BISKOM,Jakarta – Senator DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid, bersama Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin, memainkan peran aktif dalam membangun dukungan internasional bagi Indonesia untuk menjadi tuan rumah Inter-Parliamentary Speakers’ Conference (ISC) ke-3 pada 2027.
Upaya tersebut dilakukan melalui rangkaian komunikasi, diplomasi dan pertemuan dengan pimpinan parlemen serta delegasi dari berbagai negara sepanjang pelaksanaan ISC-2 di Phnom Penh, Kamboja, pada 26–28 Agustus 2026.
“Forum tersebut mempertemukan sekitar 130 delegasi dari 30 negara, organisasi antarparlemen, dan organisasi internasional, jadi ini kesempatan yang positif sekali,” ujar Senator Mirah.
Hasilnya, Indonesia secara resmi dipercaya menjadi tuan rumah ISC-3 pada 2027. Penetapan tersebut dikukuhkan melalui Phnom Penh Declaration, yang secara formal menyambut Indonesia sebagai penyelenggara konferensi berikutnya. Dalam laman resmi ISC, penyelenggaraan ISC-3 juga disebut akan dipimpin oleh Sultan Najamuddin selaku Ketua DPD RI.
Bagi Mirah, keberhasilan tersebut tidak lahir secara instan. Dukungan terhadap Indonesia dibangun melalui komunikasi langsung dengan berbagai pimpinan parlemen dan delegasi internasional yang hadir dalam ISC-2.
“Menjadi tuan rumah ISC-3 bukan sekadar persoalan menyelenggarakan sebuah konferensi internasional. Ini adalah kepercayaan yang harus kita jawab dengan diplomasi, gagasan, dan kerja nyata. Karena itu, sejak awal kami terus membangun komunikasi dengan berbagai delegasi agar Indonesia mendapatkan dukungan untuk menjadi tuan rumah,” ujar Mirah.
Salah satu rangkaian diplomasi tersebut dilakukan melalui pertemuan Sultan Baktiar Najamudin dan Mirah Midadan Fahmid dengan Ketua Senat Pakistan sekaligus Founding Chairman ISC, Syed Yousaf Raza Gilani, pada 26 Agustus 2026.
“Ya kemarin pertemuan tersebut membahas agenda ISC sekaligus penguatan kerja sama antarparlemen, menjadi bagian dari komunikasi delegasi Indonesia sebelum keputusan tuan rumah ISC-3 ditetapkan,” Kata Mirah.
Menurut Mirah, diplomasi parlemen memiliki ruang strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global. Forum seperti ISC memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi turut membentuk agenda dan arah kerja sama parlemen di tingkat internasional.
“Diplomasi parlemen adalah ruang untuk membangun kepercayaan. Kita berbicara langsung dengan para pimpinan parlemen, mendengarkan kepentingan masing-masing negara, kemudian mencari titik temu. Dari proses seperti inilah dukungan internasional dibangun,” kata Senator NTB tersebut.
Ia menilai kepercayaan kepada Indonesia menjadi momentum penting untuk memperluas kontribusi Indonesia dalam isu perdamaian, penyelesaian konflik secara damai, pembangunan berkelanjutan, ketahanan iklim, serta penguatan kerja sama antarparlemen. Isu-isu tersebut juga menjadi bagian penting dari komitmen yang dituangkan dalam Phnom Penh Declaration.
Sementara itu, Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin menyampaikan bahwa menjadi tuan rumah ISC-3 merupakan kehormatan sekaligus tantangan bagi Indonesia. Ia berharap penyelenggaraan di Indonesia dapat menarik lebih banyak negara dan memperkuat pengaruh forum tersebut di tingkat global.
Mirah menegaskan bahwa keberhasilan memperoleh kepercayaan sebagai tuan rumah harus dilanjutkan dengan persiapan yang matang.
“Kepercayaan ini jangan berhenti sebagai seremoni. Indonesia harus menjadikan ISC-3 sebagai momentum untuk menunjukkan kapasitas diplomasi parlemen kita sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang aktif membangun perdamaian dan kerja sama internasional,” ujarnya.
Dengan ditetapkannya Indonesia sebagai tuan rumah ISC-3 2027, Mirah menilai diplomasi parlemen Indonesia telah memperoleh ruang baru untuk memperkuat jejaring internasional. Ia berharap momentum tersebut dapat diterjemahkan menjadi kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi Indonesia sekaligus berkontribusi terhadap perdamaian dan kesejahteraan dunia.
“Target kita bukan hanya sukses menjadi tuan rumah. Kita ingin Indonesia menjadi salah satu penggerak utama dalam membangun dialog antarparlemen dan menghadirkan solusi bersama atas persoalan global,” pungkas Mirah.(Surame)









