<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BISKOM : Mitra Komunitas Telematika &#187; Open Source</title>
	<atom:link href="http://www.biskom.web.id/tag/open-source/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.biskom.web.id</link>
	<description>Situs Berita Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Jul 2010 05:36:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Digitalisasi Perlindungan Dokumen Pemerintah</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2009/01/22/digitalisasi-perlindungan-dokumen-pemerintah.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2009/01/22/digitalisasi-perlindungan-dokumen-pemerintah.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 06:24:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ODF]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=1739</guid>
		<description><![CDATA[<p>Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pencarian kembali dokumen penting di pemerintahan, diperlukan bantuan perangkat komputer baik software ataupun hardwarenya, sehingga dokumen dapat disimpan secara elektronik atau digital. Jadi, setiap saat dokumen tersebut diperlukan maka dengan mudah dapat ditampilkan dan dicetak.&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1740" title="inspiration" src="http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/01/inspiration-300x199.jpg" alt="inspiration" width="300" height="199" />Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pencarian kembali dokumen penting di pemerintahan, diperlukan bantuan perangkat komputer baik software ataupun hardwarenya, sehingga dokumen dapat disimpan secara elektronik atau digital. Jadi, setiap saat dokumen tersebut diperlukan maka dengan mudah dapat ditampilkan dan dicetak. Namun dengan bervariasinya perangkat lunak yang digunakan untuk mengolah dokumen, dapat menghasilkan dokumen dengan format yang berbeda sehingga tingkat interoperabilitasnya menjadi masalah. Begitu juga tingkat keterbacaan dokumen menjadi sulit bahkan tidak dapat dibaca oleh software baru sekalipun.</p>
<p>Hal tersebut merupakan salah satu kondisi saat ini yang sedang dihadapi dan perlu solusi, kondisi lainnya adalah  (1) setiap orang, akademisi, pemerintah, bisnis dan berbagai komunitas berhubungan satu dengan lainnya, (2) kebutuhan untuk mengakses data dan domuken semakin tingi, (3) hampir setiap orang membutuhkan sumber dokumen dari rekan kerjanya, (4) tidak semua institusi menggunakan software yang sama, (5) tidak semua institusi menggunakan format yang sama, dan (6) tidak semua software dapat membuka format software lainnya.</p>
<p>Dengan memperhatikan kondisi tersebut diatas maka munncul permasalahan baru, antara lain (1) kesulitan mengakses dokumen orang lain, (2) kesulitan bekerjasama dengan organisasi lain, (3) kesulitan dalam pertukaran dokumen.</p>
<p>Kesulitan tersebut terjadi antara lain disebabkan oleh (1) format dokumen yang bergantung pada software tertentu saja, (2) software dibuat oleh vendor tententu, (3) spesifikasi format dokumen hanya diketahui vendor yang bersangkutan saja, (4) format dokumen sangat bergantung pada kebijakan vendor.</p>
<p>Muncul masalah lain yaitu jika vendor tidak lagi mendukung format lama dan pindah ke format baru maka ribuan bahkan jutaan dokumen dalam format lama  tidak terbaca. Jika vendor dan softwarenya sudah tidak eksis lagi maka dokumen yang bertahun-tahun lalu dengan format lama tidak dapat diakses.</p>
<p>Maka solusinya adalah (1) menggunakan format yang sama untuk semua software berjenis sama, (2) semua vendor dan publik tahu spesifikasi format dokumen yang dipakai, (3) spesifikasi format dokumen mudah dipahami dan diimplementasikan kapanpun diperlukan, (4) meneerapkan keberadaan open standard untuk format dokumen.</p>
<p>Mengapa harus open standard? Alasannya adalah utnuk (1) meningkatkan interoperabilitas, (2) menghindari adanya vendor lock-in, (3) menurunkan biaya peneluaran untuk rolayti, (4) mengendalikan kompetisi developer software, (5) memungkinkan adanya substitutiability, dan (6) kebebasan memilih aplikasi software.</p>
<p>Open standard mempunyai karakteristik berikut (1) ketersediaan semua spesifikasinya untuk dibaca dan diimplementasikan, (2) memaksimalkan pilihan aplikasi software, (3) tidak ada royalti, (4) tidak ada diskriminasi terhadap vendor tertentu, (5) dapat dikembangkan menjadi subset standar yang lain, (6) dapat diimplementasikan di berbagai negara, dan (7) spesifikasi yang terbuka untuk umum.</p>
<p>Keuntungan bila mengimplementasi format dokumen terbuka adalah (1) dapat menghindari adanya monopoli suatu vendor, (2) memberikan banyak pilihan, (3) format file benar-benar terbuka, sehingga untuk kedepannya software akan dapat selalu dikembangkan berdasarkan spesifikasi format dokumen yang jelas, (4) implementasi format dokumen sangatlah efektif dalam hal biaya, dikarenakan setiap aplikasi yang mengimplementasikannya akan menyediakan harga yang kempetitif, hal ini termasuk juga dalam solusi open source, sangat membantu para pengguna dengan tidak harus membeli software tertentu untuk dapat mengakses informasi yang diinginkan.</p>
<p>Kendala bila menggunakan format dokumen terbuka adalah (1) masa adaptasi, merupakan suatu hal baru untuk diimplementasikan seiring sebagian besar para pengguna yang sudah kompatibel dengan aplikasi software tententu, (2) turunnya tingkat produktifitas kinerja, dengan adanya permasalahan seperti dibutuhkannya adaptasi software yang terlalu lama makan akan menimbulkan dampat negatif yaitu akan turut menurunnya tingkat produktifitas kinerja.</p>
<p>Sebagai suatu gambaran bagaimana kebijakan di Luar negeri untuk mengadopsi format dokumen terbuka. Dimulai dengan adanya gagasan mengenai diperlukannya suatu format dokumen standar untuk pertukaran dokumen antar menteri/lembaga yaitu ODF (Open Docoment Format) sesuai ISO International Standard Organization) yang berlaku. Kemudian di bentuk Tim untuk mendiskusikan kriteria yang akan dijadikan standar format dokumen. Pengambilan keputusan dilakukan pemerintah untuk menggunakan ISO sebagai format dokumen dengan syarat bahwa kondisi pada saat menggunakan ODF harus kompatibel dengan sistem yang ada sebelumnya; tidak menutup kemungkinan terjadi perubahan kabijakan sejalan dengan perkembangan format ISO; perubahan implementasi harus membawa efek positif bagi pemerintahan.</p>
<p>Salah satu solusi untuk melindungi dokumen pemerintah adalah dengan menggunakan dokumen yang sama dengan mengacu pada format yang berlaku secara internasional. Misalnya untuk aplikasi perkantoran dapat menggunakan Open Document Format (ODF) yang sudah di sahkan oleh International Standard Organization (ISO) dan International Electrotechnical Commission (IEC) No. 26300 pada tanggal 3 Mei 2006. ODF mendukung pengambilan informasi dan pertukaran domuken tanpa harus berhubungan dengan aplikasi atau platform yang digunakan ketika membuat dokumen tersebut. Ekstensi format file untuk perkantoran ini meliputi .odt untuk format teks pada wordprocessing, .odp untuk format data presentasi, .ods format data untuk spreadsheet, .odg format data untuk grafik, dan .odf format data untuk formula persamaan matematika.</p>
<p>Penulis :<strong></strong></p>
<p><strong>Engkos Koswara</strong> (Staf Ahli Menristek Bidang TIK)<br />
<strong>Idwan Suardi</strong> (Deputi Menristek Bidang Pendayagunaan dan Pemanfaatan Iptek)<br />
<strong>Kemal Prihatman</strong> (Asisten Deputi Menristek Bidang Pengembangan dan Pemanfaatan TI)</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=1739&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2009/01/22/digitalisasi-perlindungan-dokumen-pemerintah.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebangkitan Nasional Dalam TI &amp; Pendidikan</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/07/14/kebangkitan-nasional-dalam-ti-pendidikan.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/07/14/kebangkitan-nasional-dalam-ti-pendidikan.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 10:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[BlankOn]]></category>
		<category><![CDATA[Depdiknas]]></category>
		<category><![CDATA[Depdiknux]]></category>
		<category><![CDATA[IGOS]]></category>
		<category><![CDATA[Jardiknas]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[proprietary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/kebangkitan-nasional.jpg"></a>Bagi masyarakat Indonesia, 100 tahun Kebangkitan Nasional memiliki makna yang dalam. Semangat yang ditandai dengan berdirinya organisasi pemuda Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, merupakan masa bangkitnya semangat kesadaran persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/kebangkitan-nasional.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-653" title="kebangkitan-nasional" src="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/kebangkitan-nasional.jpg" alt="" width="112" height="168" /></a>Bagi masyarakat Indonesia, 100 tahun Kebangkitan Nasional memiliki makna yang dalam. Semangat yang ditandai dengan berdirinya organisasi pemuda Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, merupakan masa bangkitnya semangat kesadaran persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini merupakan memontum yang tepat bagaimana kita menyikapi peristiwa ini dengan adanya penawaran yang “menggiurkan” dari pihak Microsoft, yaitu bantuan piranti lunak gratis “free” untuk digunakan siswa di sekolah-sekolah di Indonesia. Tawaran baik dari pihak Microsoft perlu ditelaah dari manfaat apa yang diambil serta dampak untuk masa depan genarasi muda Bangsa Indonesia.</p>
<p><span id="more-652"></span>Saat ini, komputer untuk dunia pendidikan khususnya di sekolah-sekolah digunakan untuk kegiatan belajar mengajar serta untuk pengelolaan administrasi sekolah. Siswa dapat belajar bagaimana menggunakan perangkat lunak untuk membuat dan mengetik suatu dokumen, database, bahan presentasi sampai dengan  mendisain gambar. Di sisi lain, siswa juga dapat menggunakannya untuk mendukung kegiatan mata pelajaran lain dengan mencari informasi tambahan di dunia nyata dengan menggunakan aplikasi web browser. Penggunaan komputer perlu dikuasai oleh para siswa/siswi dalam mengakses bahan-bahan pelajaran yang diinisiasi oleh Program Pengadaan Buku Teks Pelajaran Murah yang baru-baru ini diluncurkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Untuk sekolah tingkatan SMA/SMK, penguasaan ilmu komputer bukan hanya diperuntukan sebagai pengguna saja akan tetapi pemanfaatannya digunakan untuk membuat atau mengembangkan perangkat lunak tertentu.</p>
<p>Pada saat ini, pengelolaan administrasi sekolah perlu dilakukan dengan cepat, aman dan tepat. Pengelolaan administrasi sekolah tersebut meliputi data organisasi guru dan siswa, manajemen keuangan, pengelolaan program mata pelajaran, pengelolaan absensi dan nilai akademik, sarana dan prasarana dan lain-lain.</p>
<p>Untuk mengoperasikan komputer tersebut dibutuhkan perangkat lunak berupa sistem operasi dan aplikasi yang “berjalan” di atasnya. Sistem operasi sebagai “otak” komputer berfungsi untuk mengatur berbagai perintah dasar menjalankan bermacam peralatan pendukung, seperti layar, papan ketik, mouse dan sebagainya, termasuk menjalankan satu atau beberapa perangkat lunak lainnya seperti pengolah kata, membuat tabel, program untuk menggambar, mengirim e-mail; browser web, dan lain-lain.</p>
<p>Untuk mendukung pengoperasian komputer tersebut terdapat dua jenis perangkat lunak yang dikenal, yaitu perangkat lunak proprietary dan perangkat lunak open source. Perangkat lunak proprietary yang disebut juga perangkat lunak sumber tertutup, atau perangkat lunak berbayar, atau perangkat lunak berpemilik yang merupakan perangkat lunak dengan pembatasan terhadap penggunaan, penyalinan, dan modifikasi yang diterapkan oleh pemilik atau pemegang hak. Sedangkan perangkat lunak open source adalah jenis perangkat lunak yang kode sumber nya terbuka sehingga dapat dipelajari, diubah, ditingkatkan dan disebarluaskan.</p>
<p>Dengan adanya piranti lunak gratis tersebut, tentunya akan meringankan pihak pemerintah, terutama pihak sekolah dalam pengadaan perangkat lunak legal. Hal ini sejalan dengan program pemerintah melalui program DeTIKNas dalam legalisasi perangkat lunak yang terus digalakkan saat ini. Siswa dapat menggunakan perangkat lunak legal untuk kegiatan menimba ilmu pengetahuan di sekolah dengan tenang tanpa harus was-was di “sweeping” oleh pihak berwajib, dan yang paling penting adalah menanamkan kesadaran perlunya menghormati hak kekayaan intelektual.</p>
<p>Perangkat lunak open source yang dikembangkan ternyata ttelah memenuhi kebutuhan kegiatan belajar siswa maupun kegiatan pengelolaan sekolah dengan berbagai aplikasi untuk SD sampai SMA dengan materi pelajaran tentang komputer, matematika, kimia, dan fisika.  Beberapa perangkat lunak open source karya Bangsa Indonesia telah menawarkan kelebihan tersebut untuk kebutuhan pendidikan, sebut saja perangkat lunak BlankOn Ver 3 atau IGOS Nusantara yang dikembangkan secara terbuka dan bersama-sama yang sangat kental dengan khas Indonesia. Untuk perangkat pengaturan jaringan (gateway dan bandwidth monitoring and management) telah dikembangkan perangkat lunak Depdiknux yang dikembangkan oleh Depdiknas dan telah digunakan untuk keperluan Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas).</p>
<p>Saat ini, penggunaan komputer dengan perangkat lunak sudah menjadi kebutuhan dalam kegiatan siswa untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan sebanyak-banyaknya. Pembekalan pengetahuan dan ketrampilan bagi para siswa dalam pengoperasian komputer seyogyanya menganut kepada prinsip keterbukaan bukan mengarah ke satu sistem tertentu. Siswa harus diberikan kesempatan untuk menimba ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang lengkap dan seimbang dalam penggunaan komputer baik dengan menggunakan open source maupun proprietary. Jangan sampai kita hanya memberikan pengetahuan kepada siswa dari satu sisi teknologi saja atau dengan cara menyajikan “menu yang tersedia” belaka yang akan membatasi pola pikir dan kreasi anak. Ketergantungan akan sistem perangkat lunak ini dapat membentuk mindset terhadap satu perangkat lunak tertentu akan terus dibawa setelah siswa lulus dan terus digunakan untuk bekerja dan yang menjadikan kita kecanduan dan akan tetap terbelenggu oleh satu teknologi saja.</p>
<p>Dengan pemikiran tersebut di atas, marilah kita memiliki kemerdekaan untuk menentukan masa depan bagi keperluan siswa/siswi kita. Berikanlah semua pengetahuan kepada para penerus bangsa tanpa ada pembatasan-pembatasan tertentu.  Jangan hanya memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa dengan cara “menggunakan kacamata kuda”. Inilah makna dari kemerdekaan yang mungkin harus kita pilih. Jangan sampai hilang harapan dari arti 100 tahun Kebangkitan Nasional ini.</p>
<p><strong>Kemal Prihatman</strong></p>
<p>Asisten Deputi Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi, Kementerian Negara Riset dan Teknologi</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=652&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/07/14/kebangkitan-nasional-dalam-ti-pendidikan.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kusmayanto Kadiman Harap AOSI Go International</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/07/13/kusmayanto-kadiman-harap-aosi-go-international.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/07/13/kusmayanto-kadiman-harap-aosi-go-international.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 03:08:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[AOSI]]></category>
		<category><![CDATA[Betti Alisjahbana]]></category>
		<category><![CDATA[BPPT]]></category>
		<category><![CDATA[Kusmayanto Kadiman]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[telematika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=643</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/17.jpg"></a>Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) yang baru saja berdiri memiliki sejumlah target yang ingin dicapai pada tahun ini. Ketua AOSI yang sekaligus Duta Open Source Indonesia, <strong>Betti Alisjahbana</strong> mengatakan, AOSI telah  membagi target yang ingin dicapai dalam waktu 30 hari, 100&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/17.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-644" title="17" src="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/17.jpg" alt="" width="209" height="137" /></a>Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) yang baru saja berdiri memiliki sejumlah target yang ingin dicapai pada tahun ini. Ketua AOSI yang sekaligus Duta Open Source Indonesia, <strong>Betti Alisjahbana</strong> mengatakan, AOSI telah  membagi target yang ingin dicapai dalam waktu 30 hari, 100 hari, dan 1 tahun. Dalam 30 hari, AOSI ingin mendata siapa pemain open source di Indonesia dan melakukan sinergi antar para pemain di bidang open source. Dalam 30 hari tersebut, AOSI juga telah membentuk kepengurusan sekaligus melegalkan AOSI sehingga berbadan hukum pada 30 Juni lalu. Dalam waktu dekat, AOSI juga meluncurkan portal www.aosi.or.id yang berisi segala macam informasi yang dibutuhkan untuk menggunakan maupun mengembangkan software open source.</p>
<p><span id="more-643"></span>Sementara program seratus hari AOSI adalah membentuk kepengurusan tetap. &#8220;Syukurlah, kepengurusan tersebut telah terbentuk pada 3 Juli lalu. Tinggal kini adalah bagaimana melakukan sosialisasi aplikasi open source maupun industrinya,&#8221; kata Betti kepada BISKOM.</p>
<p>AOSI ingin meningkatkan skill dari para pemain open source baik dari segi teknis maupun secara bisnis dengan cara membuat diskusi fokus group dengan organisasi pemerintah yang relevan seperti Departemen Komunikasi dan Informatika, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Departemen Perindustrian khususnya di bidang telematika, dan lainnya. Kemudian, kata Betti, &#8220;Kami juga ingin melakukan Roadshow Exibition dan Publikasi mengenai pngembangan open source. Dan kemudian seperti yang banyak yang dikeluhkan adalah persedian driver sebagai perangkat penunjang. Hal ini juga akan kami bicarakan dengan para pemain untuk meyakinkan bahwa driver itu bisa tersedia untuk Indonesia.&#8221;</p>
<p>Sementara dalam satu tahun, AOSI ditargetkan  sudah cukup kuat untuk mulai memasarkan secara internasional sistem operasi open source maupun jasa-jasa TI lain berdasarkan aplikasi open source. &#8220;Kami juga ingin AOSI bisa menjadi suatu marketing house yang bisa membantu mempromosikan pemain TI di Indonesia,&#8221; harapnya.</p>
<p>Menanggapi hal ini, Menteri Negara Riset dan Teknologi, <strong>Kusmayanto Kadiman</strong> meminta agar AOSI aktif di dalam mengembangkan keanggotaannya, termasuk ke para pengguna, juga pihak perbankan, perguruan tinggi dan industri telekomunikasi. &#8220;AOSI juga harus melakukan sinergi dengan Pusat Open Source Software (POSS) yang saat ini sudah ada 20 pusat di berbagai daerah. Saya berharap AOSI dapat membawa  nama Indonesia ke tingkat international dalam hal open source, diantaranya Asia Open Source Workshop dan Asia Afrika Open Source Workshop,&#8221; katanya saat melakukan audiensi dengan AOSI di gedung BPPT Jakarta (10/7).</p>
<p>Untuk mewujudkan hal ini, pada 50 tahun Asia Afrika, sudah dicanangkan program &#8220;Helping Palestine&#8221;, dan Kementerian Negara Ristek akan membantu dalam bidang komputerisasi dengan open source, sekaligus meminta Sekjen ASEAN menjadi Duta Kehormatan Open Source.</p>
<p>AOSI sendiri dibentuk oleh 17 perusahaan, serta didukung oleh Departemen Komunikasi dan Informatika. Kedepan, akan semakin banyak perusahaan dan berbagai institusi yang bergabung dalam AOSI.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=643&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/07/13/kusmayanto-kadiman-harap-aosi-go-international.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menegristek Adakan Audiensi Dengan AOSI</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/07/10/menegristek-adakan-audiensi-dengan-aosi.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/07/10/menegristek-adakan-audiensi-dengan-aosi.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 05:52:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[AOSI]]></category>
		<category><![CDATA[BISKOM]]></category>
		<category><![CDATA[IGOS]]></category>
		<category><![CDATA[Menegristek]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[OSS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=627</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/1a.jpg"></a>Penggunaan open source software (OSS) di dalam negeri  tidak dapat ditawar atau ditunda lagi. Pemerintah pun telah berkomitmen untuk menghapus citra Indonesia sebagai salah satu negara pembajak terbesar di dunia. Karenanya, pemerintah mengajak komunitas open source Indonesia untuk membentuk Asosiasi&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/1a.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-629" title="1a" src="http://www.biskom.web.id/data/2008/07/1a.jpg" alt="" width="367" height="127" /></a>Penggunaan open source software (OSS) di dalam negeri  tidak dapat ditawar atau ditunda lagi. Pemerintah pun telah berkomitmen untuk menghapus citra Indonesia sebagai salah satu negara pembajak terbesar di dunia. Karenanya, pemerintah mengajak komunitas open source Indonesia untuk membentuk Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI).</p>
<p><span id="more-627"></span>Asosiasi yang yang terdiri dari perhimpunan organisasi pencinta, penggiat, pengembang, pemakai, pendidik dan pendukung OSS ini menjadi wadah tingkat nasional yang tujuannya  mengajak masyarakat untuk melakukan adopsi open standard secara kongkret, sekaligus meningkatkan pangsa pasar serta jumlah pengguna OSS.</p>
<p>Di sisi lain, anggota AOSI juga akan terus meningkatkan kemampuan OSS yang beredar di masyarakat, termasuk ketersediaan piranti pendukung peripheral dan jasa layanan.</p>
<p>Setelah mengukuhkan AOSI sebagai asosiasi legal dan memiliki sejumlah program nyata pada akhir Juni lalu, formatur awal AOSI pada hari ini (10/7) mengadakan audiensi dengan Menteri Negara Riset dan Teknologi, <strong>Kusmayanto Kadiman</strong> di Lt. 23 Gedung II BPPT.</p>
<p>Pada kesempatan tersebut  hadir 15 anggota pendiri AOSI yang diketuai oleh <strong>Betti Alisjahbana</strong> dan Sekjen AOSI,  <strong>Sumitro Roestam</strong>. Sementara dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi dihadiri <strong>Idwan Suhardi</strong> dan <strong>Engkos Koswara</strong>.</p>
<p>Dalam pertemuan ini AOSI menetapkan 17 indikator ukuran keberhasilan, dengan fokus utama pada 5 indikator yaitu membentuk citra OSS yang positif di mata masyarakat, mengupayakan agar Indonesia melakukan adopsi open standard secara konkret, meningkatkan pangsa pasar dan jumlah pengguna OSS (perusahaan, perorangan, pemerintah), menyediakan  produk dan jasa OSS untuk berbagai kebutuhan utama serta berusaha agar pendidikan teknologi informasi di sekolah dilakukan dengan basis open source.</p>
<p>17 perusahaan dan lembaga penggiat open source yang telah terdaftar sebagai pendiri AOSI adalah PT Jatis Solutions Ecom, PT Quantum Business International, PT Duta Astakona Girinda, PT Rimba Sindikasi Media, Yayasan Air Putih, PT Nurul Fikri Cipta Inovasi, PT Infolinux Media Utama, Yayasan One Destination Center, Yayasan Penggerak Linux Indonesia, PT Multikom Persada International, PT Extol Indonesia, PT Securitama Systematindo International, Sun Microsystems Indonesia, PT Linuxindo Total Solusi, PT IBM Indonesia, PT Indosat Mega Media dan Majalah BISKOM.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=627&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/07/10/menegristek-adakan-audiensi-dengan-aosi.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>OSS Dukung Penilitian Teknologi</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/06/10/oss-dukung-penilitian-teknologi.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/06/10/oss-dukung-penilitian-teknologi.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 08:18:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>belutz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sepanjang sejarah, dunia kampus terus jadi sorotan, terutama saat krisis energi dunia yang imbasnya juga dirasakan Indonesia akhir-akhir ini. Mereka kerap jadi <em>pioneer</em>, tak hanya dari sisi politik lewat demo-demo yang bisa mereka kedepankan, tapi lebih utama adalah ilmu pengetahun,&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-472" title="editorial" src="http://www.biskom.web.id/data/2008/06/editorial.jpg" alt="" width="277" height="162" />Sepanjang sejarah, dunia kampus terus jadi sorotan, terutama saat krisis energi dunia yang imbasnya juga dirasakan Indonesia akhir-akhir ini. Mereka kerap jadi <em>pioneer</em>, tak hanya dari sisi politik lewat demo-demo yang bisa mereka kedepankan, tapi lebih utama adalah ilmu pengetahun, sains dan teknologi.</p>
<p>Di era serba komputer, ada banyak pilihan piranti lunak yang menyokong kemampuan para akademisi untuk melahirkan inovasi. Salah satunya yang berbasis <em>open source.</em> Mengutip pendapat seorang pendidik TI, <strong>Arli Parikesit</strong>, ilmuwan berdiri di dua kaki yang berbeda. Satu kaki bekerja di industri komersial, kaki lainnya berada di institusi pendidikan atau badan penelitian di luar departemen. Namun hal itu semakin samar. Kini marak industrialisasi pendidikan yang membuat proses belajar mengajar tunduk pada kepentingan komersial.<span id="more-473"></span></p>
<p>Ilmuwan yang bekerja di industri komersial akan mengembangkan <em>software</em> yang bersifat <em>proprietary</em>. Misalkan pabrik farmasi ingin memproduksi antibiotik, maka dalam pengembangannya berhubungan dengan rahasia industri. Tentunya secara otomatis inovasi industri ini ditiru, sehingga perlindungan paten dan aplikasi yang dikembangkan akan bersifat <em>proprietary</em>.</p>
<p>Berbeda ceritanya bila ilmuwan di perguruan tinggi bekerja sama dengan badan penelitian. Keduanya menjalankan misi sosial sebagai pelopor sains dan teknologi. Sesuai dengan misinya, penelitian sains dan teknologi diharapkan dapat digunakan oleh masyarakat luas.</p>
<p>Di sisi lain, kompetisi global yang kompetitf mengharuskan bangsa ini mencari solusi hemat dan pintar terhadap perkembangan industri sains dan teknologi. Pemanfaatan telematika pada bidang lain diharapkan memberikan <em>selling point</em> pada setiap komoditi yang dihasilkan industri lokal.</p>
<p>Dalam rangka penghematan tadi, <em>open source</em> berperan penting. Harga terjangkau, bahkan cuma-cuma, menjadikan <em>open source</em> sebagai alternatif ekonomis yang terbaik untuk pengembangan industri sains dan teknologi. Kita semua menunggu, aplikasi <em>open source</em> yang dikembangkan para peneliti untuk proses industri sains dan teknologi dapat meningkatkan, bahkan menciptakan produk yang kompetitif. Tentunya, asli buatan anak bangsa.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=473&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/06/10/oss-dukung-penilitian-teknologi.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MoU 18 Kementerian Pacu Semangat Penggunaan OSS</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/06/06/mou-18-kementerian-pacu-semangat-penggunaan-oss.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/06/06/mou-18-kementerian-pacu-semangat-penggunaan-oss.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 06:55:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>belutz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[IGOS]]></category>
		<category><![CDATA[IGOS Summit]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[<p>Komitmen pemerintah terhadap masalah pembajakan rupanya cukup serius. Sejak penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh 18 pemerintahan di pertemuan tingkat menteri, IGOS Summit 2 (27-28/5) untuk menggunakan <em>open source</em> (<em>software</em> OSS), pihak pemerintahan terus menaruh perhatiannya akan perkembangan OSS di tanah air. Bahkan&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-460" title="deklarasi-igos" src="http://www.biskom.web.id/data/2008/06/deklarasi-igos.jpg" alt="" width="312" height="177" />Komitmen pemerintah terhadap masalah pembajakan rupanya cukup serius. Sejak penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh 18 pemerintahan di pertemuan tingkat menteri, IGOS Summit 2 (27-28/5) untuk menggunakan <em>open source</em> (<em>software</em> OSS), pihak pemerintahan terus menaruh perhatiannya akan perkembangan OSS di tanah air. Bahkan semangat penggunaan OSS telah berimbas pada sentra penjualan komputer rakitan di Jakarta. Setidaknya demikian fenomena yang dipantau BISKOM hari ini di Harco Mangga Dua, Jakarta.<span id="more-459"></span></p>
<p>Para pembeli komputer rakitan meminta komputernya diinstal IGOS (Indonesia Go Open Source), sebaliknya para penjual dengan cukup gencar menawarkan IGOS untuk diinstal ke komputer rakitan tersebut. Bahkan, toko-toko itu juga menambah IGOS dengan program buatan mereka dan diberi nama toko masing-masing. &#8220;Terus terang komitmen pemerintah tentang himbauan penggunaan OSS memang membuat para pemakai komputer percaya akan kinerja OSS buatan pemerintah,&#8221; kata <strong>Iwan</strong>, seorang pedagang komputer. Dan yang menyenangkan, untuk sistem operasi IGOS yang diinstalkan, semua gratis.</p>
<p>Menanggapi hal ini, Staf Ahli Menteri Negara Ristek Bidang Teknologi Informasi dan Teknologi, <strong>Engkos Koswara</strong> mengatakan, IGOS Nusantara yang berbasis Linux Fedora memang sudah cukup baik performanya dan layak menggantikan sistem operasi berbayar yang sudah ada.</p>
<p>Namun Engkos menambahkan, pihaknya tidak mengharuskan masyarakat menggunakan IGOS, karena selain IGOS, banyak OSS lain yang memiliki performa sama baiknya, misalnya Ubuntu, dan lain sebagainya. &#8220;Yang penting adalah legal, meski tentunya ada kebanggaan tersendiri jika menggunakan buatan bangsa sendiri,&#8221; katanya.</p>
<p>Sebagai info, pada IGOS Summit 2, 18 kementerian yang turut menandatangani MoU tersebut adalah Departemen Komunikasi dan Informatika, Kementerian Negara Ristek, Sekretariat Negara, Kementerian BUMN, Kementerian PAN, Bappenas, Kementerian Koperasi &amp; UKM, Departemen Perhubungan, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Perindustrian, Departemen Sosial, Departemen Agama, Departemen Kehutanan, Departemen Keuangan, Departemen Dalam Negeri, Departemen Hukum dan HAM, Departemen Perdagang­an serta Kepolisian RI.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=459&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/06/06/mou-18-kementerian-pacu-semangat-penggunaan-oss.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fractal, Dari Tradisional Menuju Batik Modern</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/06/05/fractal-dari-tradisional-menuju-batik-modern.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/06/05/fractal-dari-tradisional-menuju-batik-modern.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 08:57:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>belutz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Fractal]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[<p>Istilah &#8220;Mendadak Batik&#8221; kian populer. Maklumlah, batik saat ini tengah naik daun. Di hampir semua sentra perdagangan fashion, di tempat-tempat gaul, sampai ke forum-forum resmi, orang dengan percaya diri menggunakan pakaian dengan bahan bermotif batik. Tapi tahukah Anda bahwa motif&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-451" title="web-batikresized" src="http://www.biskom.web.id/data/2008/06/web-batikresized.jpg" alt="" width="150" height="225" />Istilah &#8220;Mendadak Batik&#8221; kian populer. Maklumlah, batik saat ini tengah naik daun. Di hampir semua sentra perdagangan fashion, di tempat-tempat gaul, sampai ke forum-forum resmi, orang dengan percaya diri menggunakan pakaian dengan bahan bermotif batik. Tapi tahukah Anda bahwa motif batik bisa dirancang melalui komputer hingga menjadi motif baru yang sungguh indah? Dengan motif baru, tentunya Anda bisa tampil lain daripada yang lain, dan Anda tak perlu was-was jika batik yang Anda gunakan ternyata pasaran. Bagusnya, Anda kini bisa merancang sendiri satu motif yang sesuai dengan kepribadian Anda.</p>
<p>Semua itu dimungkinkan dengan teknologi Fractal yang dikembangkan oleh Pixel People Project, pelaku industri kreatif yang memelopori riset dan pengembangan batik Fractal di Indonesia. Fractal merupakan teknologi berbasis matematika yang membedah kondisi keteraturan dari keadaan tidak teratur. Dengan kata lain, batik fractal menggabungkan antara seni membatik yang bersifat tradisional dengan sains, khususnya matematika.<span id="more-450"></span></p>
<p>Teknologi ini nantinya memudahkan pengguna untuk membuat corak batik lebih banyak dengan variasi yang lebih beragam. &#8220;Karena batik menyerap kehidupan sosial dari masyarakat, maka batik bisa dilihat turunannya juga. Jadi batik bisa dibedah melalui teknologi Fractal, dan bisa dilihat rumus-rumus Fractalnya,&#8221; ujar <strong>Nancy Margried</strong>, Head of Business &amp; Publication Pixel People Project kepada BISKOM saat ditemui di IGOS Summit 2 di Jakarta. Menurutnya, sebuah batik harus dibuktikan terkebih dulu apakah bisa di-Fractalkan melalui suatu proses yaitu tranformasi <em>fourier</em>. &#8220;Proses tersebut akan menghitung dimensi Fractalnya, dan batik ternyata memiliki dimensi 1,5 yang berbeda dengan benda-benda lain di alam semesta,” paparnya.</p>
<p>Teknologi Fractal tidak hanya bisa diterapkan pada batik, tapi juga pada kain tradisional Tribal dari Irian, dan Candi Prambanan di Yogyakarta. Bagusnya, teknologi Fractal tidak akan mematikan atau menggusur orisinilitas motif tradisional. Dan yang terpenting, ternyata teknologi Fractal yang  dikembangkan bersama dengan IGOS Center Bandung bersifat <em>open source</em> sehingga bisa terus dikembangkan atau di <em>download</em> dengan bebas bagi mereka yang membutuhkan.</p>
<p><strong>Pacu Industri Kreatif</strong></p>
<p>Corak batik yang sarat dengan keindahan dan budaya Indonesia memang telah &#8216;menghipnotis&#8217; banyak orang. <strong>Shinta W Dhanuwardoyo</strong>, CEO PT Bubu Internet, salah satunya. &#8220;Menurut saya, batik yang terbaik yang pernah di buat di dunia adalah batik Indonesia. Orang Indonesia lah yang mempunyai kesabaran untuk membatik berbulan bulan dan menghasilkan mahakarya yang indah dan halus. Saya belum lihat negara lain melakukan hal yang sama,&#8221; katanya seperti dikutip dari Netsains.</p>
<p>Begitu cintanya kepada batik, Shinta pun mempunyai misi untuk memperkenalkan batik kepada masyarakat dunia. &#8220;Melalui blog saya, <a href="http://www.batikantik.com/">www.batikantik.com</a>, saya  melakukan edukasi mengenai batik. Berjualan batik online sudah ada di benak saya tapi belum sempat dijalankan, yang menjadi goal utama saya adalah melakukan edukasi dulu. Jika orang sudah tertarik baru saya akan menjalakan <em>e-commerce</em>. Dengan cara ini, saya menularkan kepada pengusaha batik di daerah terpencil bahwa kita dapat melakukan pemasaran batik ke seluruh dunia melalui internet. Tentunya ini mengurangi kendala jarak, waktu dan biaya.&#8221;</p>
<p>Kain batik yang diminati banyak orang dari seluruh dunia memiliki andil dalam pencapaian industri kreatif. Berkaitan dengan hal ini, <strong>Idwan Suhardi</strong>, Deputi Promosi dan Pemasyarakatan Iptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi mengatakan, industri kereatif akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan. &#8220;Kreatif industri hanya membutuhkan otak atau <em>mind</em> saja, Itu menjadi kunci negara-negara maju saat ini, kendati mereka tidak memiliki sumberdaya alam melimpah,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sementara menurut <strong>Kemal Prihatman</strong>,  Asisten Deputi Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Kementerian Negara Ristek, pada 2006, industri kreatif memberikan kontribusi sekitar 6,7 persen dari PDB (Product Domestic Brutto). Dalam hal ini, pemerintah mengupayakan penggunaan aplikasi software di bidang industri kreatif berbasis software. &#8220;Kami akan memfokuskan industri kreatif di wilayah Pekalongan, Jawa Tengah,&#8221; ujarnya.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=450&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/06/05/fractal-dari-tradisional-menuju-batik-modern.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presiden Direktur PT. Sun Microsystems Indonesia Wibisono Gumulya: Open System Membuat Masyarakat Kreatif</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/05/29/presiden-direktur-pt-sun-microsystems-indonesia-wibisono-gumulya-open-system-membuat-masyarakat-kreatif.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/05/29/presiden-direktur-pt-sun-microsystems-indonesia-wibisono-gumulya-open-system-membuat-masyarakat-kreatif.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 13:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>belutz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur Biskom]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Sun Microsystems]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[<p>Anda tentu sudah mengenal Java. Bahasa pemrograman yang diambil dari nama pulau Jawa di Indonesia ini dikembangkan oleh tim dari Sun Microsystems. Selain Java, para developer juga sudah familiar dengan MySQL, aplikasi database Open Source populer tersebut baru-baru ini juga&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="dinamis" title="wibisono-web" src="http://www.biskom.web.id/data/2008/05/wibisono-web.jpg" />Anda tentu sudah mengenal Java. Bahasa pemrograman yang diambil dari nama pulau Jawa di Indonesia ini dikembangkan oleh tim dari Sun Microsystems. Selain Java, para developer juga sudah familiar dengan MySQL, aplikasi database Open Source populer tersebut baru-baru ini juga diakuisisi oleh Sun Microsystems. Open Solaris juga merupakan sistem operasi berbasis UNIX yang dikembangkan oleh Sun Microsystems dan saat ini memiliki lisensi Open Source. Open Office merupakan aplikasi perkantoran yang juga dikembangkan Sun Microsystem. Aplikasi ini sangat terkenal dan menjadi pesaing terberat Microsoft Office, namun memiliki keunggulan yaitu pengguna tidak perlu membayar untuk menggunakannya atau berlisensi free. Dilihat dari produk-produk unggulan Sun, kebanyakan memiliki lisensi Open Source.</p>
<p>Di Indonesia, Sun Microsystems yang berdiri sejak tahun 2001 dan sudah memiliki pengalaman luas dalam memajukan teknologi informasi (TI). Perusahaan asal Amerika ini aktif mendukung program-program pemerintah dalam kaitannya dengan pemberdayaan TI seperti open source software, pendidikan Java dan sebagainya.<br />
<span id="more-417"></span><br />
Mengapa Sun Microsystems lebih memilih di jalan open source bukannya proprietary? Padahal, sistem proprietary dianggap lebih menguntungkan dan memberikan pemasukan yang besar. Tentu Sun Microsystems memiliki alasan lain.</p>
<p>Ingin mengetahui alasan mengapa Sun Microsystems lebih menyukai open source? Simak wawancara ekslusif BISKOM dengan <strong>Wibisono Gumulya</strong>, Presiden Direktur PT. Sun Microsystems Indonesia, saat berkunjung di kantornya di bilangan Sudirman beberapa waktu yang lalu.</p>
<p><strong>Sebagai vendor TI terkemuka, apa saja range produk yang ditawarkan Sun Microsystems kepada konsumen? </strong><br />
Produk Sun itu banyak, secara umum terbaai dalam empat core yaitu Server, Storage, Services dan Software. Kebanyakan produk Sun didevelope di Amerika Serikat dan sampai saat ini sudah memiliki market lebih dari 50 persen. Di Indonesia, Sun memiliki local people yang mengerti bagaimana memasarkan produk-produk Sun dengan baik. Sun memiliki Java programming, dimana banyak juga orang-orang kami yang mendevelope Java dan membuat beberapa program.</p>
<p><strong>Mengenai Java, sekarang ini program tersebut banyak dipakai programmer di Indonesia. Bagaimana dukungan Sun untuk mengembangkan komunitas Java?</strong><br />
Sun memang berharap akan banyak orang lokal yang menjadi developer dan bisa mengembangkan aplikasi berbasis Java. Untuk itu, salah satu yang dilakukan adalah Sun bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional untuk mengajarkan pendidikan teknologi informasi dan program Java kepada guru-guru sekolah. Lewat Jaringan Pendidikan Nasional atau Jardiknas, kami bekerjasama membuat materi atau modul-modul pembelajaran, mengajak membuat training di universitas atau institusi-institusi pendidikan, sehingga bisa dihasilkan orang-orang yang certified Java berstandard internasional. Program nasional ini dikenal dengan sebutan JENI (Java Education Network Indonesia), sebuah program yang dimotori oleh departemen pendidikan nasional Indonesia yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kompetensi di sektor teknologi informasi terutama teknologi Java. Sun juga membangun Java Education Centers (JEC) di Bandung dan Campus Ambassador.</p>
<p><strong>Mengapa perlu sertifikat Java?</strong><br />
Saat ini banyak sekali dibutuhkan programmer-programmer Java yang siap pakai. Sebenarnya sudah banyak yang bisa programming java, namun ketika masuk ke dunia kerja banyak yang masih belum siap kerja atau terjadi gap antara dunia kampus dengan dunia kerja. Untuk itulah perlu ada sertifikat internasional seperti Java yang bisa memastikan lulusan sudah siap bekerja. Tidak hanya murid atau mahasiswanya saja yang diajar, namun juga gurunya perlu ditraining agar bisa memiliki bekal pengetahuan yang cukup untuk mengajar.</p>
<p><strong>Dari hasil training tersebut, berapa yang sudah tersertifikasi Java?</strong><br />
Saat ini sudah ada sekitar 5000 Java Certified, kami mau mengejar sampai 10.000. Mudah-mudahan semakin banyak lulusan lulusan itu, maka mereka menjadi bisa siap pakai. Apalagi sekarang jamannya adalah participation age, semuanya sudah bisa berpartisipasi dalam jaringan. Jadi dengan dibekali kemampuan itu, setiap orang bisa link ke network. Bisa membuat sesuatu dan pasarnya juga semakin luas.</p>
<p><strong>Bagaimana kelanjutan program ini?</strong><br />
Sekitar 30 kampus sudah melakukan bekerjasama untuk melakukan training Java. Dan yang perlu digaris bawahi, program ini akan terus berjalan. Sun melihat dengan semakin banyaknya open komunitas, maka itu akan bisa meng-create market yang tak terbatas. Karena sekarang semua melihatnya ke jaringan. Apalagi kalau melihat ke perusahaan besar internasional di luar negeri. Mereka sebenarnya juga orang-orang yang sangat muda. Mereka mau belajar menghasilkan sesuatu, kemudian bisa link ke network dan menciptakan pasar. Semua itu tidak terjadi hanya di Amerika, kita juga bisa berkesempatan seperti mereka. Makin banyak orang yang certified Java, komunitasnya makin besar. Kemungkinan orang Indonesia juga bisa berkembang seperti orang-orang di luar negeri.<br />
<strong><br />
Sun belum lama ini mengumumkan tersedianya Java Platform Standard Edition (Java SE) for Business. Bisa diceritakan tentang produk baru ini? </strong><br />
Java SE for Business dibangun berdasarkan masukan dari para pelanggan dan mitra Independent Software Vendor (ISV) yang meminta perpanjangan periode yang disediakan Sun update versi Java SE melalui dukungan berbayar. Pelanggan dan mitra yang menjalankan aplikasi Java versi lama kini memiliki pilihan apakah bermigrasi ke versi yang lebih baru atau berlangganan Java SE for Business untuk terus mendapatkan update reliabilitas, ketersediaan, dan keamanan kritikal, serta dukungan lingkungan sistem operasi yang baru untuk aplikasi yang ada sekarang.</p>
<p><strong>Mengapa Sun menggunakan strategi open system?</strong><br />
Sebenarnya strategi open system itu akan create community yang nantinya akan create market. Yang menarik, Sun membagi market sangat sederhana yaitu ada dua. Pertama adalah market yang memiliki waktu, namun uangnya sedikit atau kurang. Pada market kategori ini, biasanya mereka adalah mahasiswa atau developer. Sun memberikan free yang ditargetkan kepada market seperti mahasiswa dan developer. Mereka bisa belajar dan jika memiliki waktu yang cukup, nantinya bisa mengembangkan berbagai aplikasi. Sun mentargetkan itu dengan free, yang penting adalah legal.<br />
Kedua, ada satu kelompok lagi yaitu yang tidak memiliki waktu, namun uang tidak menjadi masalah. Mereka adalah perusahaan yang memiliki uang. Di market ini, perusahaan yang membutuhkan jasa teknologi informasi bisa memanggil Sun untuk berbagai kebutuhan mereka termasuk mentraining dan sebagainya. Komponen software Sun itu kan ada dua yaitu lisensi, kemudian service. Sun menyediakan lisensi secara free, dan kalau mereka membutuhkan service, maka Sun akan menyediakan dengan baik.</p>
<p><strong>Dengan berbasis open yang free, darimana profit yang diperoleh dari Sun? </strong><br />
Ini menarik, dulu saya juga berfikir seperti itu. Darimana pendapaan diperoleh kalau gratis? Namun kalau dilihat lebih jauh, sistem terbuka ini akan membangun komunitas. Mudah-mudahan setelah komunitas berkembang, market menjadi menjadi lebih terbuka dan peluang untuk menggunakan produk Sun juga besar. Sun bisa saja menjadi salah satu alternatif, meski Sun sudah bisa mendevelope komunitas. Akhirnya, pasar yang akan membuktikan siapa lebih baik, Sun atau kompetitor.  Prinsip-prinsip itu yang membuat Sun berbeda. Dengan memberi, mudah-mudahan Sun akan mendapat. Meskipun sudah memberikan free, tapi tidak bisa memberikan garansi, sehingga konsumen akan balik ke kami. Untuk itulah tantangannya bagaimana agar dengan membangun komunitas, pengguna bisa kembali ke Sun.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=417&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/05/29/presiden-direktur-pt-sun-microsystems-indonesia-wibisono-gumulya-open-system-membuat-masyarakat-kreatif.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>18 Departemen Gunakan OSS</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/05/29/18-departemen-gunakan-oss.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/05/29/18-departemen-gunakan-oss.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 10:06:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>belutz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[IGOS]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Ristek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tahun 2012 mendatang, sebanyak 18 Departemen akan menggunakan piranti lunak sistem operasi terbuka atau open source software (OSS). Hal tersebut tertuang dalam komitmen bersama saat IGOS Summit 2 di Jakarta.</p>
<p>Kemal Prihatman, Asisten Deputi Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Kementerian Negara&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2012 mendatang, sebanyak 18 Departemen akan menggunakan piranti lunak sistem operasi terbuka atau open source software (OSS). Hal tersebut tertuang dalam komitmen bersama saat IGOS Summit 2 di Jakarta.</p>
<p>Kemal Prihatman, Asisten Deputi Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi mengatakan, &#8220;Untuk mendukung migrasi bagi setiap instansi dan institusi pemerintah di Indonesia itu,  Kementerian Negara Riset dan Teknologi tengah menyusun dokumen migrasi OSS. Saat ini baru dihasilkan 8 dokumen, antara lain Aplikasi Perkantoran Openoffice.org, petunjuk instalasi IGOS Nusantara, Perangkat Lunak Bebas dan Open Source, Bahasa Pemrograman Open Source, Konfigurasi Server Linux, dan Aplikasi untuk server.&#8221;<br />
<span id="more-408"></span><br />
Pembuatan dokumen ini mengacu pada dokumen yang telah dibuat beberapa negara. Di tahun ini juga, semua dokumen migrasi perangkat lunak tersebut selesai disusun, plus empat dokumen tambahan yang akan disusun tahun ini.</p>
<p>Selain itu, dari sekitar 400 pemerintah kabupaten/kota, 100 di antaranya telah menggunakan open source software (OSS) dalam waktu empat tahun mendatang.</p>
<p>Pada saat bersamaan, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan, pihaknya juga telah membuat sistem keterhubungan atau co-exist dengan sistem tertutup atau propriatary yang telah banyak digunakan di instansi pemerintah saat ini. Co-exist dibuat untuk menjamin terlaksananya penggunaan IGOS.</p>
<p>&#8220;Tidak adanya co-exist membuat program IGOS yang sebenarnya telah dicanangkan tahun 2005 terhambat, antara lain dalam pertukaran dokumen di antara dua sistem tersebut,&#8221; tambahnya.</p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=408&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/05/29/18-departemen-gunakan-oss.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Microsoft Ingin Seperti Open Source Software</title>
		<link>http://www.biskom.web.id/2008/05/09/microsoft-ingin-seperti-open-source-software.bwi</link>
		<comments>http://www.biskom.web.id/2008/05/09/microsoft-ingin-seperti-open-source-software.bwi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 09:22:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.biskom.web.id/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[<p>Rupanya Bill Gates belum terlalu puas dengan Microsoft. Apa sebab? Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman usai acara Kuliah Umum dengan Bill Gate, di JCC, Jakarta, Jumat (9/5) mengatakan, &#8220;Meskipun produknya Bill Gates sudah merajai pasar software di&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rupanya Bill Gates belum terlalu puas dengan Microsoft. Apa sebab? Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman usai acara Kuliah Umum dengan Bill Gate, di JCC, Jakarta, Jumat (9/5) mengatakan, &#8220;Meskipun produknya Bill Gates sudah merajai pasar software di Indonesia, namun Microsoft belum memiliki banyak pusat riset seperti pusat riset pengembangan software kode terbuka Open Source di Indonesia.<br />
<span id="more-332"></span><br />
&#8220;Tadi Bill Gate bilang punya lima reserch center di Indonesia, padahal untuk Open Source, kita punya 12 di perguruan tinggi,&#8221; katanya.</p>
<p>Menanggapi perseteruan antara produk Open Source dan produk proprietary Microsoft, Kusmayanto berpendapat, baiknya hal ini tidak perlu diperdebatkan, karena akan lebih baik jika saling dimanfaatkan. &#8220;Antara Open Source dan Microsoft dua-duanya koefesien, dua-duanya bisa jalan bareng, jangan dibenturkan. Proses pengembangan Open Source dan penggunaan Microsoft bisa berjalan dengan baik, seperti yang telah dikembangkan di salah satu proyek di Bandung,&#8221; kata Kusmayanto. </p>
<img src="http://www.biskom.web.id/?ak_action=api_record_view&id=332&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.biskom.web.id/2008/05/09/microsoft-ingin-seperti-open-source-software.bwi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
