Salam transformasi,
Sejak saya memulai karier di dunia TI perbankan pada tahun 1993, saya telah melihat banyak “gelombang” teknologi datang dan pergi. Namun, apa yang kita hadapi di Februari 2026 ini terasa sangat berbeda. Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pasar bagi raksasa teknologi global; kita sedang berada di persimpangan jalan untuk menjadi Digital Powerhouse di Asia Tenggara.
Digital Powerhouse ?
Sebagai “Captain” di kapal transformasi digital masing-masing, kita perlu melihat apa saja potensi nyata yang ada di depan mata kita saat ini:
1. Kedaulatan Data & Infrastruktur “Edge”
Februari ini, kita melihat pergeseran besar. Kebijakan pemerintah yang semakin tegas mengenai lokalisasi data mendorong permintaan infrastruktur pusat data (Data Center) ke titik tertinggi.
- Potensinya: Bukan hanya membangun gedung, tapi bagaimana mengelolanya secara cerdas. Di Daya Cipta Mandiri Solusi, kami melihat tren Edge Computing mulai masuk ke sektor manufaktur dan retail di Indonesia untuk memangkas latensi.
Captain’s Tip: Jangan hanya bicara kapasitas, bicaralah efisiensi. DCIM (Data Center Infrastructure Management) yang mampu mengoptimalkan energi adalah kunci di tengah isu sustainability 2026.
2. AI Bukan Lagi “Gimmick”, Tapi Operasional
Tahun lalu kita mungkin masih bereksperimen dengan AI. Di 2026, AI telah menjadi standar dalam IT Management Software. Melalui Daya Cipta Mandiri Monitoring, kami melihat potensi besar pada Predictive Observability.
- Potensinya: Perusahaan di Indonesia kini mencari cara bagaimana sistem bisa “memperbaiki diri sendiri” sebelum admin menyadarinya. Ini adalah peluang besar bagi penyedia solusi manajemen software dan distributor (seperti kami di PT Lima Dua Satu Teknologi Indonesia) untuk membawa teknologi self-healing ke pasar lokal.
3. Ekonomi Komunitas & Reskilling Talenta
Satu hal yang konsisten saya pelajari melalui EventCerdas dan berbagai asosiasi (APTIKNAS, ACCI, dsb.) adalah: Technology is easy, people are hard. Potensi IT Indonesia di 2026 sangat bergantung pada kualitas talenta digital kita.
- Potensinya: Dengan beroperasinya PT Lima Dua Satu Talenta Mandiri, saya melihat bahwa webinar dan seminar bukan lagi sekadar berbagi info, tapi menjadi wadah critical thinking bagi praktisi IT agar tidak digantikan oleh otomatisasi. Ikuti kegiatannya di www.521talenta.com / 521talenta.myr.id
Data Center vs Cloud
Berdasarkan angka-angka di atas, maka:
- Pemimpin Pertumbuhan Regional: Indonesia mencatat pertumbuhan 124% (CAGR tertinggi di APAC), melampaui Malaysia (112%) dan Thailand (98%). Ini menunjukkan bahwa investor global melihat Indonesia bukan lagi sebagai pasar sekunder, melainkan target utama.
- Pergeseran Beban Kerja (AI Workloads): Di Februari 2026, kapasitas pusat data tidak lagi hanya diukur dari “luas lantai” (space), tapi dari “kepadatan daya” (power density). Beban kerja AI kini menyumbang hampir 25% dari total permintaan kapasitas, menuntut teknologi pendinginan (cooling) yang lebih adaptif.
- Desentralisasi ke Koridor Timur: Meskipun 55% kapasitas masih di Jakarta, koridor Bekasi-Cikarang kini tumbuh dengan CAGR 12.94% per tahun sebagai pusat Hyperscale.
- Nilai Pasar: Secara valuasi, pasar pusat data Indonesia diproyeksikan mencapai USD 3,61 Miliar pada akhir tahun 2026 ini.
Captain’s Insight: “Angka 124% ini adalah pedang bermata dua. Pertumbuhan kapasitas yang meledak tanpa dibarengi dengan manajemen infrastruktur (DCIM) dan monitoring yang cerdas hanya akan berujung pada inefisiensi biaya operasional (OPEX) yang membengkak.”
AWS di Indonesia 2026: Mengapa Strategi “Hybrid” Tetap Menjadi Raja?
DAlam kegiatan NGOPI (Ngobrol Pintar) 12 Feb 2026 kemarin bersama CTI Helios – AWS, kami mendapatkan banyak hal menarik.
Sejak AWS (Amazon Web Services) meresmikan Region Jakarta beberapa tahun lalu, wajah TI di Indonesia berubah total. Investasi sebesar Rp71 triliun bukan sekadar angka di atas kertas—itu adalah bukti bahwa Indonesia adalah episentrum digital Asia Tenggara.
Namun, sebagai praktisi yang sudah mengawal infrastruktur sejak era perbankan 1993, saya sering ditanya: “Captain, kalau semua sudah pindah ke AWS, apakah kita masih butuh data center sendiri? Apakah infrastruktur fisik masih relevan?”
Jawaban saya tegas: Strategi Hybrid adalah kunci kemenangan di 2026.
1. Kedaulatan Data vs. Kecepatan Inovasi
AWS menawarkan kecepatan inovasi melalui AI dan Machine Learning (seperti Amazon Bedrock) yang sulit ditandingi jika kita membangun sendiri. Namun, bagi sektor perbankan dan vital yang menjadi akar karier saya, kedaulatan data dan latensi kritis tetap menjadi prioritas. Strategi Hybrid memungkinkan data sensitif tetap berada di “rumah sendiri” (On-Premise) sementara pemrosesan AI yang berat dilakukan di Cloud.
2. Tantangan “Invisible Costs” (FinOps)
Banyak perusahaan di Indonesia terjebak dalam euforia Cloud, namun terkejut saat melihat tagihan bulanan. Di sinilah peran Monitoring menjadi krusial. Tanpa visibilitas yang tepat, biaya data transfer dan storage bisa membengkak. Di 2026, memonitor infrastruktur bukan lagi soal “hidup atau mati”, tapi soal efisiensi biaya (Cost Optimization).
3. Fondasi Fisik Tetap Menjadi Penentu
Jangan lupa, Cloud itu sendiri adalah “komputer milik orang lain” yang berada di sebuah gedung fisik. Akses ke AWS yang cepat membutuhkan konektivitas dan struktur kabel yang andal. Tanpa infrastruktur lokal yang kuat (seperti solusi dari DCM Solusi), jalan tol menuju Cloud akan terasa seperti jalan setapak yang berlubang.
4. Talenta: Jembatan Antar Dua Dunia
Melalui EventCerdas dan PT Lima Dua Satu Talenta Mandiri, saya melihat kesenjangan talenta yang nyata. Kita tidak hanya butuh orang yang jago Cloud, tapi kita butuh “Arsitek Hybrid”—mereka yang paham cara mengintegrasikan sistem warisan (Legacy) dengan teknologi modern AWS.
The Captain’s Closing Thought:
AWS adalah mesin jet yang luar biasa, tetapi Anda tetap butuh landasan pacu yang kokoh di darat. Di tahun 2026 ini, jangan hanya menjadi “Cloud-First”, tapi jadilah “Strategy-First”. Gunakan Cloud untuk inovasi, tapi pastikan fondasi infrastruktur lokal Anda tetap tak tergoyahkan.
Kami nantikan anda di kegiatan kami selanjutnya…
Fanky Christian, Digital Transformation Captain, Sekjen APTIKNAS









