Jakarta, Biskom- Digital transformasi bukan merupakan hal baru yang penerapannya dilakukan saat Pandemi Covid-19 terjadi. Pembahasan dan penerapan digitalisasi sudah dimulai sejak tahun sembilan puluhan yang secara intens dibahas di kalangan akademisi dan praktisi. Namun kemudian, implementasinya mengalami percepatan yang cukup signifikan ketika pandemi Covid-19 terjadi di seluruh negara.

Dari data Deloitte disebutkan bahwa sebanyak 77% para petinggi perusahaan mengakui bahwa pandemi semakin mempercepat rencana digital transformasi di setiap perusahaan yang tadinya merupakan rencana jangka panjang kemudian beralih menjadi lebih cepat menyesuaikan kondisi saat ini. Menurut General Manager IT Corporate Lintasarta Feby Ferdinan Syah, perubahan seluruh sistem secara digital tidak hanya akan bertahan karena pandemi saja, namun akan terus berlangsung bahkan setelah pandemi berakhir, sehingga perusahaan harus siap melaksanakan digitalisasi dan menjadikannya sebagai program berkala yang implementasinya dimulai saat ini.

Dengan demikian, Feby menilai, hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk bertahan dan tetap tumbuh adalah sesegera mungkin beradaptasi dan menerapkan digitalisasi di seluruh aspek, mengingat pada era new normal peran digital menjadi penting dan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan.

Pertama, menurunkan cost yang akhirnya meningkatkan efisiensi. Kedua, meningkatkan produktivitas karyawan melalui remote working. Ketiga, meningkatkan customer interaction. Dampaknya setiap pertemuan yang dilakukan melalui aplikasi digital dapat menghemat waktu, cost, serta dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

Namun demikian, Feby menegaskan, dari pelaksanaan transformasi digital diperlukan roadmap dan goals yang jelas agar implementasinya menjadi lebih terukur dan terarah. Menurutnya, untuk penerapan digitalisasi harus mempertimbangkan dan mengkaji berbagai aspek dan dampaknya.

Pada sisi proses dan operasional, penerapan teknologi diharapkan dapat mempersingkat dan mempermudah proses bisnis. “Semua hal sekarang dilakukan secara digital, artinya aset digital perusahaan menjadi semakin penting untuk dijaga keamanannya. Disini yang menjadi tantangan adalah bagaimana kita menyiapkan dan membangun sistem security yang handal agar semua aset digital perusahaan dapat terjaga dengan baik, karena saat ini semua hal tentu akan tertuang dalam sistem digital,” paparnya.

Sementara dari sisi customer, perusahaan dihadapkan pada kondisi bagaimana menggunakan digital channel dalam menjaga hubungan baik dengan customer. Dalam hal ini, ujarnya, Lintasarta menerapkan omni channel yang diharapkan dapat memudahkan akses bagi customer untuk berinteraksi dengan Lintasarta sehingga mendapatkan experience yang baik.

“Sementara dari sisi produk dan pelayanan Lintasarta memanfaatkan digitalisasi untuk dapat membangun dan men-deliver produk secara digital, dengan tetap memberikan banyak kemudahan bagi customer,” jelasnya.

Menurut Feby, Lintasarta sendiri sudah menerapkan digital transformation framework, dimana infrastrukturnya sudah dibangun sejak 2018 dan kemudian dilanjutkan dengan membuat blueprint yang diselaraskan dengan berbagai aspek mulai dari visi-misi perusahaan, bisnis proses, aplikasi yang dibangun, data, infrastuktur, best practice dan security-nya, sehingga dapat diidentifikasi gap yang ada dan dari gap tersebut dilakukan penyesuaian melalui sebuah roadmap yang jelas dan terukur agar memberikan dampak sesuai dengan yang diharapkan.

Katinka Rinaldhy, Senior Manager Human Capital Business Partner Lintasarta, memaparkan dengan telah dimulainya kajian penerapan digital transformation framework memudahkan perusahaan dalam melakukan penyesuaian secara cepat saat Pandemi Covid-19 dimulai. Salah satunya ialah dengan menerapkan hybrid working model sejak awal pandemi melalui program flexible working arrangement atau disingkat dengan flexwork.

“Flexwork diterapkan karena perusahaan ingin memastikan keselamatan dan kesehatan seluruh karyawan di era pandemi dengan meminimalkan pemaparan virus, sehingga remote working menjadi solusi untuk karyawan tetap save namun tetap produktif,” ujarnya.

Selain itu, Katinka memaparkan bahwa perusahaan juga melakukan efisiensi cost pada segala sektor, salah satunya adalah efisiensi office space karena hampir seluruh karyawan telah bekerja secara remote dari rumah masing-masing. Sementara dari sisi fleksibility, karyawan dapat bekerja tanpa harus berada di kantor namun tetap produktif.

Semua ini, katanya, berkaitan dengan adanya uncertainty di masa pandemi yang belum ada kepastian kapan akan berakhir. “Saat kita berubah jadi flexwork maka dari sisi teknologi kita sudah menyiapkan tools-nya untuk menunjang dan memudahkan karyawan bekerja,” tutupnya. (red)

loading...