BISKOM | Maluku Barat Daya — Survei ekologi dan sosial ekonomi yang dilakukan World Wide Fund for Nature (WWF) di Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya, mengungkap kondisi ekosistem laut yang relatif terjaga sekaligus tantangan serius dalam pengelolaan sumber daya pesisir. Ekspedisi ini berlangsung pada 3 Oktober hingga 4 November 2025.

Wilayah Maluku Barat Daya dikenal sebagai salah satu kawasan penting di Indonesia timur dengan ekosistem terumbu karang yang berperan dalam studi ketahanan terhadap krisis iklim. Kawasan ini juga merupakan habitat berbagai spesies laut terancam punah, termasuk hiu, penyu, paus, dan dugong.

Survei dilakukan di empat kawasan konservasi perairan, yakni Romang, Damer, Mdona Hiera (meliputi Moa, Letti, dan Lakor), serta Kepulauan Babar.

Terumbu Karang di Atas Rata-rata Regional

Hasil pemantauan terumbu karang menunjukkan kondisi yang relatif baik dibandingkan kawasan sekitarnya. Rata-rata tutupan karang di perairan Damer mencapai 51,4 persen dan masuk kategori baik, sedangkan Romang berada pada angka 38,7 persen atau kategori sedang. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata tutupan karang di bentang laut Sunda–Banda yang tercatat sekitar 34,4 persen.

Survei dilakukan menggunakan metode Point Intercept Transect (PIT), Underwater Visual Census (UVC), serta analisis fotogrametri. 

Baca :  Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Dilantik Menjadi Ketum Ikatan Sports Sepeda Indonesia

Dari rekonstruksi model tiga dimensi koloni karang, peneliti memperkirakan sebagian terumbu karang di kedua kawasan tersebut telah tumbuh secara berkelanjutan selama 100 hingga 200 tahun. Temuan ini menunjukkan stabilitas ekosistem laut dalam jangka panjang.

Ekosistem Lamun Luas dan Beragam

Ekosistem lamun menjadi salah satu temuan penting dalam ekspedisi ini. Tim mencatat keberadaan sembilan dari 14 spesies lamun yang ada di Indonesia di perairan Romang dan Damer. Salah satunya adalah Thalassodendron ciliatum dengan pigmen merah yang unik.

Pigmen tersebut diduga merupakan bentuk adaptasi terhadap intensitas cahaya tinggi di perairan dangkal, sehingga lamun tetap dapat berfotosintesis secara optimal. Kondisi ini memperkuat peran lamun dalam menjaga ketahanan ekosistem pesisir terhadap perubahan iklim.

Luasan ekosistem lamun di Damer tercatat sekitar 464,11 hektare, sementara di Romang mencapai 366,83 hektare. Tutupan lamun yang rapat menjadi habitat penting bagi dugong serta berbagai biota laut asosiasi lainnya.

Mangrove Menunjukkan Regenerasi Aktif

Survei mangrove dilakukan menggunakan metode plot sampling berbentuk lingkaran dan teknik open-close auger. Hasilnya, sebanyak 43 spesies mangrove ditemukan dengan kerapatan tinggi dan indikasi regenerasi alami yang aktif.

Spesies dominan di kawasan ini meliputi Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, dan Avicennia alba. Keberadaan spesies minor dan asosiasi lainnya menunjukkan sistem mangrove yang stabil dan terhubung secara ekologis dengan ekosistem pesisir dan laut.

Baca :  Alat Deteksi Virus DBD belum Produksi Massal

Mamalia Laut dan Spesies Kunci

Ekspedisi ini juga mencatat kehadiran sedikitnya 16 spesies laut kunci dengan total lebih dari 200 individu. Metode pencatatan meliputi Baited Remote Underwater Video (BRUV), timeswim, pengamatan dari kapal, penggunaan drone udara, serta survei visual.

Maluku Barat Daya teridentifikasi sebagai salah satu koridor migrasi mamalia laut. Tim mencatat pertemuan dengan empat ekor paus pembunuh (orca), lebih dari 100 lumba-lumba pemintal (spinner dolphin), paus kepala melon (melon headed whale), serta beberapa spesies hiu, termasuk silvertip shark dan scalloped hammerhead shark.

Agregasi Dugong Terbesar Tercatat di Indonesia

Temuan paling menonjol dari ekspedisi ini adalah pencatatan lebih dari 30 ekor dugong di kawasan konservasi perairan Romang. Kelompok dugong tersebut ditemukan dalam area seluas sekitar 25,7 hektare.

Jumlah ini menjadikannya agregasi dugong terbesar yang pernah terdokumentasi di Indonesia. Hingga saat ini, catatan sebanding hanya ditemukan di Thailand dengan 23 individu. Temuan ini dinilai sebagai tonggak penting dalam upaya konservasi dugong di kawasan Asia Tenggara.

Tantangan Sosial Ekonomi dan Bycatch

Baca :  Willem Potu : Haruskah Saya Bayar Saksi Dusta ?

Selain aspek ekologi, survei juga menyoroti kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir. Melalui wawancara mendalam, pemetaan partisipatif, dan diskusi kelompok terfokus (FGD), tim mencatat tingginya angka tangkapan sampingan atau bycatch.

Nelayan di Romang memperkirakan bycatch tahunan mencapai lebih dari 500 hiu dan lebih dari 100 penyu. Sementara di Damer, jumlahnya diperkirakan melebihi 700 hiu dan 400 penyu per tahun. 

Hiu yang tertangkap umumnya dimanfaatkan sepenuhnya, dengan daging dikonsumsi secara lokal dan sirip dikeringkan untuk dijual ke pembeli dari luar pulau.

Peran Kearifan Lokal

Di tengah tantangan tersebut, praktik kearifan lokal masih berperan dalam menjaga ekosistem. Melalui aturan adat sasi, dua suku di Romang telah menetapkan larangan perburuan dan konsumsi dugong. Aturan adat ini dinilai berkontribusi terhadap keberlangsungan spesies kunci di wilayah tersebut.

Dasar Penguatan Konservasi

Secara keseluruhan, hasil ekspedisi ini menegaskan pentingnya Kawasan Konservasi Perairan Romang dan Damer sebagai wilayah strategis bagi keanekaragaman hayati laut dan ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim. 

Temuan ilmiah ini diharapkan menjadi dasar penguatan pengelolaan kawasan konservasi perairan, sekaligus menjaga keseimbangan antara perlindungan ekosistem dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pesisir Maluku Barat Daya.

Reporter: Lakalim Adalin 

Editor: Arianto