BISKOM, Jakarta – Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) melalui Asisten Deputi Wawasan Kebangsaan, Pertahanan dan Keamanan, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pemerintahan dan Wawasan Kebangsaan melaksanakan Diskusi Terbatas dengan tema “Dinamika Resolusi Konflik: Memahami Efektivitas Manajemen Proses Peacemaking, Peacekeeping, and Peacebuilding untuk Perdamaian yang Berkelanjutan, di Hotel Grand Savero, Bogor, Jawa Barat, Kamis (24/08/2023).

Acara yang dilaksanakan selama dua hari ini memiliki urgensi tersendiri, khususnya dalam konteks Indonesia yang multikultural, dimana potensi konflik rentan ditemui. Selain itu, kondisi global yang dinamis juga memiliki potensi terjadinya ketegangan geopolitik antarnegara. Untuk itu, Indonesia sebagai negara yang sangat menjunjung tinggi perdamaian perlu untuk mendalami tentang dinamika resolusi konflik ini melalui aparaturnya yang berperan dalam proses pengambilan kebijakan.

Dalam sambutannya, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pemerintahan dan Wawasan Kebangsaan Velix V. Wanggai menyampaikan, bahwa Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin menaruh perhatian yang tinggi pada upaya-upaya merawat kebhinekaan, kerukunan warga negara, pencegahan konflik di masyarakat yang dapat menghambat kelancaran pembangunan. Dengan demikian, pengetahuan mengenai topik ini penting untuk dimiliki dan diasah bagi para Analis Kebijakan di lingkungan Setwapres sebagai garda terdepan dalam penyiapan bahan pertimbangan kepada Wakil Presiden.

“Manajemen resolusi konflik juga menjadi keterampilan yang perlu diketahui oleh analis kebijakan. Pengetahuan terkait manajemen resolusi konflik akan membantu para analis dalam menganalisis dan memberikan rekomendasi kebijakan,” imbuh Velix.

Diskusi terbatas dilanjutkan dengan paparan para narasumber dan tanya jawab dengan peserta. Adapun beberapa poin penting yang dapat digarisbawahi dalam pertemuan ini adalah pengertian bahwa terdapat beragam faktor dalam terjadinya sebuah konflik. Dengan demikian, menjadikan suatu konflik memiliki keunikannya tersendiri dan cara penanganan yang berbeda dengan konflik lain. Namun perlu diingat, bahwa tahapan resolusi konflik yang dilakukan pun memerlukan kesabaran serta waktu untuk diimplementasikan secara efektif.

Di sisi lain, diperlukan juga instrumen analisis konflik untuk membantu merancang dan menerapkan strategi resolusi. Instrumen tersebut meliputi Pendekatan Harvard, Pendekatan Kebutuhan Kemanusiaan, dan Pendekatan Transformasi Konflik, untuk memenuhi kebutuhan aktor-aktor yang terlibat.

Sebagai informasi, diskusi terbatas menghadirkan 4 narasumber yang ahli di bidangnya antara lain Dr. Ichsan Malik, Konsultan Senior Asosiet Division for Applied Social Psychology Research (DASPR); Brigjen TNI Aloysiun Nugroho Santoso, Direktur Kajian Politik, Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia; Rizky Hikmawan, S.IP., M.Si, Dosen pengajar Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta; dan Dr. Adriana Elizabeth, Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional. Serta, dipandu oleh moderator Athor Subroto, SE., MM., M.Sc., Ph.D., Direktur kajian stratejik dan global Universitas Indonesia.

Sementara, beberapa tema yang menjadi topik diskusi antara lain: Sejarah, penyebab dan faktor kunci, serta tahapan timbulnya konflik, jenis-jenis konflik, dan peran dan motif dari para pihak (aktor) yang terlibat dalam konflik; Konflik di Indonesia dari masa ke masa: penyebab, pelaku, dan peran pemerintah dalam manajemen resolusi konflik; Sejarah dan teknik-teknik resolusi Konflik: tantangan dan peluang; dan Manajemen Resolusi Konflik dalam mengimplementasikan “Peacemaking, Peacekeeping, dan peacebuilding” serta best practice pada kasus-kasus separatisme di dunia dan Indonesia. (Juenda)