BISKOM | Jakarta – Ketua Umum FORSIMEMA-RI, Syamsul Bahri, menegaskan pentingnya transformasi industri media untuk meningkatkan kesejahteraan wartawan di tengah tekanan bisnis digital yang makin ketat.

Pesan ini bukan sekadar imbauan normatif. Di lapangan, banyak ruang redaksi mulai merasakan tekanan nyata—pendapatan iklan menurun, sementara tuntutan produksi konten terus meningkat.

Transformasi Media Jadi Titik Kritis

Syamsul Bahri melihat industri media tidak bisa lagi bertahan dengan pola lama. Ketergantungan pada iklan konvensional kini makin rapuh, terutama setelah platform digital global mengambil porsi besar belanja iklan.

“Media harus berani keluar dari zona nyaman,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/4/2026).

Diversifikasi bisnis menjadi kata kunci. Model langganan mulai dilirik karena memberi pendapatan lebih stabil. Selain itu, media juga bisa mengembangkan event, pelatihan literasi, hingga jasa konten kreatif.

Baca :  Tingkatkan eCommerce, RTB House Hadir di Indonesia

Ia pernah berbincang dengan seorang redaktur senior yang kini juga mengelola event diskusi publik. Ia bilang, “Kalau cuma mengandalkan berita, dapur nggak ngebul.” Realitas ini makin sering terdengar di berbagai redaksi.

Sinergi dan Adaptasi Teknologi

Di sisi lain, Syamsul menekankan pentingnya sinergi dengan institusi publik seperti Mahkamah Agung dan pemerintah daerah. Kolaborasi ini, menurutnya, bukan berarti mengurangi sikap kritis, melainkan membuka akses informasi yang lebih valid.

Langkah ini krusial di tengah maraknya disinformasi. Media yang punya akses data kredibel akan lebih dipercaya publik—dan itu berbanding lurus dengan nilai ekonominya.

Namun, akses saja tidak cukup. Media juga harus adaptif secara teknologi. Format konten kini berubah cepat: video pendek, podcast, hingga infografis jadi konsumsi utama generasi muda.

Baca :  Lintasarta Rayakan Penghargaan Indonesia Employee Experience of the Year -Telekomunikasi di Asian Experience Awards 2023

Seorang jurnalis muda pernah mengeluh kepada saya, “Nulis panjang kalah sama video 30 detik.” Keluhan itu terasa pahit, tapi mencerminkan realitas yang harus dihadapi industri.

Kesejahteraan Wartawan dan Standar Profesi

Syamsul mengingatkan, kesejahteraan wartawan tidak hanya soal gaji. Ada aspek lain yang sering luput: perlindungan hukum dan peningkatan kompetensi.

Wartawan masih rentan menghadapi sengketa pemberitaan. Tanpa dukungan institusi, posisi mereka kerap lemah di hadapan tekanan eksternal.

Selain itu, pelatihan berkelanjutan penting agar jurnalis tetap relevan. Nilai tawar di industri sangat ditentukan oleh kemampuan beradaptasi.

Konsep restorative justice juga mulai didorong untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.

Upaya FORSIMEMA-RI menyoroti persoalan ini menunjukkan satu hal: industri media sedang berada di persimpangan. Tanpa pembenahan serius, kesejahteraan wartawan akan terus tergerus.

Baca :  2022, Konsumen Diperkirakan Mulai Beralih ke Smartphone 5G

Sebaliknya, jika transformasi berjalan, media bukan hanya bertahan—tapi bisa kembali menjadi pilar demokrasi yang kuat sekaligus layak secara ekonomi.

Penulis: Lakalim Adalin 

Editor: Arianto