) spesifikasi yang terbuka untuk umum.</p>
<p>Keuntungan bila mengimplementasi format dokumen terbuka adalah (1) dapat menghindari adanya monopoli suatu vendor, (2) memberikan banyak pilihan, (3) format file benar-benar terbuka, sehingga untuk kedepannya software akan dapat selalu dikembangkan berdasarkan spesifikasi format dokumen yang jelas, (4) implementasi format dokumen sangatlah efektif dalam hal biaya, dikarenakan setiap aplikasi yang mengimplementasikannya akan menyediakan harga yang kempetitif, hal ini termasuk juga dalam solusi open source, sangat membantu para pengguna dengan tidak harus membeli software tertentu untuk dapat mengakses informasi yang diinginkan.</p>
<p>Kendala bila menggunakan format dokumen terbuka adalah (1) masa adaptasi, merupakan suatu hal baru untuk diimplementasikan seiring sebagian besar para pengguna yang sudah kompatibel dengan aplikasi software tententu, (2) turunnya tingkat produktifitas kinerja, dengan adanya permasalahan seperti dibutuhkannya adaptasi software yang terlalu lama makan akan menimbulkan dampat negatif yaitu akan turut menurunnya tingkat produktifitas kinerja.</p>
<p>Sebagai suatu gambaran bagaimana kebijakan di Luar negeri untuk mengadopsi format dokumen terbuka. Dimulai dengan adanya gagasan mengenai diperlukannya suatu format dokumen standar untuk pertukaran dokumen antar menteri/lembaga yaitu ODF (Open Docoment Format) sesuai ISO International Standard Organization) yang berlaku. Kemudian di bentuk Tim untuk mendiskusikan kriteria yang akan dijadikan standar format dokumen. Pengambilan keputusan dilakukan pemerintah untuk menggunakan ISO sebagai format dokumen dengan syarat bahwa kondisi pada saat menggunakan ODF harus kompatibel dengan sistem yang ada sebelumnya; tidak menutup kemungkinan terjadi perubahan kabijakan sejalan dengan perkembangan format ISO; perubahan implementasi harus membawa efek positif bagi pemerintahan.</p>
<p>Salah satu solusi untuk melindungi dokumen pemerintah adalah dengan menggunakan dokumen yang sama dengan mengacu pada format yang berlaku secara internasional. Misalnya untuk aplikasi perkantoran dapat menggunakan Open Document Format (ODF) yang sudah di sahkan oleh International Standard Organization (ISO) dan International Electrotechnical Commission (IEC) No. 26300 pada tanggal 3 Mei 2006. ODF mendukung pengambilan informasi dan pertukaran domuken tanpa harus berhubungan dengan aplikasi atau platform yang digunakan ketika membuat dokumen tersebut. Ekstensi format file untuk perkantoran ini meliputi .odt untuk format teks pada wordprocessing, .odp untuk format data presentasi, .ods format data untuk spreadsheet, .odg format data untuk grafik, dan .odf format data untuk formula persamaan matematika.</p>
<p>Penulis :<strong></strong></p>
<p><strong>Engkos Koswara</strong> (Staf Ahli Menristek Bidang TIK)<br />
<strong>Idwan Suardi</strong> (Deputi Menristek Bidang Pendayagunaan dan Pemanfaatan Iptek)<br />
<strong>Kemal Prihatman</strong> (Asisten Deputi Menristek Bidang Pengembangan dan Pemanfaatan TI)</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1739&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/01/22/digitalisasi-perlindungan-dokumen-pemerintah.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamera Internet Dengan Sensor Cahaya Dari D-Link</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/09/02/kamera-internet-dengan-sensor-cahaya-dari-d-link.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/09/02/kamera-internet-dengan-sensor-cahaya-dari-d-link.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 08:40:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[D-Link]]></category>
		<category><![CDATA[kamera internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=962</guid>
		<description><![CDATA[<p></p>
<p>D-Link International kemarin (1/9) meluncurkan kamera Securicam DCS-910 dan DCS 920 terbaru yang dilengkapi dengan kemampuan sensor sebesar 1.0 lux &#8211; yang dapat dipergunakan untuk merekam video dengan kondisi cahaya rendah. Dengan ciri bentuk tampilan baru yang lebih ramping dan&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/09/dcs-920-small1-149x300.jpg" alt="" title="dcs-920-small1" width="50%" class="alignnone size-medium wp-image-969" /></p>
<p>D-Link International kemarin (1/9) meluncurkan kamera Securicam DCS-910 dan DCS 920 terbaru yang dilengkapi dengan kemampuan sensor sebesar 1.0 lux &#8211; yang dapat dipergunakan untuk merekam video dengan kondisi cahaya rendah. Dengan ciri bentuk tampilan baru yang lebih ramping dan padat dari pendahulunya, D-Link DCS-910 dan wireless D-Link DCS-920 memungkinkan video Motion JPEG sampai dengan 30 frame per detik dapat ditayangkan di komputer.</p>
<p>&#8220;Dengan harga terjangkau, kedua kamera internet tersebut dilengkapi dengan sejumlah fitur yang mungkinkan para penggunanya untuk menginstal sistem kamera pengawas rumahan yang dapat bekerja dengan baik. Termasuk juga kemampuan sensor sebesar 1.0 lux dan kapabilitas untuk merekam video dengan resolusi 320 x 420 sampai dengan 30 frame per detik. Semua ini muncul dalam sebuah desain yang lebih baru dan ramping sehingga penginstalan di setiap sudut kecilpun lebih mudah,&#8221; jelas<strong> Desmond Toh</strong>, Direktur Marketing D-Link International.</p>
<p>Seri terbaru D-Link DCS-900 yang berwarna hitam tampil lebih bergaya sehingga memungkinkan kamera dapat terlindungi secara utuh oleh casing putih, tanpa ada bagian yang menonjol. Sebagai kamera internet level dasar namun dipenuhi dengan fitur kamera internet tingkat tinggi, D-Link DCS-910 merupakan sebuah versi yang menggunakan kabel, dan terhubung dengan 10/100 jaringan Fast Ethernet baik di rumah maupun di kantor. Sedangkan D-Link DCS-920, muncul dengan kemampuan Wi-Fi 802.11g yang terintegrasi, sehingga memungkinkan untuk dipasang pada tempat-tempat yang tidak terjangkau sebelumnya, seperti atap dan tembok. Kamera internet tersebut muncul dengan penyandian WPA dan WPA2 untuk pengingkatan keamanan.</p>
<p>D-Link DCS-920 dan D-Link DCS-910 dapat dikonfigurasikan untuk mendeteksi gerakan secara otomatis, mengirimkan email peringatan ketika gerakan terdeteksi dan merekamnya ke dalam komputer yang terhubung dengan jaringan rumah atau perangkat penyimpanan data untuk detail dari video pengawasan serta pemutaran kembali. Kedua jenis kamera internet ini merepresentasikan solusi ideal tersebut untuk mengawasi anak-anak, anggota senior dalam keluarga ataupun kantor hanya dengan melogging kamera melalui web browser dari komputer manapun yang memiliki akses internet.</p>
<p>Keduanya juga dilengkapi dengan D-ViewCam 2.0, piranti lunak pengawasan jaringan yang memungkinkan kamera tersebut dapat mengawasi ke 32 kamera lainnya secara simultan, tanpa ada bentrokan. Mudah diakses dan dikendalikan dengan browser Java-enabled, kedua kamera ini dapat merekam dan mengambil gambar secara langsung melalui web browser ke hard drive lokal. Bekerja pada sistem operasi apapun, baik Microsoft, Macintosh atau Linux, D-Link DCS-910 dijual dengan harga sekitar US$ 129, sedangkan D-link DCS-920 seharga US$ 149.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=962&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/09/02/kamera-internet-dengan-sensor-cahaya-dari-d-link.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencoba Bisnis Lelang Online</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/07/22/mencoba-bisnis-lelang-online.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/07/22/mencoba-bisnis-lelang-online.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 08:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ACNielsen]]></category>
		<category><![CDATA[eBay]]></category>
		<category><![CDATA[lelang online]]></category>
		<category><![CDATA[PT Hutama Karya]]></category>
		<category><![CDATA[SMS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/ebay.jpg"></a>Saat ini kurang lebih 130 situs web di Indonesia telah melengkapi dirinya dengan jasa lelang online. Ada yang cukup maju, namun kebanyakan dari mereka mati suri dalam bisnisnya. Menariknya, dengan menaruh barang pada situs lelang online, kita tidak perlu memantau&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/ebay.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-683" title="ebay" src="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/ebay-300x197.jpg" alt="" width="172" height="112" /></a>Saat ini kurang lebih 130 situs web di Indonesia telah melengkapi dirinya dengan jasa lelang online. Ada yang cukup maju, namun kebanyakan dari mereka mati suri dalam bisnisnya. Menariknya, dengan menaruh barang pada situs lelang online, kita tidak perlu memantau lewat email bila harga kita menang atau harga lelang kita dikalahkan. Dan hasilnya dapat diterima lewat SMS, seperti misalnya, yang dijanjikan oleh Lalulelang.com.</p>
<p><span id="more-682"></span>Seperti kita  ketahui, Ebay.com, bisnis lelang online,  adalah yang tertua di dunia. Maklum, mereka mengikuti bisnis lelang termasyur sejagad lebih kurang 8 tahun, dikomandani oleh seorang Presiden dan CEO wanita, <strong>Meg Whitman</strong>. Bayangkan saja dalam waktu yang sudah 11 tahun usia bisnisnya, si raja lelang online tersebut berhasil memecahkan rekor penghasilan luar biasa –sebanyak US$ 339 juta yang berasal dari US$ 1.4 miliar penjualan di kuartal ketiga di tahun 2007– dengan mengenakan biaya (fee) dari si penjual yang menaruh barangnya untuk dilelang dan ditambahkan dengan komisi dari transaksi yang diperoleh setelah barang dijual.<br />
<strong><br />
Prospek </strong></p>
<p>Tidak heran kalau ACNielsen International Research mengatakan bahwa di Amerika Serikat saja ada lebih dari 724.000 orang yang menganggap eBay adalah sumber pendapatan pertama atau kedua. Semakin banyak orang yang menjual barang mereka lewat proses lelang dari waktu ke waktu. Itulah sebabnya tidak heran orang Indonesia pun tertarik untuk menggunakan situs lelang termasyur ini untuk menjual uang kertas tahun 1957 dengan nilai nominal Rp. 1 dan Rp. 100 dan juga uang kertas zaman Belanda di Indonesia tahun 1806.</p>
<p>Di China, walaupun terdapat kendala keamanan dalam  transaksi dan sistem pembayaran yang kadang masih cara konvensional, namun patut dicermati bahwa nilai pasar lelang online di negeri yang dulunya Tirai Bambu di tahun 2003 saja mencapai angka menggiurkan sekitar 1.92 miliar Yuan menurut data dari Shanghai iResearch untuk tahun 2003. Di tahun 2007 terdapat lonjakan bisnis sekitar 75 persen. Pengguna situs lelang online itu pun meningkat. Mereka menyukai penggunaan situs web jasa lelang tersebut. Total barang yang diperdagangkan juga menjadi US$ 63 juta atau tumbuh 28 persen dibandingkan triwulan sebelumnya, demikian menurut <strong>Bo Shao</strong>, pendiri dan CEO eBay EachNet, situs lelang online terbesar China.<br />
Walaupun belum semuanya proses lelang itu online, mereka masih mengkombinasikan proses pembayaran lewat wesel pos dan transfer bank, sedangkan pembayaran melalui kartu kredit masih dalam jumlah kecil. Hal lain yang juga krusial bagi bisnis lelang ini adalah, menurut Bo, kebijakan penjaminan untuk seluruh barang yang dilelang, sehingga ada kepastian barang sampai ke tangan pembeli segera setelah validasi pembayaran.<br />
<strong><br />
Lelang Online Dari Kategori A &#8211; Z </strong></p>
<p>Masih dalam konteks lelang online, di sisi lain model ini dalam bentuk dan istilah yang lebih keren seperti e-procurement, sudah dilakukan oleh tidak sedikit perusahaan di Indonesia yang sudah mencoba menggunakan sistem lelang online untuk pengadaan barang dan jasa untuk para mitra bisnisnya seperti yang telah dilakukan oleh PT Hutama Karya. “Dengan menerapkan lelang model itu akan memberikan tingkat transparansi dan kebersihan lelang secara lebih memadai,” kata <strong>Sudarsono</strong>, salah satu petinggi PT. Hutama Karya yang penerapannya dibagi menjadi lima modul yang mencakup product need, vendor management, PQ management, dan tender management, serta administrasi. Selain itu berbagai proyek pun bisa dilelang, misalnya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya yang mengakui bahwa sistem lelang online ini menghemat biaya hingga lebih dari Rp 70 miliar dari total anggaran lebih dari Rp. 450an miliar lebih. Penghematan bukan?</p>
<p>Bisnis lelang online adalah memang salah satu cara untuk cepat menjual barang, itulah sebabnya salah satunya misalnya menjual barang hasil rampasan dari salah satu museum nasional Irak saat penyerbuan serangan AS dan sekutunya, benda tersebut adalah hasil rampasan sebuah tablet dari tanah liat yang sudah berusia lebih dari 4000 tahun peninggalan zaman Persia kuno. Barang tersebut dilelang lewat situs lelang eBay cabang Swiss yang akhirnya ditutup oleh Departemen Kebudayaan Swiss. Menariknya lagi, nomor rekening bank juga bisa dilelang.</p>
<p>Symantec, salah satu perusahaan security online melaporkan ramainya ada pelelangan online yang melelang rekening bank dan kartu kredit. Jadi hati-hati kalau kepada Anda ditawarkan lelang rekening bank atau kartu kredit. Mengapa? Karena sudah tidak asing lagi rekening hasil pencurian bisa dilelang. ‘Barang lelang’ lainnya yang juga laku di kalangan penjahat online termasuk bisa login ke ratusan email dengan peluang Anda dapat memiliki akses untuk melihat rincian rekening kartu kredit. Bahkan yang berbau agama pun bisa dijual, termasuk bangunan keagamaan, seperti yang terjadi dengan kasus dilelangnya sebuah gereja bersejarah di Skotlandia yang didirikan di abad pertengahan yang juga sudah termasuk makam sucinya. Gereja tersebut adalah ST. Michael di Covington, di Skotlandia dengan harga 75.000 Euro. Apa yang dikatakan oleh si pembelinya? “Saya berharap ini seperti jualbeli property biasa. Dan internet sangat berguna sebagai iklan.” demikian kata si pembeli, Wilson dan pasangannya Suzanne Keenan.</p>
<p><strong><br />
Tips Lelang Online Bagi Anda dan Pebisnis </strong></p>
<p>Transaksi pelelangan yang dilakukan melalui internet ternyata juga menjadi tindak kejahatan yang paling banyak dilaporkan oleh masyarakat. Hal itu diungkap pihak Federal Bureau of Investigation (FBI) yang membawahi Internet Complaint Center (IC3), yang ditahun 2005 saja menerima sejumlah 231.493 keluhan. Ada beberapa tips jika Anda melakukan lelang online:</p>
<p>· Jangan membeli barang yang customer-feedback ratingnya kurang dari 98%. Lihat coba profil “about me” dan jangan ragu untuk bertanya ke si penjual.</p>
<p>· Pastikan kemampuan Anda membayar</p>
<p>· Gunakan program proteksi pembayaran baik kedua pihak penjual dan pembeli</p>
<p>· Minta bantuan, lihat juga forum online atau milis yang disediakan</p>
<p>· Selalu perbaharui informasi kontak tentang Anda</p>
<p>Jadi selamat mencoba dan menikmati manfaat dari lelang online!</p>
<p>Bob Julius Onggo                                                                                                                                                <strong>Konsultan, praktisi, penulis dan narasumber Pemasaran Online. Bisa dihubungi via redaksi@biskom.web.id atau bob@bjoconsulting.com</strong></p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=682&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/07/22/mencoba-bisnis-lelang-online.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebangkitan Nasional Dalam TI &amp; Pendidikan</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/07/14/kebangkitan-nasional-dalam-ti-pendidikan.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/07/14/kebangkitan-nasional-dalam-ti-pendidikan.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 10:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[BlankOn]]></category>
		<category><![CDATA[Depdiknas]]></category>
		<category><![CDATA[Depdiknux]]></category>
		<category><![CDATA[IGOS]]></category>
		<category><![CDATA[Jardiknas]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[proprietary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/kebangkitan-nasional.jpg"></a>Bagi masyarakat Indonesia, 100 tahun Kebangkitan Nasional memiliki makna yang dalam. Semangat yang ditandai dengan berdirinya organisasi pemuda Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, merupakan masa bangkitnya semangat kesadaran persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/kebangkitan-nasional.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-653" title="kebangkitan-nasional" src="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/kebangkitan-nasional.jpg" alt="" width="112" height="168" /></a>Bagi masyarakat Indonesia, 100 tahun Kebangkitan Nasional memiliki makna yang dalam. Semangat yang ditandai dengan berdirinya organisasi pemuda Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, merupakan masa bangkitnya semangat kesadaran persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini merupakan memontum yang tepat bagaimana kita menyikapi peristiwa ini dengan adanya penawaran yang “menggiurkan” dari pihak Microsoft, yaitu bantuan piranti lunak gratis “free” untuk digunakan siswa di sekolah-sekolah di Indonesia. Tawaran baik dari pihak Microsoft perlu ditelaah dari manfaat apa yang diambil serta dampak untuk masa depan genarasi muda Bangsa Indonesia.</p>
<p><span id="more-652"></span>Saat ini, komputer untuk dunia pendidikan khususnya di sekolah-sekolah digunakan untuk kegiatan belajar mengajar serta untuk pengelolaan administrasi sekolah. Siswa dapat belajar bagaimana menggunakan perangkat lunak untuk membuat dan mengetik suatu dokumen, database, bahan presentasi sampai dengan  mendisain gambar. Di sisi lain, siswa juga dapat menggunakannya untuk mendukung kegiatan mata pelajaran lain dengan mencari informasi tambahan di dunia nyata dengan menggunakan aplikasi web browser. Penggunaan komputer perlu dikuasai oleh para siswa/siswi dalam mengakses bahan-bahan pelajaran yang diinisiasi oleh Program Pengadaan Buku Teks Pelajaran Murah yang baru-baru ini diluncurkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Untuk sekolah tingkatan SMA/SMK, penguasaan ilmu komputer bukan hanya diperuntukan sebagai pengguna saja akan tetapi pemanfaatannya digunakan untuk membuat atau mengembangkan perangkat lunak tertentu.</p>
<p>Pada saat ini, pengelolaan administrasi sekolah perlu dilakukan dengan cepat, aman dan tepat. Pengelolaan administrasi sekolah tersebut meliputi data organisasi guru dan siswa, manajemen keuangan, pengelolaan program mata pelajaran, pengelolaan absensi dan nilai akademik, sarana dan prasarana dan lain-lain.</p>
<p>Untuk mengoperasikan komputer tersebut dibutuhkan perangkat lunak berupa sistem operasi dan aplikasi yang “berjalan” di atasnya. Sistem operasi sebagai “otak” komputer berfungsi untuk mengatur berbagai perintah dasar menjalankan bermacam peralatan pendukung, seperti layar, papan ketik, mouse dan sebagainya, termasuk menjalankan satu atau beberapa perangkat lunak lainnya seperti pengolah kata, membuat tabel, program untuk menggambar, mengirim e-mail; browser web, dan lain-lain.</p>
<p>Untuk mendukung pengoperasian komputer tersebut terdapat dua jenis perangkat lunak yang dikenal, yaitu perangkat lunak proprietary dan perangkat lunak open source. Perangkat lunak proprietary yang disebut juga perangkat lunak sumber tertutup, atau perangkat lunak berbayar, atau perangkat lunak berpemilik yang merupakan perangkat lunak dengan pembatasan terhadap penggunaan, penyalinan, dan modifikasi yang diterapkan oleh pemilik atau pemegang hak. Sedangkan perangkat lunak open source adalah jenis perangkat lunak yang kode sumber nya terbuka sehingga dapat dipelajari, diubah, ditingkatkan dan disebarluaskan.</p>
<p>Dengan adanya piranti lunak gratis tersebut, tentunya akan meringankan pihak pemerintah, terutama pihak sekolah dalam pengadaan perangkat lunak legal. Hal ini sejalan dengan program pemerintah melalui program DeTIKNas dalam legalisasi perangkat lunak yang terus digalakkan saat ini. Siswa dapat menggunakan perangkat lunak legal untuk kegiatan menimba ilmu pengetahuan di sekolah dengan tenang tanpa harus was-was di “sweeping” oleh pihak berwajib, dan yang paling penting adalah menanamkan kesadaran perlunya menghormati hak kekayaan intelektual.</p>
<p>Perangkat lunak open source yang dikembangkan ternyata ttelah memenuhi kebutuhan kegiatan belajar siswa maupun kegiatan pengelolaan sekolah dengan berbagai aplikasi untuk SD sampai SMA dengan materi pelajaran tentang komputer, matematika, kimia, dan fisika.  Beberapa perangkat lunak open source karya Bangsa Indonesia telah menawarkan kelebihan tersebut untuk kebutuhan pendidikan, sebut saja perangkat lunak BlankOn Ver 3 atau IGOS Nusantara yang dikembangkan secara terbuka dan bersama-sama yang sangat kental dengan khas Indonesia. Untuk perangkat pengaturan jaringan (gateway dan bandwidth monitoring and management) telah dikembangkan perangkat lunak Depdiknux yang dikembangkan oleh Depdiknas dan telah digunakan untuk keperluan Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas).</p>
<p>Saat ini, penggunaan komputer dengan perangkat lunak sudah menjadi kebutuhan dalam kegiatan siswa untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan sebanyak-banyaknya. Pembekalan pengetahuan dan ketrampilan bagi para siswa dalam pengoperasian komputer seyogyanya menganut kepada prinsip keterbukaan bukan mengarah ke satu sistem tertentu. Siswa harus diberikan kesempatan untuk menimba ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang lengkap dan seimbang dalam penggunaan komputer baik dengan menggunakan open source maupun proprietary. Jangan sampai kita hanya memberikan pengetahuan kepada siswa dari satu sisi teknologi saja atau dengan cara menyajikan “menu yang tersedia” belaka yang akan membatasi pola pikir dan kreasi anak. Ketergantungan akan sistem perangkat lunak ini dapat membentuk mindset terhadap satu perangkat lunak tertentu akan terus dibawa setelah siswa lulus dan terus digunakan untuk bekerja dan yang menjadikan kita kecanduan dan akan tetap terbelenggu oleh satu teknologi saja.</p>
<p>Dengan pemikiran tersebut di atas, marilah kita memiliki kemerdekaan untuk menentukan masa depan bagi keperluan siswa/siswi kita. Berikanlah semua pengetahuan kepada para penerus bangsa tanpa ada pembatasan-pembatasan tertentu.  Jangan hanya memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa dengan cara “menggunakan kacamata kuda”. Inilah makna dari kemerdekaan yang mungkin harus kita pilih. Jangan sampai hilang harapan dari arti 100 tahun Kebangkitan Nasional ini.</p>
<p><strong>Kemal Prihatman</strong></p>
<p>Asisten Deputi Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi, Kementerian Negara Riset dan Teknologi</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=652&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/07/14/kebangkitan-nasional-dalam-ti-pendidikan.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
