{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":[],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"resize":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}

BISKOM | Jakarta – Di tengah ancaman krisis iklim global yang kian nyata, sebuah harapan besar justru muncul dari perairan terpencil Indonesia Timur. Ekspedisi ilmiah di Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya (MBD), baru saja menyingkap tabir keajaiban bawah laut yang mencengangkan dunia.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan WWF Indonesia memaparkan temuan penting ini setelah melakukan riset mendalam selama satu bulan. Perairan Maluku Barat Daya terbukti menjadi salah satu ekosistem paling tangguh di bumi saat ini.

Keberuntungan geografis membuat wilayah ini terus mendapat pasokan nutrisi melimpah dari Laut Banda dan Samudera Hindia. Para peneliti sepakat, perairan ini kini berdiri sebagai pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati laut dunia yang mulai rapuh di tempat lain.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara, menegaskan bahwa data ilmiah ini bukan sekadar angka. Temuan ini menjadi fondasi bagi kebijakan ekonomi biru yang melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya ekonomi mereka sendiri.

Baca :  Blackberry Rambah Pasar Menengah

“Hasil Ekspedisi Romang–Damer 2025 menjadi kontribusi krusial bagi pengambilan keputusan di tingkat pusat maupun daerah,” ungkap Koswara dalam acara Bincang Bahari di Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2026).

Rekor Dunia: Rumah Bagi Puluhan Dugong

Kejutan terbesar datang dari dasar laut yang tenang. Ekspedisi ini berhasil mengidentifikasi perairan MBD sebagai habitat dugong terbesar di Indonesia. Dalam satu area saja, tim peneliti menjumpai 32 ekor dugong yang hidup berdampingan secara damai.

Temuan 32 ekor dugong di satu lokasi merupakan fenomena langka secara global. Ini menjadi bukti sahih bahwa kualitas air di Maluku Barat Daya masih murni dan mampu memberikan ruang hidup ideal bagi spesies yang sangat sensitif ini.

Kelimpahan dugong ini didukung oleh hamparan lamun yang sangat subur. Peneliti mencatat tutupan lamun di sana mencapai 50 persen, mencakup sembilan dari 14 jenis lamun yang ada di Indonesia—sebuah keragaman yang luar biasa untuk satu kawasan.

Baca :  Cybers Academy Latih Penerima Manfaat Kartu Prakerja Gelombang 63

Kondisi terumbu karang pun tak kalah memikat. Rata-rata tutupan karang mencapai 51,4 persen, jauh melampaui standar regional yang biasanya hanya berkisar 34 persen. Ini menandakan ekosistem bawah laut MBD sedang berada dalam kondisi prima.

Bahkan, analisis mendalam menemukan koloni karang yang diperkirakan berusia 100 hingga 200 tahun. Fakta ini menunjukkan bahwa struktur perairan dangkal di sana telah bertahan melewati berbagai perubahan zaman dan tetap berfungsi sebagai daerah pemijahan ikan bernilai ekonomis.

Ujian Berat Bagi Kearifan Lokal

Namun, di balik keindahan itu, tersimpan tantangan besar. Keajaiban ini bisa bertahan berkat peran masyarakat adat yang memegang teguh praktik Sasi dan pemali (larangan adat). Hukum adat inilah yang menjadi pilar pelindung dari eksploitasi berlebihan.

Candhika Yusuf dari Yayasan WWF Indonesia menyebutkan, ketangguhan karang di MBD tetap terjaga saat wilayah lain mengalami pemutihan (bleaching). Namun, ancaman nyata mulai mengintai dari luar, terutama praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dan racun.

Baca :  MA Kabulkan Gugatan Soal Aturan Pemenang Pilpres, Pengamat: Putusan MA Bersifat Prospektif

Selain penangkapan destruktif, polusi sampah plastik dan jaring hantu (ghost net) mulai merambah pesisir terpencil. Jika tak segera ditangani secara kolaboratif, resiliensi ekosistem yang telah terjaga berabad-abad ini berisiko mengalami kerusakan permanen yang mematikan bagi ekonomi lokal.

Untuk itu, WWF-Indonesia berencana memperkuat sosialisasi melalui pendekatan budaya Kalwedo. Ungkapan lokal ini mengandung makna persaudaraan dan kebersamaan, sebuah filosofi yang dirasa paling efektif untuk merangkul generasi muda Maluku Barat Daya.

Kini, Maluku Barat Daya bukan lagi sekadar kepulauan tersembunyi di peta. Ia adalah simbol harapan dan komitmen nyata. Integrasi ilmu pengetahuan dan kearifan lokal akan menjadi kunci untuk menjaga keajaiban ini agar tetap lestari bagi masa depan.

Reporter Lakalim Adalin 

Editor Arianto