<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BISKOM : Mitra Komunitas Telematika &#187; micro payment</title>
	<atom:link href="http://www.biskom.web.id/tag/micro-payment/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.biskom.web.id</link>
	<description>Situs Berita Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 14:01:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Johnny Sjam: Bisnis Indosat Tumbuh Pesat</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/08/26/johnny-sjam-bisnis-indosat-tumbuh-pesat.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/08/26/johnny-sjam-bisnis-indosat-tumbuh-pesat.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 09:50:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur Biskom]]></category>
		<category><![CDATA[ARPU]]></category>
		<category><![CDATA[Indosat]]></category>
		<category><![CDATA[Johnny Swandi Sjam]]></category>
		<category><![CDATA[Mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[micro payment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/08/swadi-sjam-web.jpg"></a>Bisnis seluler masih menjadi primadona untuk meraup laba. Adalah sangat wajar jika hampir separuh investasi  operator telekomunikasi  dialokasikan untuk seluler, terutama untuk mengembangkan kapasitas dan kualitas  jaringan. Perluasan jangkauan atau cakupan layanan masing-masing operator itu dimaksudkan untuk menambah pelanggan baru &#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/08/swadi-sjam-web.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-930" title="swadi-sjam-web" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/08/swadi-sjam-web.jpg" alt="" width="219" height="219" /></a>Bisnis seluler masih menjadi primadona untuk meraup laba. Adalah sangat wajar jika hampir separuh investasi  operator telekomunikasi  dialokasikan untuk seluler, terutama untuk mengembangkan kapasitas dan kualitas  jaringan. Perluasan jangkauan atau cakupan layanan masing-masing operator itu dimaksudkan untuk menambah pelanggan baru yang pertumbuhannya masih terbuka luas.</p>
<p>Kinerja Indosat, operator prabayar pertama di Indonesia  menunjukkan hal yang cukup menggemberikan  terkait tingginya  pertumbuhan pelanggan seluler   dengan total   hampir mendekati  angka 27 juta. Hal ini membuat peta persaingan telekomunikasi di tanah air berubah, dan Indosat layak diperhitungkan.</p>
<p>Tengok saja dari data Indosat, pada triwulan 1 tahun 2008 ini pendapatan usaha seluler perusahaan penanaman modal asing atau PMA mereka   naik hingga 11 persen, dengan saham Singapore Technologies Telemedia  sebesar 41,2 persen. Sebelumnya, pada triwulan 1 tahun 2007, pelanggan seluler Indosat mencapai 18 juta dan pada triwulan yang sama tahun ini naik 46,7 persen menjadi 26,4 juta.  Meski  average revenue per user (ARPU atau rata-rata pendapatan dari tiap pelanggan) Indosat sempat mengalami penurunan 10 hingga 12 persen. Kondisi ini pun akibat dari adanya penurunan tarif  interkoneksi  yang mulai berlaku April lalu. Tercatat ARPU pelanggan Indosat tahun lalu mencapai Rp 53.000 per bulan per pelanggan.</p>
<p>Tentunya prestasi ini dicapai berkat kelihaian Johnny Swandi Sjam, Direktur Utama Indosat dalam memimpin perusahaannya. Maklumlah, alumnus Gunadarma dan Pascasarjana Administrasi dan Kebijakan Bisnis Universitas Indonesia ini sangat berpengalaman di bidangnya, mengingat telah berkali-kali menduduki jabatan teratas di beberapa perusahaan.</p>
<p>Untuk mengetahui lebih banyak soal Indosat, simak petikan wawancara BISKOM dengan Jhonny belum lama ini.</p>
<p><strong>Bisa Anda jelaskan mengenai jumlah  pelanggan  Indosat pada  triwulan I 2008?</strong></p>
<p>Komposisi pelanggan Indosat sendiri terdiri dari 97,4 persen pelanggan prabayar dan 2,6 persen pelanggan pascabayar. Sedangkan pelanggan fixed wireless access atau telepon tetap nirkabel pada triwulan 1 tahun lalu mencapai 434.000 dan pada triwulan 1 tahun ini mencapai 716.000 atau naik sekitar 64,9 persen. Sedangkan total pelanggan 3,5G Indosat pada akhir kuartal 1 2008 ini mencapai 48.000 pelanggan. Untuk pendapatan layanan MIDI atau data tetap mengalami kenaikan diakibatkan oleh permintaan internet IPVPN dan world link atau direct link. Dengan demikian, pendapatan layanan telekomunikasi Indosat  tetap meningkat. Peningkatan ini berasal dari dikontribusi  layanan SLI dan StarOne sebesar 6,1 persen, dari Rp 382,3 miliar di Q1 2007 menjadi Rp 405,6 miliar di kuartal 1 2008. Kesimpulannya,  target pertumbuhan pendapatan total naik 18 persen, sedangkan seluler ditargetkan naik 20 persen.</p>
<p>Dari 30 juta pelanggan yang diraih Indosat per bulan Mei kemarin, sebanyak 60% merupakan pelanggan setia IM3 yakni sekitar 18 juta. Kalau melihat pencapaian yang cukup fantastis, kami  akan melakukan kajian ulang atas target pelanggan tahun ini sebelumnya dipatok 6 juta akan berubah menjadi 8 juta. Kami akan lihat setelah pencapaian semester I. Karena selama lima bulan sudah 5,5 juta pelanggan yang kami dapat.<br />
<strong><br />
Dengan pelanggan sebanyak itu, apakah Indosat juga meningkatkan kualitas jaringan?</strong></p>
<p>Saat ini,  total perangkat Base Transceiver Station (BTS) yang dimiliki Indosat mencapai 11.667 unit dengan bantuan sekitar 8000 unit menara. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas jaringan telekomunikasi, khususnya kebutuhan bandwith, Indosat memulai pembangunan penggelaran jaringan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL)  Jakabare (Jawa, Kalimantan, Batam  dan Singapore). Pembangunan SKKL sepanjang lebih dari 1.300 kilometer ini akan menghubungkan Indonesia dengan Singapura.</p>
<p><strong>Dampak kenaikan BBM memicu kelangkaan energi pemasok listrik, khususnya untuk BTS, bagaimana Indosat  mengatasinya?</strong></p>
<p>Indosat berinisiatif untuk mulai menggunakan energi alternatif sebagai sumber daya pengoperasian BTS.  Energi alternatif ini akan ditentukan sesuai dengan sumber daya paling banyak di suatu wilayah. Jika ada daerah yang kaya akan matahari maka BTS di wilayah tersebut akan ditenagai oleh panel solar, begitu juga dengan energi angin yang mendominasi di suatu wilayah maka kemungkinan kami akan menggunakan<br />
energi tersebut. Pada tahap pertama, Indosat akan menguji coba tiga energi alternatif di beberapa tempat sesuai dengan kemampuan sumber daya alam yang ada. Misalnya saja penggunaan turbin angin untuk<br />
memberikan daya pada BTS Indosat di Bali atau penggunaan energi biofuel berbahan dasar kelapa sawit dan biji jarak pada BTS di Labuan Lombok.</p>
<p><strong>Jadi, uji coba ini merupakan salah satu langkah antisipasi kelangkaan bahan bakar dan sumber energi listrik di Indonesia?</strong></p>
<p>Ya,  khususnya wilayah di luar pulau Jawa. Misalnya saja di daerah Girisari Uluwatu Bali terdapat dua BTS yang akan ditenagai oleh matahari dan angin. Daerah tersebut diperkirakan memiliki sumber panas<br />
matahari yang cukup signifikan yaitu di atas 5 kWh/M2/hari dan energi angin yang juga cukup besar dengan kecepatan di atas 4m/s. Untuk tahap awal ini sekitar 40 hingga 50 BTS Indosat di luar pulau Jawa akan<br />
menggunakan energi alternatif ini. Lain halnya dengan salah satu BTS di daerah Lombok, Labuan. Wilayah ini dikenal memiliki sumber daya kelapa sawit yang cukup besar. Tidak heran jika kemudian Indosat<br />
menggunakan kelapa sawit sebagai bahan dasar biofuel yang akan menggantikan solar sebagai bahan dasar generator pembangkit daya BTS.</p>
<p><strong>Kira-kira berapa dana yang dikeluarkan untuk uji coba tersebut?</strong></p>
<p>Untuk pengerjaan ujicoba ini Indosat menargetkan dana sekira Rp1,5 miliar untuk kurun waktu 3 bulan. Dalam implementasinya, Indosat mengadakan kerjasama dengan ITB yang telah memiliki laboratorium<br />
khusus penelitian konversi energi elektrik dan PT LEN Persero yang telah berpengalaman mengembangkan energi alternatif. Kalau umumnya, setiap sistem BTS membutuhkan daya sekitar 2000 hingga 3000 watt.<br />
Sedangkan dalam ujicoba ini energi angin dapat memasok hingga 2500 watt peak. Sedangkan matahari dapat memberikan daya sekitar 4000 watt dan biofuel mampu memberi energi hingga 5000 watt.</p>
<p><strong>Selain uji coba energi alternatif, Indosat juga tengah melakukan uji coba Layanan Micro Payment dengan Bank Mandiri. Bisa Anda jelaskan teknologi yang digunakan?</strong></p>
<p>Layanan micro payment berbasis ponsel ini  menggunakan teknologi Near Field Communication (NFC) pertama di Indonesia. Ajang uji coba tersebut telah kami lakukan pada event Indonesia Cellular Show (ICS) kemarin.  Dengan layanan ini diharapkan akan memberikan nilai tambah dan menjadi alternatif solusi bagi sistem pembayaran micro payment di Indonesia yang saat ini masih didominasi oleh transaksi tunai.</p>
<p>Layanan Indosat Mandiri Prabayar ini merupakan penggabungan antara layanan Mandiri Prabayar dengan SIM card milik Indosat melalui ponsel yang telah memiliki fasilitas NFC. Jadi, kartu prabayar ini mirip dengan kartu contactless biasa, hanya saja pada layanan baru ini uang tersimpan bukan pada kartu namun tersimpan di dalam sim card milik Indosat dan cara menggunakannya juga mudah yaitu pengguna tinggal menempelkan ponsel (yang telah dilengkapi NFC ke reader EDC di merchant-merchant Bank Mandiri.  Untuk sementara layanan ini baru diuji coba terbatas kepada karyawan PT Indosat dan Bank Mandiri sambil menunggu ketersediaan ponsel yang NFC enable yang rencananya akan dikeluarkan beberapa provider handset terkemuka di akhir tahun ini.</p>
<p><strong>Indosat  tengah melakukan pembangunan penggelaran jaringan  SKKL Jakabare, kira-kira kapan rampungnya? </strong></p>
<p>Kami berharap, SKKL Jakabare ini   akan selesai pembangunannya pada semester I 2009. SKKL  ini akan mampu menyediakan kapasitas 160 Gbit/s hingga 640 Gbit/s yang akan memberikan koneksitas bandwith yang tinggi yang diharapkan dapat mengantisipasi  pertumbuhan pasar layanan komunikasi data dan internet di Indonesia. Jaringan ini nantinya akan dapat memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kapasitas jaringan yang melayani rute Indonesia ke Singapura. SKKL Jakabare ini akan memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan pasar broadband di Indonesia. Kami berharap SKKL Jakabare ini akan dapat mendukung perusahaan dalam memberikan layanan komunikasi data dan internet dengan kualitas yang semakin baik dan meningkatkan kenyamanan komunikasi data pelanggan. Kami saat ini tengah melakukan diversifikasi jaringannya guna melayani suatu permintaan yang terus bertumbuh dengan meningkatkan penggunaan data dan internet di dalam negeri.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=929&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/08/26/johnny-sjam-bisnis-indosat-tumbuh-pesat.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NFC, Transaksi Via Ponsel</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/08/13/nfc-transaksi-via-ponsel.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/08/13/nfc-transaksi-via-ponsel.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 08:50:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[China Mobile]]></category>
		<category><![CDATA[Maxis]]></category>
		<category><![CDATA[micro payment]]></category>
		<category><![CDATA[Nokia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=851</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/08/web.jpg"></a>Konsep micro payment dinilai cocok digunakan sebagai  solusi transaksi m-banking di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Kehadiran teknologi NFC mendukung kemudahan layanan ini.</p>
<p>Dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Bukan hanya jumlah &#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/08/web.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-852" title="web" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2008/08/web-300x207.jpg" alt="" width="300" height="207" /></a>Konsep micro payment dinilai cocok digunakan sebagai  solusi transaksi m-banking di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Kehadiran teknologi NFC mendukung kemudahan layanan ini.</p>
<p>Dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Bukan hanya jumlah penduduk, Indonesia juga memiliki luas wilyah terbesar dengan pengguna pengguna selular terbanyak. Sampai akhir tahun lalu, diperkirakan ada lebih dari 80 juta pengguna layanan selular. Sayangnya, dibanding negara-negara tetangga, ternyata Indonesia masih kalah dalam hal pengguna internet atau mobile banking.  Padahal m-banking sudah hadir di Tanah Air sejak tahun 2000an.</p>
<p>Dibanding Filipina misalnya, Negara ini hanya memiliki 88,7 juta penduduk dengan pelanggan seluler 47,5 juta. Pengguna m-bankingnya jangan ditanya. Diperkenalkan oleh dua operator utama, Globe Telecom dengan nama layanan G-Cash (hadir tahun 2004) dan Smart Communications dengan nama layanan Smart Money (hadir tahun 2000), masing-masing kini memiliki pelanggan 1,5 juta dan 5,5 juta pengguna. Sementara Indonesia, hingga kini baru sampai angka 40 juta nomer rekening di bank nasional, sunggu tidak sebanding dengan jumlah penduduknya.  Padahal, m-banking dipandang sebagai solusi tepat bagi negara berkembang dengan hambatan geografis.</p>
<p>Setiap pengguna dapat menikmati kemampuan m-banking seperti transaksi finansial, menabung, cek saldo, mengirim uang, membayar cicilan, membeli barang dan jasa. Konsep ini merupakan solusi tepat bagi penduduk di wilayah pedesaan atau kelompok masyarakat yang tidak dapat memiliki rekening bank karena berbagai kendala, seperti kondisi geografis, biaya, infrastruktur dan lainnya. G-Cash dan Smart Money cepat populer karena kemudahan penggunaan, yakni berjalan di basis teknologi standar SMS dengan STK (SIM Tool Kit) browser.</p>
<p>Pada dasarnya pengguna selular yang ingin memanfaatkan layanan ini tidak harus memiliki rekening di bank. Sebelum menggunakan layanan, terlebih dahulu harus mendaftar melalui ponsel. Setelah itu dapat mengisi uang elektronik dengan membelinya ke berbagai gerai yang telah ditunjuk. Bisa juga dengan memperoleh uang elektronik di bank dan outlet yang menjadi mitra G-Cash dan Smart Money. Sistem ini biasa disebut dengan micropayment. Banyak manfaat yang diperoleh, seperti keamanan dan hemat waktu bertransaksi. Operator pun dapat menekan terjadinya churn rate (kartu hangus). Di Indonesia, konsep ini mulai diterapkan oleh Telkomsel dengan nama layanan T Cash pada November 2007.</p>
<p>Berkaitan dengan hal ini,  Juniper Research mengatakan, terdapat peluang yang signifikan untuk perkembangan layanan mobile payment yang menggunakan teknologi Near Field Communication (NFC), chip, ponsel dan teknologi lainnya, pada kurun waktu 2011 hingga 2013.</p>
<p>NFC sendiri cocok digunakan oleh masyarakat di negara berkembang. Saat ini Jepang telah memimpin layanan micropayment dan mobile payment dengan meluncurkan ponsel-ponsel berkemampuan NFC. Langkah ini akan diikuti oleh negara-negara di Amerika Utara, Eropa Barat dan beberapa negara lainnya seperti Korea, Singapura dan Australia. Cara kerja NFC adalah dengan mendekatkan ponsel ke sebuah alat pembaca data (wireless reader) seperti di toko swalayan membaca barcode barang yang dibeli atau dengan mengetikkan nomor PIN di ponsel.</p>
<p>NFC digagas oleh Nokia bersama operator telekomunikasi raksasa asal Eropa dan Asia – meliputi KPN, Maxis Communications Bhd, O2, Orange, SingTel, SKT, dan Wind serta 14 operator mobile lainnya. Mendukung proyek ini juga terlibat MasterCard. Sedangkan pengembangan wireless chip untuk NFC pada ponsel melibatkan China Mobile, Vodafone, Cingular yang dimiliki AT&amp;T Inc, BellSouth Corp, dan Telefonica bersama produsen chip NXP serta Sony yang jadi pionir contactless chip.</p>
<p>Secara teknis, teknologi ini sudah siap. Bahkan, vendor terbesar dunia asal Finlandia, Nokia, sudah memperkenalkan empat produk ponsel yang mengadopsi teknologi ini. Kendalanya adalah terbatasnya jumlah ponsel yang beredar di pasar dan tingginya biaya mengadopsi teknologi ini.</p>
<p>ABI Research memproyeksikan 6,5 juta ponsel NFC terjual tahun ini atau naik 10 kali lipat dari angka pada 2007. Sementara Strategy Analytics  mengatakan, meski 25% operator mendukung teknologi ini, NFC sepertinya masih sulit memasuki tahap uji coba tahun ini. Di Indonesia, dukungan pemerintah sebagai regulator sangat penting, terutama adanya aturan-aturan perlindungan konsumen dan mencegah terjadinya praktek pencucian uang.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=851&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/08/13/nfc-transaksi-via-ponsel.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

