Kepala LPEM FEB UI Chaikal Nuryakin memberikan sambutan dalam diskusi publik hilirisasi mineral kritis di Jakarta.

BISKOM | Jakarta – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI bekerja sama dengan Natural Resource Governance Institute (NRGI) menggelar diskusi publik bertajuk “Mengurai Risiko Pasar dalam Hilirisasi Mineral Kritis Indonesia: Membangun Rantai Pasok yang Tangguh” di Jakarta, Selasa (18/8/2026). 

Forum tersebut mempertemukan pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, sektor swasta, dan akademisi untuk merumuskan respons terhadap dinamika rantai pasok global.

Kepala LPEM FEB UI Chaikal Nuryakin menegaskan bahwa hilirisasi mineral kritis seyogianya tidak hanya berorientasi pada pencapaian pertumbuhan ekonomi tinggi, melainkan harus memenuhi prinsip berkelanjutan, inklusif, dan tangguh guna terlepas dari perangkap pendapatan menengah (middle-income trap). 

Baca :  Kompetisi Blog Eee PC Berhadiah Asus Eee PC

Industri pengolahan nasional saat ini menghadapi kerentanan akibat dinamika pasar, kecenderungan munculnya produk substitusi saat harga nikel bergejolak, pergeseran teknologi baterai, serta ketatnya tuntutan standar environmental, social, and governance (ESG).

Tiga Risiko Utama dan Gagasan Huluisasi Riset

Guna mengatasi ancaman lonjakan produk substitusi dan ketergantungan teknologi asing, Chaikal mengusulkan integrasi hilirisasi bahan mentah dengan “huluisasi” atau upstreaming riset dan pengembangan (research and development). Kebijakan berbasis bukti ilmiah (evidence-based policy) dinilai menjadi kunci utama agar Indonesia bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi menjadi pencipta inovasi mandiri.

“Selain downstreaming bahan mentah, tolong pemerintah juga lakukan upstreaming research and development. Kita bukan cuma konsumen teknologi akhir, melainkan juga pencipta teknologi itu sendiri,” ujar Chaikal Nuryakin.

Baca :  Hadiri KUII VIII, Wamenko Polkam Buka-bukaan Bahaya Oligarki dan Politik Dinasti

Geopolitik Global dan Strategi Diplomasi

Penyelarasan Standar ESG dan Kerja Sama Selatan-Selatan

Sementara itu, Direktur Program Tata Kelola NRGI Erica Westenberg menyoroti ketegangan geopolitik antara blok G7/Amerika Serikat dan Tiongkok yang kian memengaruhi kebijakan perdagangan mineral global. 

Westenberg menilai kerangka ESG Barat dan Tiongkok sebenarnya berkembang secara paralel ketimbang berlawanan, sehingga percepatan investasi pada standar ESG menjadi pilihan strategis yang paling rasional bagi negara produsen.

NRGI mendorong Indonesia untuk terlibat aktif menyusun kesepakatan perdagangan plurilateral, memperkuat kapasitas regulasi nasional melalui lembaga keuangan multilateral, serta memperkokoh kerja sama Selatan-Selatan (South-South cooperation). 

Pembentukan aliansi strategis dan prinsip netralitas antarnegara produsen dinilai ampuh meningkatkan daya tawar Indonesia sekaligus mengurangi kerentanan terhadap tekanan eksternal.

Baca :  Heboh Soal Pengamanan MA dari TNI dan Begini Cerita Lengkapnya

Reporter: Lakalim Adalin 

Editor: Arianto 

#HilirisasiMineral #LPEMFEBUI #NRGI #MineralKritis #HuluisasiRND #StandarESG #NikelIndonesia #EkonomiIndonesia #SouthSouthCooperation #RantaiPasok