<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BISKOM : Mitra Komunitas Telematika &#187; BTS</title>
	<atom:link href="http://www.biskom.web.id/tag/bts/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.biskom.web.id</link>
	<description>Situs Berita Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 14:01:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Warga Bandung Bantu Penertiban BTS Liar</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/10/17/warga-bandung-bantu-penertiban-bts-liar.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/10/17/warga-bandung-bantu-penertiban-bts-liar.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Oct 2008 08:48:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Base Transceiver Station]]></category>
		<category><![CDATA[BTS]]></category>
		<category><![CDATA[Ditjen Postel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1282</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/10/bts-tower.jpg"></a>Tak jauh beda dengan daerah-daerah lainnya, menara Base Transceiver Station (BTS) di Kabupaten Bandung sudah sedemikian semrawut. Sebanyak 93% dari sekitar 300 BTS yang berdiri diantaranya tanpa dilengkapi izin.</p>
<p>Semrawutnya BTS mengurangi estetika kota dan kenyamanan warga. Bahkan, banyak warga &#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/10/bts-tower.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1283" title="bts-tower" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/10/bts-tower.jpg" alt="" width="236" height="236" /></a>Tak jauh beda dengan daerah-daerah lainnya, menara Base Transceiver Station (BTS) di Kabupaten Bandung sudah sedemikian semrawut. Sebanyak 93% dari sekitar 300 BTS yang berdiri diantaranya tanpa dilengkapi izin.</p>
<p>Semrawutnya BTS mengurangi estetika kota dan kenyamanan warga. Bahkan, banyak warga menolak berdirinya BTS di tengah pemukiman mereka. Seperti dilakukan warga Kampung Garduhpasar, Desa Sagaracipta, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung yang menyegel menara stasiun basis pemancar itu belum lama ini. Akibatnya, pembangunan BTS yang telah mencapai 60 meter itu pun terhenti.</p>
<p>Warga menolak pembangunan menara tersebut dan meminta pelaksana proyek menempuh proses perizinan mulai dari awal lagi. Apalagi pada sosialisasi awal warga hanya diberitahu menara itu akan setinggi 40 meter.</p>
<p>Gejolak kekhawatiran warga sekitar Kampung Garduhpasar telah terjadi sejak rencana pembangunan menara itu disosialisasikan pertengahan 2006 lalu. Puluhan warga di sekitar menara tersebut sempat memberikan pernyataan penolakan pembangunan secara tertulis dan diperkuat pemerintahan desa.</p>
<p>Namun, pembangunan menara itu berjalan terus hingga warga terpaksa warga menyegelnya. Apalagi, pembangunannya tanpa izin,  termasuk izin tetangga (hinder ordonantie/HO). Padahal, izin tetangga harus ditempuh dalam pembangunan menara telekomunikasi seperti diatur dalam Perbup No. 14 tahun 2007 tentang pembangunan dan penataan menara telekomunikasi di Kabupaten Bandung.</p>
<p>Menaggapi hal ini, Pemerintah Kabupaten Bandung pun bersiap menertiban puluhan menara BTS liar milik sebelas operator seluler. Operator seluler terkait diminta segera mengurus menara tak berizin miliknya. Selain tidak memenuhi syarat administrasi perizinan seperti Izin Peruntukan dan Penggunaan Tanah serta Izin Mendirikan Bangunan, menara-menara tersebut juga didirikan di tempat terlarang seperti di sarana ibadah, ruang hijau, pemukiman padat, atau yang didirikan di atap bangunan tanpa memperhitungan kapasitas bangunan dasarnya.</p>
<p>Kepala Dinas Zperhubungan Kabupaten Bandung, <strong>Dheni Asmara Hadi</strong> menegaskan, jika operator seluler terkait belum mengurus menaranya, pemerintah akan langsung menertibkan menara tersebut. &#8220;Menara yang tak berizin, terutama yang didirikan di tempat terlarang akan langsung ditertibkan,&#8221; tandas Dheni.</p>
<p>Sedangkan menara yang sudah sejak awal memiliki izin dan didirikan di luar tempat terlarang, agar segera diurus kembali perizinannya ke Dinas Tata Kota.</p>
<p>Dheni pun menandaskan, kini Pemerintah Kota Bandung tengah menyusun master plan penataan dan pembangunan menara telekomunikasi seluler Kabupaten Bandung. Dalam perencanaan tersebut, kata dia, akan diformulasikan sebaran titik menara telekomunikasi seluler bersama yang dapat diizinkan Pemkab Bandung untuk digunakan bersama para operator seluler.</p>
<p>Penertiban digelar seiring dengan yang dilakukan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi di sejumlah titik di Pulau Jawa. Diduga, sebagian BTS berdiri tanpa izin demi memenangkan persaingan antaroperator.</p>
<p>Razia BTS dilakukan dengan menyusuri jalur strategis di sepanjang Pulau Jawa. Petugas Ditjen Postel mendeteksi keberadaan BTS tanpa izin ini dengan alat deteksi digital. Hasilnya, tiga BTS milik operator terkenal ketahuan mengoperasikan pemancar telekomunikasinya tanpa izin. Akhirnya, sejumlah BTS dan Microwave Link pun kena segel.</p>
<p>BTS itu ketahuan mengoperasikan pemancar telekomunikasinya secara ilegal setelah Balai Monitoring Frekuensi Radio Ditjen Postel kembali melakukan razia penertiban frekuensi radio serta keberadaan BTS yang sudah terlanjur beroperasi namun belum memiliki izin.</p>
<p>Kabag Umum dan Humas Ditjen Postel, <strong>Gatot S Dewa Broto</strong> menjelaskan, ihwal kegiatan penertiban ini berupa validasi data BTS yang merupakan tindak lanjut surat Direktur Frekuensi Radio dan Orbit Satelit No. 838/2008 tertanggal 11 Juni 2008.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1282&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/10/17/warga-bandung-bantu-penertiban-bts-liar.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ericsson Siapkan BTS Tenaga Angin</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/10/16/ericsson-siapkan-bts-tenaga-angin.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/10/16/ericsson-siapkan-bts-tenaga-angin.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 09:24:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BTS]]></category>
		<category><![CDATA[Ericsson]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1266</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/10/bts.jpg"></a>Ericsson mengungkapkan konsep BTS dengan mengoptimalisasikan energi terkini, sebuah proyek penelitian untuk mempelopori penggunaan tenaga angin untuk BTS Tower Tube. Bekerjasama dengan Vertical Wind AB dan Universitas Upsala di Swedia, Ericsson telah mengembangkan konsep tersebut sebagai bagian dari komitmennya terhadap &#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/10/bts.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1267" title="bts" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/10/bts.jpg" alt="" width="250" height="250" /></a>Ericsson mengungkapkan konsep BTS dengan mengoptimalisasikan energi terkini, sebuah proyek penelitian untuk mempelopori penggunaan tenaga angin untuk BTS Tower Tube. Bekerjasama dengan Vertical Wind AB dan Universitas Upsala di Swedia, Ericsson telah mengembangkan konsep tersebut sebagai bagian dari komitmennya terhadap solusi-solusi yang berkesinambungan dan hemat biaya.</p>
<p>BTS Tower Tube bertenaga angin ini membawa rancangan Ericsson Tower Tube hemat energi selangkah lebih maju dengan menggunakan energi yang dapat diperbaharui.  BTS ini akan memanfaatkan tenaga angin melalui empat bilah turbin sepanjang lima meter yang terkait secara vertikal ke menara.  Rotor bilah vertikal bergerak dengan tidak menimbulkan suara dan akan meminimalkan beban BTS pada saat beroperasi.</p>
<p>Uji coba telah dilakukan untuk menentukan apakah rancangan BTS Tower Tube hemat energi Ericsson dan rotor bilah angin vertikal dapat bekerja dengan baik untuk memungkinkan komunikasi bergerak yang hemat biaya, yang akan mengurangi dampak baik pada lingkungan lokal ataupun global.</p>
<p>Konstruksi bangunan dan antenna BTS Tower Tube Ericsson, tertutup secara penuh dalam sebuah menara  beton yang bernilai estetik. Memiliki ruang yang sangat kecil dan dampak terhadap lingkungan yang rendah dibanding menara baja tradisional, dengan emisi buangan CO2 yang terkait dengan penggunaan bahan materialnya, seperti produksi transportasinya yang 30 persen lebih rendah.</p>
<p>Lebih jauh, BTS Tower Tube Ericsson tidak memerlukan sistim feeder dan pendingin. Dengan 40 persen konsumsi tenaga lebih sedikit dibanding BTS tradisional, akan membantu para operator mengurangi biaya operasi mereka secara signifikan. Rancangannya yang terkini dan dapat dibangun untuk banyak ukuran dan berulas warna yang bervariasi, akan membuatnya menjadi lebih alami dan sesuai untuk lingkungan manapun.</p>
<p><strong>Ulf Ewaldsson</strong>, VP dan Head of Product Area Radio Ericsson mengatakan, &#8220;Kombinasi antara tenaga angin dengan BTS Tower Tube Ericsson akan membawa peluang yang lebih jauh dalam mendukung komunikasi bergerak, baik di daerah perkotaan maupun di daerah terpencil yang tidak mempunyai  yang atau terbatasnya akses pada tenaga listrik. Inisiatif penelitian  BTS Tower Tube Ericsson bertenaga angin merefleksikan ambisi kami untuk menggunakan kepemimpinan kami secara teknik dalam mendorong kesinambungan, ekspansi industri telekomunikasi untuk mengantarkan komunikasi untuk semua.&#8221;</p>
<p>Langkah ini diikuti oleh serangkaian insiatif dari Ericsson untuk meningkatkan efisiensi energi, mengurangi dampak lingkungan dan menurunkan biaya jaringan komunikasi bergerak untuk para operator, yang diantaranya melingkupi  BTS bertenaga matahari, BTS hemat energi yang memiliki fitur model stand by selama masa tidak padat, BTS bertenaga biofuel, Solusi hybrid dengan menggunakan  diesel dan baterai serta charger bertenaga matahari  bekerjasama dengan Sony Ericsson.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1266&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/10/16/ericsson-siapkan-bts-tenaga-angin.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2012, Ribuan BTS di Negara Berkembang Ramah Lingkungan</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/09/22/2012-ribuan-bts-di-negara-berkembang-ramah-lingkungan.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/09/22/2012-ribuan-bts-di-negara-berkembang-ramah-lingkungan.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 11:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BTS]]></category>
		<category><![CDATA[GSMA]]></category>
		<category><![CDATA[seluler]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1092</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/09/bts.jpg"></a>Asosiasi perdagangan global untuk industri seluler, GSMA, hari ini meluncurkan program energi ramah lingkungan untuk seluler yang bertujuan untuk membantu industri seluler menggunakan sumber energi yang dapat diperbarui, seperti energi surya, angin atau biofuel, untuk menjalankan 118.000 off-grid BTS baru &#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/09/bts.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1093" title="bts" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/09/bts-198x300.jpg" alt="" width="158" height="240" /></a>Asosiasi perdagangan global untuk industri seluler, GSMA, hari ini meluncurkan program energi ramah lingkungan untuk seluler yang bertujuan untuk membantu industri seluler menggunakan sumber energi yang dapat diperbarui, seperti energi surya, angin atau biofuel, untuk menjalankan 118.000 off-grid BTS baru dan yang sudah ada saat di negara-negara berkembang sampai dengan tahun 2012. Upaya ini akan memungkinkan penghematan sampai dengan 2.5 milyar liter penggunaan solar per tahun dan mengurangi emisi karbon tahunan sampai dengan 6,3 milyar ton.</p>
<p>GSMA memperkirakan, sampai dengan tahun 2012 sekitar 50% off-grid BTS baru di negara berkembang dapat dijalankan dengan memanfaatkan energi terbarukan. Didukung 25 operator seluler, energi ramah lingkungan untuk seluler dapat memberikan pengalaman yang dapat mendukung pembangunan off-grid BTS dengan menggunakan energi terbarukan. Sampai saat ini, sebagian besar off-grid BTS dijalankan dengan menggunakan generator berbahan bakar solar, yang kian mahal harganya, dan mengakibatkan emisi karbon dioksida selain itu solar juga relatif sulit dibawa ke lokasi-lokasi terpencil.</p>
<p>&#8220;Seiring dengan upaya mereka untuk memberikan manfaat dari cakupan layanan seluler ke sebanyak mungkin penduduk, para operator juga harus menemukan sumber energi yang dapat diandalkan, tersedia dalam jangka panjang dan ekonomis yang tersedia di area-area yang belum tersedia tenaga listrik nasional,&#8221; ujar <strong>Rob Conway</strong>, CEO dan anggota Board of GSMA. &#8220;Melalui dana pengembangan yang kami miliki, GSMA telah melakukan penelitian dan pelatihan dalam energi surya, angin dan sumber-sumber energi terbarukan lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh para operator seluer untuk membantu mereka mengoneksikan area yang belum terkoneksi, menekan biaya operasional dan meminimalisir kerusakan lingkungan.&#8221;</p>
<p>Menyusul beberapa penelitian yang dilakukan bersama para operator seluler, Pengembangan Dana GSMA memperkirakan hanya sekitar 1.500 BTS yang ada di seluruh dunia yang dijalankan paling tidak dengan satu macam energi terbarukan. Tantangan yang ada saat ini meliputi pertimbangan komersial, ketersediaan peralatan dan keterbatasan kemampuan, akan tetapi penelitian GSMA menyarankan bahwa kenaikan harga solar dan penurunan biaya dari peralatan yang terbarukan menunjukkan bahwa investasi para operator dalam pemanfaatan energi ramah lingkungan untuk menjalankan BTS-nya dapat menghemat modal mereka paling sedikit untuk 24 bulan.</p>
<p>Pengembangan Dana GSMA telah bekerjasama dengan beberapa operator seluler untuk mengembangkan solusi energi yang terbarukan untuk beragam BTS yang berlokasi di daerah dengan struktur alam berbeda. Pengembangan Dana telah membantu implementasi Digicel dengan memanfaatkan energi angin dan matahari untuk menjalankan 17 BTS padi di kepulauan Pasifik, Vanuatu.</p>
<p>Para operator yang berpartisipasi dalam program ini diantaranya AXIS, Bhartil, Dialog, Digicel, Idea Cellular, Indosat, Econet, Grameenphone, Mobinil, MTC Namibia, MTN Cameroon, MTN Group, MTN Nigeria, MTN Uganda, Orange, Orascom Telecom Holding, Roshan, Safaricom, Smart, Telefonica, Telenor Pakistan, VimpelCom, Vodacom Tanzania, Vodafone Egypt, Zain Group, dan Zantel.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1092&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/09/22/2012-ribuan-bts-di-negara-berkembang-ramah-lingkungan.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mewujudkan Cyber City di Indonesia</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/07/02/mewujudkan-cyber-city-di-indonesia.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/07/02/mewujudkan-cyber-city-di-indonesia.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 06:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[BTS]]></category>
		<category><![CDATA[Cyber City]]></category>
		<category><![CDATA[Hot Spot]]></category>
		<category><![CDATA[Wi-Fi]]></category>
		<category><![CDATA[Wi-Max]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=588</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/cybercity.jpg"></a>Cyber city merupakan salah satu konsep kota modern berbasis teknologi informasi yang kini telah banyak diterapkan di sejumlah kota besar di seluruh dunia. Ini adalah konsekuensi logis dari  meningkatnya kebutuhan masyarakat yang ingin mengakses informasi dan berkomunikasi dengan mudah dan &#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/cybercity.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-589" title="cybercity" src="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/cybercity-300x200.jpg" alt="" width="124" height="82" /></a>Cyber city merupakan salah satu konsep kota modern berbasis teknologi informasi yang kini telah banyak diterapkan di sejumlah kota besar di seluruh dunia. Ini adalah konsekuensi logis dari  meningkatnya kebutuhan masyarakat yang ingin mengakses informasi dan berkomunikasi dengan mudah dan cepat.</p>
<p><span id="more-588"></span>Sebagai bagian dari masyarakat dunia modern, bangsa Indonesia sudah saatnya menerapkan konsep cyber city untuk memenuhi kebutuhan warganya dalam mengakses internet secara lebih luas  dan tidak lagi terbatas pada kalangan tertentu saja. Bagaimanapun juga bangsa Indonesia kini berada dalam abad informasi dimana setiap orang memiliki peluang yang sama untuk menjalin pergaulan secara luas baik nasional maupun internasional. Implementasi cyber city juga bisa membantu masyarakat dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. Dalam hal ini, masyarakat akan semakin pandai menggunakan internet dalam jumlah yang besar. Pemasangan hot spot Wi-Fi (wireless fidelity) di sejumlah tempat terbuka seperti taman-taman kota, tempat-tempat olahraga, lokasi bandara, pelabuhan, terminal bis, pusat-pusat perbelanjan modern dan tempat-tempat wisata lainnya akan semakin memudahkan masyarakat untuk beraktifitas secara lebih leluasa dalam satu waktu yang bersamaan.</p>
<p>Berwisata sambil berkirim email, menyantap makanan sambil mengerjakan tugas kantor, duduk di kendaraan sambil chatting dengan kolega dan sebagainya adalah contoh-contoh aktifitas yang sering dijumpai di tengah masyarakat, khususnya di kota-kota besar di Indonesia. Pendeknya, aktifitas apapun yang dilakukan tidak akan mengganggu pekerjaan inti di kantor. Model kerja dinamis seperti ini sedang menjadi tren di tengah masyarakat dimana mobilitas kaum profesional, pebisnis, pendidik termasuk juga para mahasiswa semakin tinggi. Bekerja secara parallel mungkin itu istilah yang paling tepat bagi anggota masyarakat di berbagai kota besar di Indonesia.</p>
<p>Coba saja perhatikan, mulai dari sekadar mengakses informasi biasa hingga melakukan berbagai jenis transaksi bisnis sudah dapat dilakukan via internet termasuk di dunia pendidikan, perbankan, ketenaga kerjaan dan sebagainya. Internet yang multifungsi ini perlahan tapi pasti berusaha mengubah perilaku atau budaya sebagian besar warga  kota dari pola-pola layanan konvensional menjadi layanan yang serba digital dan instant. Dengan kelebihannya itu pula, internet diprediksikan akan semakin diminati masyarakat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan dan perkembangan teknologi informasi.</p>
<p>Beberapa gambaran fakta di atas menunjukkan bahwa ke depan nanti sebagian besar masyarakat kota akan semakin bergantung pada internet untuk menjalani berbagai aktifitasnya. Tolok ukurnya adalah kebutuhan masyarakat terhadap suatu pelayanan informasi dan komunikasi digital yang serba cepat, efisien dan efektif. Pola kerja dinamis seperti ini tidak sekedar menunjukkan gaya hidup orang modern tetapi sudah menjadi kebutuhan semua orang. Hal ini mirip seperti komunikasi ponsel dimana hampir semua kelas sosial masyarakat menggunakannya. Oleh karena itu, internet akan menjadi jendela dunia bagi masyarakat dalam suatu kawasan atau kota untuk saling bertukar informasi dan berkomunikasi dalam segala hal. Inilah ciri suatu pengembangan kota modern yang  berbasis teknologi informasi dan komunikasi dimana masyarakatnya dapat terlayani secara elektronik dan infrastruktur pendukungnya dapat saling terintegrasi dengan baik.</p>
<p>Sebenarnya beberapa kota besar di Indonesia sudah mulai mengembangkan konsep cybercity. Kota Makassar misalnya, yang merupakan ibu kota provinsi Sulawesi Selatan, telah melakukan uji coba penggunaan perangkat pendukung internet nirkabel atau hot spot di kawasan pantai Losari sepanjang 1,2 Km tahun 2007 lalu. Keinginan untuk mewujudkan kota Makassar sebagai kota dunia maya ini bukan tanpa alasan. Menurut Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, cybercity menjadi salah satu cara pemeritah kota untuk mencerdaskan masyarakat agar melek teknologi. Dengan langkah ini diharapkan semakin banyak pengguna dan masyarakat tidak gagap lagi dengan teknologi informasi khususnya untuk mengakses internet. Di samping itu, keberadaan layanan akses internet gratis ini akan memancing minat wisatawan, baik mancanegara maupun domestik untuk berdatangan ke lokasi hot spot layanan internet gratis tersebut. Demikian juga para pebisnis dapat memanfaatkan internet gratis di ruang publik  sehingga lambat laun pantai Losari akan menjadi salah satu daerah tujuan bisnis dan objek wisata yang diharapkan bisa semakin terkenal dalam skala nasional maupun internasional. Saat ini, pemerintah setempat sedang berupaya memasang puluhan bahkan ratusan access point atau titik akses internet di berbagai wilayah kota Makassar. Puluhan hot spot pun sudah terpasang di sejumlah hotel berbintang, mal, kampus dan instansi-instansi swasta dengan menggunakan teknologi Wi-Fi. Bahkan sejumlah provider berusaha mendapatkan izin pemerintah untuk menggunakan teknologi Wi-Max (Worldwide Interoperability for Microwave Access) yang memiliki daya jangkau hingga 50 Km dengan kecepatan transfer bisa mencapai 75 megabyte per detik dimana ribuan orang dapat mengakses internet dalam satu waktu sekaligus. Dengan teknologi Wi-Max ini sinyal internet akan dipancarkan melalui sebuah menara semacam terminal untuk layanan telepon seluler (Base Transceiver Station/BTS). Saat teknologi itu hadir, seluruh kota Makassar akan menjadi &#8220;hot spot&#8221;. Pengguna laptop, &#8220;Windows Mobile&#8221; atau &#8220;Smart Phone&#8221; dapat berinternet dari mobil yang melaju di jalan raya, rumah, kantor, kafe, bahkan di tengah sawah di pinggiran kota Makassar. Dengan demikian, peluang masyarakat Makassar untuk menuju cybercity akan semakin cepat.</p>
<p>Beberapa kota yang sudah melakukan perancangan cybercity selain Makassar dan Pangkal Pinang antara lain, Malang Cyber City (MCC), Sukabumi Cyber City (SCC), Bandung Cyber City (BCC), Yogya Cyber City (YCC), Solo Cyber City (SCC), Denpasar Cyber City (DCC) dan kota-kota lain yang segera menyusul.</p>
<p>Sebenarnya pemerintah telah berjanji akan memberikan insentif kepada pengembang kawasan kota cyber dalam bentuk finansial maupun non finansial untuk menarik investasi dari dalam dan luar negeri. Hal ini sejalan dengan penataan industri teknologi informasi saat ini yang difokuskan pada pembentukan unit kota cyber.  Dalam pandangan pemerintah, konsep cybercity digambarkan sebagai kawasan dengan infrastruktur teknologi informasi yang memadai baik dari sisi konektivitas jaringan terpadu, kapasitas bandwidth, internet nirkabel dan kabel, dan infrastruktur serat optik mencukupi serta sarana pusat riset yang dikelola bersama perguruan tinggi dan swasta. Agaknya masalah infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi inilah yang menjadi kendala utama bagi pemerintah untuk menerapkan konsep cybercity di Indonesia.</p>
<p>Oleh:</p>
<p><strong>Muhamad Jafar Elly</strong></p>
<p>Staf Pengajar bidang Teknik Informatika STT-PLN, UPN Veteran, Universitas YARSI, Jakarta dan bekerja di Puslit Oceanografi-LIPI Jakarta.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=588&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/07/02/mewujudkan-cyber-city-di-indonesia.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

